Sweet Child OR Hot Daddy

Sweet Child OR Hot Daddy
Pertemuan Pertama



🌿🌿Happy reading guys, mohon vote dan dukunganya yes😊🌿🌿


"Daddy?" Teriak Alva, dan terdengar teriakan dari dalam, "Yes, wait, son!"


"Alva, aku," Zhea tidak sempat mengatakan apapun ketika Alva tiba-tiba menarik tangannya menuju seorang pria paruh baya yang sedang berjalan menuju mereka.


Mata Zhea membulat tak percaya. Oh, dia benar-benar mengenal siapa pria paruh baya di hadapannya. Pria yang sudah ia putuskan untuk terhapus dari hidupnya. Pria seksi yang sudah ia anggap sebagai ayahnya sendiri, namun kenyataan mengatakan bahwa Zhea bahkan sudah berani telanjang dan menggoda pria itu, meski hanya lewat videocall.


Ya, pria itu adalah William Harison. Dan Zhe bersumpah, pria itu jauh lebih tampan dari apa yang ada di pikirannya. Lihat saja otot kekar di balik kaos pollo hitamnya. Lengannya yang penuh tato. Wajahnya dengan sedikit kerutan serta rambut halus di dagunya. William benar-benar tinggi. Zhea bahkan hanya sebatas bahunya.


"Daddy sudah pulang?" Suara Alva membuyarkan lamunan Zhe, membuat wajah gadis itu seketika memerah. Sialan. Dari sekian ratus ribu orang di New York, kenapa William harus dipanggil daddy oleh kekasihnya sendiri? Apakah kiamat akan benar-benar terjadi?


William, pria itu menarik nafas panjang. Dia memang kaget, benar-benar kaget dengan pertemuannya yang tiba-tiba dengan gadis itu. Azhalea-nya yang kini berada di dalam rengkuhan anak semata wayangnya. Ya, dia adalah gadis yang berumur 2 tahun lebih muda dari Alva, yang entah mengapa membuat dadanya berdesir, membuat pertahanannya hancur. Seorang William Harison, telah dilumpuhkan dengan telak oleh bocah 19 tahun bernama Azhalea Putri Florenza. Betapa memalukan?


"Ayah? Halo?" Panggil Alva, membuat mereka berdua tampak mengerjapkan mata masing-masing. William berdehem dan mendekati Alva. Menunjukan wajah paling dingin adalah pertahanan paling baik yang seharusnya ia lakukan saat ini.


"Perkenalkan, ini Zhe, pacarku. Yang pernah kita bicarakan waktu itu. Dan dia butuh menginap beberapa hari disini karena dia kehilangan semua uang beasiswanya."


Ucapan Alva benar-benar mengakibatkan ledakan keras di dasar hati William. Pacar, katanya? Oh, ****, stop it, Will. Zhe memang pantas menjadi kekasih Alva!


"Ah?" Hanya itu kata yang bisa keluar dari mulut William. Pria itu tak bisa melepaskan pandangannya dari gadis berkulit putih di hadapannya. Demi Tuhan, dia ingin sekali memeluk tubuh mungilnya dan menciuminya, namun tentu saja hal itu mustahil.


"Baby, perkenalkan, ini ayahku. Dia akan jadi dosenmu, jadi bersikap baiklah kepadanya. Tampan-tampan begini, dia profesor tua yang jenius loh," Alva terkekeh, menganggap semuanya lelucon. Namun bagaimana mungkin Zhe bisa tertawa ketika mengetahui sosok pria yang sudah hilang itu benar-benar berada di depannya?


Jadi, inikah ayah yang selalu Alva sebutkan? Seorang dosen besar di fakultas yang sama dengan Zhea.. Bodoh. Kenapa Zhe sama sekali tidak menyadarinya? Hey, stupid, look, his name is Alva Harison. Zhe memukul kepalanya sendiri. Bodoh. Benar-benar bodoh! Dosen besar mana lagi yang Alva maksud, jika nama belakang Alva adalah Harison? Jelas sekali seorang anak dari William Harison!


