
Happy reading
🌿🌿🌿
Zhea mengerjapkan matanya dan memilih untuk mengalihkan pandangannya dari Willian, karena demi Tuhan, Zhe tidak sanggup lagi.
"Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu tersenyum," Ucap Alva yang sanggup membuat senyuman di wajah Zhea terbentuk.
"Ngomong-ngomong, daddy mana? Mengapa kau yang mengangkat teleponnya?"
Zhea menoleh kembali ke arah William sekilas, "Dia tertidur."
"What? Aku kan menyuruhnya untuk menjagamu?!" Alva berteriak histeris, membuat Zhea memutar matanya, "Come on. Jika kau lihat betapa kelelahan dan marahnya dia, kau akan mengerti kenapa ia tertidur."
Alva tertawa, "Tentu saja. Dosen paling killer di NYU atau bahkan di dunia baru saja disiram air oleh mahasiswanya. Ah, dia pasti merasa sangat terhina."
Zhea tersenyum. Bagi seorang William Harison, hal itu memang hinaan. Dan entahlah, Zhe juga tidak tahu apa yang ada di pikiran William ketika pria itu berlari untuk berada di depannya.
"Oh iya, tolong izinkan pada daddy. Aku ada tugas proyek akhir, deadline menanti. Jadi aku tidak bisa pulang malam ini."
Zhea mengernyit, "Tidak bisa pulang? Lagi?"
"Maafkan aku, Zhe. Aku menyesal. Tapi jika ini tidak selesai, aku tidak bisa lulus mata kuliahnya. Kau besok ke kampus dengan daddy, ya."
Zhea mengangguk, "Baiklah. Aku mengerti. Aku akan menyampaikannya pada William."
"Tetapi aku janji, besok malam kita akan berkencan." Mendengarnya, mata Zhea berbinar, "Aye, sir! Aku menunggunya!"
"Good girl. Kau sedang apa, by the way?" Tanya Alva membuat Zhea mencibir, "Mengerjakan makalah dari dosen killer sedunia ini."
Alva tertawa, "Well, baiklah. Lanjutkan pekerjaanmu. Kalau tidak selesai, si dosen bisa mengamuk. Rawr!"
Zhe balas tertawa, "Baiklah. Take care and see you tomorow."
Zhea mengakhiri sambungan telepon dan meletakkan di sebelah William yang masih saja tertidur pulas. Gadis itu melanjutkan kembali pekerjaannya yang sempat tertunda.
Tak terasa, sudah tiga jam Zhea berkutat di depan laptopnya, dan selama tiga jam, William masih saja tertidur. Zhea membelai halus dahi William dan kembali berkutat pada laptopnya untuk mentransfer pekerjaannya ke flashdisk.
Namun, pandangan Zhe terhenti pada sebuah folder yang membuatnya penasaran karena namanya.
My kind of sugar pies❤
Membuat Zhea tertawa. Apakah William mengumpulkan tutorial membuat Pie atau, itu adalah panggilan William kepada wanita-wanita yang dekat dengannya? Dan, ada apa dengan emot Love itu? Benar-benar bukan seorang William Harison.
Zhea melirik sejenak ke arah William yang masih tertidur, kemudian meng-klik folder tersebut. Senyum Zhea melebar ketika melihat isi dari foldernya adalah foto-foto Alva sejak Alva masih kecil hingga foto terbarunya. Ada juga satu foto keluarga, ada William muda yang benar-benar terlihat tampan, lalu ada Alva yang masih kecil, dan ada seorang gadis yang Zhea yakini sebagai Andrea. Ya, Andrea dengan rambut hitam panjang dan tubuh mungilnya. Andrea memiliki wajah khas wanita Asia, dengan mata hitam yang besar. Andrea sangat cantik.
Zhe baru akan menutup folder itu ketika ada satu folder lagi di bagian paling bawah. Nama folder itu lagi-lagi membuat Zhea penasaran.
I am crazy of her
"Dasar om-om tua sok muda. Udah kayak gue aja kalo ngasih nama folder," Cibir Zhea seketika membuka folder itu.
Membuat senyuman di wajah Zhea perlahan menghilang, terganti dengan tatapan tak percaya dengan apa yang tertampil di layar laptop itu. Ada banyak sekali video yang membuat Zhea tidak sabar untuk menekannya.
Flasback on
Malam itu adalah malam menegangkan bagi Zhea dan William karena adanya pertandingan fenomenal Real Madrid VS Barcelona. Zhea sebagai fans dari Real Madrid, dan William sebagai fans Barcelona.
