
Zhea memainkan telinga William, meniup, hingga menyentuhnya dengan halus. Hal itu membuat William merasa geli dan membuka matanya perlahan.
"Hey Will," Hal pertama yang William lihat saat matanya terbuka adalah senyuman Zhea, membuat pria itu mengerjapkan matanya beberapa kali dan membelai rambut Zhea lembut.
"Kau tidur nyenyak sekali, ya?" Cibir Zhe.
"Jam berapa?" Tanya William. Zhea menunjukkan ponselnya dan berkata, "Jam lima sore."
"What?! Did I just sleep that long?" William membulatkan matanya, membuat Zhea tertawa terbahak-bahak. Gadis itu menepuk kedua pipi William gemas, "Kau tidur seperti sapi. Kalau ada gempa bumi, kau akan jadi orang terakhir yang keluar dari rumah!"
William tertawa, matanya mengunci mata hitam Zhea yang selalu indah di matanya, "Bagaimana makalahnya? Sudah selesai?"
Zhea mengangguk seraya menunjukkan flashdisk-nya, "Akan berada di meja Mr. Harison sebelum jam 12 siang."
"Bagus."
"Oh ya, Alva tadi menelepon. Katanya dia tidak pulang karena harus mengerjakan proyeknya." Ucap Zhda seraya bangkit dari tempat tidur William.
"Oh, ya? Aku tidak dengar?" William memainkan rambutnya, membuat Zhe memutar bola matanya.
Zhea hendak meninggalkan kamar William ketika pria itu ikut bangkit dari tempat tidurnya dan mengambil handuk, "Kau istirahat di rumah malam ini. Aku ada sedikit acara. Aku janji tidak akan pulang malam-malam."
"Kemana? Apakah acara resmi?"
William menggeleng, "Hanya undangan dari seorang teman."
"Pria? Wanita?" Tanya Zhe menyelidik, membuat Will mendekatinya dan menepuk pipinya, "Si pemilik butik yang kemarin. Ingat?"
Mata Zhea membulat, "Aku ikut!"
"Apa?" Tanya Will.
Zhea mengangguk, "Lagipula, tugasku sudah selesai, aku tidak berbuat apapun di rumah. Jadi aku bisa ikut, kan?"
William menggeleng, "Ofcourse you can't! Kau harus istirahat!"
Zhea menggembungkan pipinya kesal, "Aku hanya terkena bola basket, apa masalahnya? Sakitnya juga sudah hilang! Lihat, aku bahkan sudah bisa mengerjakan makalah dalam waktu tiga jam!"
William tetap menggelengkan kepalanya dan berjalan ke arah kamar mandi, "Sekali tidak, tetap tidak."
Melihat itu, Zhea menarik singlet William dari belakang dan merajuk, "Ayolah. Aku ikut. Aku janji tidak akan mengganggumu. I am a party girl, you remember? Aku bisa bersenang-senang sendiri tanpa harus mengganggu pertemuanmu dengan teman-temanmu!"
William memutar bola matanya. Justru jika Zhe bersenang-senang sendiri-lah yang akan membuat William mati karena khawatir. This is New York, guys. Pria itu mengabaikan Zhea dan masuk ke kamar mandi, menyeret Zhe yang sedang menarik singletnya dari belakang.
"Ayolah, William. Please, aku rindu berpestaaaaa." Ucap Zhea memohon, membuat William menatapnya dan menggeleng kekeuh.
"Kau bisa keluar? Aku akan mandi." Ucap William membuat Zhea mendengus dan melipat tangannya kesal, "Aku tidak akan keluar sampai kau mengizinkanku ikut!"
William menaikkan satu alisnya, "Kau yakin?"
"Absolutely, yes!" Balas Zhe seraya menatap tajam sosok William.
Will mengangguk-angguk seraya melepas singlet hitamnya. Memperlihatkan tubuh seksi William yang bertato. Zhea meneguk ludahnya sendiri melihat bagaimana dada bidang dan perut sixpack William begitu menggodanya.
