Sweet Child OR Hot Daddy

Sweet Child OR Hot Daddy
Bab 3



"Zhe, lo dipanggil ke ruang dekanat tuh." Seorang gadis berambut pendek menepuk pundak Azhalea, namun yang ditepuk pundaknya masih terpaku pada buku di hadapannya. Terpaku? Tidak. Gadis itu justru sedang melamun.


"Wah, Azhalea!"


"Eh, Sin? Apaan?" Zhe mengerjapkan matanya ketika gadis tadi memanggilnya dengan nada yang lebih keras. Sindi, nama gadis itu, mengkerutkan dahinya. Tidak biasanya Zhee melamun ketika membaca buku tebal kesukaannya.


"Lo kenapa?" Tanya Sindi seraya menempelkan punggung tangannya di dahi Zhe "Lo nggak sakit, kan?"


Zhe tersenyum, "Nggak. Tadi lo ngomong apa? Gue ga denger, sori."


Sindi menatap matanya, "Lo dipanggil ke dekanat, budek."


"Hah? Ngapain? Emang gue ada salah apa?" Tanya Zhe. Gadis itu mendadak merasa ngeri. Apakah videonya semalam sudah tersebar? The hell, itu tidak mungkin. Wait, kenapa tidak mungkin? Zhe bahkan belum mengenal William terlalu dalam. Mengabaikan berbagai pertanyaan Sindi, gadis itu segera berlari menuju ruang dekanat. Dia was-was. Well, tentu saja, pertanyaan-pertanyaan bermunculan di kepala Zhe.


Zhe menarik nafas panjang seraya mengetuk pintu ruang dekanat di depannya. Setelah dipersilahkan, dengan was-was Zhe mulai duduk di depan dekan fakultasnya.


"Azhalea Putri Florenza?"


Zhe mengangguk penuh hormat, "Iya Pak, ada perlu apa Bapak memanggil saya? Apakah saya melakukan suatu kesalahan?"


Tanpa diduga, dekan tersebut tersenyum seraya menjabat tangan Zhe, "Saya suka murid yang aktif dan cerdas seperti anda."


"Maaf, Pak?" Tanya Zhe tak mengerti. Kemudian, dekan tersebut menyerahkan sepucuk surat, yang dengan segera dibuka oleh Zhe.


Mata Zhe membulat sempurna. Well, sebenarnya dia sudah bisa menebak hal ini. Hanya saja, sudah dua bulan sejak dia mengirimkan berkas-berkasnya dan melakukan wawancara, dan, ya, Zhe mengharapkan beasiswa itu. Tapi setelah kejadian semalam, masih sanggupkah ia?


"Selamat Azhalea Putri Florenza, anda berhasil melewati tahap-tahap beasiswa tersebut. Tiga hari lagi adalah tes tulis yang merupakan tes terakhir. Lakukan yang terbaik, karena universitas akan mendukung dalam bentuk material maupun nonmaterial. Kami cukup bangga karena satu mahasiswi kami hampir berhasil menembus New York University." Ucap Dekan tersebut panjang lebar.


"Tapi, Pak, sebenarnya, saya sudah melupakan beasiswa tersebut." Tentu saja. Pergi ke New York, artinya, dia akan bertemu dengan William yang merupakan dosen besar fakultas hukum disana. Mengingat kejadian semalam saja sudah mampu membuat Zhe ingin membuang wajahnya sejauh mungkin. Apalagi jika harus bertatapan langsung dengan William?


"Loh, kenapa? Anda sudah melewati tahap-tahap yang sulit, tinggal selangkah lagi, Zhe. Masa depan cerah ada di depan anda. Jadi, mengapa tidak?" Zhe terdiam. Jika dulu, yang ia takutkan adalah izin dari ayah kandungnya, maka saat ini, ia hanya tidak mau punya kesempatan untuk bertemu William.


"Saya akan memikirkannya." Zhe tersenyum hormat, membuat pria botak di hadapannya tampak mengkerutkan dahinya tak percaya.


"Apakah masalah keluarga?" Tanya Pak Dekan membuat Zhe tersenyum, "Saya akan memikirkannya."


"Baiklah jika itu mau anda. Apapun keputusannya, saya harap, itu yang terbaik."


Setelah itu, Zhe memilih untuk segera berpamitan dan mengeluari ruang dekanat. Gadis itu berjalan gontai menuju ruang 2, karena 30 menit lagi, pelajaran akan segera dimulai.


"Zhe," Tepukan kembali terasa di bahu Zhea membuat gadis itu mengerjapkan matanya, "Apaan, Sin?"


"Jujur deh, lo kenapa?" Tanya Sindi serius, membuat Oliv menggelengkan kepalanya.


"Zhea? Lo masuk tahap terakhir beasiswa? New York University?! Wahhh, akhirnya! Selamat ya, Zhe!" Sindi memeluk tubuh Zhe. Namun, gadis itu sama sekali tidak bereaksi.


