Sweet Child OR Hot Daddy

Sweet Child OR Hot Daddy
Alasan Zhea hidup



Jangan bermain-main.


Alva menghela nafas ketika ucapan sang ayah tiba-tiba terngiang di pikirannya. Well, William benar-benar memberondongnya kemarin malam. Meskipun Alva menghadapinya dengan tenang, tak bisa dipungkiri bahwa dalam hati, pria itu juga takut. Takut jika apa yang ayah takutkan menjadi kenyataan.


Alva memang hidup dalam didikan yang baik di bawah William. Namun sekali lagi, dia tak bisa memungkiri bahwa tak semua sifat William harus bisa ia wakilkan. Yang William takutkan adalah, Zhe, si gadis Asia yang tinggal di Asia memiliki kebiasaan dan cara pandang yang berbeda dengan pemuda New York pada umumnya. Jika *** bebas sudah menjadi makanan sehari-hari di New York, maka hal itu tabu untuk dibicarakan di negara Zhea. Alva bisa mengartikan dengan jelas sikap Willia. yang mewanti-wanti dirinya kemarin.


Entahlah. Alva mungkin sudah gila. Disaat pertama ia bertemu Zhea, dia hanya berpikir bahwa Zhe menarik. Gadis itu tidak berselfie dan berlomba-lomba mengupdate segalanya tentang New York seperti apa yang teman-temannya lakukan. Gadis itu tidak tersenyum dan bercanda seperti apa yang mereka lakukan. Justru, gadis itu memilih untuk duduk di salah satu bangku taman, dan menangis. Ketika Alva hanya mencoba. peduli dan menghiburnya, gadis itu justru menolak Alva mentah-mentah. Serius, apakah orang Asia tidak suka bule? Namun, pada hari itu juga, Alva mencoba untuk menggoda salah satu murid beasiswa lainnya dan gadis itu berteriak tepat di depannya. Dari situ, Alva menyimpulkan bahwa Zhea-lah satu-satunya orang yang kebal oleh pesonanya.


Alva memang tidak tahu apa yang akan ia lakukan ke depannya. Yang ia tahu, ia hanya harus melihat senyuman Zhea. Ia hanya harus menjadikan gadis itu sebagai kekasihnya. Alva tidak tahu sejak kapan kedua hal itu menjadi obsesinya.


"Zhea, McD, please? Aku lapar," Alva mengelus perutnya, membuat Zhe mengangguk dan berjalan di sebelah Alva. Mereka memasuki McD yang memang sedang tidak jauh dari tempat mereka.


Alva menyuruh Zhea duduk di salah satu tempat kosong, sedangkan dirinya tampak berjalan untuk memesan makanan.


"Pesan apa?" Tanya Alva seraya menoleh ke arah Zhea, yang dibalas Zhe dengan menatap samakan saja kamu.


Alva datang dengan dua paket Big Mac di tanganya. Setelah duduk, Alva berkata, "Makan yang banyak. Kalau masih lapar, aku akan pesankan lagi."


"Kau ingin aku gendut?" Zhea tertawa membuat Alva mengangguk bersemangat, "Kau akan terlihat semakin seksi jika kau gendut, tahu?"


Zhea memutar bola matanya, "Mesum, tahu?" Mereka tertawa akan banyak hal yang sedang mereka bicarakan. Baik hal penting maupun tidak. Dan mereka berdua begitu menikmati pembicaraan-pembicaraan itu.


"Kau tahu? Temanku suka merasa malu jika aku menghabiskan makananku tanpa menyisakan apapun. Mereka suka menyindirku seperti ini, Wah, Alva! Kau bahkan tidak perlu mencuci piringmu!" Ucap Alva seraya memperagakan apa yang temannya lakukan, membuat Zhea tertawa untuk yang kesekian kalinya.


"Hanya saja, ayahku selalu mengajarkanku untuk itu. Dia selalu berkata bahwa setiap makanan yang kita buang akan berarti banyak bagi orang lain. Take all you can eat, and eat all you can take." Lanjut Alva, membuat Zhea berdecak kagum.


Gadis itu ingat bagaimana ayah Alva di pertemuan kemarin. Pria berbadan gembul itu memang terlihat sangat serius meskipun Zhea tidak memperhatikan keseluruhan acara.


"Wah, aku tidak tahu ayahmu begitu bijaksana!" Zhea terkekeh. Well, jika dilihat dari luarnya, pria gembul dengan rambut putihnya itu benar-benar seperti sosok dosen killer yang membosankan. Tetapi, istilah Don't judge a book by its cover memang masih berlaku, jika dilihat dari cerita Alva.


"Kau sudah tahu ayahku?" Tanya Alva, membuat Zhea mengangguk mantap. Dan serius, Alva sempat kaget karena gadis ini juga merupakan satu-satunya gadis yang merasa biasa saja oleh pesona ayahnya.


