Sweet Child OR Hot Daddy

Sweet Child OR Hot Daddy
Sehari Bersama William



***


William melempar kunci mobilnya ke seorang satpam yang dengan sigap menangkapnya. Kemudian tangannya beralih untuk menggenggam tangan Zhea sepenuhnya. William benar-benar tidak main-main untuk membawa Zhea berbelanja. Terbukti, mereka sudah berada di salah satu mall besar di New York.


Mall itu memiliki banyak kaca di setiap bagiannya, membuat Zhe mau tidak mau melihat bayangan mereka berdua di kaca. Zhea sempat terkejut karena bayangan mereka terlihat sangat sempurna. Well, dengan penampilan William yang tampak casual dan muda (Zhea sendiri tidak tahu untuk siapa William berdandan sedemikian tampan), setidaknya orang-orang tidak akan pernah menyangka bahwa umur William lebih dari dua kali umur Zhe.


Di dalam mall, banyak sekali spesies wanita dari yang muda hingga tante-tante girang. Mereka semua memperhatikan Zhea dan William. Dalam artian, memandang William layaknya model papan atas dan memandang Zhea layaknya buronan kelas kakap, sialan.


Zhea merasa risih. Tentu saja. Pandangan membunuh gadis-gadis itu benar-benar mengulitinya, oh well, memangnya apa sih salah Zhe hingga mereka harus menajamkan pandangan bak elang yang menerkam mangsanya?


"Ku pikir, kau tidak perlu..." Zhea berusaha melepas genggaman William, "...seperti ini."


William menatap Zhea bingung, namun tidak mau ambil pusing, "Terserah kau saja."


William berjalan di depan Zhea. Kakinya yang panjang membuat pria itu melangkah lebar-lebar, membuat Zhea kewalahan untuk menyamai langkah kakinya. Melihat itu, William justru mempercepat langkahnya untuk menggoda Zhea. Lama kelamaan, Zhea jadi berlari untuk mengejar keberadaan William.


"Will! Tunggu aku!" Teriak Zhea. Mendengar teriakan itu, William tersenyum dan menghentikan langkahnya tiba-tiba. Membuat Zhea dengan spontan berhenti karena kepalanya membentur tubuh William yang kekar.


"Kau!!" Zhea berteriak seraya mengelus-elus kepalanya yang terasa sakit kemudian melanjutkan teriakannya, "Bagaimana bisa punggungmu seperti besi?!"


William tertawa dan ikut mengusap dahi Zhea yang memerah. Melihat Zhe berteriak dengan wajah serta dahinya yang memerah membuat William ingin memakan gadis itu hidup-hidup.


"Dasar bocah cilik banyak mau," William tertawa, "Siapa yang tidak mau berjalan di sebelahku tadi?"


Zhea cemberut, "Bukan berarti kau harus berlari kan?!"


"Berlari? Nona, salahkan kaki pendekmu."


Zhea mendelik kesal, "William! Ini tempat umum! Jangan membuatku marah!"


Melihatnya, William tertawa. Pria itu mengacak rambut Zhea seraya menggenggam kembali tangan itu, "Jangan protes. Berjalan saja denganku. Aku takut kau hilang, anak kecil."


Zhea cemberut, gadis itu mengikuti perkataan William, namun harus menerima kenyataan bahwa tatapan tajam lagi-lagi menghujamnya. Membuat Zhea bergidik ngeri.


"Kenapa mereka menatapku seperti ini, sih?" Dengus Zhea. William mengikuti arah pandangan Zhea dan berkata, "Mungkin mereka jealous? Wajah tampanku membuatku terlihat seperti kekasihmu."


Mendengar itu, Zhea menatap William ngeri. Demi Tuhan, betapa narsisnya pria ini!


"Atau mereka mengira bahwa aku ini simpanan om-om narsis yang suka bergaya anak muda untuk menarik perhatian tante-tante girang di luaran sana?"


William menatap Zhea sepenuhnya, "Zhe, sebenarnya dari tadi pagi kau itu bicara apa? Memangnya aku berdandan untuk siapa? Kau ini benar-benar sok tau."


Zhe mengangkat bahunya, "Siapa tau kau akan bertemu pacarmu."


"Memangnya aku pernah bercerita kalau aku punya pacar?" William berdecak, "Kalau aku ingin bertemu pacarku, kenapa pula aku harus mengajak anak kecil sepertimu?"


Zhea mendelik, ingin membalas ucapan William ketika seorang wanita berumur yang masih sangat-sangat-sangat seksi itu menyambut mereka, maksudnya, menyambut William.


