
2 Monts later
Tepat dua bulan yang lalu di hari ini, Zhea melaksanakan tahap terakhir beasiswa New York University. Sesuai yang telah diumumkan, peserta yang lolos bisa langsung mengurus berkas-berkas dan passport guna keperluan yang menunjang keberangkatan mereka ke New York. Pengumuman kelolosan dapat diketahui dari email masing-masing, dan sayangnya, hingga saat ini, Zhe sama sekali tidak berminat membuka akun emailnya. Dia benar-benar tidak lagi punya minat untuk pergi ke New York. Alasan utamanya adalah dia tidak mau, dan tidak akan pernah mau bertemu dengan William. Alasan keduanya, entah apa yang membuat ayahnya tidak lagi berbuat kasar kepadanya. Well, ayahnya masih saja bersikap dingin, namun tidak kasar. Ayahnya juga jarang memukulinya akhir-akhir ini.
Hari ini, ada perkumpulan teman-teman ayahnya di rumah mereka. Dan Zhe lebih memilih untuk mengurung diri di kamar, setelah membantu menyiapkan makanan dan minuman di ruang tamu. Selain karena besok ada kuis pagi, Zhe juga lebih memilih mendengarkan lagu dengan headset-nya ketimbang berada di keramaian orang-orang mabuk. Well, serius, ini sudah hampir tengah malam dan mereka masih berkicau, tertawa terbahak-bahak karena pengaruh minuman keras dan musik disko. Entah apa yang akan dipikirkan tetangga sekitar karena mendengar kebisingan itu. Oh, Zhe hampir lupa. Rumah mereka berada jauh dari orang-orang. Bahkan, ini seperti di tengah-tengah pekarangan.
"Zhea," Suara parau memanggil nama gadis itu, membuat Zhe melepas satu headset-nya seraya mengerjapkan mata. Gadis itu membangkitkan tubuhnya, melihat seorang pria paruh baya berjalan sempoyongan ke arahnya.
"Ada apa, ayah?" Tanya Zhe. Pria itu tersenyum lebar seraya duduk di sebelah Zhe. Pria itu membuka selimut yang menutupi tubuh Zhe dan seketika tertawa kecil, "Itu milik Andrea kan."
Zhe tersenyum lebar dan mengangguk. Gaun mini bermotif bunga yang sedang ia kenakan memang milik ibunya. Ayahnya sudah membuang barang-barang ibunya ke gudang. Tapi tentu saja, bukan Zhe namanya jika tidak memungut dan menyimpannya. Bagaimanapun, dia merindukan ibunya, seburuk apapun ibunya di mata sang ayah.
PLAK
Zhea tersentak ketika tiba-tiba sebuah tamparan mengenai pipinya dengan begitu keras.
"Dasar pelacur! Pergi dari hidupku!" Bentak Salim, ayah Zhea. Bentakan yang sering Zhe dapatkan ketika ayahnya sedang mabuk. Mata Zhe memerah. Ia pikir, ayahnya sudah berubah, namun lihat?
"Oh, Andrea, maafkan aku. Aku.. aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu, tetapi kenapa kau pergi? Kau pergi kepada pria lain dan meninggalkan anak sialanmu ini kepadaku?!" Rony memeluk tubuh Zhe, membuat gadis itu menangis sesenggukan. Dia tidak tahu apa yang terjadi, karena sejak dulu, ayahnya memang tidak pernah memberitahu apapun mengenai kepergian ibunya. Dia hanya sering marah-marah dan memukul Zhe.
"Ayah, kenapa ayah membenciku? Aku salah apa?" Ucap Zhea sesenggukan. Hal itu membuat Salim tersadar, kemudian tersenyum sinis.
"Zhe, ayo ikut ayah. Teman ayah ingin berkenalan denganmu." Ucap Salim membuat Zhe menaikkan alisnya bingung. Pria itu kemudian tersenyum dan menghapus air mata Zhea,"Udah, ayo. Mereka pingin tau kamu."