Namun, gadis itu mengerjapkan matanya. Mencoba tidak peduli dan tetap menatap pria itu tajam. Kau tidak akan berani, daddy!
Dan, ****. Zhea membulatkan matanya menyadari William yang tidak main-main. Pria itu kini melepaskan celana pendeknya, menyisakan ****** ***** ketat yang dapat dengan jelas memperlihatkan cacing besar alaska di dalam sana. Wajah Zhea benar-benar memerah.
Gosh, Zhe tidak tahan lagi. Dia bisa-bisa mati kehabisan nafas di dalam kamar mandi hanya karena melihat betapa seksinya William.
"Ya sudah! Bersenang-senanglah dengan Jane! Aku sama sekali tidak peduli!"
"What?!" Ucap William tak percaya. Zhe segera meninggalkan kamar mandi dengan menghentak-hentakkan kakinya, membuat William segera mengejar gadis itu.
"Wait, Zhe." William menahan lengan Zhea, membuat gadis itu berhenti dan menatapnya tajam, "Kenapa? Hah?!"
"Kenapa aku harus bersenang-senang dengan Jane? Come on, kami tidak berdua. Ada yang lain juga." Jelas Will, membuat Zhea memutar bola matanya, "Jika berdua-pun aku tidak peduli! Lakukan semaumu! Kau mau berciuman dengannya, kau mau membawanya ke kamar! Kau mau membuatnya kelelahan sepanjang malam, atau melakukan ******* dengan bibirnya yang tebal dan seksi itu. Terserah kau saja, aku sama sekali tidak peduli! Itukan alasanmu benar-benar tidak mengizinkanku untuk ikut?! Kau takut aku mengganggumu, kan?! Kau takut bocah kecil ini mengacaukan malam-mu dengan Jane, kan?!"
William memandang Zhe dengan tatapan geli. Oh, ya Ampun. Bahkan ketika marah-marah, Zhea justru terlihat seksi. Lihat bagaimana bibir merah mudanya mengucapkan kata demi kata dengan sangat cepat.
"Sudah marah-marahnya?" Bukannya kesal, William justru tersenyum seraya mengaitkan anak rambut Zhea di telinga, membuat wajah Zhe memerah karena perlakuan manis William. Gadis itu jadi malu sendiri sudah marah-marah di hadapan Will.
Zhe menghela nafas seraya membalik tubuhnya untuk meninggalkan kamar William, membuat pria itu menarik Zhea dalam pelukannya. William memeluk Zhea gemas, membawanya ke dalam tubuh shirtless William, "Aww, how cute my Zhea is!!"
Wajah Zhea memerah. Seriously?! William memeluknya? Masalahnya adalah, pria itu hanya memakai cd yang membuat Zhe bisa merasakan secara langsung bagaimana hangat tubuh polosnya. Bagaimana lengan kekarnya mengelilingi tubuh Zhea. Bagaimana detak jantung tenangnya terdengar di telinga Zhea.
"Oke. Kau boleh ikut. Lagipula, kenapa aku harus bersenang-senang dengan Jane kalau ada gadis kecil semanis ini di sebelahku?"
Zhea tersenyum lebar dan balas memeluk tubuh William, "Terima kasih!!!!"
"Alright. Get ready, girl." William menepuk pipi Zhe, membuat gadis itu mengangguk dan hendak berlari ketika lagi-lagi William memanggil namanya.
"Apa lagi?" Tanya Zhea. William tertawa kecil melihat wajah Zhe yang merah.
"Jangan lama-lama di kamar mandi, kau harus siap-siap." Will mengerling jahil seraya berlari menuju kamar mandi, membuat Zhe berteriak kesal dengan wajah yang semakin memerah.
William sialan.
