Sweet Child OR Hot Daddy

Sweet Child OR Hot Daddy
Sehari bersama will part2



Mereka menikmati hidangan yang dipesan dalam keheningan, hingga akhirnya, Zhe menyelesaikan sedotan terakhirnya, dan berkata, "William, aku tahu ini kurang ajar. Tapi, bolehkah jika aku meminta beberapa boneka dan mainan? Aku tidak tahu kapan aku bisa membayar hutangku tentang baju, make up, dan ponsel baru. Tapi untuk yang satu ini, aku benar-benar akan membayarnya dengan segera." Ucap Zhe panjang lebar, membuat William tersenyum, "Kau tidak perlu membayarnya, tahu?"


Zhe menutup telinganya, "Aku sama sekali tidak mendengarmu!"


Gadis itu berlari menuju toko mainan, mengambil beberapa boneka dan mainan anak. Gadis itu juga mengambil buku mewarnai beserta pensil warna dan krayon dengan bersemangat. Cukup membuat William mengangkat alisnya bingung dengan tingkah gadis yang satu ini.


"Kau mau apakan mainan sebanyak ini?" Tanya William ketika mereka sudah membayarnya dan berjalan menuju lobi dimana mobil mereka sudah siap disana.


William memberi beberapa lembar dollar ke satpam tersebut dan mulai menaiki mobilnya.


"Nanti, turunkan aku di halte, ya!" Zhe tidak menjawab pertanyaan William yang sebelumnya, membuat pria itu. semakin penasaran, "Kenapa? Aku bisa mengantarmu. Kau mau kemana?"


"Kau harus menyiapkan bahan ajar untuk besok! Aku bisa pergi sendiri, aku hanya ingin sedikit berterima kasih." Zhea tersenyum lebar seraya memeluk kantong-kantong mainan dan boneka yang ada di dekapannya.


"Jangan khawatir soal itu. Aku free hari ini, so, aku akan mengantar kemanapun kau pergi." Jawab William.


Zhe menatap pria itu tak percaya, namun akhirnya menjawab, "Baiklah. Kita ke panti asuhan luar biasa yang tidak pernah kau ceritakan kepadaku sebelumnya."


William mengernyit. Dia memang tidak pernah menceritakan panti asuhan itu kepada Zhe. Hanya saja, William berpikir bahwa Zhr tidak perlu tahu, kan?


"Jadi, darimana kau tahu panti asuhan itu?" Tanya Wulliam. Membuat senyum di wajah Zhe terlihat begitu lebar. Zhea semakin memeluk mainan dan boneka yang tadi ia beli, "Pokoknya, mereka menyelamatkan hidupku, lewat Alva."


William tidak mau menjawab. Hanya saja, ia sadar bahwa Alva memang selangkah di depannya.


***


William memberhentikan mobilnya di depan rumah putih, di sebuah halamaan yang cukup luas. Kemudian mengeluari mobil yang diikuti dengan Zhea. Gadis itu tersenyum lebar, membawa kantong plastik berisi mainan dan boneka seraya berlari ke dalam rumah putih itu.


"Nyonya Kathrine!" Teriak Zhe, membuat wanita yang sedang menata majalah itu tampak tersentak kaget. Wanita itu menoleh, dan ekspresi kagetnya berubah menjadi ekspresi bahagia ketika melihat Zhea.


"Azhalea!" Balasnya seraya memeluk tubuh Zhe, "Kau kesini lagi? Bersama Alva?"


Zhe menggeleng, gadis itu hendak menjawab ketika seorang pria juga memasuki ruang tersebut, membuat Kathrine tersenyum lebar, "Mr. Harison! Aku pikir Zhe datang bersama Alva."


William tersenyum dan menjabat tangan Kathrine, "Bagaimana anak-anak?"


"Mereka baru selesai mandi sore dan sedang menunggu waktu dinner. Aku tidak menyangka anda datang lebih cepat dari waktu biasanya,"


William kembali tersenyum. Pria itu berdiri di sebelah Zhea dan mengacak rambut gadisnya, "Bocah kecil ini memaksa untuk kemari."


Melihat itu, Kathrine tertawa, "Anda juga cukup dekat dengannya, ya? Tidak heran, dia memang pribadi yang ramah dan mudah berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Alva beruntung memilikinya."


Mendengar penuturan Kathrine, wajah Zhea jadi memerah. Gadis itu menyenggol-nyenggol dada William dengan sikunya, membuat pria itu melirik Zhe sejenak dan merangkul bahunya, "Ya. Saking dekatnya, dia jadi lebih dekat denganku daripada kekasihnya sendiri."


William sialan.


"Dimana anak-anak? Aku ingin bertemu mereka!" Zhea tidak mau membalas perkataan William yang tidak masuk akal. Melainkan, ia segera berjalan mengikuti Kathrine yang sedang berada di ruang makan.


