
"Lo nggak tidur, Sin?" Zhea menatap jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11 lewat 15 siang. Yang berarti, di Indonesia, sudah hampir tengah malam.
"Gue lagi berangan-angan punya cowok kayak Alva." Ucap Sindi membuat Zhea terkekeh, "By the way, udahan dulu ya. Gue mau berangkat nih,"
Sindi berdehem singkat, "Boleh tau nama panjangnya Alva nggak? Gue mau ngestalk sampe dapet,"
Zhe kembali terkekeh, "Gue lupa kalo elo stalker sejati, ya? Namanya Alva Harisoon. H-A-R-I-S-Oganda O-N."
Sindi berdehem lagi, "Noted it. Alva Harisoon. Yaudah sono pergi lo, hus!", Zhea mengucapkan selamat malam kemudian mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam koper.
Beberapa hari yang lalu, Zhe mendapatkan uang bulanan untuk sewa apartment dan biaya hidup untuk satu bulan ke depan. Dan kemarin, Alva sudah menemaninya seharian untuk mencari apartment yang cocok untuk Zhea tinggali. Pilihan mereka jatuh pada apartment yang terletak 2 kilometer dari kampus. Dan strategisnya, apartemen itu berada tepat di hadapan halte bis, sehingga akan mudah bagi Zhe untuk berpergian kemanapun. Selain itu, biaya sewanya juga murah, dan secara kebetulan dekat dengan perumahan di mana Alva tinggal.
Hari ini, Zhe berencana untuk segera pindah ke apartment itu. Zhea sudah membawa seluruh uangnya yang memang sudah ia janjikan akan dibayar hari ini juga. Selain itu, Zhe juga sudah membawa barang-barangnya ke dalam koper. Memang, gadis itu menjadi orang terakhir yang pindah dari asrama, karena teman-temannya sudah pindah ke apartment sejak kemarin. Mereka tinggal di apartment yang sama karena mencari secara bersama-sama. Berbeda dengan Zhe yang memang mencari dengan Alva dan baru sempat mengepak barang-barangnya tadi pagi.
Ngomong-ngomong soal Alva, karena merasa tidak enak untuk merepotkan pria itu secara terus-menerus, Zhe memaksanya untuk tidak mengantar kepindahan Zhea. Lagipula, hari ini adalah hari Sabtu. Alva pasti punya kegiatan lain bersama teman-temannya, dan Zhe tidak mau mengganggunya.
Sebelum pergi ke apartment yang akan ia sewa, Zhe sengaja mampir ke supermarket untuk belanja kebutuhannya. Gadis itu mengambil beberapa uang dan memasukkan sisanya ke dalam koper. Gadis itu menoleh kesana kemari, mencari tempat penitipan barang yang ternyata sama sekali tidak ia temui. Untuk membawa koper ke dalam supermarket adalah hal yang mustahil. Orang-orang akan mengatainya gadis gila.
Zhe melirik ke pojok halaman supermarket itu dan tersenyum lebar. Ada banyak karung bekas di sana, membuat Zhe segera berlari ke tempat itu. Zhe menidurkan kopernya dan menutupinya dengan karung bekas, sebelum akhirnya berjalan masuk ke supermarket.
Zhea berbelanja berbagai macam sayuran dan makanan instan untuk persediannya selama seminggu. Setelah puas berbelanja, Zhe membayar semuanya di kasir dan segera keluar. Gadis itu berjalan dengan riang menuju pojok halaman untuk kembali membawa kopernya.
Namun, gadis itu tersentak ketika karung-karung bekas yang tadi ada di pojok halaman tidak ada. Ya, tidak ada. Bukan hanya karung bekasnya, namun juga koper Zhea.
Ku ulangi. Koper Zhea.
"What??? Aaaaa!!" Zhe segera berlari dan mencari-cari keberadaan kopernya. Sialan. Zhe pasti akan mati. Zhea benar-benar mati jika tidak berhasil mendapatkan kopernya kembali.
"Kau benar-benar serius dengan gadis beasiswa itu? Maksudku, dia memang cukup seksi. Tapi, ayolah. Gadis beasiswa bukan seleramu, kan?" Richard menepuk bahu Alva. Membuat Alva mengeluarkan asap rokok yang tadi ia hisap. Saat ini, Alva sedang berada di rumah Richard.
