Sweet Child OR Hot Daddy

Sweet Child OR Hot Daddy
Bab 5



Pria itu tampak tersenyum lebar, memperhatikan gadis dengan dress abu-abu bermotif hitam itu semakin menjauhinya. Well, gadis itu cukup menarik. Dia cantik, dan bokongnya berisi. Tubuhnya yang pendek justru membuatnya terlihat lebih menarik. Namun sayangnya, dia ketus. Sangat ketus. Bayangkan, bagaimana bisa ia menolak berkenalan dengan seorang Alva Maximillan Harison? Hell, semua gadis mengantri hanya untuk mendapatkan ucapan Hi dari pria itu!


Sebenarnya, Alva juga tidak tahu apa yang sedang terjadi kepadanya. Yang ia tahu, ia sedang menunggu Alex yang tiba-tiba pergi mengejar wanitanya. Ia bahkan belum sadar ketika seorang gadis duduk di belakangnya. Namun, tiba-tiba gadis itu menangis. Hal itulah yang membuat Alva memutuskan untuk menoleh dan memberikan sehelai tisu. Hanya rasa simpatik. Namun, balasan gadis itu justru membuat Alva ketagihan untuk menggodanya.


Dengan langkah yang lebar, pria itu mengikuti gadis yang bahkan belum ia ketahui namanya itu. Gadis tersebut melewati koridor kampus dengan langkah tergesa, membuat bokongnya bergoyang kesana kemari, well, dress yang menutupi bagian pahanya cukup ketat, karena itulah bokong itu terbentuk sempurna.


Alva menyadari bahwa gadis itu akan melewati segerombolan pria-pria yang terkenal pervert dan penggoda. Karenanya, Alva mempercepat langkahnya. Mata pria itu mendelik ketika Jack hampir saja menyentuh bokong gadis itu.


"Whoah! Don't you dare, broh!" Dengan sigap, Alva memelintir lengan Jack, membuat pria itu berteriak keras, hingga gadis Asia tersebut memberhentikan langkahnya dan menoleh. Gadis itu terkaget melihat sosok Alva yang tampak memelintir tangan seseorang tepat di belakangnya.


"Come on Alva! Berbagilah denganku!" Jack mendengus kesal, membuat Alva memutar matanya, "Sorry, she is mine."


Alva membuka hoodie abu-abunya dan melingkarkannya di perut gadis itu. Dengan halus, pria itu mulai mengikat bagian lengan hoodie-nya ke perut gadis tersebut, kemudian menariknya menjauhi gerombolan pria tersebut.


"The ****, Alva!" Alva mendengar teriakan pria-pria tersebut, namun tidak mempedulikannya. Pria itu terus saja menarik tangan gadis yang baru saja ia temui di taman, namun berhasil menarik perhatiannya itu.


Setelah di rasa sepi, pria itu memberhentikan langkahnya dan menatap gadis itu.


"Bagaimana bisa kau memakai baju yang memperlihatkan pahamu, dan berjalan di tengah-tengah pria-pria mata keranjang seperti mereka?" Alva memutar bola matanya, "Pakai itu. Jangan dilepas!"


Alva tersenyum kemudian melanjutkan langkahnya. Aku akan mengandalkannya dan dia benar-benar akan meneleponku dengan senyum dan suaranya yang lembut dan dia akan menyesali saat dia menolakku dan dia akan memintaku untuk pergi keluar. Ucap Alva dalam hati. Satu... dua... t...


"Alva!" Alva tersenyum lebar dan menoleh ke arah gadis itu. Namun senyumannya perlahan menghilang ketika bayangan wajah gadis itu benar-benar berbeda dengan realitanya. Ya, gadis itu masih menatap dengan datar dan kesal.


"Kau yang membuat teman-temanku meninggalkanku, dan aku harus melewati gerombolan pria mata keranjang itu! Jadi, ini semua salahmu!" Alva membuka mulutnya tak percaya dengan apa yang keluar dari mulut gadis itu.


Namun pria itu mengerti dan membalas senyuman tipis itu dengan senyuman yang begitu lebar. Pria itu mengangguk dan mengisyaratkan gadis asing itu untuk mengikutinya.


"Saya Zhea. Azhalea Putri Florenza."


Mendengar itu, Alva semakin tersenyum lebar.


***


Alva tersenyum lebar seraya menatap layar ponselnya. Ini gila. Dia sudah 21 tahun, dan masih bertingkah seperti anak 13 tahun yang menunggu balasan dari cinta monyetnya? Benar. Alva gila. Dan kegilaan itu diakibatkan oleh seorang gadis Asia yang baru ia temui tadi pagi. Alva tidak tahu apakah ia benar-benar menyukai gadis itu atau hanya ketertarikan semata, namun, yang jelas, ia hanya ingin tersenyum karena gadis itu saat ini.


"Apakah anak ayah sedang gila?" Seorang pria paruh baya yang masih sangat tampan itu bertanya, well, tentu saja. Anak semata wayangnya yang sudah berusia 21 tahun itu tampak tersenyum sepanjang hari. Dia juga lebih memilih untuk tinggal di rumah ketimbang pergi keluar dengan teman-temannya.


"Dad, I think I am in love." Alva bangkit dan menatap ayahnya yang tampak gagah dengan kaos pollo. Well, serius, Alva benci mengakui ini, namun daddy-nya yang berumur kepala empat itu terlihat jauh lebih menarik ketimbang dirinya. Pria itu memiliki tubuh yang kekar dengan perut dan otot yang masih terbentuk sempurna bak atlit. Selain itu, daddy-nya juga berwajah tampan dengan sedikit kerutan di bagian wajahnya. But overall, he is sexier than him.


"Gadis mana lagi sekarang?" Pria itu tampak tersenyum geli sekaligus khawatir melihat Alva. Pria itu sudah 21 tahun dan masih saja mencintai banyak wanita dalam waktu yang relatif dekat.


"Dad, ini beda!" Ucap Alva membuat sang ayah tertawa, "Kau juga bilang begitu tentang pacar terakhirmu."


"Dad, tapi yang ini benar-benar beda. I am in love at the pandangan pertama."


"Woah!" Sang ayah bertepuk tangan, "Gadis kurang beruntung mana yang harus menerima kenyataan bahwa anakku terpesona terhadapnya saat pertama kali melihatnya? Aku akan menghadiahinya, sungguh!"


"William Maximillan Harison, just, can you be serious now?!" Alva mendengus kesal, membuat pria bernama William itu tertawa lebar.