"Zhe, cepat sedikit!" William berteriak seraya memasang jam tangannya. Beginilah perempuan, butuh waktu berjam-jam untuk pergi ke pesta. Serius, William jadi sedikit menyesal mengajak Zhea.
"Tunggu sebentar!" Zhea berlari sambil membawa heels hitamnya ke tempat William yang saat ini membelakanginya.
"Oh come on, nanti kita kemalaman!" Teriak William lagi, membuat Zhea memutar bola matanya dan menepuk bahu William dari belakang. Pria itu berbalik, mendapati sosok Zhea yang..
"What the ****?" Ucap William spontan. Pria itu menatap penampilan Zhe dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas. Zhea dengan balutan dress merah maroon ketat yang menempel dengan pas di tubuhnya. Gaun itu memperlihatkan dengan jelas pegunungan himalaya yang berada di d*d* Zhe dan bentuk kedua bukit kembar yang berada di bawah pinggang nya dengan sempurna. Zhea menggelombangkan rambutnya dan membubuhi make up di seluruh wajahnya. Membuat gadis itu terlihat seperti wanita 25 tahunan yang begitu seksi. Oh, bahkan kata seksi tidak bisa mendeskripsikan betapa hotnya Zhea.
"Zhea, aku tidak mau kau, my fuckin gosh, no!" Wajah Will memerah. Bukan karena Zhea terlalu memalukan untuk dibawa, well, William yakin dengan penampilannya yang seperti itu, Zhe akan menjadi wanita favorit di club malam. But, man! William tidak akan pernah merelakan orang lain melihati tubuh indah Zhe!
"What? Aku sengaja berdandan lebih tua dari umurku," Zhea tersenyum lebar membuat William menghela nafas panjang, "And what is that for?"
"Untuk melindungimu dari wanita-wanita penggoda di club malam." Ucapan Zhe membuat mulut William terbuka. Pria itu benar-benar tidak habis pikir dengan pemikiran Zhea.
"Melindungiku dan mengorbankan dirimu kepada pria-pria penggoda di club malam?!" William memijat keningnya. Dia jadi tidak mood untuk datang ke club.
"Come on, Will! Apakah aku harus pakai piyama ke club?" Zhe memutar matanya, membuat William lagi-lagi menghela nafasnya.
"Ganti sekarang, Zhea."
"Azhalea, ganti pakaianmu!" Perintah William tegas. Namun gadis itu tak mengindahkannya. Ia justru berlari menuju mobil yang sudah siap dijalankan, dan duduk di samping kursi kemudi.
William membuka pintu mobil dan duduk dibalik setirnya dengan menatap Zhea tajam.
"Pakai ini." William melepaskan jaket kulitnya dan memasangkannya ke tubuh Zhe, membuat gadis itu menoleh tidak menerima.
"Jika kau tidak mau, kita tidak berangkat."
"Fine!" Zhea mendengus. Dan saat itulah mobil William melaju.
""Aku tidak mau tahu, kau harus selalu berada di dekatku." Ucap William, pandangannya lurus ke jalanan.
"Terdengar seperti kau belum mengatakannya?" Zhe memutar bola matanya. Dia sampai bosan mendengar celotehan William tentang harus berada di dekatnya.
"Kau tidak boleh minum alkohol." Ucap William lagi, dan kali ini Zhe menoleh ke arahnya dengan mulut terbuka.
"Will, Aku hampir 20 tahun!"
"Oh, watch your mouth, young lady." Will melirik Zhea yang masih menatapnya tak terima.
"Like, seriously? Apa aku harus minum susu strawberry di sana?"
"Aku tidak bisa membiarkanmu mabuk. Aku tidak tahu apa yang akan pria lain lakukan nantinya."
Zhea menatap William lagi, "Seperti kau akan melepaskanku pergi saja?"
William tersenyum, "Tepat sekali. Kau harus ada di sebelahku, dan, no alcohol."
