Sweet Child OR Hot Daddy

Sweet Child OR Hot Daddy
penyelamat



"Daddy, aku takut." Zhea menggenggam tangan William erat-erat, membuat pria itu tampak menatap Zhe bingung.


"Takut? Kenapa takut?" Tanya William. Zhea memandang keramaian di depannya. Banyak sekali orang-orang yang berlalu lalang. Banyak pria yang tampak tertawa, dan entah kenapa hal itu begitu menakutkan untuk Zhea dengar.


Gadis itu menyembunyikan tubuhnya dibalik punggung William, membuat William tersenyum dan merangkul bahu gadis itu, "Tenang saja. Mereka tidak akan menjahatimu."


"Tidak ada yang akan menyakitimu, aku berjanji." Ucap William seraya mengelus kepala gadis itu.


"Daddy, aku tidak mau masuk." Ucap Zhe lagi. Matanya berkaca-kaca, membuat William menghela nafas panjang. Dia bisa saja pergi sendirian ke swalayan itu, tapi, Zhe tidak boleh seperti ini. Daripada bersembunyi, William akan lebih senang jika Zhea menghadapinya bersama dengannya.


"Kau percaya pada ku, kan?" Will menatap dalam mata Zhe, membuat gadis itu balik menatapnya dan mengangguk.


"Kalau begitu, kita akan masuk bersama. Percayalah, kita akan bersenang-senang." William kembali tersenyum, membuat Zhe yang awalnya ragu mulai mengangguk setuju.


William menggandeng tangan Zhe untuk memasuki swalayan itu, kemudian mengambil satu kereta dorong untuk belanjaan mereka.


"Zhe. Kau mau bersenang-senang dan melupakan masalahmu?" Tanya William ketika mereka sudah membawa satu kereta dorong. Mendengar pertanyaan William, gadis itu mengkerutkan dahinya. Apakah Will akan mengajaknya berciuman? Mengingat satu-satunya cara untuk melupakan masalah Zhe adalah mencium William.


"Ya. Kenapa, dad?" William tidak menjawab pertanyaan Zhea. Pria itu justru mengangkat tubuh Zhe dan memasukkannya ke dalam kereta dorong. Cukup membuat gadis itu berteriak tertahan dan merasa malu karena banyak sekali yang memperhatikan mereka.


"Ready?" Tanya William. Zhea masih tidak mengerti, namun mengangguk.


"One, two, three!" William berlari seraya mendorong kereta dorong itu, membuat Zhea mendelik kaget pada awalnya, namun tertawa menikmatinya. William semakin kencang mendorong, membuat Zhea berteriak senang.


"Faster, daddy! Faster!" Zhe berteriak, membuat William mempercepat larinya mengelilingi swalayan besar itu. Membuat semua orang tampak memandang mereka aneh sekaligus geli.


"Hello guys! Hello everyone! Good morning! Have a nice day!" Zhea menyalami setiap orang yang ia lewati dengan senyuman lebar. Membuat orang-orang itu tersenyum geli melihat pasangan kekanak-kanakan itu.


"Tuan! Tolong berhenti!"


Beberapa petugas swalayan akhirnya memberhentikan mereka. Membuat Zhea berhenti tertawa untuk sejenak.


"Sir, anda tidak boleh melakukan itu. Hal ini bisa mengganggu kenyamanan, wait, Mr. Harison?!" Salah satu petugas yang tadinya marah karena kesal melihat tingkah pengunjungnya ini tampak terkaget, tepat ketika William membalikkan tubuhnya.


"Ya? Apa aku berbuat salah?" Tanya William dengan tatapan mengintimidasi. Dia ingat wajah petugas toko itu. Ya, salah satu mahasiswanya yang sedang bekerja part-time.


"Oh, ti-dak, sir. Anda tidak mengganggu," Ucap petugas itu, membuat William tertawa kecil dan menepuk pundak si petugas, "Baiklah. Lagipula, gadis kecil ini sudah tertawa."


Petugas itu tampak tersentak merasakan tepukan William di bahunya, ditambah tawa hangat pria itu. Ini adalah keajaiban. Masalahnya, William hampir menunjukkan wajah kaku dan seriusnya setiap waktu.


"Kalau begitu, aku pergi dulu." William melambaikan tangannya sebentar, kemudian mengeluarkan tubuh Zhe dari kereta dorong itu. Membuat Zhea tertawa kecil, "Lihat! Semua orang takut dengan Mr. Harison yang mengerikan!"


"Kau juga harus takut. Aku suka menggigit, seperti singa. Rawr!" William mengangkat kedua tangannya, bertingkah seperti seekor singa yang akan menerkam mangsanya, membuat Zhea tertawa kecil dan mencubit hidung mancung William.


"Anyway, kita mau masak apa?" Tanya Zhea. Pria itu tampak berpikir sejenak sebelum menyahut, "Bagaimana dengan grilled chicken dan taco?"