"Aku akan memperkenalkanmu secara langsung dengannya, jika dia sudah kembali ke sini." Ucap Alva membuat Zhea mengangkat alisnya, "Memangnya dia dimana?"


"Di California. Biasa, orang sibuk." Balas Alva. Dalam hati, Zhe membenarkan, tentu saja, tidak mungkin seorang dosen dari universitas ternama di dunia akan bebas dari kata sibuk.


"Tapi kau tahu? Dia itu pria terbaik yang pernah aku kenal." Alva tersenyum, dan dari senyuman Alva, Zhe tahu bahwa pria ini begitu menyayangi ayahnya.


"Ibuku sudah meninggal. Jadi, ayahku lah yang menggantikan keberadaan ibuku. Dia menjadi ayah sekaligus ibu yang begitu hebat untukku." Lanjut Alva, membuat senyuman Zhea melebar. Ah, Alva sungguh beruntung.


"Kalau begitu, kau harus menjadi ayah yang seperti dia nantinya." Balas Zhe membuat Alva terkekeh.


"Oh ya, bagaimana dengan keluargamu? Maksudku, kau pasti punya keluarga yang sangat hebat. Seriously, anak mereka adalah penerima beasiswa New York University! Mereka pasti sangat bangga ya?"


Senyuman Zheamendadak hilang ketika kata demi kata itu muncul dari bibir Alva. Keluarganya hebat? Sialan. Ibunya kabur saat dia berumur 2 tahun. Ayahnya suka mabuk-mabukan dan menyiksanya. Dan yang lebih parah, dia hampir saja dijual oleh ayah kandungnya sendiri.


Entah mengapa, tubuh Zhe tiba-tiba bergetar ketika lagi-lagi, kejadian itu teringat jelas di kepala Zhea. Seringaian sinis, tatapan lapar, sentuhan-sentuhan yang membuat Zhea ingin sekali merobek kulitnya sendiri agar tidak menyisakan apapun. Karena percayalah, hal itu benar-benar menjijikkan.


"Zhea, are you okay?" Alva terkejut melihat perubahan sikap Zhea. Dan tanpa pikir panjang, pria itu memeluk tubuh mungil Zhe. Membuat tangis gadis itu pecah.


"You are not okay." Ucap Alva lagi seraya mengelus punggung Zhea. Ya, Alva harusnya tahu, sejak hari pertama ia bertemu Zhea, ada sesuatu yang gadis itu tahan dan sembunyikan rapi-rapi.


Dan kini, ia seolah melihat sesuatu yang sedang Zhea sembunyikan itu terkuak. Membuat lukanya terbuka. Dan Alva yakin, semua itu karena dirinya.


"I am sorry, I am sorry," Alva menutup matanya seraya mengelus kepala Zhea. Gadis itu masih sesenggukan. "Baiklah, jangan bicarakan apapun tentang mereka jika itu membuatmu sakit. Lupakan semuanya, Zhea." Ucap Alva seraya mempererat pelukannya, membuat Zhea semakin menangis di pelukan Alva.


Namun, saat ini, rasanya berbeda.


Dia hanya butuh pelukan Alva untuk meredakan semuanya. Tidak hilang, tapi cukup ampuh untuk meringankannya.


"I wanna die. I want. I want to die. I want to die so I can forget all the stupid shits happened in my stupid life. I want to die, Alva! Just tell me the fuckin reason why should I still alive and live this bullshit!" Cercah Zhe, membuat Alva menarik wajah Zhea. Menatap gadis itu sejenak, sebelum akhirnya ******* bibir merah muda Zhe. Membuat gadis itu tersentak kaget, namun tidak punya kuasa untuk menyudahinya. Zhea tidak bereaksi. Gadis itu tidak membalas maupun menolaknya. Ia hanya merasakan betapa manisnya bibir Alva.


"Baik, waktu kita disini sudah cukup. Sekarang, aku akan membawamu ke tempat lain."


Zhea menghapus sisa-sisa air matanya ketika menyadari mereka sedang berhenti di rumah berwarna putih dengan lapangan yang cukup lebar. Gadis itu tidak bisa menahan rasa penasarannya lebih lama, "Dimana ini? Kenapa kita disini?"


Alva tersenyum, "Untuk memberimu alasan mengapa kamu harus menjalani omong kosong ini."


Zhea tidak mengerti. Namun gadis itu memilih untuk mengikuti Alva yang tengah memasuki ruang putih itu.


"Alva! Oh, ya Ampun! Kau sudah lama tidak berkunjung ke sini!" Seorang wanita paruh baya tampak tersenyum lebar seraya memeluk tubuh Alva, membuat pria itu membalas pelukan si wanita dengan tawa yang renyah.


"Maafkan aku, Nyonya Kathrine. Aku sedang sibuk dengan kuliahku." Balas Alva membuat wanita itu tersenyum dan melirik Zhea yang tengah berdiri di belakang Alva.


