
Untuk mengatakan bahwa Azhalea Putri Florenza sedang jatuh cinta kepada Alva Harison, rasanya terlalu cepat. Demi Tuhan, mereka baru kenal selama 3 hari. Bahkan, mereka belum mengenal begitu dekat satu sama lain. Namun, kenyataannya, hari-hari dimana Zhe mulai mengenal Alva, saat itu pula Zhea memulai kehidupan barunya yang penuh keceriaan. Semua yang Alva lakukan, dari gombalan, hingga kata-kata bijaknya mampu membuat Zhe tersenyum semalaman. Zhe bahkan tidak lagi mimpi buruk, dan semua itu karena Alva.
Selain itu, Alva adalah satu-satunya pria dimana ketika orang-orang sibuk mencari tahu tentang hubungan mereka, maka Zhea hanya menjawab dengan "We are nothing but friends.", but guess what? Zhe selalu tersenyum lebar ketika mengatakan itu.
Deringan ponsel membuat Zhea tersentak. Ketika tahu Sindi yang meneleponnya, Zhe segera menekan tombol hijau.
"Hallo, Zhe? Apaan? Gue tadi baru selesai ngampus lagi di jalan. Ini udah di rumah. Lo kok belum tidur sih? Hampir tengah malem juga." Benar-benar khas seorang Sindi.
"Nafas bisa kali Sin," Zhea tertawa, membuat Sindi di seberang sana ikut tertawa.
"Duh, seneng banget ya hari ini? Ada apa sih? Alva nih pasti." Sindi tertawa, membuat senyum Zhea perlahan merekah, "Sin, gue nggak tau apa yang dia lakuin ke gue."
"Eh, kenapa?"
"Gue nggak tau Sin. Pokoknya, pas sama dia, gue pengen senyum terus. Pas sama dia, gue ngerasa nyaman. Pas sama dia, gue nggak punya alasan buat sedih." Zhea memandang langit-langit ruangannya. Kemudian mulai menceritakan setiap kejadian yang ia lalui dengan Alva hari ini. Kejadian yang membangkitkan semangat Zhea. Kejadian yang memberikan alasan Zhea untuk tetap hidup di panggung sandiwara yang kian hari kian menyiksanya.
"Oh. My. Gosh," Sindi berdecak kagum, "Zhe. Kirimin gue yang kayak Alva satu aja."
Zhea tertawa.
"Sumpah ya Zhe. Gue juga nggak ngerti kenapa itu cowok bisa baik banget ke elo. But hell, Zhea. You wont find another Alva! Jangan sia-siain kesempatan lo, deh!" Ucap Sindi sungguh-sungguh, membuat Zhe tampak mengangkat alisnya, "Kesempatan apaan sih? Belum tentu juga Alva mau sama gue. Lo tau nggak sih cewek-cewek disini kayak apa? Ke kampus udah kaya mau party tujuh hari tujuh malem aja tau nggak."
Mendengar penuturan Zhea, yang sudah mulai terdengar seperti Zhe yang dulu, Sindi justru tertawa, "Makanya lo harus bisa nandingin mereka dong. Dandan kek. Nggak perlu menor kayak mereka juga. Tapi ya, pokoknya lu jadi kayak elu yang dulu deh. Biar Alva juga nggak malu jalan sama elo!"
Zhe mendengus, namun dalam hati membenarkan perkataan Sindi. Jika di ingat, Alva sudah melakukan banyak hal untuk Zhe. Mereka jalan bersama, dengan penampilan Alva yang tampan bak pangeran modern, dan Zhea.. yang..
"****," Zhe menggerutu ketika mengingat kembali bagaimana penampilannya di depan Alva. Benar-benar menyedihkan. Bagaimana bisa Alva betah berada di dekatnya.
"Gue jadi malu ngingetnya." Ucap Zhe membuat Sindi tertawa di seberang sana.
"kurang pinter sih lu."
"Ye, kalo gue kurang pinter mana mungkin sampe sini dodol."
"Faktor keberuntungan. Makanya lu yang banyak bersyukur. Gara-gara itu juga lo bisa nemu cowok langka kayak Alva, kan?" Cibir Sindi membuat Zhea mengangguk membenarkan.
Ah, entahlah. Hanya saja, Zhe ingin cepat-cepat pagi sehingga ia bisa melihat wajah Alva, lagi.
***
Di kampus.