"Lo pasti seneng, kan? Akhirnya bisa ketemu sama daddy hot elo itu! Anjir, gue iri sama elo! Gue yang udah fantasi liar buat bisa ngegodain si daddy hot kok malah elo yang punya kesempatan, sih?!" Ucap Sindi. Ya, Sindi memang mengetahui segalanya, karena Zhea tidak akan bisa menyembunyikan apapun di depan Bella. Bella bahkan pernah di ajak ber-video call dengan William, dan tentu, dia freaking out melihat William yang seksi. Sindi bahkan pernah mencoba untuk menghubungi William, tapi sayangnya, ditolak oleh duda hot itu.


Mendengar kata-kata Sindi, tubuh Zhe justru bergetar. Entah apa yang tiba-tiba membuat gadis itu menangis.


"Zhea! Lo kenapa?!" Teriak Sindi. Dengan segera, gadis itu menarik Zhe menuju tempat sepi di pojok gedung.


"Abis ini masuk," Bisik Zhea namun Sindi menggeleng, "Kita bolos. Gue nggak mau tau, lo harus ceritain semuanya!"


"Gue nggak papa, Sin,"


"Nggak papa gimana? Lo gemeteran gitu, Zhe! Cerita sama gue, ada apa sama lo?!"


Zhea menarik nafas panjang. Benar, kan? Dia tidak akan pernah bisa menyembunyikan apapun di depan Sindi.


"Gue putusin hubungan gue sama William." Ucap Zhea, membuat Sindi tersentak kaget. Setahunya, Zhe sangat menyukai berhubungan dengan William. Bahkan, Zhe bisa menghabiskan berjam-jam, hingga tidak tidur semalaman hanya demi mengobrol banyak hal dengan William. Zhea selalu menganggap William sebagai ayahnya, dan tentu saja itu wajar, terlebih di saat ayah kandungnya sendiri tidak pernah menganggapnya sebagai anak. Well, dulu, Sindi selalu menggerutu. Jika saja Sindi adalah Zhea, dia tidak akan pernah mau menjadikan William sebagai ayah. Demi Tuhan, William terlalu hot untuk menjadi ayahnya. Dia mau lebih. Or you can call it, daddy with benefit, maybe?


"Maksud lo apaan sih? Gue ga ngerti!"


"Gue hapus akun-akun gue. Gue ganti nomor. Semuanya. Gue ga mau lagi hubungan sama dia. Gue malu, Sin, gue malu banget! Gue bener-bener kayak pelacur. Dia pasti nganggep gue pelacur!"


"Zhe, tenang. Lo ceritain pelan-pelan!"


Dan setelah itu, Zhea menceritakan semuanya. Dari awal hingga akhir. Cerita yang cukup membuat Sindu melongo. Well, kalau saja itu Sindi, hal ini memang mungkin terjadi. Siapa yang bisa menolak pesona William? Siapa? Tapi masalahnya, ini adalah Zhea. Dan Zhe benar-benar berbeda dengan Sindi. Zhea bukan tipikal orang yang mudah dipengaruhi oleh pria-pria yang hanya mau menggunakan tubuhnya. Well, meskipun banyak sekali yang menginginkannya. Terkadang, Zhea memang penggoda. Dia mampu menggoda siapapun, hingga membuat mereka benar-benar gila. Tetapi itu tidak lebih dari lelucon.


"Zhe, lo tenang dulu, ya." Sindi mencoba menenangkan Zhea dengan memeluk gadis itu.


"Gue nggak benci dia karena berpikiran kayak gitu tentang gue. Gue benci diri gue sendiri yang harus bertingkah kayak gitu. Looked like a ***** banget, nggak, Sin!" Ucap Zhea masih sesenggukan.


"Zhe, please. Ini emang nggak cocok buat lo. Gue akuin, Zhea yang gue kenal ga bakal mungkin ngelakuin itu. But, be a reality, Zhe. Itu wajar banget. Apalagi lo udah dewasa, Zhe. Jangankan lewat videocall, kalo lo mau, lo bisa ngelakuin secara langsung," Sindi menghela nafas, "Well, its not the point, but, lo jangan nyalahin diri lo sendiri, Zhe. Percuma, nggak bakal keulang lagi, kan? Intinya. Kalian berdua sama-sama menikmati itu. Bahkan kalau gue jadi elo, gue udah minta gitu sejak pertama chat. Gila, Cristiano Ronaldo aja lewat sama William!"


Zhe sedikit tertawa.


"Dan masalah beasiswa ya Zhe, saran gue, lo tetep maju, lakuin yang terbaik dulu. Emangnya lo nggak pengen bebas dari bokap lo yang gila itu?" Ucap Sindi.


"Tapi, Sun, gue nggak bakal sanggup kalau seandainya besok bakal beneran ketemu William." Balas Zhe membuat Sindi mengangguk, "Gue ngerti, Zhe. Udah gini aja, lo tetep ikut tes nya. Gue yang anter. Lo kayak gini aja deh, berhasil ya oke, nggak juga ga papa. Buat keputusannya, pikirin aja akhir-akhir. Keputusan tetep di tangan lo, Zhe."


Zhe tersenyum. Gadis itu memeluk sahabatnya sangat erat, "Makasih ya, gue nggak tau kalo nggak ada elo, gue bakal jadi apa."