"Come on. Kau bilang aku boleh mabuk jika pergi bersamamu? And look, aku pergi bersamamu saat ini. Then, apa yang kau takutkan?"
William terdiam, pria itu menoleh ke arah Zhea bingung,
"Kau ingat ucapanku?"
Zhea menyeringai, "Apakah aku separah itu ketika mabuk?"
William memutar bola matanya, "Kau hanya boleh mabuk jika pundakmu, dadamu, pahamu, kakimu, semuanya tertutup."
Zhe mendengus kesal. Berdebat dengan William tidak akan pernah ada akhirnya.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di sebuah club malam terkenal di New York. William memarkirkan mobilnya di halaman club malam tersebut. Membuat Zhe bersiap-siap membuka pintunya, jika saja Will tidak menyahut.
"Tunggu disitu!" William berlari keluar dan membuka pintu kursi kemudi, dan dengan super protektif, pria itu menggandeng tangan Zhea erat-erat. Membuat Zhe merasakan kehangatan ketika tangan mereka saling bertautan. Will menaikkan resleting jaketnya yang melekat di tubuh Zhea hingga seluruh bagian dada gadis itu tertutup. Meninggalkan Zhea yang tampak menatap William tidak percaya.
Mereka memasuki club malam yang sudah ramai dengan musik disko. Zhea tersenyum lebar. Gadis itu begitu merindukan suasana club malam, tempat dimana ia biasanya berkumpul bersama teman-temannya dulu. Sejak kejadian mengerikan itu, Zhe hampir tidak mengenal apa artinya pesta dan apa artinya mencari kebahagiaan.
"William!" Segerombolan pria dan wanita yang meskipun tua masih terlihat gagah di sudut club memanggil nama Will, membuat pria itu menoleh dan melambaikan tangannya.
Zhe bisa melihat sosok Jane dengan dress merah ketat yang begitu pas dengan tubuh s*ksinya. Dan dalam hati, Zhea merutuki betapa indahnya tubuh Jane. Ya, Zhe harus mengakui bahwa Jane terlihat sungguh s*ksi dengan kulit coklat eksotis, pegunungan himalaya indah yang mampu membuat pria manapun tergoda.
Jane tampak menghampiri mereka, menatap Will sebentar sebelum memeluk pria itu. Dan lagi-lagi, tangan William harus terlepas dari tangan Zhe. Membuat Zhe kesal dengan tingkah wanita itu.
"What is this, Will? Kau bawa anak dari kenalanmu lagi?" Tanya Jane. Will hendak membalas, namun didahului Zhe yang segera mengambil alih William. Zhe memeluk erat-erat lengan William dan menatap Jane tajam, "Aku bukan anak dari kenalannya!"
"Aku calon ibunya Alva Harison!" Lanjut Zhe, membuat William mendelik tak percaya ke arah Zhea. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa wajah William memerah mendengar penuturan Zhea.
"What? Seleramu anak kecil, Will?" Jane tampak meremehkan, membuat Zhe mendengus, "Aku dua puluh delapan tahun. Aku cukup matang untuk menjadi istrinya."
"Dan menurutmu aku peduli?" Jane tersenyum sinis dan kembali memeluk lengan Will. Namun, pria itu melepaskan pelukan Jane risih, "Maaf, tetapi Zhea sedang datang bulan. Kau ingat bagaimana dia menyusahkanku hanya karena cemburu kepadamu kemarin?"
Penuturan Will membuat Jane malu berat. Sedangkan Zhe? Tentu saja gadis itu tersenyum puas seraya menyandarkan kepalanya di lengan kekar Will.
"Woah, Will. Kau bawa pacar setelah sekian lama tidak dekat dengan wanita manapun? Hebat sekali." Seorang pria menyahut, membuat Zhea tersenyum lebar.