Salim menarik lengan Zhe, membuat Zhe akhirnya berdiri. Namun gadis itu menahan ayahnya, "Eh, bentar, yah! Zhe mau ganti baju!"
Salim terdiam, kemudian memandangi anak perempuannya dari atas ke bawah. Zhe hanya memakai dress tanpa lengan 30 cm di atas lututnya bermotif bunga. Dia juga memakai bra berwarna merah, karena tali bra-nya terlihat di balik seutas tali dress di pundaknya. Dada Zhe yang membusung, serta pahanya yang terekspos membuat Zhe terlihat sangat seksi dan panas. Salim semakin tersenyum sinis melihatnya.
"Udah, kelamaan!" Desisnya kemudian menarik tangan Zhe lebih keras, membuat gadis itu terseret-seret hingga ke ruang tamu.
"Ayah! Lepasin Zhea!" Teriak Zhe, tapi Salim tidak mau mendengar. Pria itu tersenyum puas ketika berhasil mendorong Zhe ke salah satu sofa yang kosong. Membuatnya jatuh dengan posisi dress yang tersingkap, hingga memperlihatkan ****** ******** yang menutupi bokong berisinya.
"Ayah!" Wajah Zhea memerah. Dengan segera, gadis itu membetulkan posisinya, dan menatap satu persatu wajah pria-pria tua seumuran ayahnya yang kini menatapnya tanpa berkedip. Kira-kira ada 10 pria di sana, dan mereka semua dalam keadaan mabuk.
"Lim, nggak habis pikir. Bener-bener mirip sama si Andrea. Gila! Gue keras, nih!" Seorang pria terkekeh, membuat Zhe bergidik ngeri mendengarnya. Gila. Dia seperti diterkam sepuluh ekor harimau saat ini. Pandangan mereka benar-benar lapar.
Dengan panik, Zhe berdiri, dan hendak berlari menuju kamarnya. Namun tiba-tiba, Salim menarik lengannya dan membantingnya ke sofa. Well, kini Zhe benar-benar merasa takut.
"Ayah, Zhea mau tidur.. Besok ada ulangan,"
"Nggak! Lo tetep disini!" Bentak Salim, membuat Zhe semakin bergidik ngeri.
"Lim, gimana nih? Gue udah pengen banget. Bisa kan? Duh, ini anak mulus banget sih, gue ga tahan!"
"Lim, dipegang boleh kan?"
"Lim, kalau barangnya gini, lo minta tiga ratus juta juga gue kasih!"
Zhe mendengarkan mereka tidak percaya, kemudian mengungkapkan pandangannya dengan memohon. Seburuk-buruknya ayahnya, ia tak mungkin melakukan sekeji ini terhadap Zhea, kan?
"Tenang aja, lo semua bakal puas malem ini! Yang penting duitnya jalan!" Salim terkekeh.
Dan saat itu pula semua harapan Zhe runtuh. Demi Tuhan, dia tidak menyangka, ayahnya sendiri ingin menjualnya dengan cara sekeji itu. Dia kembali berdiri dan hendak berlari ketika seorang pria menarik lengan kanannya, "Adik sama om ya malam ini. Tenang aja deh, om bakal puasin adik, kok."
Zhea benar-benar ingin menangis. Gadis itu merasakan tangan pria tua itu menggerayahi lengan kanannya hingga ke pundak. Kemudian seorang pria lainnya memegangi lengan kirinya.
"Aduh, dek, om keras banget tau. Kamu mulus sih, seksi lagi."
Zhe berusaha memberontak, namun tenaganya kalah kuat dengan kedua pria itu. Di tambah lagi, seorang pria datang dan membuka lebar-lebar kedua kakinya, memperlihatkan CD merah yang sedang Zhea pakai.
