Sweet Child OR Hot Daddy

Sweet Child OR Hot Daddy
Hari Kedua Aku Kenal Alva (Dia Imut)



Percakapan mereka di whatsAp saat acara penyambutan berlangsung.





"jadi,"Zhe selesai memasang sabuk pengamannya ketika menggantung kata itu, "Kemana kau akan mengajakku?"


Mendengarnya, Alva tersenyum lebar, "Ada banyaaaak sekali tempat menarik di New York. Yang terbaik adalah Central Park, kau pernah mendengarnya?"


Zhe terdiam. Pernahkah ia mendengar tentang Central Park? Well, tentu. Tentu saja gadis itu terlalu sering mendengarnya.


"Oh daddy, why do you wake me up this early?!" Ucap Zhea masih dengan mata yang terpejam. Gadis itu tak peduli jika imege nya akan buruk dengan muka bantalnya. Serius, Zhe baru menyelesaikan makalah-nya sekitar pukul satu pagi, dan Will meneleponnya dengan video call tanpa henti padahal sekarang baru jam lima pagi.


"Sweetheart! Look! Kau sendiri yang menyuruhku untuk membangunkanmu jika aku berada di Central Park!" William memutar bola matanya, "Oh, God! Aku tidak akan membiarkan putraku bertemu denganmu. Dia tidak bisa bersama gadis dengan air liur hingga ke pipinya."


Mendengar itu, mata Zhe seketika melebar. Gadis itu berlari menuju kaca besar di kamarnya, mengecek keadaan wajahnya yang ternyata masih bersih dari air liur. Beberapa detik kemudian, Zhe berteriak kesal, "Daddy! Kau benar-benar!"


Mendengar teriakan itu, William tampak tertawa, "Shut bangun dan lihat!"


William mengubah mode kamera belakang dan mengambil setiap jengkal pemandangan Central Park di hadapannya, membuat mata Zhe berbinar-binar, "Aaaa! That's so beautiful!!"


"Aw daddy! Is that Jack? Hello Jack!!!" Teriak Zhea lagi, ketika melihat seekor anjing coklat tampak berlarian.


"Jack, kemarilah, kawan!" Suara Will terdengar, dan saat itu pula anjing coklat tersebut menghampiri William, "Say hey to the beautiful Zhea, hey Zhe,"


William mengelus anjing kesayangannya yang tampak menggonggong ketika melihat seseorang yang sering ia lihat sebelumnya di layar ponsel William. Zhe tertawa dan melambaikan tangannya, "You enjoy the evening, Jack? Aw, how cute! Kalau bisa, setiap hari saja kau minta Tuan-mu mengajakmu jalan-jalan, Jack. Jangan biarkan dia sibuk dengan urusannya sendiri!"


William tersenyum, "Aku bisa mendengarmu, Azhalea."


"Azhalea?" Suara baritone membuat Zhe mengerjap. Dia ada di New York. Dan dia benar-benar melupakan kenyataan bahwa seorang William Harison juga menginjak tanah yang sama dimana ia berpijak. Ya, William Harison. Bagaimana kabar pria itu? Terlalu banyak masalah yang menimpa Zhe, membuat gadis itu benar-benar melupakan sesosok pria paruh baya yang sudah mengisi hari-harinya selama berbulan-bulan. Namun, bukanlah ia memang harus melupakan pria itu? Lagipula, Zhe yakin bahwa pria itu juga sudah melupakannya.


"Aku tahu, tempat itu terkenal." Zhea tersenyum lebar. Demi Tuhan, gadis itu tersenyum lebar setelah beberapa lama ia menahan senyuman itu.


"Aku juga ingin melihat Manhattan Skyline, Brodway, Time Square, Greenwich Village, The Morgan Library & Museum, West Village, Lower Manhattan, Liberty,"


"Wow," Ucapan itu memotong perkataan Zhe. Selain karena Zhe yang tahu banyak hal mengenai New York, Alva juga terkesan karena ini adalah kalimat terpanjang yang pernah Zhe ucapkan kepadanya.


Zhea menyengir, "Terlalu banyak, ya?"


"No, kita punya banyak waktu untuk menghampiri semua tempat di New York. But, seriously, Zhe, kau sangat tahu banyak. Apa kau belajar untuk mengetahui New York?"


Zhe tersenyum, "Aku punya kenalan, orang New York."


"Ah, benarkah? Aku bisa mengantarkanmu kepadanya jika kau mau," Ucap Alva yang seketika membuat Zhe menghela nafas panjang, "Dia pasti sudah melupakan aku."


Mendengarnya, Alva mengangkat alis masih dengan menyetir mobil, "Well, kenapa gadis secantik kau harus dilupakan?"


