
William memasuki kelasnya dengan perasaan yang tidak menentu. Emosinya ada di puncak, membuat wajahnya merah dan otot-otot wajahnya pun terlihat. Tidak seperti biasanya, pria itu memilih untuk memberikan tugas kepada mahasiswa-mahasiswanya, kemudian duduk termenung, memikirkan apa yang baru saja terjadi.
Pria itu, tak pernah semarah ini sebelumnya. Terutama karena seorang gadis. William benar-benar tidak tahu sebenarnya perasaan apa yang ia miliki kepada Zhea. Dia hanya sudah terlanjur peduli pada gadis mungil itu. Kepeduliannya sudah melebihi batas wajar, hingga tanpa bisa dipercaya, William bahkan memukuli anak kandungnya sendiri demi gadis itu. Mengingat Alva, membuat rahang William kembali mengeras. Jika dia tidak ada dalam kelas, William bersumpah akan melempar benda apapun yang ada di dekatnya.
Zhea, si gadis Asia bergaun putih itu tak bisa mengalihkan sedikit saja pandangannya pada dosen tampan yang duduk di depan kelas. Gadis itu tahu, sejak William masuk ke dalam kelas, ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. Wajahnya menunjukkan kemarahan. Apakah... pria itu habis bertengkar dengan Alva?
Menyadari pertanyaan itu muncul di benaknya membuat Zhe menggelengkan kepalanya. Tidak. Tidak mungkin. Zhea hanya meminta William untuk memberikan pancake tiramishu demi perbaikan hubungan mereka. Bukan justru membuatnya menjadi keruh.
Zhea menghela nafas dan mengangkat tangannya, "Mr. Harison! Bisakah anda menjelaskan perihal soal nomor 15 kepada saya?"
Semua orang menatap Zhea sangat takjub. Mereka diberi 15 soal, dan Zhe sudah sampai nomor 15? Hal itu membuat mereka memfokuskan diri pada soal-soalnya lebih keras lagi.
William masih termenung di tempatnya. Pikirannya sedang kacau.
"Excuse me, Mr. Harisom!" Kali ini Zhea berteriak, membuat William tersentak dan berdehem. Pria itu menatap Zhe yang berada di tengah-tengah sedang mengacungkan tangannya. Oh, dia bahkan tidak sadar jika sedang berada di kelas Zhea.
"Yes?" Ucap William tegas. Zhea menghela nafas, "Bisakah anda menjelaskan perihal soal nomor 15 kepada saya?"
William bangkit dari duduknya dan menghampiri Zhea. Dilihatnya pekerjaan Zhe yang membuat William membuangkan matanya. Demi Tuhan! Kertas Zhea masih benar-benar bersih!
"Apa yang kau lakukan?!" Bisik William.
Zhea berbisik, "Tenang saja. Aku sudah tahu jawabannya. Hanya saja, aku masih belum bisa menulis jika melihatmu seperti itu."
William terdiam.
"Kau kenapa?"
Tatapan Zhea membuat William rindu akan semua tentang gadis itu. Namun berkat tatapan itu pula, William merasa lebih rileks. Pria itu menghela nafas panjang dan membungkukkan badannya untuk menjelaskan nomor 15 kepada gadis itu. Dia tidak ingin Zhea tahu perihal pertemuannya dengan Alva.
Melihat itu, alis Zhea terangkat. Dia sama sekali tidak memperhatikan penjelasan William, karena sejujurnya, Zhea memang sudah tahu jawabannya. Yang ia perhatikan justru... ****. Betapa indahnya wajah itu jika sedang serius, dan dilihat dalam jarak sedekat ini. Zhe jadi tahu mengapa mahasiswi sangat suka bertanya jika dosennya adalah William.
Tidak tahan, Zhea mengecup pipi William singkat.
Membuat pria itu merasakan jantungnya yang hampir melonjak dari tempatnya. Pria itu menoleh ke arah Zhea dan berbisik, "Are you cra,"
Ucapan William terpotong ketika Zhea mengecup bibirnya singkat.
Pria itu menoleh ke sekitarnya dan bersyukur ketika mahasiswa-mahasiswanya sedang fokus pada pekerjaannya. Kini, tatapannya kembali ke arah Zhe yang sedang tersenyum lebar.