"Pacarmu cantik juga, ya. Ternyata wanita ini yang membuatmu menolak Jane habis-habisan. Oh, kau hebat juga." Mereka kembali berceletuk, membuat Zhe semakin tersenyum sinis ke arah Jane. Serius, Zhea hanya benci melihat wajah Jane yang terus menerus menggoda William.
Perlahan, William mulai larut dalam obrolannya dengan teman-temannya. Meninggalkan Zhe yang semakin bosan hanya melihat orang-orang bercengkrama. Zhea ingin berjalan-jalan mengelilingi club, namun ia tahu William tidak akan mengizinkannya.
"Zhe. Aku akan kesana sebentar. Kau tunggu disini, ya." Zhea tersentak ketika William berkata demikian, namun kemudian, gadis itu menyahut, "Kemana?"
"Sebentar. Ada urusan. Kau tunggu disini saja." Mendengarnya, senyuman Zhea melebar. William pergi, tandanya, Zhe bisa berkeliling untuk melihat suasana club.
"Jangan kau pikir, kau bisa pergi kemanapun." Seolah bisa membaca pikiran Zhe, Will berkata demikian. Membuat senyuman Zhea mendadak hilang, gadis itu mendengus kesal dengan sikap overprotektif William.
"Aku tidak suka dibantah. Dan kau harus tetap disini sampai aku kembali. Ingat. Jangan sentuh apapun!" William memperingati Zhea untuk yang terakhir kalinya sebelum bergabung dengan teman-temannya.
Meninggalkan Zhe yang lagi-lagi bosan. Padahal, tujuannya ikut William karena Zhea ingin merasakan suasana klub malam yang sudah lama tidak ia datangi. Zhe ingin menari-nari di lantai dansa. Tapi lihat apa yang terjadi dengannya? Jika tahu begini, Zhea akan lebih memilih untuk tidur hingga besok pagi.
Tidak terasa, sudah setengah jam Zhe menunggu dan William tidak juga kembali. Zhe merasa jengah. Dia benar-benar bosan, dan jika tetap seperti ini, Zhea lebih baik mengajak William pulang.
Zhe memutuskan untuk mencari William. Gadis itu menelusuri setiap tempat di club malam dengan menundukkan kepalanya. Well, dia akan menjadi anak baik yang mematuhi perintah William. Ya, Zhe tidak akan mengundang pria lain untuk mengajaknya minum alkohol ataupun menari di lantai dansa.
Zhea terus mencari, hingga pandangannya berhenti pada seorang pria yang sangat ia kenal sedang meminum gelas berisi minuman yang dituangkan oleh wanita menyebalkan bernama Jane. Dan, ya! Pria yang dimaksud adalah William Harison. William sedang tertawa seraya merangkul Jane. Kemudian, Jane tampak melakukan hal yang sama dengan William.
Dan ****.
Zhe benci melihat itu.
Zhea memilih untuk meninggalkan tempatnya. Gadis itu berlari, dan menabrak seorang pria hingga terjatuh.
"Are you okay?" Pria itu bertanya, membuat Zhe mendongak dan meminta maaf.
"Kau datang bersama siapa?" Tanya pria itu, Zhea terdiam. Sama sekali tidak berniat untuk menjawabnya.
Melihatnya, pria itu tersenyum dan membawa Zhe ke suatu meja. Pria itu meminta bertender untuk mengantarkan sebotol minuman haram dan dua gelas kaca, kemudian menyerahkan gelasnya kepada Zhe.
"Aku mentraktirmu untuk dua alasan." Ucap pria itu seraya menuangkan minuman tersebut ke gelas Zhea, membuat Zhe mendongak, "Apa?"
"Yang pertama, kau orang asing yang kelihatannya sedang ada masalah."
Zhe masih menatap wajah pria itu.
"Yang kedua, karena kau cantik."
Zhea memutar bola matanya. Jika dia sedang tidak kesal, dia pasti sudah mencibir pria sok gombal itu habis-habisan. Namun serius, Zhe sedang tidak mood untuk meladeni hal sekecil itu.