"Ahhh, this busy Mr. Marteen!" Ucap wanita itu seraya menarik William, hingga genggaman tangan Will pada tangan Zhea terlepas.


"Apa yang membuat orang sibuk sepertimu datang ke butikku? Apakah kau merasa bersalah karena semalam tidak bisa datang, tuan William Harison?" Wanita itu tersenyum dan secara sempurna memeluk lengan William. Dan bagus! Zhe seketika terlupakan.


Gadis itu mendengus kesal dan mengikuti langkah dua orang dewasa di depannya. Matanya tidak bisa lepas dari punggung William yang sebenarnya merasa tidak nyaman dengan perlakuan wanita itu. What? Tidak nyaman pantatmu! Dia pasti berdandan seperti itu demi tante-tante centil ini!


"Ah, sebenarnya, Jane. Aku kesini untuk mengantarkannya membeli pakaian." Ucap William seraya menunjuk Zhe, membuat wanita blonde bernama Jane itu tampak menatap Zhea sinis. Melihat tatapan itu, Zhe membalasnya dengan tatapan yang lebih sinis. Serius, Zhea muak dengan tingkah Jane yang benar-benar seperti pelacur kesepian.


"Siapa bocah cilik ini?" Tanya Jane, tatapannya berubah sehalus sutra ketika berbicara dengan Willia..


"Ah? Dia kenalanku. Maksudku, dia anak dari salah satu temanku yang sedang dititipkan padaku." Ucap William membuat mata Zhea membulat. Gadis itu menatap tajam sosok William yang hanya meringis minta maaf.


"Oh, hanya anak kenalan?" Ucap Jane meremehkan kemudian mengajak William untuk duduk di sofa khusus di dalam butik mewah itu.


"Zhe, pilihlah pakaian sesukamu. Aku akan," Ucapan William terpotong ketika Jane sudah mengambil alih seluruh perhatian William agar hanya terpusat padanya.


Melihat itu, mendadak Zhe menjadi geram. Gadis itu menggerutu dan menyumpahi wanita ***** itu, dia juga sesekali menyumpahi William karena melupakannya seketika demi berbicara dengan wanita persetan bernama Jane itu.


Zhe beralih ke tempat underwear dan segera mengambil berpasang-pasang underwear keluaran Victoria's Secret. Selain itu, Zhea juga mengambil gaun tidur dan lingerie yang cukup seksi. Well, serius, Zhea tahu betapa mahalnya harga barang-barang yang diambilnya. Tapi, entahlah, Zhe hanya ingin benar-benar membuat William bangkrut! Dia tidak peduli jika akhirnya Willia. meminta ganti rugi padanya, yang jelas, Zhe benar-benar kesal kepada William.


Setelah selesai, Zhe berjalan ke arah mereka berdua, tak lupa menatap tajam Jane yang tampak terganggu dengan kedatangannya, "I am done!"


Willian mengangguk dan bangkit dari duduknya. Mereka bertiga berjalan menuju kasir untuk membayar belanjaan Zhea.


"Totalnya $1750, Sir." Ucapan petugas kasir mampu membuat mata Zhea, William, dan Jane membulat bersamaan.


"What?!" Teriak mereka bertiga, dan yang paling keras adalah teriakan Zhe.


Jane menatap gadis itu tajam, "Kau beli apa saja hingga sebanyak itu?! Oh ya ampun, kau benar-benar menyusahkan William!"


Zhea benci melihat wanita blonde itu, namun dalam hati, gadis itu membenarkan apa yang diucapkan Jane. Demi Tuhan, $1750 bukan uang yang sedikit! Bagaimana bisa Zhea menghabiskan sebanyak itu hanya untuk berbelanja baju?


Zhea merutuki dirinya sendiri. Dia terlalu kesal hingga tidak berpikir apapun selain membuat William bangkrut. Dan ya, William memang benar-benar akan bangkrut jika harus mengurus Zhe untuk sebulan ke depan.


"It's okay." William mengeluarkan kartu kreditnya. Setelah menyelesaikan pembayaran, pria itu mengajak Zhe keluar dengan kedua tangannya yang penuh barang belanjaan Zhe.


"William..." Zhea berbisik lirih, tidak berani menatap wajah William yang saat ini berdiri di sebelahnya.


"Ya, kenapa? Kau lapar?" Nada suara William terdengar biasa saja, sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia sedang marah.


"Kau kesal denganku, kan?" Ucap Zhea lagi, membuat William menatapnya penuh, "Iya."


Zhea merutuk dirinya sendiri dan menarik nafas panjang, "Maafkan aku. Aku hanya..." Aku tidak suka melihatmu bersama wanita bodoh itu dan mengabaikan keberadaanku! Aku benci itu!