"Lihat, kau sudah tenang sekarang." Ucap Zhea ketika menyadari wajah William sudah kembali normal. Otot-ototnya sudah melemas.
William tersenyum dan mengelus kepala Zhea. Pria itu kembali memperhatikan mahasiswa-mahasiswanya sejenak sebelum mendaratkan bibirnya di pipi Zhe, membuat Zhea semakin tersenyum lebar. Setelah itu, William menegakkan tubuhnya dan berkata, "Ms. Zhea! Apa yang kau lakukan hingga kertasmu masih kosong sampai sekarang?! Kerjakan dengan benar!!"
Omong kosong.
Senyuman Zhea langsung lenyap. Perkataan William membuat semua teman sekelasnya menatap Zhea dengan pandangan tak percaya. Wajah Zhea memerah, membuat William tersenyum geli dan berjalan kembali ke tempat duduknya.
William bisa melihat bagaimana ekspresi Zhea yang seolah membunuhnya. Gadis itu membuka ponselnya dan mengirimkan pesan, yang ternyata membuat ponsel William bergetar.
Untuk: hot daddy
Dari: Zhea
Tidak ada pelukan, tidak ada ciuman, tidak ada pelukan untuk Daddy malam ini.
"Sial" Maki William Zhea hanya tersenyum manis.
"Damn." Maki William. Zhea hanya tersenyum sinis kemudian menuliskan jawabannya di selembar kertas yang William bagikan.
Setelah 20 menit, bel berakhirnya pelajaran berbunyi. Membuat mereka semua mengumpulkan pekerjaan mereka dan membereskan barang-barang. Kemudian, mereka keluar dari kelas satu persatu. Meninggalkan Zhea yang masih menulis nama dan ID mahasiswanya.
William terkekeh kecil ketika Zhea berlari untuk mengumpulkan tugasnya, "Terlambat satu menit, denda sepuluh ciuman. Kau sudah terlambat mengumpulkan lima menit. Jadi dendamu lima puluh ciuman."
Zhea berhenti melangkah dan menatap William dengan matanya yang membulat "Apa?!"
William mengangguk dan mendudukkan tubuhnya di meja dosen, "Itu peraturan baruku, khusus untukmu."
Zhea memutar matanya tak peduli, kemudian membereskan barang-barangnya. Gadis itu segera membawa tasnya dan hendak keluar ketika kaki William terulur dan menghalangi jalannya.
"My honourable Mr. Harison," Ucap Zhe dengan wajah serius, dan bagi William, Zhea terlihat lebih menggemaskan dengan ekspresi wajah seperti itu.
"Ya sayang." William tersenyum.
"Aku berkata, tidak ada pelukan, tidak ada ciuman, tidak ada pelukan." Ucap Zhea membuat William mengangguk, "Baiklah,"
Pria itu melompat dari duduknya dan berdiri di hadapan Zhea, "It's for your daddy, not Mr. Harison, isn't it?"
Zhea terdiam. Membuat William berjalan ke arah pintu dan menutupnya dari dalam.
"Kau sudah gila. Ini di kampus. Bagaimana jika seseorang tiba-tiba membuka pintu dan,"
Ucapan Zhea terputus ketika William sudah ******* bibir Zhea, membuat gadis itu mendelik dan melepaskan ciumannya seraya melongok ke jendela, "Daddy! Bagaimana jika,"
William kembali memutus ucapan Zhea dengan ******* bibir tipisnya. Membuat Zhe akhirnya membalas ciuman William.
Zhea melihat seseorang akan melewati kelas itu, membuat gadis itu dengan segera menarik tubuh William. Mereka berdua berjongkok hingga tak ada yang bisa melihat mereka.
"Dosen nakal." Zhea tertawa, membuat William menyeringai, "Untuk mahasiswa yang menggoda."
Zhea meraih bibir William dan **********, membuat William mendorong kepala belakang Zhea agar ciuman mereka semakin dalam. Gadis itu naik di pangkuan William, lagi-lagi merasa kegelian karena lidah William bermain di lehernya.
Zhea tersentak ketika mendengar suara seseorang di luar sana, memanggil nama William.
