Sweet Child OR Hot Daddy

Sweet Child OR Hot Daddy
terlalu perhatian



"Daddy, wake up!" Zhea menepuk halus pipi William yang masih memejamkan matanya, membuat pria itu mendesah, "Nanti dulu. Aku baru tidur.."


Ya, karena William yang meminta cuti sehari untuk menemani Zhe kemarin, pria itu harus bergadang untuk menyelesaikan tugasnya yang menumpuk. Pria itu bahkan harus tidur jam 5 pagi, tepat sejam yang lalu.


"Dad, kau dan aku ada jam kuliah pagi. Kita bisa terlambat jika kau tidak bangun." Ucap Zhea, kini gadis itu berlutut di sebelah tempat tidur William dan meniup mata pria itu.


"Ayo, lima menit,"


Ucapan William berhenti ketika Zhea menggigit bibir bawahnya keras-keras. Membuat pria itu membuka matanya terkaget.


"My naughty girl. Come to daddy!" Pria itu mengerang seraya mengangkat tubuh Zhea dan menindihnya. Membuat Zhe tertawa, "Siapa suruh kau tidak bangun?"


William tersenyum miring dan kembali memejamkan matanya seraya membenamkan kepalanya di tubuh mungil Zhea. Membuat Zhe berteriak, "Daddy! Kau ini sadar diri kenapa sih? Kau berat, tahu!"


William hanya tersenyum kecil dan semakin menenggelamkan kepalanya, membuat Zhe terus berteriak, "Ayolah! Kau harus mandi, Demi Tuhan, William, kau membuat penampilanku rusak parah!"


William membangunkan tubuhnya dan menatap Zhe yang sudah rapi jadi sedikit berantakan karena ulah William. Membuat pria itu menatapnya galak, "Kau berdandan untuk apa?!"


Zhe mengangkat alisnya, "Tentu saja untuk pergi kuliah."


"Kau mau menarik perhatian siapa di kampus?!" Tanya William lagi, membuat Zhea memutar matanya, "Apa aku harus berdandan seperti orang baru bangun tidur? Seriously?"


William mengangguk, "Setidaknya, dengan begitu tidak ada pria yang mau mendekatimu."


Zhea memutar bola matanya lagi dan mendengus, "Mr. Harison yang terhormat, jika kau ada di kelasku dan kau terlambat datang, aku bersumpah akan menghukummu seperti kau menghukum mahasiswamu."


William tersenyum dan mencium bibir Zhe, "Dihukum seperti itu?"


Lalu William mencium leher Zhe, "A itu?"


Wajah Zhea memerah. Gadis itu mendorong dada William sekuat mungkin hingga pria itu jatuh di sebelahnya.


"Dasar mesum! Cepat mandi!" Teriak Zhea seraya mengeluari kamar William. Membuat pria itu tertawa bahagia.


William segera menuju kamar mandi dan bersiap-siap dengan jas kerjanya. Setelah selesai, pria itu membereskan pekerjaannya dan memasukkan ke dalam tas kerja. Barulah ia mengeluari kamar dan menuiu meia makan. Tempat dimana Zhea sudah menikmati sarapannya. Pria itu tersenyum seraya mencium puncak kepala Zhe, membuat mata gadis itu membulat ketika menatapnya.


"Apa kau gila? Ada Patricia di dapur!" Bisik Zhe, membuat William tertawa, "Memangnya kenapa? Aku bisa unboxing kamu di depannya, jika aku mau."


Wajah Zhea memerah mendengar penuturan William. Gadis itu segera menyendokkan pancake madu kesukaan William ke mulut pria itu, "Makan! Kau jadi gila jika belum makan pagi."


William tertawa dan memakan pancake madunya. Membuat Zhea tersenyum geli melihat wajah tampannya.


"Kau serius akan masuk? Kau bisa istirahat hari ini." Tawar William, membuat Zhea menggeleng, "Aku sudah bolos kemarin. Nanti aku bisa ketinggalan pelajaran."


Mendengar jawaban itu, Zhea bergidik ngeri, "Privat di ranjang, iya?"


William tertawa dan memakan suapan terakhirnya.


"Baiklah, ayo kita berangkat." Ucap William seraya berdiri. Melihatnya, Zhea mengambil kotak makan yang ada di sebelahnya dan menyerahkannya ke William.


"Kau tahu dimana Alva tinggal, kan? Nanti setelah kau mengajar, tolong antarkan ini kepadanya. Aku


tahu kau free 2 jam sebelum mengajar di kelasku." Ucap Zhe.


William mengarahkan matanya tepat di mata Zhea dan berkata, "Berhentilah memperhatikan Alva."


"Aku tidak bersikap baik, aku hanya, well, dia butuh sarapan rumahan. Dan ini pancake tiramishu kesukaannya."


William mendengus dan berjalan menuju mobilnya. Mendadak pria itu begitu kesal. Membuat Zhea berlari dengan langkah pendeknya dan memasuki kursi penumpang.


"William, tolong.."


"Lihat? Kau memanggilku William ketika berbicara tentang Alva! Apakah kau harus sepeduli itu dengannya setelah apa yang ia lakukan padamu?!" Ucap William seraya menjalankan mobilnya, "Kau bahkan tahu makanan kesukaannya!"


"Ada apa denganmu? Aku tahu juga karena kau yang memberitahuku, kan?" Ucap Zhe tak habis pikir.


"Dia anakmu, harusnya kau bisa lebih peduli lagi." Lanjut Zhea membuat William menaikkan kecepatan mobilnya, "Sayangnya, aku sama sekali tidak peduli."


Zhea mengulurkan tangannya untuk mengelus pipi William, "Daddy, come on. Kau seperti anak kecil."


William melepaskan pegangan Zhe di pipinya dan berkata, "Kenapa aku seperti anak kecil hanya karena aku ingin melindungimu?!"


Zhea tersenyum, "Terima kasih sudah menjadi pelindungku. Tapi, bukan begitu caranya."


Oh, Zhea bahkan terdengar seperti guru TK yang sedang menasehati muridnya.


"Bukan karena aku peduli dengan Alva. Aku justru peduli kepadamu." Ucap Zhe. Gadis itu menatap William penuh, "Aku tidak ingin kau menjadi ayah yang seperti ayahku untuk Alva, hanya karena aku. Apapun yang dia lakukan, Alva tetaplah anak kandungmu, dan aku hanyalah seorang gadis asing yang beruntung karena bertemu pria sepertimu lewat internet."


Mendengar penuturan Zhe, membuat William menghentikan mobilnya dan menatap gadis itu lekat-lekat. William mencium bibir Zhea lama, sebelum berkata, "Aku tidak suka mendengarmu mengucapkan itu. Gadis asing? Ya. Gadis asing ini telah mengambil seluruh hatiku dan membuatku begitu menyayanginya."


Zhea kembali tersenyum. William selalu mampu membuatnya merasa spesial. William selalu berhasil membuatnya merasa sebagai wanita paling diinginkan di muka bumi ini.


"Baiklah, jadi, kau mau mengantarkannya, kan? Kau sendiri yang mengantarkannya?" Tanya Zhe yang akhirnya dibalas anggukan oleh William.