"Lihat, baru beberapa hari kenal saja kau sudah jarang berkumpul dengan kami. Apakah dia mengajakmu belajar? Apakah kau sekarang menjadi culun berkat dia?" Dengus Richard lagi, membuat Alva melempar bungkus rokoknya hingga mengenai kepala Richard, "Kau terdengar seperti pacar yang sedang cemburu, tahu?"
Mereka tertawa, kemudian Richard bangkit dari duduknya dan mendekat ke arah Alva, "Dude, aku tidak membencinya, justru.. Aku kasihan pada gadis itu. Dia kesini untuk belajar. Kau jangan merusaknya."
Alva menghela nafas. Dia tidak habis pikir dengan pemikiran orang-orang di sekitarnya. Ya, Alva tahu, dirinya adalah seorang player, playboy. Tapi, tidak bisakah seorang player mencoba untuk setia pada gadis yang diincarnya?
"Nanti malam, kita ke club. Aku akan mengenalkanmu dengan Savana. Percaya, dia sungguh seksi," Ucap Richard.
Alva menatap pria itu, "Dengar, Azhalea itu berbeda."
"Dan karena dia berbeda, kau berusaha untuk menakhlukkannya? Come on. Dia sama saja dengan gadis lain. See? Dia tersipu ketika kami menggoda kalian berdua. Dia sama saja, tidak tahan akan pesonamu. Percayalah, ketika kau berhasil mendapatkannya, kau akan merasa bosan. Karena kau akhirnya menyadari bahwa dia terlalu mudah untuk didapatkan." Perkataan Richard berhasil memukul bagian dalam hati Alva. Apakah benar jika Alva hanya penasaran terhadap Azhalea? Apakah benar perasaan itu akan menghilang, meninggalkan Alva yang hanya akan menyakiti hati gadis itu pada akhirnya?
"Gadis Asia, bro. Dia tidak akan tahan dengan sikapmu yang lain." Lanjut Richard, membuat Alva semakin bimbang.
Pria itu memejamkan matanya, entah mengapa sosok Zhea kini menghantui pikirannya.
"Man, kau butuh refreshing." Richard melemparkan kunci sepeda motor sport yang langsung ditangkap oleh Alva.
"Barusan, Black berkata akan ada balapan di Brooklyn St. Kau harus datang. Segarkan pikiranmu, dan aku tahu, hanya ini yang dapat membantumu."
"Man seriously, aku tidak mood." Alva menghela nafas, membuat Richard menyeringai sinis, "Jangan jadi pengecut, Alva."
Kalimat terakhir Richard membuat sisi liar Alva bangkit. Pria itu berjalan menuju sepeda motor sport yang sudah disiapkan oleh Richard. Dia bahkan mengabaikan panggilan telpon dari ayahnya, yang mungkin hanya menambah pusing di kepalanya.
***
Hari semakin gelap, dan disinilah Zhea berada. Gadis itu merutuki kebodohannya di depan halte bus dekat apartment yang akan ia sewa. Sialan. Hanya orang bodoh yang akan meninggalkan semua barangnya di halaman supermarket, dan orang bodoh itu adalah Zhea. Gadis itu sudah mencari kesana-kemari, bertanya pada setiap orang yang lewat, hingga memaksa pihak supermarket untuk menunjukkan kamera CCTV mereka, namun dengan jelas ditolak. Mereka justru menganggap Zhea sebagai orang gila dan menyuruh satpam untuk mengusirnya. Zhe hampir-hampir putus asa. Semua barang-barangnya ada di dalam koper. Terlebih, uang sewa rumah dan uang hidup selama sebulan ke depan ada di dalam sana. Meskipun Xhe masih harus bersyukur karena surat-surat penting hingga passport masih tersimpan rapi di dalam tas nya. Tetapi, Demi Tuhan, bagaimana bisa ia tenang jika nasib nya sebulan ke depan akan benar-benar tidak jelas?
Zhea akhirnya memilih untuk berjalan sejauh satu setengah kilometer untuk mencapai apartemen yang ia datangi bersama Alva. pasti, si pemilik apartemen mau berbaik hati membiarkan Zhe tinggal terlebih dahulu dan menunggu beberapa minggu untuk membayarnya. Nah, hal itu benar-benar benar, karena, ayolah. Ini New York, teman-teman!