"Seriously, Zhe?" William tertawa melihat Zhea yang sudah siap dengan menggunakan jersey Real Madrid sedangkan William masih setia dengan kaos abu-abunya.
"Daddy! Kenapa masih pakai itu, sih?! Kita kan sudah berjanji akan pakai jersey tim favorit masing-masing!" Zhe mengerucutkan bibirnya, membuat William tampak tertawa. Well, pria itu bukan tipe orang yang akan mengoleksi outfit tim sepakbola favoritnya. Hanya saja, melihat betapa Zhea begitu mengagumi Real Madrid, rasanya pasti akan menyenangkan melihat gadis itu dalam balutan jersey sepakbola.
"Sudah jangan banyak bicara. Lebih baik kau duduk dan lihat pertandingannya." Ucap William seraya memfokuskan pandangannya ke TV.
Beberapa detik kemudian, mereka tampak fokus untuk melihat pertandingan. Bersorak dan berteriak menyemangati seolah mereka adalah tim pemandu sorak di pinggir lapangan.
"Yooo! Ronaldo cepat! Ambil bolanya dari Messi! Ayo!" Zhea berteriak histeris seraya menghentak-hentakkan kakinya. Hal itu membuat William tidak lagi fokus pada pertandingan karena pandangannya sudah sepenuhnya milik Zhea. Gadis itu terus bersorak semangat, dan jika tendangan dari tim Real Madrid meleset, Zhe akan berteriak histeris seraya menjambak rambutnya.
Membuat William merasakan kehangatan dalam dadanya.
William tidak lagi peduli jika tim favoritnya kalah. Karena kini, yang ia pedulikan adalah melihat ekspresi senang, kesal, dan sedih Azhalea selama menonton pertandingan.
Zhe memberhentikan video yang merekam videocall mereka kala itu dengan wajah yang memerah. Terlebih ketika melihat bagaimana William tampak menatapnya melalui layar dengan senyum yang menawan. Terkadang William akan tertawa kecil, terkadang akan menatapnya dengan intens. Dan demi Tuhan, kala itu, Zhe sama sekali tidak menyadarinya. Yang ia tahu, William juga ikut berteriak dengannya untuk mendukung tim favoritnya. Namun, melihat Willian yang justru lebih memperhatikannya daripada pertandingan Real Madrid melawan Barcelona mampu membuat senyum di bibi Zhea merekah.
Gadis itu menekan video lainnya.
"Happy 41st Birthday, daddy!" William tertawa tak percaya ketika Zhea datang dengan dua potong kue tart dengan masing-masing satu lilin di atas kue tersebut.
Hari ini, tanggal 2 Mei, tepat jam 00.00 waktu New York, seorang Zhea memaksa Will mati-matian untuk melakukan videocall. Awalnya, William menolak karena pekerjaannya sedang banyak. Namun gadis itu berkata bahwa dia hanya butuh waktu 5 menit untuk videocall.
Siapa yang menyangka, saat ketika pemandangan kamar Zhea terlihat dari ponsel William, saat itu pula Zhea muncul dengan mengucapkan ucapan selamat ulang tahun dan bernyanyi.
William tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum, bahkan pria itu meneteskan air matanya. Tidak menyangka bahwa gadis yang ia kenal di media sosial itu begitu memperhatikannya, sangat dalam.
"Happy birthday daddy, semoga semuanya menjadi lebih baik untukmu. Terima kasih untuk hadir di hidupku. Terima kasih untuk selalu ada dan menghiburku." Ucap Zhea, gadis itu tersenyum lebar seraya menatap William, "Maaf, aku tidak bisa memberikan sesuatu yang lebih mewah."
William menggeleng, "Ini adalah sesuatu termewah yang pernah ku dapatkan."
Ya. Pria itu memang serius. Kesederhanaan menjadi begitu spesial jika Zhea yang membawanya. Semuanya menjadi indah jika Zhea ada di dalamnya.
"Ayo, tiup lilin!" Zhe memajukan tubuhnya dan mendekatkan kue itu ke layar, membuat William tersenyum dan ikut mendekat.
"Daddy, kau harus membuat keinginan dulu. Setelah itu, kita berdua akan meniupnya."
Untuk seorang pria matang berumur 41 tahun, hal ini sangatlah kekanak-kanakan. Namun, bagi William, inilah kedewasaan yang Zhea miliki.
Pria itu menutup matanya sejenak seraya mengucapkan harapannya. Kemudian, William membuka matanya.
"Satu dua tiga!"
Mereka berdua meniup lilin ulang tahun itu dan tertawa satu sama lain.