Zhea lagi-lagi tersenyum lebar ketika melihat anak-anak yang tampak tertawa bersamaan. Total mereka adalah 20 anak, dan Zhea sudah menghafal semuanya di hari pertama Zhe menginjakkan kakinya di sana.


"Azhalea!" Pekik Ayasha, gadis botak berumur 8 tahun yang mengidap penyakit leukimia. Mendengar pekikan Ayasha, teman-temannya menoleh dan tersenyum lebar ke arah Zhe. Zhea menghampiri dan menghampiri mereka dengan senyuman yang merekah.


"Bagaimana kabar kalian? Coba tebak apa yang ku bawa?" Zhe tersenyum menggoda, kemudian mengeluarkan boneka barbie yang suka dikoleksi oleh Ayasha, "Tadaaaa!"


Mata Ayasha berbinar melihat boneka barbie di tangan Zhea. Gadis itu memeluk Zhe erat dan berkata, "Aaa terima masih, Zhea!"


"Jangan berterima kasih padaku, tapi,"


Ucapan Zhe terputus ketika seorang pria berjalan ke arahnya dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku, membuat mata mereka semua berbinar senang, "Paman Will!!!"


William berjongkok dengan tumpuan lutut kirinya. Pria itu melebarkan tangannya yang segera disambut dengan anak-anak tersebut dengan pelukan.


""Zhea datang bersama Paman Will? Ah, terima kasih! Kami merindukan Paman Will!!" Teriak mereka lagi, dan Zhe tampak tertawa senang.


"Aku juga merindukan kalian! Berterimakasihlah pada bocah kecil ini yang secara tidak langsung mengancamku akan naik bus jika aku tidak mengantarnya kemari," William terkekeh, membuat Zhe menggembungkan pipinya.


"Paman Will, kenapa Zhe dipanggil bocah kecil? Jika Zhea bocah kecil, kami ini bocah apa?" Jacob, pemain piano satu tangan kebanggaan panti asuhan itu bertanya dengan polos, membuat Zhea tersenyum penuh kemenangan dan mencibir, "Dengar itu, Paman Will!"


William tertawa, "Coba Jacob berdiri tegak di sini."


"Lihat, tinggi kalian sama. Bahkan Jacob lebih tinggi sedikit. Jadi kalian berdua sama-sama bocah kecil," Ucapan William membuat mereka semua tertawa, tak terkecuali Zhea. Walaupun gadis itu sempat mendengus kesal, namun melihat tawa anak-anak itu, hati Zhea jadi menyuruhnya untuk ikut tertawa bersama mereka.


"Ini untuk Jacob!" Zhe memberikan kaos berwarna hitam dengan motif piano, di depannya tertulis kalimat I AM A PIANIST berwarna putih. Jacob tersenyum lebar dan memakai kaos itu segera setelah sampai ke tangannya, "Terima kasih, Zhe! Walaupun kau bocah kecil, aku akan senang jika bisa berkencan denganmu ketika aku dewasa!"


Zhea tertawa seraya mengelus puncak kepala Jacob, "Aku akan menunggumu dewasa, Captain!"


"Richard! Aku punya bola baru untukmu!" Zhe berteriak ketika matanya mendapati Richard yang sedang berdiri dengan tersenyum lebar di tengah anak-anak tersebut. Kemudian, Zhe mengeluarkan bola tersebut dan melemparkannya ke arah Richard, "Jadilah pemain bola yang handal, jagoan! Ini, om-om ganteng di sebelahku ini jago sekali main bola. Waktu SMA dia atlit sepak bola. Dia masih jadi atlit ketika kuliah. Hanya saja dia berhenti karena memilih jadi dosen. Suruh dia kemari sesering mungkin ya!"


Mata Richard berbinar, "Benarkah, Paman Will? Kau tidak pernah bercerita kepadaku."


Baiklah, William saja bingung kenapa gadis aneh ini menceritakan kelebihannya yang lain. Jangankan Richard, Alva saja juga tidak tahu kalau William adalah atlit sepak bola semasa muda.


"Serius, Richard! Christiano Ronaldo, si pemain Real Madrid itu saja... kalah ganteng dari William!"


Richard melongo mendengar ucapan Zhea, "Kalah ganteng? Apa hubungannya dengan atlit sepakbola?"


Wajah Zhe memerah, apa-apaan sih mulutnya itu?! Gadis itu semakin memerah, terlebih ketika William tampak tertawa terbahak-bahak di sebelahnya.


"Shelbyyyyyy!" Zhe mencoba mengabaikan rasa malunya dengan menghampiri seorang gadis kecil yang tampak tersenyum lebar dan membalas Zhe dengan bahasa isyarat.


"Dia bilang, dia senang kau datang." William yang sudah berhenti tertawa menyahut, membuat Zhe mengangguk dan tersenyum lebar.


"Dia juga setuju padamu." Lanjut William, membuat Zhe mengangkat alisnya, "Setuju apa?"


