Sweet Child OR Hot Daddy

Sweet Child OR Hot Daddy
Apakah Saya Mencintai nya?



Alva Harison, pria 21 tahun yang tidak pernah serius untuk berhubungan. Pria yang hanya menganggap gadis-gadis sebagai mainannya. Pria yang terkenal dengan kekasarannya. Pria itu terkenal baik di dalam universitas maupun di luar universitas. Di dalam, ia terkenal sebagai si hot berotak cerdas, dia juga di kenal sebagai the son of hottest lecturer in the world. Ketika di luar, orang akan memanggilnya The Dark Roughy Alva Harison.


"Babe, wake up." Alva mengerjapkan matanya ketika mendengar suara manis di telinganya.


sepasang insan terus bergumul di balik selimbut.


hingga alva mengatakan "Zhea, kau sangat cantik."


"What?!" Gadis itu menghentikan aktifitasnya ketika mendengar nama seorang gadis keluar dari mulut Alva. Membuat pria itu akhirnya membuka matanya dan terkejut mendapati gadis blonde itu berada di atas tubuhnya.


"What the hell are you doing there Chloe?!" Bentak Alva seraya mendorong gadis itu.


"Apa yang aku lakukan? Coba tebak?!" Chloe balas membentak dan segera memakai bajunya.


"Bagaimana bisa kau menyebut nama gadis itu ketika bersamaku?!" Chloe kembali membentak, membuat Alva memijat keningnya. Pasti dia terlalu banyak minum semalam.


Well, Alva memang tidak ke rumah Kath seperti yang pria itu katakan pada William. Dan jelas, William mengerti maksud Alva. Alva pergi ke arena balap ketika lebih dari 10 orang mengiriminya pesan singkat yang mengatakan bahwa Alva adalah seorang pengecut. Dan bagi Alva, tidak ada yang boleh mengatakannya pengecut, kecuali ingin dipermalukan.


Alva memang memenangkan pertandingan, dan hadiahnya adalah berpesta semalaman di sebuah club malam. Selain itu, Alva dapat bonus, bersenang-senang dengan Chloe Rosabell. Si gadis blonde bertubuh seksi bak model Victoria's Secret yang pernah menjadi kekasih Alva.


Tapi, serius. Alva tidak berniat untuk menemui Chloe. Ia memang tidak tahu apakah dirinya benar-benar terjatuh dalam pesona Zhe, namun, bercinta dengan mantan pacarmu di malam jadianmu dengan gadis lain bukanlah ide bagus. Tapi lihat ini. Bagaimana bisa Alva mendapati sosok Chloe di saat ia bangun?


"And who the hell is giving you any permission to be fucking here?!" Alva membentak kesal, membuat gadis itu memutar bola matanya dan tersenyum menggoda, "Kau menyukainya, Alva."


Alva menatap gadis itu datar, "Talk ****, huh?"


"Kau bahkan memasuki begitu keras, dan dalam. Seolah kau benar-benar merindukan untuk berada di dalamku,"


cloe dan alva melanjutkan aktifitas tadi dengan memasukan jarinya ke surga cloe, cloe berteriak dan mend*s*h nikmat


"Mau kembali denganku? Ah, lebih keras, Alva! Oh, bagus, lebih dalam!"


Alva menekan rahang Chloe dan tersenyum sinis, "Aku tidak tahu, pernah berpacaran dengan seorang wanita murahan sepertimu. And.. wanna back with you? Ofcourse, no."


Pria itu menghentikan aksinya dan beralih untuk memakai celana dan kaosnya, membuat Chloe berteriak frustasi karena belum mencapai puncaknya. Gadis itu menatap tajam punggung Alva dan berteriak, "Karena kau sudah punya wanita murahan baru yang akan kau rusak perlahan?! That Zhea-*****?"


Alva mengerang tidak tahan. Pria itu berbalik untuk menampar pipi Chloe, dan lagi-lagi menekan rahang gadis itu.


"Dengar," Ucap Alva, tatapannya sanggup membuat Chloe sedikit ketakutan, "Jangan pernah menyamakan gadisku dengan dirimu dan gadis lainnya. Derajatmu begitu rendahan!"


Chloe terhina. Gadis itu merasakan sesuatu yang mencabik dadanya ketika Alva mengatakan hal itu tepat di depannya. Alva memang kasar, tapi untuk berkata demikian hanya untuk membela seorang gadis, Chloe tau itu sama sekali bukan Alva yang ia kenal.