"Dad? Zhe? Hello?" Alva tampak menatap kedua sosok itu. Mereka hanya saling berpandangan tanpa mengucapkan apapun, dan itu benar-benar terasa canggung.


William menarik nafasnya panjang. Matanya benar-benar memperhatikan tiap jengkal dari tubuh Zhe. Gadis ini terlihat lebih baik dari yang terakhir ia lihat.


"Hallo, Mr. Harison, senang berkenalan denganmu." Ucap Zhe, oh suara gadis itu bahkan masih sama seperti dulu. Gadis itu mengulurkan tangannya untuk bersalaman, membuat William terdiam melihati tangan mungil itu. Sedetik kemudian, tangan William terulur untuk meraih tangan Zhe. Tangan Zhea begitu mungil dan hangat. Saat itu pula, William memejamkan matanya. Oh, beginikah rasanya memegang bagian tubuh yang sudah sejak lama ia impikan?


"William Harison, ayah dari Alva Harison." Ucap William tegas. Matanya menajam hingga mampu menguliti Azhalea, terbukti dengan gadis itu yang tampak menggigit bibir bawahnya takut-takut.


"Dad, kau menakutinya. Tenanglah, dia anak baik. Dia ini peraih beasiswa yang sering kita bicarakan." William terdiam seraya tetap menatap ke arah Zhea yang tengah menundukkan kepalanya. Oh, ****. Zhe seperti tertangkap basah mencuri.


"Ya, aku tahu. Indonesian girl, uh? Azhalea Putri Florenza." William tersenyum, membuat Zhea mendongak seraya menggigit bibir bawahnya keras-keras, memberikan kode kepada William untuk tidak pernah mengatakan hubungan apa yang sebenarnya mereka berdua pernah lalui. Be a bit reality, apakah kau akan rela jika kekasihmu mengetahui fakta dimana kau pernah bertelanjang di depan ayah kekasihmu sendiri?


"Dad. Kau mengenalnya? Maksudku, bagaimana kau tahu bahwa dia dari Indonesia?" Balas Alva, membuat Zhea semakin menundukkan kepalanya dan mengeratkan remasannya pada tangan William yang masih bersalaman dengannya.


"Ah, no. Aku hanya tahu satu nama mahasiswi program beasiswa dari data universitas. Am I right?" Ucap William seraya melepaskan pegangannya pada Zhea.


"Tenang saja, Zhe. Aku mengizinkanmu dengan Alva. Tapi bukan berarti kau akan mudah mendapat nilai A di mata pelajaranku." Ucap William membuat Alva tertawa. William mungkin bercanda, namun Demi Tuhan, Zhe bahkan sangat sulit untuk sekedar tersenyum saat ini.


William Harison, hot daddy nya yang seksi, adalah ayah pacarnya.


Zhe masih menegang di tempatnya, ketika tiba-tiba


seekor anjing berlari dan menerjangnya. Membuat gadis itu jatuh terduduk. Anjing itu menjilati dan memeluknya, membuat Azhalea tiba-tiba tertawa kegelian.


"Oh Jack, hentikan! Kau membuatku geli." Ucap Zhe masih dengan tertawa. Gadis itu menepuk-nepuk punggung anjing coklat tersebut seraya menciuminya, "Nice to meet you too, Jack, oh, anjing pintar."


William tersenyum lebar melihat Zhea dan Jack. Senyum yang sudah sangat ia rindukan. Teriakan yang sudah sangat ia inginkan. Ekspresi wajah yang selalu ia dambakan. Lihat, betapa dekatnya mereka? Lihat, bagaimana Jack bisa mengenali Zhe bahkan di hari pertama mereka bertemu.


"Babe?" Alva memanggilnya, membuat gadis itu mendongak masih dengan tertawa karena Jack yang terus menerus menjilatinya.


"Bagaimana kau bisa tahu namanya Jack?"


Tawa Zhe perlahan menghilang. Gadis itu menelan air liurnya. Sialan. Dia kelepasan.


