Sweet Child OR Hot Daddy

Sweet Child OR Hot Daddy
My hot daddy



William baru pulang dari kampus ketika melihat anak semata wayangnya berjalan tergesa-gesa dengan baju yang berantakan.


"Alva?" Panggil William, namun diabaikan. Pria itu sama sekali tidak menoleh dan mengucapkan selamat datang kepadanya seperti biasanya. William hanya menggelengkan kepala. Sifat buruk Alva kembali keluar, meskipun tak bisa dipungkiri, dia mendapatkan sifat buruk itu dari William sendiri.


Tanpa pikir panjang, William mencoba mengabaikannya dan masuk ke dalam rumahnya. Pria itu melepaskan ikatan dasinya dan menyandarkan tubuhnya di sofa ruang keluarga. Pekerjaan hari ini cukup membuatnya lelah.


William merasakan anjing kesayangannya, Jack, berlari dan menarik celananya. Membuat William tertawa seraya menepuk-nepuk punggungnya. Jack terus menarik celana Will, membuat pria itu akhirnya berdiri, "Baiklah. Kau mau apa? Makan tambahan? Oh, ayolah. Kau bilang kau ingin diet?"


William tertawa namun tetap mengikuti Jack. Anjing itu berputar-putar di depan kamar Zhe yang tertutup, membuat William berjongkok dan mengelus kepala Jack dengan sayang. Jack menggonggong ke arah Will berkali-kali, membuat pria itu menatap anjingnya bingung. Apakah Jack sakit? Seingatnya, dia sudah membawa Jack ke dokter hewan dua minggu yang lalu untuk cek kesehatan.


Samar-samar William mendengar suara tangisan, membuat dahinya berkerut kencang. Pria itu memusatkan tatapannya pada kamar Zhe yang tertutup rapat. Dan ketika ia mendekat, suara itu semakin jelas.


Tunggu.


Apakah itu suara Zhea?


Mata William membulat, hatinya berdetak begitu kencang seiring dengan ketukan di pintu kamarnya.


"Zhe? Kau di dalam?" Tanya William seraya mengetuk pintu.


Tidak ada jawaban.


"Zhea? Jawab aku!" Kali ini William berteriak, dan tetap tidak ada jawaban. Pria itu menempelkan telinganya di pintu kamar Zhe, membuat suara tangisan semakin terdengar begitu jelas.


William tidak lagi peduli dengan sopan santun. Pria itu membuka kamar Zhe yang tidak terkunci. Matanya membulat ketika melihat baju dan celana Zhe tampak berceceran di lantai. Belum berakhir kekagetannya, William menatap pintu kamar mandi Zhea yang terbuka. Pria itu bergegas menuju kamar mandi, dan demi Tuhan. Tepat ketika ia menginjakkan kakinya di lantai kamar mandi, William merasakan sakit yang begitu membuatnya lebih memilih untuk mati saat itu juga.


"Zhee!" Pria itu berteriak dan menghampiri gadis itu. Gadisnya yang sedang menangis di bawah guyuran shower dengan tubuh yang diikat. Gadisnya yang begitu mengenaskan. Gadisnya yang senantiasa menelungkupkan kepalanya ke lutut yang sengaja ia tekuk untuk menutupi tubuh bagian atasnya.


Pria itu segera mematikan showernya dan memeluk tubuh Zhd yang tampak gemetar dan menggigil. Ia terus menciumi puncak kepala Zhea dan berkata, "It's okay, sweetheart. You are safe now."


Hati William terluka melihat keadaan gadisnya. Perlahan, ia membuka ikat pinggang yang begitu ia kenal dari tubuh Zhe, menyisakan warna merah yang membekas karena ikatannya yang terlalu kuat. William jelas tahu siapa pemilik ikat pinggang limited edition itu. Karena William sendiri-lah yang membelikannya di hari ulang tahun Alva yang ke 19.


William mengerang seraya menarik kepala Zhea. Seketika hatinya berdesir sakit. Wajah Zhe memerah, pipinya memar, ada darah di sudut bibirnya. Dan bibirnya basah serta membengkak. Oh, tidak, William bahkan enggan untuk membayangkan apa yang dilakukan Alva terhadap Zhea.


"Don't worry, I am here now. You are okay with me, sweetheart." Bisik William. Will mengambil handuk dan melingkarkannya ke tubuh Zhe. Perlahan, diangkatnya tubuh gadis itu dalam pelukannya.


William membawa Zhea ke tempat tidur. Pria itu bersandar pada sandaran kasur Zhe, sedangkan gadisnya masih setia meringkuk dalam pangkuannya. Lagi-lagi, hati William sakit melihat keadaan gadisnya. Pria itu menciumi puncak kepala Zhea berkali-kali, membuat tangisan Zhe sedikit mereda.


"Alva sungguh biadab, kan?" William berbisik seraya menatap prihatin gadis tak berdaya yang masih ada di pangkuannya. Mendengar itu, Zhe mengangguk seraya menenggelamkan mukanya di dada William.


Pria itu menutup matanya. Dia marah. Dia benar-benar marah, dan jika ia harus membunuh Alva, dia tidak peduli akan hal itu. Dia sama sekali tidak peduli. Karena entah mengapa, yang ia rasakan hanyalah, ia butuh membunuh siapapun yang menyakiti gadis itu.


"Daddy," bisik Zhe. William tersentak. Pria itu menatap Zhe yang tampak memandangnya dengan pandangan sakit. Gadis itu mengalungkan tangannya di leher William.