Zhe memutar matanya seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Alva, "Kau benar-benar player, ya?"


Menyadari wajah Zhe yang begitu dekat, entah mengapa Alva jadi gugup. Pria itu berusaha menenangkan keadaan jantungnya dengan menggerak-gerakkan kakinya, yang justru membuat Zhe terkekeh. Gadis itu kembali menarik kepalanya dan menopang dagu seraya menatap jalanan yang lenggang.


"Dia orang sibuk. Dia pasti melupakan aku." Zhe menghela nafas panjang.


"Zhea," Zhe menoleh ke arah Alva, pria itu masih fokus ke jalanan.


"Aku memang player," Ucap Alva, "Tapi aku serius."


"Maaf?"


"Kau terlalu cantik untuk dilupakan. Sesibuk apapun orang itu." Ucapkan Alva dengan sungguh-sungguh, membuat Zhe lagi-lagi memutar bola mata.


Bukan apa-apa, well, Alva memang tampan. Sangat tampan. Tapi, pria itu aneh. Mereka baru saja kenal, dan, jika dibandingkan dengan gadis-gadis New York, Zhe jelas kalah cantik, kalah tinggi, kalah seksi, dan kalah segala-galanya. Lagipula, apa sih yang harus dilihat dari sosok Zhe? Gadis itu bahkan tidak menggunakan make up. Wajahnya pucat dan ada lingkar hitam di bawah matanya. Ditambah, gadis ini benar-benar jutek. Lalu, kenapa Alva harus memaksa untuk mendapatkan nomornya? Mengajaknya jalan-jalan? Benar kan, jika pria itu aneh?


"Wah, aku tidak terkesan," Ucap Zhe malas, membuat Alva terkekeh geli.


Tak terasa, mobil Alva sudah berada di kawasan parkiran Central Park. Karena hari kerja, taman itu tidak terlalu ramai. Dengan segera Zhe membuka pintu mobil Alva dan berlari ke dalam taman.


Zhe memandang ke atas, tempat dimana matahari begitu terang. Tempat langit berwarma biru, dan dimana awan berkumpul. Lagi-lagi, dia udara kota New York.


"That place!" Zhe berteriak ketika sebuah objek yang sangat ia kenal, kini benar-benar terlihat oleh matanya. Ah, andai saja dia masih berhubungan dengan William, Zhe yakin, dia akan benar-benar berteriak hingga membuat gendang telinga pria itu pecah.


Zhe menoleh ke arah lain, di lihatnya sebuah jembatan yang terletak di tengah danau. Sialan, benar-benar lebih indah dari apa yang terlihat di layar ponselnya.


Zhe berlari ke arah jembatan itu, kemudian melongok ke bawah. Air danau berwarna hijau, ada ratusan ikan di dalamnya. Mata Zhe berbinar-binar tak karuan. Ada beberapa perahu kayu lengkap dengan dayungnya. Sayang, sebagian besarnya kosong karena memang hari ini bukanlah hari libur.


"Azhalea!" Alis Zhe terangkat ketika suara bariton memanggil namanya, membuat gadis itu menoleh spontan ke belakang. Senyumannya memperlihatkan ketika melihat orang yang memanggilnya. Ya, Alva kini sedang berada di atas perahu kayu seraya membuat mereka terpesona.


"Come on, come here!" Teriak Alva, membuat Zhe mengangguk senang. Gadis itu berlari menuju tepi danau, tempat dimana perahu kayu yang Alva tumpangi berada.


"Let me take your hand princess," Alva membungkuk seraya menyerahkan tangannya, membuat Zhe terkekeh kemudian menerima uluran tangan itu. Zhe melangkah dengan hati-hati hingga berada di tengah-tengah perahu kayu.


"Take a seat, and enjoy the trip, Miss." Alva mengedipkan matanya, membuat Zhe lagi-lagi tertawa, "Aye Captain!"


Alva mendayung perahu kayu tersebut mengelilingi danau, membuat senyuman di bibir gadis itu semakin melebar. Alva bersumpah, Zhe terlihat seratus kali lebih cantik ketika gadis itu tersenyum. Rasanya, Alva ingin selalu membuatnya tersenyum.


"What a wonderful view!" Zhe tersenyum kagum, kemudian menoleh ke arah Alva yang membalas senyumannya dengan senyuman yang lebih lebar.


Zhe mendekat ke arah Alva, menatap wajah pria itu lekat-lekat.


"Why?". Alva menaikkan alisnya bingung.