"Ah, Alva, lebih baik kita makan dulu, dad sudah memasakkan masakan kesukaanmu." Ajak William yang seketika membuat Alva mengangguk. Pria itu berlari menuju ruang makan, meninggalkan Zhe dan William.


Alva memang gila.


Zhe semakin menelan ludahnya, menyadari jantungnya yang tiba-tiba berdetak kencang. William masih menatapnya dengan intens, kemudian berjalan semakin dekat ke arahnya. William membungkukkan tubuhnya, menyetarakan tubuh kekarnya dengan posisi Zhea. Membuat gadis itu menahan nafas. William tersenyum, mendekatkan wajahnya ke wajah Zhe. Sialan. Zhea semakin tidak merasakan keberadaan oksigen di sekitarnya.


Kini, yang Zhea rasakan justru dera nafas William yang memperlihatkan pipinya yang halus. William sangat wangi, wangi maskulin. Wangi yang Zhea yakin mampu melumpuhkan setiap gadis yang ada di dekatnya, termasuk Zhea.


"Hey dude, pergilah bermain. Go, go!" William menepuk paha Jack yang masih ada di pangkuan Zhea, membuat anjing itu menggonggong sekali, kemudian berlari meninggalkan Zhea yang masih mematung di tempatnya.


Setelah melakukan itu, William kembali berdiri, "Come on. You need a dinner," Ucapnya sebelum meninggalkan Zhea dan menyusul Alva.


"Woah daddy! Sup sirip ikan kesukaanku!" Alva berteriak histeris seraya mengambil piringnya dan mengisinya dengan nasi. Menatap itu, William tersenyum. Terkadang, anaknya bisa bertingkah kekanak-kanakan hanya karena makanan favoritnya tersaji di atas meja.


"Lihat ini, bagaimana bisa Zhea menerima anak kecil sepertimu," William tertawa, membuat Zhea yang baru memasuki ruangan pun ikut tertawa, terlebih ketika melihat tingkah kekasihnya.


"Biarkan saja, dia harus tahu kejelekanku juga, bukan hanya ketampananku," Ucap Alva seraya memakan sup-nya dengan lahap. William memerintahkan Zhe untuk duduk dengan gerakan mata, membuat gadis itu menurutinya dengan canggung.


"Makanlah, Zhe. Ini makanan kesukaan anak lelakiku." Ucap William seraya menatap dalam mata gadis tersebut. Zhe tahu bahwa Alva menyukai sup sirip ikan, selain itu, Alva juga lebih suka makan pancake dibanding roti selai di pagi hari. Well, William sudah pernah menceritakannya, meskipun pria itu tidak pernah menyebut nama Alva ataupun menunjukkan wajahnya. Serius, Zhea sudah puas hanya dengan melihat wajah tampan William kala itu.


"Dad, kau pulang lebih awal tanpa memberitahuku?" Ucap Alva seraya memakan makanannya, membuat William tampak mengangkat satu alisnya, "Asal kau tahu saja. Aku meneleponmu dan kau tidak mengangkatnya. Dasar anak nakal!".


"Alva, shut up." William mendengus. Well, kalian ingin tahu mengapa William pulang cepat-cepat? Jawabannya hanya satu, karena William ingin berbicara dengan gadis yang kini duduk termenung di hadapannya. William tidak ikut acara penutupan yang dilanjutkan dengan pesta sehari semalam itu hanya untuk menemui Azhalea.


"Dad, setelah ini aku akan pergi ke rumah Kath, ada tugas yang harus ku kerjakan. Kau tidak kemana-mana, kan?" Tanya Alva membuat William mengangkat bahunya, "Entahlah, sebenarnya, salah satu temanku mengundangku ke acara pembukaan butik barunya."


"Jangan, dad! Kau di rumah saja, aku titip gadis kecil ini ya." Alva mengacak-acak rambut Zhea, membuat gadis itu mendelik ke arah Alva, "Apa maksudnya?"