"Setuju jika Paman Will lebih tampan dari Christiano Ronaldo."


Wajah Zhea memerah. Lagi-lagi, dia melihat William tertawa. Kalau saja anak-anak tidak ada, Zhea bersumpah akan melempari William dengan bola Richard.


Zhea segera membagikan barang-barang yang tadi ia beli kepada satu persatu anak yang ada di sana, dan Zhe bersumpah, begitu damai melihat tawa mereka.


Tepat setelah Zhe membagikan mainannya, waktu makan sore telah datang. Mereka makan dengan lahap, sedangkan Zhea dan William memilih untuk menghampiri Kathrine lagi.


"Nyonya Kathrine, aku tidak melihat diamond?" Ucap Zhe sambil membawa satu flowercrown dengan hiasan diamond di tengahnya. Kathrine tersenyum kecil, "Dia sedang sakit. Ada di kamar. Pengurus sedang membujuknya untuk makan."


Zhea terenyuh, gadis itu menatap William sejenak, meminta izin untuk menemui Diamond. Pria itu mengangguk setuju, membuat Zhe tersenyum dan berkata, "Boleh aku bertemu Diamond?"


"Tentu saja boleh!"


Dengan segera, Zhea berlari ke kamar, dia melihat Diamond yang sedang meringkuk di bawah selimut, sedangkan di sebelahnya ada makanan dan minuman.


"Hai Diamond!" Ucap Zhea ceria. Gadis itu duduk di sebelah Diamond, membuat gadis itu melihatnya sekilas, kemudian menyembunyikan tubuhnya lagi. Diamond ini mengidap Sindrom Turner. Secara fisik, penderita sindrom Turner cenderung bertubuh pendek, kehilangan lipatan kulit di sekitar leher, pembengkakan pada tangan dan kaki, wajah menyerupai anak kecil, dan dada berukuran kecil. Namun, Diamond masih bisa berkomunikasi dengan normal, dan menurut Zhea, Diamond cukup pintar dan cantik dengan rambut bergelombangnya.


"Kenapa kau kemari?!" Ucap Diamond ketus, membuat Zhea tersenyum. Dia bisa makhlum karena pengidap sindrom Turner juga sulit mengontrol emosinya.


"Memberikanmu sesuatu. Tapi, kau harus makan dulu." Ucap Zhe kepada gadis 16 tahun di hadapannya.


Diamond hanya terdiam, namun kini mulai menatap Zhe. Zhea mengambil mangkok berisi bubur ayam dan menyuapkannya pada Diamond. Membuat gadis kecil itu terdiam, menatapi sosok Zhe di hadapannya. Bagi Diamond, Zhea adalah wanita yang sempurna. Gadis itu cantik, berkulit putih, suaranya sungguh imut, rambutnya indah, benar-benar tipikal gadis yang dapat menarik semua perhatian pria, termasuk Alva.


Dan mengetahui fakta itu, membuat Diamond sungguh marah. Gadis kecil itu menampik suapan yang Zhea berikan hingga berceceran di dress yang Zhe pakai, "Aku tidak butuh bantuanmu! Aku benci padamu!"


Zhea menarik nafas dan tersenyum. Gadis itu kembali meletakkannya dan memandang wajah Diamond.


"Kenapa kau membenciku?"


Diamond menatapnya tajam, "Kau cantik. Kau punya kulit idaman para wanita. Suaramu indah. Kau sempurna. Sedangkan aku? Aku hanya bisa menghabiskan waktuku di kursi roda seumur hidupku! Tidak ada satupun pria yang akan menyukaiku seperti Alva yang menyukaimu!"


Zhe tersenyum, kemudian berdiri tegak di hadapan Diamond, "Aku pendek. Nih, lihatlah. Aku bahkan paling pendek di kampusku. Semua temanku tinggi dan semampai, bak model Victoria Secret. Tapi lihat Azhalea? Gadis pendek ini!"


Zhe berjalan ke arah Diamond, menyentuk rambut tebal bergelombang gadis itu, "Rambutku tidak lebih bagus dari rambutmu. Lihat, betapa wanita di luar sana harus membayar ratusan dollar demi rambut seindah ini?"


"Benarkah begitu?" Suara Diamond melunak. Membuat Zhea tersenyum lebar dan mengangguk.


"Diamond adalah diamond. Diamond punya cara tersendiri untuk bersinar. Karena itulah diamond berharga, banyak orang yang mencintainya dan ingin mendapatkannya dengan harga yang mahal." Ucap Zhe, membuat Diamond menunduk lesu, "Aku bukan jenis diamond yang diinginkan banyak orang, Zhe."


Zhea menggeleng, "Kau salah, Diamond. Semua orang mencintaimu. Kau cantik. Kau bisa bernyanyi, sedangkan aku? Aku yakin tikus juga akan memilih untuk kejepit pintu daripada mendengar nyanyianku."


Mendengarnya, Diamond tertawa.