"Apakah kau selalu baik kepada semua orang yang baru kau kenal?" Tanya Zhe lagi. Alva tersenyum. Pria itu melayangkan tangannya ke udara, "Hai, gadis beasiswa dari Asia, aku Alva. Senang berkenalan denganmu."


Menatapnya, Zhe tertawa kecil. Gadis itu baru menyadari bahwa mereka bahkan tidak sempat berjabat tangan kemarin, dikarenakan sifat Zhe yang begitu ketus.


"Hai, Alva. Aku Azhalea. Senang berkenalan denganmu," Senyuman Zhe melebar, membuat Alva tertawa dan mengelus rambut Zhe halus, "Nah, kau terlihat sangat indah dengan senyum itu. Jadi, tetaplah tersenyum."


"Aku tidak berjanji," Zhe mengangkat bahunya, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain, "Bahkan, orang yang paling bahagia di dunia pun tidak melulu tersenyum. Mereka hanya tersenyum untuk menjadi pribadi yang sok kuat. Aku tidak mau berpura-pura."


Alva menatap punggung Zhe dan berkata, "Daripada menilai mereka sebagi pribadi yang sok kuat, akan lebih baik jika melihatnya sebagai pribadi yang berusaha untuk kuat, karena kuat adalah satu-satunya pilihan yang harus mereka lakukan."


"Setidaknya, dengan tersenyum, kau akan melewati masalahmu dengan sedikit lebih mudah." Alva menghela nafas panjang, "Dengan tersenyum, kau juga akan membuat masalah orang lain menjadi lebih ringan. Kau tahu kenapa?"


Zhe berbalik untuk kembali menatap Alva, "Kenapa?"


"Karena senyummu menular. Setidaknya, senyummu menulariku."


Dan entah apa yang membuat wajah Zhe memerah ketika ia dapat menatap dengan jelas wajah tampan di hadapannya.


***


Tidak terasa, hari benar-benar semakin sore. Langit pun mulai menggelap, dan disini lah Alva dan Zhe berada. Manhattan Skyline. Menurut cerita William, Manhattan Skyline adalah tempat dimana keindahan kota New York di malam hari dapat terlihat. Pemandangan yang tersaji adalah pemandangan gedung pencakar langit yang benar-benar terlihat indah menjulang di bawah sinar rembulan.



PROKOS CANDREW


Zhe tidak pernah berhenti tersenyum. Dia tidak tahu sudah berapa lama ia tak pernah lagi menikmati hidupnya, menikmati kesenangan, dan tersenyum begitu lebar hingga gigi-giginya mengering. Namun, satu hal yang ia rasakan. Bahwa hari ini, segala hal yang sudah asing itu tiba-tiba ia rasakan kembali. Dan semuanya berkat seorang pria tampan yang kini tertidur dengan posisi duduk di sebelahnya.


Alva Harison. Pria menyebalkan yang cerewet.



CANDREW PROKOS www.ANDREWPanens.com


Zhe tidak pernah berhenti tersenyum. Dia tidak tahu sudah berapa lama ia tak pernah lagi menikmati hidupnya, menikmati kesenangan, dan tersenyum begitu lebar hingga gigi-giginya mengering. Namun, satu hal yang ia rasakan. Bahwa hari ini, segala hal yang sudah asing itu tiba-tiba ia rasakan kembali. Dan semuanya berkat seorang pria tampan yang kini tertidur dengan posisi duduk di sebelahnya.


Alva Harison. Pria menyebalkan yang cerewet, setidaknya, itulah kesan pertama yang muncul di kepala Zhe ketika Alva tidak berhenti mengganggunya kemarin. Zhe lagi-lagi tersenyum melihat wajah itu, well, Alva pasti sangat kelelahan. Pria itu menemaninya seharian, bahkan mendayung perahu kayu mereka hingga 5 putaran di danau yang luas. Dia tidak tahu mengapa Tuhan mengirimkan sosok Alva ketika Zhe bahkan tidak punya alasan untuk menikmati hidupnya.


Dengan hati-hati, Zhe menarik kepala Alva dan menyandarkan di pundaknya. Setelah itu, gadis cantik itu tersenyum seraya melihat pemandangan di depannya.


"Gue nggak tau, lo itu makhluk apaan. Gue juga nggak tau, kenapa lo tiba-tiba datengin gue, ngajak ngobrol gue, bikin gue seneng... Gue nggak tau, tujuan lo ngelakuin semua ini tuh apa?" Ucap Zhe. Tangannya bergerak untuk mengelus rambut Alva yang masih tertidur pulas di pundaknya, "But, thanks. Thanks for everything. Thanks for the amazing today."


Zhe memandang wajah itu, ah, betapa lucunya seorang Alva. Apa yang ia lakukan benar-benar menggemaskan.