"B*jing*n!" Bentak Chloe, "Aku akan membuat perhitungan dengan gadis itu! Aku akan membuat kalian berdua menyesal!!"


Alva tertawa sinis, "Lakukan, dan kau akan mati."


Setelah mengatakannya, Alva bergegas meninggalkan kamar hotel tersebut. Dia akan menghampiri Richard dan membuat perhitungan dengan pria bajingan itu. Ya. Pasti sahabat bodohnya itulah yang mengatur malam tak terduganya dengan Chloe.


"Come on, dude!" Richard menatap sosok pria di hadapannya dengan pandangan tak percaya. Tentu saja. Bagaimana bisa pria itu berkata bahwa dia sudah menjadikan gadis beasiswa bernama Azhalea sebagai kekasihnya kemarin sore.


"Bagaimana bisa kau buru-buru seperti itu? Kau benar-benar berpikir sempit, argh!" Dengus Richard. Dia tau betapa bajingannya dirinya, tapi, melihat sahabatnya akan merusak mahasiswa dari negera lain yang sedang belajar di negara mereka seperti, man! That's not my style!


"Aku sudah mengatakannya berkali-kali," Alva menghela nafas panjang, "Aku benar-benar menganggap jika dia berbeda, man! Maksudku, dia selalu berhasil membuatku tersenyum dan ingin selalu di dekatnya. Aku tidak bisa menahan perasaan itu! Aku bisa gila jika dia didekati pria lain!"


Richard memutar bola matanya, "Sounds like a bull. Like, the ****, Alva. Aku mengenalmu lebih dari 10 tahun. Dan kau bahkan berkata hal yang sama tentang Chloe! Kau hanya main-main, dan kau sedang main-main dengan orang yang salah!"


Alva menghela nafasnya panjang. Dia tidak tahu lagi harus berkata apa. Richard benar, pria itu mengenal Alva lebih dari Alva mengenal dirinya sendiri. Bahkan, jika Richard adalah perempuan, Alva bersumpah akan menikahinya.


Melihat reaksi teman-temannya yang tidak suka jika Alva berdekatan dengan "si gadis beasiswa", Alva berniat untuk menyembunyikan hubungan mereka. Tetapi kejadian hari ini membuatnya harus benar-benar membuka tentang hubungannya dengan Zhea.


"Apapun itu. Aku tidak suka gagasanmu untuk membiarkan Chloe berada di satu ruangan denganku." Ucap Alva, membuat Richard menghela nafas. Tujuan Richard menyuruh Chloe untuk menguasai Alva semalam adalah untuk mengingatkan Alva bahwa gadis yang sesuai untuk mereka adalah gadis seperti Chloe, bukan Zhe. Tetapi siapa sangka jika Alva justru berkata bahwa mereka sudah berpacaran?


"Dan Richard.." Alva menatap pria itu seraya menghela nafas, "Lelaki brengsek pun ingin gadis baik-baik untuk menjadi kekasihnya."


Richard tersenyum sinis, "Tapi gadis baik-baik tidak berhak mendapat lelaki brengsek. Bukankah begitu?"


***


"Zhe!" Nama itulah yang Alva sebut ketika kakinya menginjak lantai depan rumah. Pria itu bergegas untuk menuju ke dalam, menemui gadis Asia yang selalu bisa membuat mood-nya membaik.


"Zhea!" Panggil Alva lagi. Dia benar-benar ingin melihat wajah gadis itu. Dia ingin merasakan pelukannya dan mencium bibir merah mudanya.


Alva bimbang. Dia bimbang tentang perasaannya sendiri. Di satu sisi, dia mendapatkan kenyamanan yang tidak pernah ia rasakan bersama Zhea. Dia bisa melakukan sesuatu tanpa takut menerima predikat pengecut bersama Zhe. Dia melakukan banyak hal baik di depan Zhr. Dan yang jelas, Alva tidak mau melihat gadis itu menangis.


"Alva," Pria itu menoleh, melihat Patricia yang tampak menghampirinya.


"Patricia, kemana daddy?" Tanya Alva.


"Mr. Harison sedang keluar bersama Zhea." Ucap Patricia membuat alis Alva terangkat, "Mereka keluar bersama?"


Patricia mengangguk, "Katanya mau membeli arang-barang Zhra."


Alva membanting tubuhnya ke sofa ruang keluarga, entah apa yang membuat pria itu tertawa. Tetapi, tentu saja ia tertawa. Bahkan, ayahnya menyukai Zhea. Alva tidak pernah melihat ayahnya begitu peduli dengan gadis yang dekat dengan Alva. Tetapi Zhe? Lihat bagaimana William mengancam Alva. Lihat bagaimana William memperlakukan gadis itu begitu baik.