"Entahlah, tadi beliau mengajar di ruang ini." Zhea melongok sedikit, membuat matanya membulat.
"Daddy! Itu Alva!" Bisik Zhea membuat William ikut melongok. Pria itu mendesah dan merapikan jas-nya. "Ingat, tinggal 47 ciuman." Ucap William membuat Zhea mendelik, "Demi Tuhan, apakah kau serius?!"
"Sangat serius." Pria itu hendak berdiri ketika Zhea menahan lengannya. Gadis itu meraih kedua pipi William dan mengecup bibirnya berturut-turut hingga 15 kali. Membuat William mendelik, "Apa-apaan itu?"
"32 ciuman tersisa. Sudah sana!" Suruh Zhea.
"What? Itu sama sekali tidak adil! Tidak, aku mau minta tambahan!" Dengus William membuat Zhea menepuk dahinya, "Cepat keluar! Alva mencarimu!"
William mendengus kemudian berdiri. Pria itu menarik telapak tangan Zhe, membuat gadis itu membulatkan matanya tak percaya, "Daddy, apa yang kau lakukan?!"
William tidak mau menjawabnya. Pria itu membuka pintu dan menggandeng Zhea untuk menuju mobilnya, "Aku akan mengantarmu pulang. Kau tidak ada kuliah lagi, kan?"
Wajah Zhea memerah. Gadis itu berusaha keras menarik genggaman William namun tidak bisa.
"Daddy!"
William menoleh dan mendapati Alva yang tengah berdiri tidak jauh di hadapannya. Membuat William semakin mengeratkan genggamannya karena tubuh Zhea tiba-tiba bergetar.
"Mr. Harison." Koreksi William dingin.
"Aku ingin berbicara kepadamu. Sebagai seorang anak dan seorang pria." Ucap Alva seraya menatap mata William, membuat pria itu mendengus, "Aku tidak ingat jika aku punya anak."
Perkataan itu seolah menusuk jantung Alva. Dan perkataan itu juga seolah memukul kepala Zhea. Gadis itu mendongak dan menatap tajam William, "Kenapa kau harus berkata seperti itu?! Demi Tuhan, Mr. Harison. Meskipun kau dosen terbaik disini, kau sungguh kekanak-kanakan!"
William tersenyum miring, "Kenapa kau selalu membelanya?! Sungguh, jangan membuatku marah Zhe!"
Oh, Ya Tuhan. Zhea bersyukur koridor sedang sepi saat ini.
"Aku tidak membelanya, dan kita sudah membicarakan masalah ini sebelumnya." Ucapnya.
"Ayahmu tidak bisa melakukan itu karena kau tidak pantas diperlakukan seperti itu. Tapi dia?" William melirik sinis ke arah Alva yang saat ini menundukkan kepalanya.
"Mr. Harisom. Apapun kesalahan anak, dia tetaplah anak dan tak ada yang bisa memutusnya. Jika dia salah, kau harusnya membimbingnya hingga ia jadi benar. Bukan justru bersikap kekanak-kanakan seperti ini!" Tegas Zhea membuat William tersenyum. Pria itu mengelus kepala Zhea dengan sayang kemudian menatap Alva tajam.
"Kau lihat?" William menghela nafas, "Bagaimana aku tidak begitu melindunginya jika dia selalu memarahiku karena ingin menghajar anakku sendiri?"
"Ayah.."
"Ketika kau menghinanya, dia justru menyuruhku untuk peduli padamu. Lihat dirimu, Alva. Apakah kau sungguh pantas berbuat seperti itu kepadanya?!" Bentak William. Baiklah. Semua orang kini menyadari pertengkaran kecil itu.
"Cukup. Kita pulang. Kau sungguh akan mempermalukannya." Zhea berbisik seraya menahan lengan William. Membuat pria itu menutup matanya sejenak dan mengangguk, "Kita pulang."
Mereka hendak berbalik ketika Alva kembali mendongak, "Daddy, aku berjanji kau bisa menghajarku sampai aku tak sanggup lagi untuk bernafas. Tapi ku mohon, dengarkan aku."
Tangan William mengepal, membuat Zhea menatapnya khawatir, "Aku akan tunggu di mobil, okay?"