"Ayah! Tolongin Zhea, yah! Tolongin Zhe!" Gadis itu berteriak sambil menangis, mencoba menilik sedikit saja rasa iba dari sang ayah, namun nihil. Salim justru tersenyum semakin lebar.
"Cepet banget basahnya, sayang, jadi nggak sabar pengen masukin," Pria itu menyeringai. Kemudian, dari atas, Zhe merasakan tangan-tangan yang mulai meremas dua burger di dada nya, membuat Zhea semakin mendesah di atas tangisannya. Mereka semakin gencar mempermainkan tubuh Zhe. Bahkan, karena tidak sabar, salah satu pria itu menarik keras-keras dress mini yang menempel di tubuh Zhe hingga robek.
"Oh, kamu sangat seksi, sayang!" Mereka membuang dress tersebut, menyisakan pembungkus burger merah dan CD merah. Kini, gundukan burget Zhe benar-benar terlihat, membuat mereka semakin gencar memberikan perlakuan-perlakuan mereka terhadap Zhea.
"Please.. ayah.. please, tolong Zhea, please... ahhh... tolong.." Zhea menangis sesenggukan. Dia merasa benar-benar hina sekarang.
Namun, akankah Zhe rela berakhir seperti ini di tangan pria-pria mesum seperti mereka? Tidak! Jawabannya adalah tidak! Zhe tidak akan pernah menyerahkan kesucianya pada orang-orang bejat seperti mereka.
Dengan perlahan, gadis itu membuka matanya. Dan demi Tuhan, dia merasa jijik dengan dirinya sendiri. Dia melihat seorang pria menjilati daerah sensitif nya, dan hal itu membuat Zhe benar-benar marah. Ya. Zhea marah dengan dirinya. Dia juga marah dengan ayahnya. Dia marah dengan kehidupannya yang tidak pernah terasa sempurna.
Dengan kesal, Zhea menendang wajah pria itu. Membuatnya jatuh ke belakang, dan sukses membuat semua orang terkaget-kaget. Dengan cekatan, Zhe segera bangkit dan meninju muka mereka sekuat tenaga. Zhe berlari menuju kamarnya secepat mungkin.
"Zhea! Berhenti!!!" Ayahnya mulai berteriak, namun Zhe tidak peduli. Gadis itu terus berlari, hendak menutup pintu kamarnya dari dalam ketika tangan ayahnya menghalangi pintu.
"Ayo! Tutup kalau berani! Tutup!!" Bentak ayahnya. Salim selalu tahu apa yang jadi kelemahan Zhea. Sejahat-jahatnya Salim terhadap Zhe, gadis itu tak pernah bisa melihat ayahnya kesakitan. Karena bagaimanapun, dia hanya punya ayah sebagai keluarganya.
Namun sepertinya, Salim salah. Karena sejak malam ini, Zhe sudah menetapkan hatinya untuk membuang sosok ayah dari kehidupannya. Persetan dengan hidup sebatang kara. Dia benar-benar membenci ayahnya.
Maka, dengan sekuat tenaga, Zhea menutup pintunya, membuat tangan ayahnya yang menghalangi ikut terjepit. Membuat ayahnya berteriak dan mengumpat kesakitan, yang kemudian membuatnya mau tak mau melepaskan tangannya dari pintu itu.
Zhea tidak mau tinggal diam, gadis itu segera mengunci pintu kamarnya dan membuang kuncinya ke sembarang arah.
"Sialan! Pelacur sialan! Nggak tau diuntung! Lo itu sama aja kayak ibu lo! Pembawa sial dalam hidup gue! Emang seharusnya gue bunuh elo pas elo dititipin ke gue!! Dasar nggak tau terima kasih!! Sia-sia gue nahan emosi buat nggak nyiksa elo cuma biar lo keliatan cantik, terus gue bakal dapet duit banyak, tapi liat? Ini balesan lo? Tau gitu gue bunuh lo sekalian! Gue bunuh lo!!"