Dan apa yang Zhea takutkan benar terjadi. Pemilik apartment menolak gadis itu mentah-mentah. Jika saja Alva ada di sebelahnya, mungkin, janda genit itu masih mau mengizinkan nya, well, tidak ada yang bisa menolak pesona Alva, ingat? Tapi masalahnya, Zhea tidak mungkin menelepon Alva dan kembali merepotkan pria itu. Lagipula, bagaimana bisa Zhe menelepon Alva jika ponselnya juga ada di dalam koper itu? Ya, Zhe ingat bagaimana dia mematikan ponselnya dan menyimpannya di dalam koper. What the ****.
Zhe menelungkupkan kepalanya dan berteriak kesal. Di sebelahnya, sampah-sampah snack dan kaleng-kaleng bir yang tadi Zhea beli di supermarket berserakan karena gadis itu yang kehausan dan kelaparan. ****, Zhea benar-benar mirip orang gila saat ini.
"Ya Tuhan! Kenapa hidupku seburuk ini! Argh!!!" Zhe menangis. Gadis itu benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Gadis itu mengambil kaleng bir ke enam nya dan mulai meminumnya lagi, membuatnya tertawa geli, kemudian berteriak, kemudian tertawa dan menangis.
"Azhalea!"
Zhe mendongak, dan benar. Ada Alva yang tengah memakai helm, sedang berusaha turun dari sepeda motornya. Pria itu melepas helm-nya dan duduk di hadapan Zhe.
Alva Harison. Pria yang entah mengapa selalu datang ketika Zhe sedang menangis. Ingatkah ketika Alva memberikannya selembar tisu di hari pertama mereka bertemu? Kemudian Alva yang mengajaknya keliling New York? Kemudian Alva yang mencium bibirnya dan meredakan tangisannya? Alva yang memberikannya alasan untuk hidup? Alva. Alva Harison yang mungkin telah Tuhan takdirkan untuk menjadi penguat Azhalea.
Zhea menatap pria tampan di hadapannya dengan senyuman lebar, dia mencintai pria itu. Pria dengan senyum menawan yang ia temui di taman kampus kurang dari seminggu yang lalu. Oh, betapa lemahnya Zhea akan pesonanya, pria itu bahkan sudah mampu membuat Zhe mencintainya dalam kurun waktu singkat. Sangat singkat.
"Alva," Panggil Zhea. Gadis itu sudah tidak tahan. Mata Alva, hidung Alva, bibir Alva, entah mengapa, malam ini, mereka semua menggoda untuk dicoba. Katakan bahwa Zhe adalah *****, karena yang ingin dia lakukan adalah memakannya dengan segera. Zhea menerjang tubuh Alva, meraup bibir merah muda pria itu yang terlihat menggiurkan. Alva mendelik tak percaya. Oh, ya, Alva harus makhlum karena gadis di hadapannya dalam keadaan buruk. Ya, gadis ini benar-benar mabuk berat.
"Balas aku!" Ucap Zhea kesal, namun Alva tak bergeming. Hal itu membuat Zhe semakin liar memainkan bibirnya, menggigiti kecil bibir Alva. Oh, gadisnya. Apakah Zhea tidak tahu betapa berbahayanya seorang Alva?
"Zhea, berhentilah. Apa yang membuatmu berada disini?" Zhe mendengus kesal, gadis itu menggembungkan pipinya karena Alva secara paksa menghentikan ciumannya. Melihat itu, Alva terkekeh geli. Belum waktunya Alva menunjukkan betapa brengseknya dia, atau, pria itu memang tidak akan pernah berani menunjukkan betapa brengseknya dia di depan Azhalea. Dia begitu menyukai gadis di hadapannya.
"Semua uangku hilang. Barang-barangku hilang. Aku bingung harus berbuat apa. Aku bingung harus tinggal dimana. Kau tahu, itu adalah uang beasiswaku untuk sebulan ke depan. Dan aku akan jadi gelandangan sebulan ke depan." Azhalea tertawa dan menangis secara bersamaan.