"Alva, aku pulang dulu. Makanan sudah siap." Ucap Patricia yang dibalas deheman singkat oleh Alva. Pria itu memilih untuk mandi dan berganti pakaian.


Setelah selesai, Alva kembali ke ruang keluarga. Pria itu menyalakan TV, bermaksud untuk menghilangkan pikirannya yang sebenarnya, doesn't make any sense. Namun, entahlah. Alva tidak bisa konsentrasi terhadap acara yang ia lihat. Yang ada di pikirannya hanyalah Zhea, dan bagaimana pria itu ingin merasakan tubuh mungil Zhe di dekapannya.


Suara tawa yang begitu Alva kenal terdengar, membuat pria itu melonjak dan berjalan menuju pintu utama rumahnya. Dilihatnya sang ayah yang sedang merangkul leher Zhea. Zhe yang tampak cantik memakai dress milik ibu Alva. Zhe yang tampak cantik karena sedang tertawa bahagia.


"Azhalea." Panggil Alva. Sang gadis berhenti tertawa, melongo melihat Alva dengan rambutnya yang masih basah tampak menatapnya begitu dalam.


Sedetik kemudian, Alva berjalan ke arahnya, menarik tubuhnya hingga terlepas penuh dari rangkulan William. Alva segera memeluk tubuh Zhe erat-erat. Mencium aroma tubuh Zhea dalam-dalam. Membuat Zhe akhirnya membalas pelukan Alva, dengan sedikit melirik ke arah William. Pria itu seolah tak peduli dan bergegas meninggalkan mereka berdua.


Apakah William marah?


Demi Tuhan, Zhe. Kenapa kau justru bertanya-tanya tentang perasaan William?!


"What's wrong, Alva?" Tanya Zhea, membuat Alva semakin mengeratkan pelukannya, "Aku sangat merindukanmu."


Zhe mengernyit dan terkekeh, "What? Kita baru tidak bertemu 1 hari!"


Alva melepaskan pelukannya dan merangkul bahu Zhea, "Itu tandanya, kau harus berada di sebelahku 24 jam dalam sehari. Because you are so missable."


Lihat. Lihat betapa Alva bisa tersenyum lebar hanya dengan menatap wajah Zhea.


"Kau ini benar-benar raja gombal!" Cibir Zhe, membuat Alva menghela nafas dan tersenyum. Pria itu mendorong halus Zhea hingga gadisnya terduduk di atas sofa keluarga. Selanjutnya, Alva duduk di sebelah Zhe, memandang gadis itu intens.


"Kenapa? Kau aneh sekali, sih." Ucap Zhea. Gadis itu mengalihkan pandangannya, namun Alva kembali menarik wajahnya agar menatap mata coklat Alva.


Alva mendekatkan wajahnya, menempelkan bibirnya di atas bibir Zhe, ******* bibir Zhea halus. Membuat Zhe yang awalnya tersentak mulai merilekskan perasaannya. Zhe membalas ciuman Alva dengan **********. Terbawa suasana, Alva bergerak dengan memainkan lidahnya, membuat mata Zhr membulat tak percaya, namun tak kuasa untuk menolak lidah Alva yang bermain di dalam mulutnya.


Zhe mengerang, membuat Alva semakin bergairah. Alva menidurkan Zhr dan memposisikan tubuhnya untuk berada di atas Zhe.


"Kau sungguh cantik, Zhea." Bisik Alva. Pria itu tersenyum seraya memainkan anak rambut Zhe, membuat Zhe balas tersenyum. Gadis itu memperhatikan bibir Alva yang begitu manis.


Bibir Alva sungguh manis. Aku bertanya-tanya bagaimana dengan bibir William?


Zhe mengerjapkan matanya ketika pemikiran itu memasuki otaknya. What the ****, Zhe?! Bisa-bisanya kau memikirkan William di saat yang seperti ini?!


Alva kembali ******* bibir Zhe. Dan Demi Tuhan, Alva merasakan perasaan bahagia yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. ******* bibir gadis-gadis adalah hal lumrah yang Alva biasa lakukan. Namun, Alva tidak tahu bagaimana bisa, ******* bibir Azhalea adalah hal paling baik yang pernah ia lakukan.