William menatap wajah Zhea, "Kalau kau tidak suka dengan apa yang ku lakukan, katakan itu. Kalau kau benci melihat Jane, katakan juga. Aku tidak suka melihatmu marah-marah hanya karena menahan rasa kesalmu. Well, baiklah, kau terlihat semakin lucu ketika kau cemberut. Tetapi aku lebih suka kalau kau jujur. Jika saja kau mengatakan bahwa kau tidak suka, aku akan segera mengajakmu pergi ke butik lain."


Zhea menganga mendengar penuturan William, wajahnya memerah, lalu gadis itu berkata, "Itu bukan masalahnya!"


William memandangnya, "Lalu? Apa?"


Zhea menghebuskan nafasnya, "Aku menghabiskan uangmu!"


"Hah?!" William memandang Zhea tidak mengerti, "Oh iya. Aku hampir lupa untuk membelikanmu ponsel!"


Mata Zhea membulat tak percaya, "William! Kau ini bagaimana sih? Aku menghabiskan uangmu di butik, dan kau masih mau membelikan ponsel? Serius! Aku tidak akan membayarnya walaupun harus menggantikan Patricia seumur hidupku!"


Pria itu tertawa dalam hati melihat Zhea yang berbicara dengan panik. Bahkan, jika Zhea menghabiskan 10.000 dollar tadi, dia tidak akan keberatan. Selain karena 10.000 dollar bukanlah apa-apa untuk William, menghabiskan uangnya untuk melihat gadis itu bahagia adalah kebahagiaan yang tidak ternilai untuk William.


"Zhea. Aku kan memang ingin mengajakmu berbelanja." Ucap William, seolah tidak merasa terbebani sedikitpun. Hal itu membuat Zhea harus menekan pelipisnya karena mendadak merasa pusing oleh tingkah William.


William tersenyum tipis melihat wajah Zhea yang tampak khawatir. Gadis ini benar-benar langka. Harusnya dia senang ketika ada yang membayar belanjaannya. Ini? Jangankan senang, gadis itu justru sakit kepala.


"Mau milk-shake? Strawberry milk-shake?" William tersenyum ketika menyebutkan nama minuman favorit pembangkit mood ala Zhea, begitulah yang selalu Zhe katakan pada William. Dan benar saja, wajah gadis itu langsung ceria.


Zhea akan memilih 10 gelas strawberry milkshake dibanding 10 kilogram emas batangan.


Mereka pergi menuju sebuah kafe, dan lagi-lagi Zhea harus menghela nafas ketika pasang-pasang mata menatapnya sangat tajam. Terlebih ketika mereka menatap William yang membawakan banyak sekali kantong belanjaan Zhe. Jangan salah, Zhea sudah memaksa untuk membawa sebagian kantong belanjaannya dan Willian benar-benar tidak mau memberikannya pada Zhe.


"Apakah semua wanita yang pergi denganmu akan mendapatkan tatapan seperti ini?" Tanya Zhe, membuat William tertawa, "Apakah aku perlu bertindak?"


"Sounds good." Zhe tertawa. Namun, dengan tiba-tiba, William berdiri. Membuat semua orang tampak menatap ke arahnya, tak terkecuali Zhe yang langsung membuka mulut tak percaya. "Lebih baik kau mengalihkan pandanganmu dari gadisku!" Ucapan William begitu tegas dan tajam, membangkitkan semangat yang menghidupkan mata-mata yang sedari tadi membuat Zhea tidak nyaman.


Setelah itu, William kembali duduk dan tersenyum memandang Zhea yang masih membuka mulutnya tak percaya.


"Kau gila!!" Zhea berteriak tertahan, membuat William mengangguk setuju, "Aku gila."


"William!" Zhe kembali menyahut. Dia memandang sekitarnya yang tidak lagi menatapnya sinis, "Kau benar-benar gila!"


Zhe tertawa ketika seorang pelayan meletakkan pesanan mereka di meja. Gadis itu menyesap milkshake nya dan melanjutkan omongannya, "...Dan aku suka itu."


Mereka menikmati hidangan yang dipesan dalam keheningan, hingga akhirnya, Zhr menyelesaikan sedotan terakhirnya, dan berkata, "William, aku tahu ini kurang ajar. Tapi, bolehkah jika aku meminta beberapa boneka dan mainan? Aku tidak tahu kapan aku bisa membayar hutangku tentang baju, make up, dan ponsel baru. Tapi untuk barang satu ini aku benar benar akan membayarnya.