"Iam being hurted, daddy." Bisik Zhea lagi. Kali ini gadis itu menempelkan kepalanya untuk menghirup dalam tubuh William.


"Tidak apa-apa, sayang. Aku di sini sekarang." William menciumi kening Zhe, membuat gadis itu meneteskan air mata.


"Aku ingin mati, daddy. Rasanya sakit sekali hingga aku ingin mati."


William menutup matanya, "Siksa aku agar tidak hanya kau yang merasakannya, Zhe."


"Daddy.." Zhea menatap dalam mata coklat William, membuat pria itu terlena pula dengan keindahan mata hitam Zhea yang sayu.


"My hot daddy."


**** this situation. Setelah beberapa lama, entah apa yang membuat Zhea memanggil William dengan kalimat yang selalu membuat pria itu menjadi liar. Dan saat ini, Zhe dalam keadaan sadar. Ya, gadis itu mengatakannya tanpa pengaruh alkohol.


William tersenyum kecil dan ******* bibir Zhe singkat.


Mendengar pertanyaan itu, Zhea menundukkan kepalanya dan mengangguk. Setetes air mata kembali membasahi pipi Zhea.


Membuat William mengerang. Tangannya mencengkeram sprei Zhe hingga kusut.


"Dimana lelaki itu menyakitimu?" Bisik William lagi. Zhe semakin menangis. Membuat William mendekatkan wajahnya ke wajah Zhea. Tangannya meraba pipi Zhe yang membiru, "Disini?"


Zhea mengangguk pelan. Kemudian, William mulai menciumi pipi Zhea, membuat Zhe kegelian oleh jenggot tipis William, namun juga merasa bergairah di saat yang bersamaan.


Tangan William beralih pada bibir Zhe yang terluka, "Disini juga?"


William mencium dan mengecup semua bagian yang membiru dan memar, hingga terjadi sedikit pergumulan.


"Ahhhh, daddy, do more, ahhh." Zhe menggigit bibir bawahnya.


*SENSOR*


Setelah dirasa cukup, William berhenti dan menidurkan tubuhnya di samping Zhea, membuat gadis itu berdecak kesal karena kenikmatan itu berhenti di tengah-tengah.


"Daddy!" Zhea menghadap William dan berdecak kesal, membuat pria itu tersenyum dan membelai pipi Zhd begitu halus.


"Aku sungguh-sungguh menyayangimu, Zhe." Ucap William.


Pria itu menatap dalam wajah Zhe dan memainkan rambut gadis itu yang masih basah, "Kau tahu? Melihatmu seperti itu membuatku ingin mati."


Zhea terdiam. Jika William tidak datang, Zhe bersumpah untuk membiarkannya mati kedinginan di bawah pancuran.


"Mendengarmu menangis. Mendengarmu ingin mati, menyiksaku lebih dari kematian itu sendiri." William menarik telapak tangan Zhe, meletakkannya di dada bidang William. Membuat Zhe menutup matanya merasakan detakan jantung Will.


"Apa yang kau lakukan padaku?" Tanya William.


"Kau orang asing yang membuat jantungku seperti ini."


William menatap wajah Zhe semakin dalam, "Katakan padaku, apa yang kau lakukan hingga aku begitu menyayangimu? Hingga aku rasanya ingin mati karena melihatmu terluka?"


Zhea tersenyum dan mencium pipi William. Matanya mengunci mata coklat William, "Jangan meninggalkanku, daddy."


Matanya memanas, dan tak terasa, air mata kembali keluar dan membasahi pipinya. Membuat William menyesap air mata Zhea dan menciumi mata gadis itu yang tertutup.


"Jika kau meninggalkanku, aku akan mati. Aku tidak punya alasan lagi untuk hidup, jika bukan untuk berada di pelukanmu."


William mengecup kening Zhe lama, kemudian berkata, "Tidurlah. Aku di sebelahmu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu."


"Anda berjanji pada saya?" Tanya Zhe, membuat William mengangkat tangan Zhe, mengangkatnya di udara.


"Aku sudah mengunci ini, dan hanya kau yang punya kuncinya."


Zhea tersenyum. Gadis itu menyembunyikan tubuhnya dalam dekapan William. Merasakan kehangatan yang diberikan oleh pria itu. Satu-satunya pria yang begitu menghargainya tanpa menuntut apapun. Satu-satunya pria yang menyayanginya begitu banyak melebihi Zhea kepada dirinya sendiri. Satu-satunya pria.. yang menawarkan kenyamanan hanya dengan menyentuh dan memeluk tubuhnya.


William terus menciumi kening Zhea hingga gadis itu tertidur. Di tatapnya sebentar wajah Zhe yang tampak kesakitan dan kelelahan. Apakah William egois jika ia ingin Zhea bertahan di atas kesakitannya? Apakah pria itu egois jika ia ingin Zhe tetap hidup dan menjalani kehidupannya dengan William ketika mati membuatnya lebih bahagia?


William menghela nafas panjang. Yang ia tahu, membuat Alva masuk ruang ICU dengan tangannya sendiri saja pun tidak akan mampu mengatasi penderitaan yang Zhea rasakan.


"Maafkan aku, Zhea." Bisik William. Air mata pria itu keluar. Rasanya sungguh sakit, hingga William ingin mengiris kulitnya untuk memastikan apakah hal itu bisa lebih sakit dari sakit di hatinya?


"Maafkan aku membiarkanmu merasakan ini."