Alva tersenyum ketika tangan Zhe melingkari lehernya. Pria itu membuka matanya, menatap wajah cantik Azhalea yang memerah. Gadis itu menutup matanya, membuat Alva bisa menikmati setiap jengkal wajahnya sedikit lebih lama. Deraan nafas Zhea yang tenang begitu indah menerpa wajah Alva. Membuat Alva seolah menjadi pria paling bahagia di muka bumi.


Zhea, apakah aku jatuh cinta padamu?


Alva terus bertanya dalam hati. Dia tidak tahu, apa arti cinta yang sesungguhnya. Yang ia lakukan hanya bersenang-senang dengan gadis cantik, dan selama gadis cantik itu tidak memperkenalkan kepada banyak orang, maka hal itu sudah cukup untuk Alva.


atau aku jatuh cinta dengan perasaan itu?


Perasaan nyaman. Perasaan bahagia. Perasaan dimana kau hanya ingin melihat gadismu tersenyum. Perasaan dimana kau hanya ingin melakukan hal baik di depannya. Apakah Alva mencintai Zhea, atau hanya mencintai perasaan yang selalu ia rasakan ketika bersama Azhalea? Entahlah. Alva tidak tahu apa jawabannya. Ia hanya tahu, bahwa ia bisa mendapatkan perasaan itu hanya bersama Zhe.


"Ehem!" Deheman keras membuat mereka tersentak. Baik Alva maupun Zhea, mereka berdua terlonjak kaget. Terlebih ketika menyadari siapa pria yang sengaja berdehem untuk menghentikan aktivitas mereka.


"Daddy!" Panggil Alva. Membuat pria itu menatap wajah Alva kaku, sedangkan Zhea masih tersentak tak percaya dengan kehadiran William.


"Maaf untuk mengganggu acara kalian." Ucap William sarkatis. Kini tatapannya justru menajam ke arah Zhea, membuat gadis itu harus susah payah menelan ludahnya.


"Tapi ini sudah waktunya makan malam. Dan kau!" William menunjuk wajah Zhe. Sialan. Dia merasa kesal sekali dengan gadis yang ada di hadapannya.


"Aku mengebut bukan untuk melihatmu berciuman! Tapi karena kau yang merengek minta makan!" Zhe membuka mulutnya tak percaya dengan perkataan William. Well, memang benar. William benar-benar mengebut, hingga menerobos lampu merah. Tapi pria itu hanya berkata jika dia ingin menonton opera sabun favoritnya, well, walaupun itu terdengar konyol karena mana mungkin seorang William Harison melihat opera sabun?


"Babe, kau lapar?" Alva menatap wajah Zhea yang kaku, kemudian tertawa seraya mengacak-acak rambut gadis itu.


Akhirnya, mereka berjalan menuju meja makan. Dan seperti biasa, Zhe duduk di depan William yang sedang menatapnya dengan tatapan membunuh. Membuat Zhea lagi-lagi berpikir apakah William sedang marah?


"Kalian berdua cepat akrab, ya! Aku jadi bahagia!" Ucap Alva seraya tersenyum. Pria itu mengambil piring dan mengisinya dengan makanan, kemudian menyerahkan kepada Zhea, setelah itu menyiapkan makanan untuk dirinya sendiri.


"Ya, saking akrabnya, kekasihmu itu sampai mengakui,"


Zhea mendelik ke arah William, membuat pria itu menggantung ucapannya. Tatapan matanya masih setajam pisau.


"Kau bicara apa, dad?" Tanya Alva seraya memakan makanannya.


"Tidak." William beranjak dari tempat duduknya.


"Dad? Kau tidak makan?" Tanya Alva bingung, membuat William mendengus kesal, "Aku sudah kenyang melihat opera sabun kesayanganku."


"Sejak kapan kau menonton opera sabun, dad, seriously? Dan kenapa kau kenyang hanya karena menontonnya?" Alva tertawa.


"Aku sudah kenyang menonton adegan ciuman panas mereka." Dengus William. Pria itu berjalan meninggalkan ruangan makan, meninggalkan Zhe yang terasa tertohok dengan ucapan William.


"Dia marah?" Zhea bertanya pada dirinya sendiri, yang justru dijawab enteng oleh Alva, "Mungkin wanita club incarannya berciuman dengan lelaki yang lebih muda darinya."


Alva tertawa melihat tingkah kekanak-kanakan William. Namun berbeda dengan Zhea yang menatap horror ke arah Alva, akibat ucapan aneh pria itu yang entah mengapa begitu cocok dengan keadaan mereka.