"Kenapa Tuhan sangat tidak adil terhadapku?" Kali ini Zhea menelungkupkan wajahnya dan menangis keras-keras. Dia benar-benar tidak bisa mempercayai apa yang sedang terjadi di hidupnya. Demi Tuhan, dia baru beberapa hari tinggal di New York dan dia tidak kenal siapapun begitu dekat kecuali Alva Harison. Well, dia tidak bisa menjamin jika Alva menganggapnya dekat.
"Ikutlah denganku, Zhea." Ucapan manis Alva membuat Zhe mendongak, menatap pria itu intens dengan menuntut ucapan yang jujur.
"Aku tidak akan merepotkanmu, Alva." Bisik Zhe, karena aku mencintaimu.
"Kau sama sekali tidak merepotkanku," Alva meraih tubuh Zhea, menatap mata hitam itu lekat-lekat.
"Kau akan ikut denganku." Ucap Alva dengan senyuman semanis madu.
"Ayahmu tidak akan suka melihatmu membawa gadis sembarangan." Zhea mencoba membuat alasan. Biarlah dia jadi gelandangan. Yang jelas, dia tidak akan merepotkan pria yang ia cintai.
"Kau bukan gadis sembarangan, kau gadisku."
Butuh waktu beberapa menit untuk Zhea mencerna perkataan Alva. Apa katanya? Apakah Alva baru saja menyebutnya gadisku?
Wajah Zhea memerah. Entah karena tersipu, atau terlalu senang. Lagi-lagi, Zheamenatap pria tampan itu. Mencoba mencari kebohongan di mata Alva, dan lagi-lagi tidak menemukan celah kebohongan itu.
"Jadilah kekasihku." Lanjut Alva lagi, membuat Zhea kini membuka mulutnya. Dia mabuk. Ini pasti efek mabuk, kan? Mana mungkin, seorang Alva Harison meminta gadis beasiswa sepertinya menjadi seorang kekasih?
Melihat keterkejutan itu, Alva yakin bahwa jawabannya adalah iya. "Ikut aku pulang,"
***
Butuh waktu satu jam untuk meredakan efek mabuk Azhalea dengan meminum tiga gelas coklat hangat, sebelum akhirnya mereka menuju rumah Alva.
Alva memarkirkan sepedanya di halaman rumah mewah dua lantai bergaya eropa. Benar-benar elegan, seperti rumah yang ada dalam angan-angan Zhea. Gadis itu berdecak kagum, membuat Alva merangkulnya semakin dekat.
"Ayah sudah pulang?" Alva seolah bertanya pada dirinya sendiri ketika melihat mobil sport ayahnya sudah terparkir rapi di garasi, di tambah lampu-lampu rumah sudah menyala.
Mendadak, Zhea kaku. Gadis itu hanya diam di tempatnya, sedangkan Alva berusaha untuk menariknya masuk, "Come on, sweetheart, kau kenapa?"
Wajah Zhea memerah, antara karena Alva yang memanggilnya sweetheart, dan karena gugup akan bertemu ayah Alva secara langsung.
"Aku, aku, ayahmu. Aku," Zhea benar-benar gugup. Gadis itu tidak ingin masuk ke dalam rumah Alva, membuat Alva tertawa geli melihat tingkah Zhea, "Come on, take it easy, dia tidak semenyeramkan tampilannya kok. Ayolah, jangan gugup."
Zhea akhirnya mengangguk. Gadis itu membiarkan Alva berjalan di depannya. Sedangkan Zhe mengikuti di belakang.
Alva mulai membuka pintu yang Zhea yakini sebagai pintu utama rumah tersebut. Di sebelah pintu tersebut, ada tulisan besar berisi jalan, blok, dan nomor rumah tersebut. Selain itu, tertulis juga nama pemilik rumah.
William Harisoon.
Oh, jadi ayah Alva bernama William Harisoon? Zhea tersenyum lebar selama beberapa saat. Ya, hanya beberapa saat.
Karena pada detik berikutnya, senyuman Zhe benar-bener menghilang tanpa sisa. Tergantikan dengan tatapan kaku tanpa ekspresi.
Tunggu. William Harison adalah ayah dari Alva Harison?
Zhea bersumpah, Zhea ingin menghilang saat ini juga.