Zhea mengangguk-angguk, "Ditambah gado-gado?"


"Apa itu gado-gado?" Tanya William membuat Zhea menatapnya aneh, "Katanya, Andrea keturunan Indonesia?"


William menyeringai ketika Zhe tidak lagi menyebut nama mendiang istrinya dengan panggilan Mom Andrea.


"Tapi kan kami hanya menetap di New York." Zhe mengangguk-angguk, "Gado-gado itu seperti salad, tapi pakai saos kacang."


William mengangkat alisnya, "Saos kacang? Ewh, memangnya kacang bisa jadi saos?"


Zhea mendengus dan mendorong punggung William, "Lebih baik kita cari bahannya, kemudian aku membuatnya, baru kau bisa berkomentar semaumu. Okay?"


William tertawa, "Baiklah. Aku akan mencari bahan-bahan untuk taco dan chicken grilled, dan kau cari bahan-bahan untuk gado-gado, bagaimana?"


Zhea mengangguk setuju, kemudian menuju tempat sayuran dan mengambil beberapa macam sayuran seperti kacang panjang, selada, kubis, bunga kol, taoge, wortel mentimun, tomat, bawang-bawangan, kentang, dan cabai. Zhea mengambilnya satu persatu dan berlari ke kereta dorong yang di bawa William, membuat pria itu tertawa geli melihat Zhea yang berlarian kesana kemari. Kemudian, Zhea berlari menuju tempat kacang-kacangan, meminta petugas nya untuk menimbang 1 kg kacang tanah dan membawanya ke William.


"Apakah kita benar-benar menjadikan kacang itu sebagai saos?" William bergidik ngeri, membuat Zhe menatapnya geli, "Ofcourse, daddy! Sudahlah, kau akan menyukainya. Percaya padaku."


"Susu coklatmu sudah habis, kan?" Tanya Zhe membuat William menyeringai, "Aku tidak butuh susu coklat lagi."


Alis Zhea terangkat, namun kemudian, dia mengerti apa maksud William ketika pria itu menatap dada Zhe dan tersenyum jahil. Membuat Zhea berlari ke arahnya dan berjinjit untuk menjewer kedua telinga William, "Dasar! Siapa yang mengajarimu mesum seperti ini? Siapa?"


William tertawa, membuat Zhe melengos dan berjalan menuju berbagai macam minuman saset. Zhea mengambil susu coklat bubuk kesukaan William.


"Tidak usah, persediaan di rumah masih cukup." Balas William dengan sedikit berteriak pula. Membuat Zhea mengangguk mengerti.


Gadis itu berbalik arah untuk kembali ke tempat William, tiba-tiba ia tersentak ketika pandangannya terhenti pada sesosok pria dengan keranjang belanjaan di tangan kekarnya, yang berdiri tidak jauh di hadapan Zhea. Pria itu tengah memandangnya dengan tatapan... kecewa?


Zhda memundurkan langkahnya spontan. Tubuhnya mulai bergetar ketakutan, hingga susu coklat bubuk yang tadi ia pegang pun terjatuh.


Pria itu tersenyum sinis seraya memajukan langkahnya untuk mendekati Zhe, membuat Zhea spontan berjalan mundur. Bayangan menyakitkan semalam kembali terlintas di pikiran Zhea. Bagaimana pria itu menciuminya kasar. Bagaimana pria itu menjambak rambutnya hingga rasanya kulit kepala Zhea akan terkelupas. Bagaimana pria itu memasukkan jarinya ke dalam kue apem Zhea dengan sangat kasar.


Tubuh Zhea semakin bergetar ketakutan. Gadis itu menguatkan dirinya untuk berlari dari hadapan pria yang bahkan, Zhea enggan menyebut namanya. Gadis itu memegang lengan William yang sedang memasukkan beberapa sayuran ke dalam kereta dorongnya dan berkata, "Daddy. Ayo pulang. Ku mohon, ayo pulang!"


William menatap Zhea, terkaget ketika tubuh Zhea tampak bergetar. Tangan Zhe sungguh basah oleh keringat dinginnya. Gadis itu terus melihat ke arah belakang dan berkata, "Ku mohon! Ayo bayar ini semua dan pulang! Daddy, ayo!"


"Hey, tenanglah! Kau kenapa? Ada apa? Tenanglah!" William memegang bahu Zhea yang bergetar, gadis itu memegang lengan William, kali ini suaranya ikut bergetar, "Aku mohon, daddy. Aku mohon, ayo kita pulang."


Zhea meneteskan air matanya, membuat William begitu khawatir dengan keadaannya. Pria itu menarik kereta dorongnya seraya memeluk bahu Zhe, "Okay, kita pulang. Kita akan pulang, kau tenang saja. Kita akan segera pulang."