Zhe tersenyum lebar melihat video itu. Setetes air mata jatuh dari sudut matanya. Entah mengapa, Zhe begitu merindukan sosok yang bahkan sedang tertidur di sebelahnya.
"Sweetheart, kau mabuk, ya?" William memperhatikan wajah Zhea yang tampak sayu, membuat gadis itu tertawa dan menyahut, "Aku? Mabuk?"
William menggelengkan kepalanya. Sudah jelas bahwa Zhea mabuk. Gadis itu berkata dia memiliki pesta di club malam tadi.
"Hanya kau satu-satunya orang yang ketika mabuk justru ber-videocall, bukan mencari pasangan one stand night." William tertawa sekaligus bangga. Pria itu meletakkan laptopnya di meja dapur dan bergegas membuat sereal instan untuk makan siangnya. Patricia memang sedang cuti kala itu.
"What the **** daddy, how can you be that hottttt." Zhea memegang kepalanya frustasi ketika melihat sosok William yang hanya memakai singlet putih dan celana pendek sedang membawa mangkok sereal.
William terkekeh kecil melihat wajah Zhea yang memerah. Gadis itu benar-benar lucu ketika mengatakannya.
"Apakah aku?"
"Yes daddy. You are fucking goddamn hot." Zhea meletakkan rambut panjangnya di bahu kanannya. Memperlihatkan leher kiri jenjangnya serta dadanya dengan sempurna. Membuat William mengerang, "Kau sangat mabuk, Zhe."
Zhea tersenyum manis, "Aku tidak mabuk, daddy. Aku mengatakan hal yang benar. I am your good little girl, saying that you are so hot and you turn me on just now."
William dengan sempurna meletakkan mangkok sereal instannya di meja makan. Rasa laparnya tiba-tiba hilang melihat Zhea yang sedang mabuk mengatakan hal semacam itu, membuat berdesir, dan sesuatu di celananya mulai berkedut.
"Promise me you won't drink anymore. " William mengerang frustasi, "Bagaimana jika ada yang ingin berbuat jahat kepadamu?!"
Zhea tertawa, "Aku tidak mabuk, dad! I am just, kind of a party girl. Lagipula, siapa juga yang akan berbuat jahat? Memangnya kau akan berbuat jahat jika aku mabuk?"
William menghela nafas gemas. Berbicara dengan orang mabuk memang tidak ada habisnya, "Aku tidak akan berbuat jahat."
"Kalau begitu aku boleh mabuk jika bersamamu?"
"Azhalea." Ucap William membuat Zhea menatapnya dengan pandangan manis, "Yes, daddy?"
Itu bukan jawaban. Itu adalah *******! Dan ya, William benar-benar keras saat ini!
"Kau hanya boleh mabuk denganku. Sebelum bertemu denganku, jangan pernah berani untuk minum dengan pria lain. Bahkan jika itu berarti selamanya."
William benar-benar gila.
"Kau mengerti, baby?"
Zhea jelas tidak mengerti. William hanya berbicara omong kosong.
"Yes, daddy."
Flasback off
"Ya Tuhan!!!" Zhea bergidik ngeri melihat dirinya sendiri. Oh, jika William berpikiran nakal mengenai Zhea, maka jangan pernah menyalahkan William karena pria itu sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menahan gejolaknya. Salahkan saja Zhea yang bertingkah seperti pelacur.
Zhe memukul kepalanya sendiri. Gila. Dia tidak tahu bahwa dirinya tampak menjijikkan jika sedang mabuk. Like, seriously? Apa-apaan itu?!
Zhea melirik takut-takut ke arah Will yang masih tertidur. Benar-benar sleeping handsome. Bagaimana bisa suara ramai dari laptopnya tidak membangunkan William barang sedetik saja? Tapi, well, Zhea bersyukur William tidak bangun.
Zhe meletakkan laptop William di meja sebelahnya dan beranjak untuk menoleh seluruhnya ke arah William. Zhea memajukan tubuhnya, mengamati tiap jengkal wajah William yang benar-benar tenang. Perlahan gadis itu tersenyum. Menyadari bahwa William tidak melupakannya, membuatnya tersenyum.
Menyadari bahwa Will terlihat begitu bahagia dengan kehadirannya, mau seburuk apapun keadaannya, mau sejalang apapun tingkah lakunya, membuat Zhea semakin tersenyum.
Gadis itu menyentuh telinga William dengan telunjuknya, kemudian menggerakkan telunjuknya mengelilingi telinga William. Membuat pria itu bergerak kegelian.
Zhea tersenyum dan berbisik kecil.
"Selamat malam, my hot daddy"