Zhe menangis sesenggukan mendengar gedoran pintu kamarnya. Tangannya bergetar hebat, mencari ponselnya dan mengetikkan sesuatu di atas ponselnya. Dengan bibir yang digigit keras-keras, Zhea menempelkan ponsel itu ke teliganya.
"Sindi! Jemput gue sekarang! Gue... gue bisa mati.. gue mau mati.. Jemput gue di depan kamar gue, lewat jendela.. Tolong, please jemput gue, Sin. Jemput gue!"
**
Zhea memeluk Sindi sangat erat. Entah apa yang akan terjadi kepada Zhe jika Sindi tidak ada di hidup Zhe. Sedangkan Sindi, gadis itu bahkan meneteskan air mata, mendengar patah demi patah kata yang keluar dari mulut Zhe mengenai kejadian yang baru saja gadis itu alami. Demi Tuhan, Zhe baru saja akan diperkosa oleh sepuluh orang pria tua. Dan parahnya, ayahnya sendiri yang merencanakan itu. Sindi benar-benar tidak tahu, kehidupan apa yang sebenarnya Zhe Alami. Dan ayah macam apa si keparat Salim itu? Mungkinkah seorang ayah berlaku sejahat ini kepada anak perempuannya sendiri?!
"Gue bakal anter lo ke kantor polisi, besok." Sindi menghapus air matanya dan menatap sosok yang masih bergetar ketakutan di depannya.
"Lo harus laporin bokap lo, Zhe! Ini udah tindakan kriminal tingkat berat! Lo nggak bisa biarin ini gitu aja!" Ucap Sindi nggak habis pikir, "Kalau cuman mukul elo, marah-marahin, itu biasa. Tapi? Lo bahkan hampir dijual sama dia! Gue nggak tahu kalo ada bokap sekeji itu!"
mendengar patah demi patah kata yang keluar dari mulut Zhe mengenai kejadian yang baru saja gadis itu alami. Demi Tuhan, Zhe baru saja akan diperkosa oleh sepuluh orang pria tua. Dan parahnya, ayahnya sendiri yang merencanakan itu. Sindi benar-benar tidak tahu, kehidupan apa yang sebenarnya Zhe hidupi. Dan ayah macam apa si keparat Salim itu? Mungkinkah seorang ayah berlaku sejahat ini kepada anak perempuannya sendiri?!
"Gue bakal anter lo ke kantor polisi, besok." Sindi menghapus air matanya dan menatap sosok yang masih bergetar ketakutan di depannya.
"Lo harus laporin bokap lo, Zhe! Ini udah tindakan kriminal tingkat berat! Lo nggak bisa biarin ini gitu aja!" Ucap Sindi nggak habis pikir, "Kalau cuman mukul elo, marah-marahin, itu biasa. Tapi? Lo bahkan hampir dijual sama dia! Gue nggak tahu kalo ada bokap sekeji itu!"
"Gue.. gue takut, Sin. Gue takut." Bisik Zhea. Gadis itu menggigit bibir bawahnya lagi.
"Zhe, kalau nggak gitu, hidup lo nggak bakal tenang. Bokap lo bakal terus ngejar lo! Oke, abaikan gue, dia nggak bakal berani nyakitin gue. Tapi lihat ke elo? Gue nggak bakal bisa tiap hari ngelindungin elo, Zhe!"
Zhea terdiam. Sindi benar. Lagipula, dia juga nggak bakal selamanya ada di rumah Sindi, kan?
Lalu tiba-tiba, Zhe teringat sesuatu. Gadis itu membuka ponselnya dan mengotak-atiknya sebentar. Namun kemudian, senyuman lebar menghiasi bibir gadis itu.
"Zhe?"
"Sin, besok, anterin gue ngurus passport."
"What? Zhe? Jangan bilang, lo?" Sindi merebut ponsel Zhea dan menatapnya lekat-lekat.
Dan akhirnya, gadis itu bisa tersenyum lega.