"Duh, aku tidak mungkin mengajakmu mengerjakan tugas, kan? Kau akan bosan. Lagi, aku akan sampai malam." Ucap Alva membuat Zhe menghela nafas dan berbisik, "Aku kan sudah besar. Jika ayahmu ada urusan, aku bisa menjaga diriku sendiri. Ayahmu itu orang sibuk, mengertilah!"


"Sesibuk pria bodoh yang melupakanmu itu?" Ucap Alva seraya terkekeh, membuat wajah Zhe merah padam. Sialan. Dia seharusnya tidak mengatakan hal apapun kepada Alva. Tapi, siapa yang menyangka kalau Alva adalah anak dari William?


"Apa maksudnya pria bodoh yang melupakannya?" William angkat bicara, dia masih fokus dengan makanannya, hingga sama sekali tidak melihat wajah Zhe yang semakin memerah.


"Dad, kau tahu? Dia punya kenalan, orang New York. Katanya, orang itu selalu menunjukkan berbagai objek menarik di New York." Ucap Alva membuat Zhea lagi-lagi mendelik, "Alva, stop. Sumpah, kau berbicara hal yang tidak penting."


Namun berbeda dengan Zhea, William justru menghentikan acara makannya dan menatap Alva sepenuhnya, "Oh ya? Bagus sekali. Sudah bertemu dengannya?" William tersenyum penuh arti ke arah Zhea, dan kini, pria itu hampir saja tertawa melihat wajah Zhea yang semakin memerah.


"Tidak. Katanya, pria itu terlalu sibuk untuk mengingat Zhea. Yang benar saja, pria bodoh mana yang akan melupakan gadis secantik ini." Alva merangkul bahu Zhea dan mendekatkan tubuh mungil itu ke tubuhnya. Terkutuklah Alva, bagaimana bisa dia berbicara hal seperti itu di depan William?


"Ah, dia terlalu sibuk? Atau kau yang mencoba untuk tidak menemuinya?" William mengatakan itu seraya menatap lekat-lekat wajah Zhea, namun kemudian ia tertawa, "Ya, kau benar, Alva. Hanya pria bodoh yang akan melupakannya."


"Tuh, lihatlah. Ayahku sangat baik, kan? Jadi kau tidak perlu sungkan kepadanya. Anggap saja dia sebagai ayahmu, okay?" Ucap Alva. Zhea tidak bisa menjawab apapun, karena saat ini, matanya sedang terkunci oleh mata seorang William Harison.


***


Setelah membereskan meja makan, Zhea membawa piring-piring kotor ke dapur. Menurut informasi Will, pembantu rumah tangga mereka akan datang jam setengah 6 pagi dan pulang jam setengah 6 sore. Well, sialan, bukan? Mengapa Zhe masih mengingat semua hal yang William ucapkan?


Zhea menyalakan kran air cucian dan mulai mencuci satu persatu piringnya. Alva sudah pergi ke rumah temannya sekitar 15 menit yang lalu. Dan William, dia bilang, dia akan bekerja di ruang kerjanya.


Flashback On.


"Dad. Apakah kau selalu menghabiskan waktumu di ruang kerja?" Zhe menopang dagunya. Dia tengah memperhatikan sosok William yang sibuk setengah mati dengan berkas-berkasnya. Tapi Zhea melarang pria itu untuk memutus sambungan mereka.


Tidak dijawab, Zhe bukannya kesal. Gadis itu justru tertawa kecil, "You look hotter when you are about being so busy just like now."


Mendengarnya, William tersenyum tipis, "Don't flirt on me sayang,"


"Gotcha daddy. Aku tidak bisa meragukan pesonamu," Zhea tertawa, membuat William mengangguk-angguk seraya memainkan bolpoin di atas berkas-berkasnya, "You better not."


Melihat William yang sama sekali tidak memperhatikannya, Zhea mendadak kesal. Gadis itu mengubah posisinya menjadi duduk dan berteriak, "What the hell, if I was there, I would seriously climb on your lap and kiss you hardly and rudely until you cant even reach any oxygen so you just pay your attention to me!!"