Zhea menatap pantulan dirinya di cermin, kemudian tersenyum puas. Azhalea is finally back. Yap. Gadis itu tampak sedikit berbeda pagi ini. Dia memakai kaos ketat lengan panjang berwarna hitam polos, celana pendek berwarna putih, dan flatshoes putih. Tak lupa jam tangan dan ransel kecil yang sudah tergantung di punggungnya. Tak hanya itu, wajah Zhea pun tak lagi pucat seperti sebelumnya. Gadis ini kini tampak segar dengan wajah putih merona dan liptint merah muda natural rasa strawberry. Rambutnya dibiarkan terurai ke belakang. Well, gadis ini terlihat begitu manis, didukung dengan perawakannya yang mungil.
Teman-temannya tampak sibuk berkasak-kusuk melihat perubahan Zhea ke sosoknya yang dulu. Bahkan, satu pria dari mereka terang-terangan mengatakan bahwa Zhe terlihat begitu cantik. Terlebih karena gadis itu terus menerus tersenyum ramah, senyuman yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya.
"Zhe, lo beneran jadian sama Alva kan? Tuh! Lo tiba-tiba berubah gini, pasti gara-gara Alva!" Putri adalah satu-satunya gadis yang tidak pernah berhenti bertanya mengenai hubungan Zhe dan Alva, dan terkadang, itu membuat Zhea kesal.
"Apa sih, Put. Orang cuma temenan." Zhe mendengus, namun kemudian menyengir kuda. Sialan. Mendengar nama Alva di pagi hari saja mampu membuat hatinya berbunga-bunga. Apakah Zhe harus tes kejiwaan? Zhea pasti sudah gila.
"Eh, Zhe! Itu Alva!" DEG.
Senyuman Zhea mendadak menghilang ketika Putri menunjuk gerombolan pria dan wanita yang tengah duduk-duduk di koridor kampus. Dan Zhea dapat menangkap sosok Alva yang tampak keren dengan tas ransel yang tergantung di satu bahunya. Alva menggunakan kaos putih yang dilapisi jaket hijau tua, celana jeans berwarna hitam, dan sepatu coklat. Pria itu tampak tertawa bersama teman-temannya yang tidak Zhea kenal.
Dan mendadak wajah Zhea memerah ketika melihat sosok pria yang ia tunggu-tunggu untuk ia temui hari ini, kini berada dalam jangkauan matanya. Wajah Zhea semakin memerah ketika menyadari bahwa dia mau mempedulikan penampilannya lagi karena sosok itu.
"Mm, kita.. bisa lewat jalan lain nggak, Put?" Zhe ******* bibirnya takut-takut. Entah apa yang membuat gadis itu begitu gugup. Dia jadi merasa tidak siap untuk kembali menatap Alva. Apalagi kemarin... kemarin... oh, ****. Bibir Alva begitu seksi ketika pria itu tertawa. Hingga Zhe tidak bisa mempercayai bahwa bibir seksi itu ******* bibirnya kemarin.
"Hah? Mau lewat mana? Muter gitu? Ye kali, capek lah, Zhe. Udahlah ikutin anak-anak aja." Ucap Putri membuat jantung Zhea berdetak kencang. Mereka semakin mendekati Alva dan teman-temannya, dan saat itu juga Putri berteriak karena Zhea yang mencengkeram tangannya semakin kuat, saking gugupnya.
"Put, anjir mulut lo!" Zhea berbisik seraya menatap panik ke arah... Alva yang tampak tersenyum ke arahnya. What the hell. Zhe sesak nafas. Gadis itu hendak berbalik arah untuk berlari ketika salah satu dari gerombolan Alva jelas-jelas menyebut namanya.
"Ayeeee. Itu Azhalea yang sedang dekat dengan our baby-Alva kan?" Zhea meneguk ludahnya ketika pria berambut pirang itu tampak menghampiri dan menarik tangannya.
"Come on, ayo bergabung sebentar," Pria itu mengerling. Membuat Zhea mendadak kesal dan menarik kembali lengannya.
"Whoops. Jahat sekali, duh. Aku jadi takut," Pria itu terkekeh, membuat teman-temannya ikut tertawa.
"For your information, I am Ronald, Alva's best of the best friend ever. Nice to meet you. By the way, you got nice legs," Ronald kembali mengerling seraya memperhatikan Zhe. Membuat wajah Zhea memerah, terlebih ketika teman-temannya juga ikut memandangi tubuh Zhe dari atas ke bawah.
"Come on guys. Don't ever play with her. Or die." Alva merasa jengah ketika mata-mata keranjang itu memandang Zhe dengan tatapan kelaparan.
"Kenapa Bung? Dia terlihat lebih imut dari yang pernah kubayangkan."