"Kau tidak datang dengan ayahmu? Tetapi dengan seorang gadis?" Kathrine menyeringai, membuat Alva tertawa hangat, "Apakah anak-anak ada di dalam?"


Kathrine mengangguk, "Iya, mereka sedang istirahat di kebun belakang. Silahkan masuk."


Kemudian, Alva memberikan kode kepada Zhe untuk mengikutinya. Zhea pun menurut, karena sejujurnya, Zhea juga tidak tahu tempat apa ini serta alasan Alva mengajaknya ke sini.


Mereka sampai di sebuah taman yang cukup luas, penuh dengan anak-anak yang sedang bermain berbagai permainan. Dan yang membuat Zhe terkejut adalalah, sebagian anak-anak tersebut memiliki disabilitas.


"Alva, sebenarnya ini dimana?" Setelah diam terlalu lama, akhirnya Zhe bertanya. Membuat Alva tersenyum seraya merangkul bahu Zhea, "Ini yayasan yatim piatu luar biasa. Ayahku salah satu donatur tetap, jadi kami selalu ke sini setidaknya setiap bulan. Tapi akhir-akhir ini, aku jarang ikut ayah."


Zhe manggut-manggut. Padangannya memutar pada setiap sisi kebun. Ada beberapa anak yang sedang bermain bola, tetapi yang membuat Zhe tersentuh, salah satu dari mereka tidak punya kaki kiri. Kemudian, ada anak yang sedang berbicara di depan teman-temannya, seolah sedang menceritakan kejadian menarik yang ia alami. Ada pula gadis di atas kursi roda yang sedang menyiram bunga. Hal-hal itu entah mengapa membuat Zhe tersenyum lebar.


"Lihat itu," Alva menunjuk seorang lelaki cilik yang sedang bermain bola.


"Namanya Richard. Dia kehilangan kakinya sejak umur 3 bulan karena kanker ganas. Dan saat itu, orang tua mereka meninggalkannya di rumah sakit tanpa tanggung jawab." Jelas Alva.


"Dan gadis yang sedang bercerita di depan teman-temannya itu. Namanya Shelby. Dia tuli sejak lahir." Alva kini menunjuk seorang gadis yang Zhe pikir sedang menceritakan hal menarik tadi.


"Jika kau lihat gadis cilik yang sedang menyiram bunga, namanya Diamond. Ia mengalami sindrom turner." Lanjut Alva. "Tanyakan kepada mereka alasanmu untuk hidup, Zhe."


Alva tersenyum, membuat Zhe menatap pria itu tanpa berkedip.


"Richard kehilangan kedua orang tuanya. Dia juga kehilangan kaki kirinya. Tapi dia masih bermain bola."


"Shelby tidak bisa mendengar sejak lahir. Dia pun susah berbicara. Namun dia tetap bercerita tentang pengalamannya kepada teman-temannya."


"Diamond harusnya merutuki kehidupan tidak sempurnanya. Tapi dia justru merawat bunga-bunga agar hidup sempurna melalui ketidaksempurnaannya."


Ucapan demi ucapan yang Alva keluarkan seolah menjadi pedang yang mampu menghujam jantung Zhea. Alva benar. Gadis itu terlalu merutuki kehidupannya. Terlalu berharap untuk mati. Sampai lupa jika ada anak-anak seperti mereka yang justru harus berjuang mati-matian untuk bertahan hidup. Air mata Zhea turun.


Alva tersenyum, pria itu menarik tubuh Zhe agar bisa berhadapan dengannya. Diraihnya kedua bahu Zhea, kemudian ditatapnya mata hitam Zhea begitu intens, "Aku tidak akan menyuruhmu untuk berhenti menangis, Azhalea. Aku juga tidak akan menyuruhmu untuk menceritakan masalahmu kepadaku " Berkedip.


"Tapi kau harus ingat, Zhe. Jika kau sedang bersedih, sedang teringat akan masa lalu yang menyakitkan, yang membuatmu berpikir untuk mati dan menyiksa dirimu sendiri," Alva menghela nafas panjang, "Ingatlah bahwa masih banyak orang yang lebih sedih dan mengalami kejadian yang lebih menyakitkan. Ingatlah bahwa hidupmu belum berakhir. Ingatlah bahwa kau harus kuat menghadapinya. Dan ingatlah, bahwa kita semua berhak untuk satu harapan lainnya."


Zhea tersenyum. Gadis itu semakin menatap mata coklat Alva yang begitu meneduhkannya. Alva sungguh berbeda. Ya, Alva berbeda dengan pria lainnya yang hanya butuh tubuhnya. Alva berbeda dengan pria lainnya yang mendekatinya untuk keuntungan mereka. Alva sungguh berbeda. Dan Alva, membuat Zhea sadar bahwa dia masih punya alasan untuk hidup di dunia yang menyakitkan. Alva memberikan Zhea alasan, dan tanpa Zhea sadari, Alva sendirilah yang akan menjadi alasan Zhea untuk hidup.