William menghentikan aktivitasnya. Pria itu tidak bisa tahan, jika yang mengganggunya adalah Azhalea. Ditutupnya semua berkas itu, kemudian menarik laptopnya hingga ia bisa melihat dengan jelas wajah Zhea yang tampak cemberut. William terkekeh, "Imajinasimu liar juga ya?"


Mendengarnya, wajah Zhea tiba-tiba memerah, membuat William semakin tertawa, "Well, aku akan menagihnya."


Pria itu mengerling jahil.


Flashback off.


"What?! What kind of memory is that!!!" Wajah Zhea memerah ketika ingatan itu memasuki pikirannya. Spontan, dia menutup wajahnya dengan tangan yang penuh dengan busa.


"Oh ****! Zhe!" Zhea merasakan matanya yang perih. Gadis itu meringis seraya mencari-cari putaran keran.


Namun, gadis itu merasakan seseorang sedang memutar keran tersebut, sehingga terdengar aliran air. Ia juga merasakan tangan besar seseorang tampak meraup wajahnya, kemudian membasuh matanya, dengan begitu lembut.


"Apakah kau bodoh?" Ucap suara itu khawatir. Suara yang entah mengapa begitu Zhea rindukan. Zhe berhenti mengaduh dan membuka kedua matanya yang sudah tidak terasa perih. Di tatapnya sosok pria tampan berbadan bak atlit itu tengah menatapnya intens. Wajah Zhe semakin memerah. ****. Kenapa semua hal tentang pria itu membuatnya memerah?


Canggung. Itulah kata yang dapat menggambarkan keadaan mereka berdua. Zhe menundukkan kepalanya, sama sekali tidak berani menatap wajah pria yang ia putuskan untuk dihapus dari kehidupannya.


"Come on, kau akan terus bersikap seperti ini?" Ucap pria itu, kemudian mengulurkan tangannya untuk mengangkat wajah Zhea. Membuat mata itu terkunci seluruhnya oleh mata coklatnya.


Zhe merasakan dadanya yang berdetak ribuan kali lebih kencang, dan dengan hati-hati, gadis itu melepaskan tangan William dari wajahnya.


"I am sorry, Mr. Harison," Ucap Zhe sopan. Dadanya terus bergemuruh. Tak ada pilihan lain selain segera meninggalkan tempat itu. "You remember Jack, but you dont remember us?"


William sengaja menekankan kata us, membuat Zhe dengan berani tersenyum sopan ke arahnya, "Excuse me, Pak. Saya pikir saya sedikit lelah, jadi,"


Ucapan Zhe terpotong ketika William mulai mempersempit jarak di antara mereka, membuat Zhe berjalan mundur. Gadis itu hampir saja berlari ketika William meletakkan kedua tangannya di kanan-kiri tubuh Zhe, membuat gadis itu terkunci seketika.


"Azhalea Putri Florenza," Will berbisik di leher Zhe, yang justru terdengar seperti *******. Hal itu membuat Zhea menggigit bibir bawahnya. Sungguh, dia tidak akan pernah menatap William, karena ia bisa saja menerjang bibir pria seksi itu saat ini juga.


"Senang bertemu denganmu." Ucap William lagi. Pria itu tersenyum kemudian memundurkan tubuhnya, membuat Zhe bernafas lega saat itu juga.


"Berhenti bersikap seperti itu jika kau tidak mau Alva curiga kepada kita." Will tersenyum seraya menepuk kepala Zhe yang hanya sebatas dada bidangnya.


"Benarkah?" Zhea memberanikan diri untuk mendongak, membuat Will menghela nafas panjang. Wajah gadis itu benar-benar sempurna untuk dicium.


"Ya. Lupakan saja apa yang pernah terjadi. Aku tidak mungkin tertarik kepadamu." Ucap William, pria itu menyentil dahi Zhe sebelum akhirnya meninggalkan Zhea yang entah kenapa merasa kesal atas kata-kata William.


Apa dia bilang? Tidak mungkin tertarik padaku?