Alva menghela nafas panjang. Benar. Zhea tampak berbeda pagi ini. Gadis itu lebih cantik. Wajahnya cerah, bibirnya semakin merah muda dan mengkilap. Membuat Alva ingin merasakan liptint apa yang sedang Zhea gunakan. Gadis itu juga membiarkan kakinya terbuka. Ya, Alva sedang membicarakan kaki Zhea yang putih khas wanita Asia.
Alva semakin jengah ketika tatapan teman-temannya semakin menggoda Zhea. Duh, Zhea itu miliknya. Hanya miliknya!
Dengan segera, pria itu melepaskan jaketnya, menyisakan kaos putih polos lengan pendek. Kemudian, Alva berlutut untuk mengikatkan jaketnya di pinggang Zhea. Membuat semua orang tampak berseru kaget. Ya, tentu saja. Seorang Alva Harison berlaku begitu manis kepada gadis beasiswa yang bahkan baru datang di New York. Bagaimana bisa Alva berlutut di depan gadis antah berantah itu?
"Jangan pakai celana pendek dan memperlihatkan kakimu lagi. Aku sudah bilang, kan?" Alva mendongak masih dengan berlutut, membuat wajah Zhe memerah.
"Come on, this is summer, Alva." Ucap Zhea dan benar. Alva memang berlebihan. Memakai pakaian seperti itu adalah hal wajar ketika musim panas terjadi. Bahkan, mahasiswi-mahasiswi lainnya hanya memakai tanktop dan rok pendek. Sekali lagi, this is New York, and this is summer.
"Ya, tapi, aku tidak bisa membiarkan pria-pria keparat mata keranjang seperti mereka melihatmu dengan tatapan kelaparan." Dengus Alva. Kini pria itu sudah kembali berdiri, dan kembali membuat ulah pada detak jantung Zhea.
"Wow!!! That's hurt, Alva!" Sorakan demi sorakan terlontar dari mulut teman-teman Alva. Mereka tampak tertawa dan terus menerus menggoda mereka berdua. Berbeda dengan gadis-gadis yang justru melihat Zhe dengan tatapan tajam seolah Zhea telah merebut harta mereka.
Alva menatap Zhea seluruhnya, kemudian terkekeh ketika menyadari wajah gadis itu yang memerah. Alva tidak bisa menyadari wajah gadis itu yang memerah. Alva tidak bisa menahan tubuhnya untuk tidak mengacak-acak rambut Zhea, "You're beautiful today. And I like it."
Alva tersenyum, membuat gadis yang hanya sebatas leher Alva itu ikut tersenyum.
"Tapi tidak dengan celana atau rok pendek. Tidak sama sekali." Tatapan Alva kembali datar, membuat Zhea tertawa seraya mengangguk.
"Aku pergi dulu. Mereka sudah menungguku." Zhea menunjuk teman-temannya yang bisa dibilang sedang menonton acara opera sabun romantis dadakan ketimbang menunggu Azhalea.
Alva mengangguk dan berkata, "Aku akan menjemputmu. Jam 3 sore. Apa itu cukup?"
"Hm, aku tidak bisa. Aku akan cari apartment di sekitar kampus." Zhe mengangkat bahunya.
"Tidak masalah," Ucap Alva, membuat Zhea tampak mengangkat alisnya tak mengerti.
"Aku akan mengantarmu." Lanjut Alva dan lagi-lagi terdengar sorakan teman-teman Alva yang tidak lagi Zhea dengar. Karena mendadak, Zhe merasa bahwa hanya ada Alva di depannya. Dan hanya suara Alva yang bisa masuk ke telinganya.
"Terserah kau saja, aku harus pergi," Zhea tersenyum, hendak melanjutkan langkahnya ketika Alva menggenggam tangannya erat dan berbisik, "Wait for a minute."
Alva menatap semua pria yang sedang menyaksikan mereka dengan tatapan tajam, "You better keep your eyes off of her," Kemudian Alva tersenyum sinis, "Atau aku akan mencabut kedua matamu. Aku serius."
Dan saat itu juga, keadaan menjadi ramai. Ada yang menertawai Alva yang tiba-tiba menjadi overprotective. Ada pula kasak-kusuk lain yang mulai menyumpahi sosok gadis bernama Azhalea Putri Florenza itu.
Namun yang paling penting. Zhe hanya merasa bahwa dirinya terbang atas semua perlakuan Alva.
Benar, jika Azhalea tidak sedang jatuh cinta kepada Alva. Lagipula, mengapa ia harus jatuh jika ia bisa terbang?
Ya, dia terbang. Terbang dalam cinta. Dengan pria paling dicari di kampusnya, Alva.