Zhea berlari untuk memberi ruang bagi Alva dan William.
William memberi kode untuk Alva agar pria itu masuk ke dalam ruang kelas tempat William mengajar tadi. Kemudian, William menutup pintunya dan duduk di hadapan Alva. Alva yang tampak menghela nafas berkali-kali seraya menggigit bibir bawahnya gugup.
"Apa kau akan terus diam seperti itu?" Ucap William dingin, "Kau benar-benar membuang waktuku."
Alva menarik nafas panjang lagi dan menatap mata coklat William yang tampak marah, "Aku tahu, aku salah."
Pria itu kembali menarik nafas, "Aku terlalu emosi dan tidak bisa berpikir jernih. Aku hanya benci melihat fakta bahwa ia menjadi barang sentuhan pria lain. Aku tidak bisa menerimanya karena aku mencintainya. Aku mencintainya, hingga hatiku merasa terhina melihatnya dengan orang lain."
Hati William memanas, "Kau mencintainya? Tidak. Kau hanya benci melihat orang lain mencuri barangmu. Kau selalu begitu, Alva. Kau melihat wanita sebagai sebuah barang yang hanya boleh kau sentuh. Kemudian kau akan merusak barang itu karena orang lain sudah menyentuhnya, karena bekas, kau berpikir bahwa kau pantas merusaknya. Kau sungguh egois, Alva. Kau hanya berpikir tentang ego dan harga dirimu tanpa melihat orang lain bisa terluka karena perbuatanmu!
Alva menundukkan kepalanya, "Daddy, aku minta maaf. Aku sungguh menyesal."
"Apakah penyesalanmu akan memperbaikinya kembali? Apakah ketika kau memecahkan cermin, cermin itu akan kembali utuh dengan sendirinya?" Ucap William.
"Kau benar-benar sudah menghancurkannya hingga ke kepingan terkecil, Alva."
William teringat bagaimana Zhea harus ditampar dan dipukul oleh ayah kandungnya dulu. Zhea akan menangis kepada William hingga gadis itu tertidur. William sudah cukup senang melihat tawa Zhea yang kembali muncul karena Alva. Meskipun William benar-benar ingin menjadi alasan Zhea untuk selalu tertawa.
Dan bagaimama hati William tidak sakit ketika lagi-lagi, Zhe harus dihancurkan dengan cara yang sama, namun kali ini di tangan anaknya sendiri?
"Luka ditubuhnya mungkin akan sembuh dan mengering dalam beberapa hari. Tapi, pernahkah kau berpikir tentang luka di hatinya? Seberapa lama ia butuh waktu untuk menjahit sendiri luka itu?"
Alva terdiam di hadapan William. Pria itu merasakan betapa jantungnya seolah terhujam ribuan pedang tajam yang sanggup membuatnya kehilangan oksigen. Dia juga tidak tahu harus mengatakan apa lagi.
"Aku tahu aku tidak bisa termaafkan. Aku sungguh menyesal, daddy. Aku benar-benar menyesal hingga rasanya aku ingin mati." Ucap Alva frustasi. Pria itu menjambak rambutnya sendiri, hingga setetes air mata membasahi pipinya.
Ya, Alva Harison kembali menangis karena seorang gadis. Gadis yang sama, yang juga membuat William menangis.
"Aku tidak yakin dia bisa melupakannya. Tapi, minta maaflah." Ucap William. Pria itu menatap Alva dan tersenyum tipis seraya menepuk bahu pria itu.
"Jika kau memang pria sejati, mintalah maaf. Minta maaf dan kembali kejar dia. Buat dia kembali mempercayaimu dengan cara yang halus. Cara yang membuatnya merasa sebagai seorang putri setiap hari, dan jangan pernah menyakitinya lagi." Dan mari kita bersaing secara sehat, Alva Harison.
Alva tersenyum lebar dan memeluk ayahnya. Ayahnya yang tetap ia banggakan. Ayahnya yang begitu bijaksana.
"Terima kasih, Dad." Ucap Alva, membuat William menepuk punggung pria itu secara jantan.
"Apakah kau mau membantuku?" Tanya Alva. William tersenyum dan mengangguk.