Langkah William terhenti ketika sosok pria yang sejak kemarin ingin ia bunuh kini berdiri di hadapannya dengan tatapan marah.


Di depannya, ada anak sematawayangnya yang begitu ia sayangi. Namun juga ia benci karena telah menyakiti Zhea.


Di depannya, ada Alva Harison.


Alva Harison, yang lagi-lagi membuat Zhea meneteskan air matanya, bahkan bergetar ketakutan di belakang tubuh William.


"Bagus sekali. Selain menggoda pria-pria di club malam, kau juga menggoda ayahku?"


William merasakan cengkeraman Zhea yang semakin kuat di lengannya, membuat William menggeram kesal. Melihat Alva, mengingatkannya dengan keadaan mengenaskan Zhea kemarin malam.


"Shut the **** up." William berkata kasar, dan Alva cukup terkejut karena ini adalah kali pertama ayahnya mengucapkan kata kasar yang ditujukan padanya.


"Daddy, ayo pulang, ku mohon. Ayo pulang." Zhea terus memohon agar mereka segera pergi dari hadapan Alva.


"Daddy?" Alva tertawa mendengar panggilan Zhea kepada William. Membuat William menggeram tak tahan. Pria itu maju untuk menerjang tubuh Alva, ketika Zhea kembali menahan lengan pria itu kuat-kuat.


"Zhe, lepaskan aku karena aku butuh menghajarnya saat ini juga." Geram William. Dibalik tubuh William, Zhea menggeleng, "Ku mohon, ayo kita pulang. Ku mohon, daddy."


William tersenyum sinis, "Aku tidak bisa membiarkan bajingan ini lepas seenaknya. Dia sudah menyakitimu,"


"Gila!" Alva bertepuk tangan melihat adegan romantis di hadapannya, "Apa yang kau lakukan untuk meluluhkan hati ayahku? Apakah kau bermain dengannya semalaman?"


"Bajingan!"


William tidak bisa menahannya. Pria itu memukul pipi Alva hingga pria itu terjatuh ke lantai. Melihatnya, Zhea berteriak histeris dan dengan segera meraih lengan William. Zhea bisa merasakan bagaimana kerasnya otot-otot William. Pria itu benar-benar marah.


"Daddy. Tolong, tolong dengarkan aku. Aku baik-baik saja, aku baik-baik saja sekarang. Kita pulang, oke?" Ucap Zhea, namun William sudah terlanjur marah. Pria itu hendak memukul Alva lagi ketika Zhea beralih ke depannya. Gadis itu meraih pipi William dan menatapnya dalam-dalam dengan air mata yang mengalir deras, "Please, daddy. Kita pulang. Aku mohon, aku ingin kita pulang."


Melihatnya, otot-otot kemarahan William melemas. Pria itu menarik nafas panjang dan membawa Zhea menjauhi Alva yang menatap tidak percaya ke arah mereka berdua.


William segera membayar belanjaannya dan membawa Zhea ke dalam mobil.


Pria itu membanting pintu mobil keras-keras ketika sudah ada di dalamnya. Sialan. Alva benar-benar menguji emosinya. Alva benar-benar membuatnya marah. William menoleh ke arah Zhea yang tampak menutup wajahnya dan menangis sesenggukan. Membuat pria itu mengerang dan membawa Zhe ke pangkuannya. William melingkarkan tangannya ke tubuh Zhe dan menciumi puncak kepalanya, "Kau seharusnya membiarkanku memukulinya."


Zhea masih menangis namun berusaha menjawab ucapan William, "Aku.. Aku.. Aku tidak mau kau... Kau menyesal..."


William tersenyum. Jika bagi William, Alva adalah musuhnya saat ini. Maka bagi Zhea, Alva tetaplah anak William. Maka sebisa mungkin, Zhea tidak akan membiarkan William menyakiti anaknya sendiri.


"Baiklah, sekarang sudah aman. Dia tidak akan berani menyakitimu. Jadi, kau tidak perlu khawatir." William memainkan rambut Zhea, membuat gadis itu menarik nafasnya berkali-kali, untuk menghilangkan rasa sakit dalam dadanya.


William menjulurkan tangannya ke belakang untuk mengambil bungkusan belanjaan mereka. Kemudian mengeluarkan satu kotak es krim strawberry yang sempat William masukkan ke kereta dorongnya tadi. William membuka bungkus es krim itu dan menyuapkannya ke mulut Zhea. Membuat gadis itu seketika berhenti menangis dan menikmati rasa favorit nya melewati mulutnya.


"Enak?" Tanya William, di balas Zhea dengan anggukan. Zhea masih sesenggukan karena terlalu lama menangis.


"Ayah.. Ayah.. ak.. aku lapar.."


William tertawa. Pria itu kembali meletakkan Zhea di kursi sebelahnya dan mulai menjalankan mobilnya, "Siap, my little boss!"