
***
Masih terlalu sore untuk masuk ke club malam, namun, disinilah Alva berada. Pria itu tengah merayakan keberhasilan proyek mereka mengenai salah satu tugas akhir kemahasiswaan. Alva tertawa ketika melihat Richard tengah menyambutnya dengan segelas minuman haram.
"Come on, man! Masih terlalu sore." Alva tersenyum menolak, karena well, malam ini, dia punya janji dengan Zhea. Dia ingin mengajak gadis itu keluar untuk sekedar jalan-jalan. Setelah kejadian yang ia alami di kampus kemarin, Alva memang belum bertemu dengan Zhe karena harus segera menyelesaikan proyek akhirnya.
"Alva," Pria itu merasakan seseorang menepuk bahunya, membuatnya menoleh dan menatap tajam seorang gadis yang tampak tersenyum manis ke arahnya.
"Apa yang kau lakukan disini? Aku sudah bilang untuk tidak menampakkan wajahmu di depanku!" Bentak Alva. Emosinya benar-benar meningkat karena mendapati gadis berambut blonde yang mengingatkannya pada wajah kesakitan milik Zhea.
"Alva, aku minta maaf." Gadis itu berkata seraya menyentuh lengan Alva, membuat Alva segera menghempaskannya. Pria itu kembali menekan rahang si gadis, tidak peduli wajah gadis itu yang masih membiru akibat ulahnya kemarin.
"Jangan pernah memanggil namaku dengan mulutmu! Jangan pernah bertingkah seolah kita berdua saling kenal!"
"Alva, I love you!!" Chloe berteriak tak tahan. Gadis itu meneteskan air matanya melihat tingkah Alva yang begitu menyakitinya.
"Oh, kau lebih baik melupakan perasaanmu!" Bentak Alva, "Karena rasa hormatku kepadamu benar-benar sudah hilang."
"Kau selalu menilaiku sebagai orang yang salah disini! Kenapa kau tidak pernah menanyakan alasanku untuk melakukan itu? Hah?!" Bentak Chloe, membuat Alva tersenyum sinis, "Aku tidak butuh alasanmu!"
"Tapi kau harus tahu bahwa aku melakukannya untuk melindungimu!" Bentak Chloe lagi.
Alva menatap gadis itu tak habis pikir, "Melindungiku? Melindungiku dengan menyakiti kekasihku?!"
"Dia bukan gadis baik-baik, Alva!" Bentak Chloe. Hal itu membuat Alva semakin geram.
"Kau boleh menyiksaku setelah ini. Tapi kau harus melihatnya terlebih dahulu." Gadis itu menyerahkan ponselnya ke arah Alva, membuat Alva merebutnya kasar.
Alva melihat layar ponsel Chloe yang menunjukkan sebuah video. Video itu menampilkan sosok Zhe dengan dress merah maroon yang ketat, sedang menari di tengah-tengah kerumunan pria. Tarian Zhea begitu gila dan erotis, membuat mereka bahkan tidak segan untuk meraih bukit kembar milik Zhe. Hal itu tampak membuat Zhe terlibat adu mulut dengan pria yang meremas kedua bukitnya. Hingga salah satu pria menarik gadis itu ke salah satu sofa. Pria itu menjatuhkan Zhe ke sofa, membuat gadis itu terlihat tertawa dan mengalungkan lengannya di leher pria itu. Kemudian, ia mencium leher Zhe, sedangkan tangannya tampak menggerayahi paha, pinggang, hingga kue apem dan masuk ke bukit kembar Zhe. Dan yang membuat Alva tak menyangka adalah...
Zheq tampak bahagia disana. Zhe tersenyum dan tertawa begitu lebar tanpa ada sedikitpun rasa penyesalan.
"What the **** is this!" Bentak Alva tidak tahan. Pria itu hampir saja tidak mempercayai, namun, demi Tuhan yang Chloe tunjukkan adalah video! Bukan sekadar foto yang bisa direkayasa.
"Sebenarnya, aku tidak berniat untuk merekamnya. Tapi ku pikir, kau harus mengetahuinya." Chloe menghela nafas, "Aku merekamnya kemarin malam. Ya. Hari dimana kejadian itu terjadi. Hari dimana kau berkata, dia butuh istirahat total karena perbuatanku."
"Dia tidak sebaik yang kau kira, Alva! Gadis yang kau agungkan, gadis baik-baik yang kau jaga mati-matian, dia sama saja."
Lagi-lagi, ucapan Chloe menohok jantung Alva. Tangan pria itu mengepal, membanting ponsel Chloe ke sembarang arah. Alva menarik nafasnya berkali-kali, berkata pada dirinya bahwa Zhea tidak mungkin seperti itu. Berkata bahwa Zhe adalah gadis baik-baik yang membuatnya nyaman.
Namun, semakin ia berpikir demikian, semakin sakit, hati Alva. Semakin banyak pula bayangan video Zhe di club malam itu teringat. Membuat Alva rasanya ingin memukuli siapapun untuk meredakan rasa kesalnya.
Alva mengambil botol minuman haram sisa Richard dan meneguknya hingga habis. Alva menjambak rambutnya sendiri. Apakah Zhea benar-benar seperti itu? Apakah dia salah menilai seseorang? Apakah dia salah untuk jatuh dalam pesona Zhe? Kenapa? Kenapa harus seperti ini? Ketika dia sudah. merasa menemukan gadis yang sesuai, kenapa gadis itu justru menyakiti hatinya, menyinggung ego dan perasaannya?
Alva menangis. Alva benar-benar menangis, dan Zhea-lah penyebabnya. Demi Tuhan, seorang Alva menangis demi gadis yang dikenalnya seminggu belakangan.
"Alva," Sentuhan Chloe membuat Alva menjadi beringas. Pria itu mendorong Chloe ke sofa dan menciuminya ganas. Alva menggigit bibir Chloe, mempermainkan lidahnya di mulut Chloe, begitu dalam dan kasar. Alva marah. Dia sangat marah. Tidak ada seorangpun yang berhak membuat Alva semarah ini. Tetapi, gadis beasiswa itu melanggarnya.
***
Sekali lagi, Zhe memandang pantulan dirinya di cermin dan tersenyum puas. Dia tampak cantik dengan baju putih tulang yang memperlihatkan bahunya yang indah. Gadis itu menjepit rambutnya, membuatnya terlihat sangat menawan bahkan ketika dandanannya hanya terlihat seperti gadis 17 tahun.
Malam ini, dia akan berjalan-jalan dengan Alva. Setidaknya, itulah yang Alva katakan tadi siang. Zhe kembali melihat jam tangannya dan menghela nafas. Alva bilang, ia akan menjemputnya jam setengah delapan. Namun, sekarang bahkan sudah jam delapan lebih lima belas menit dan batang hidung Alva belum terlihat. Hingga sudah tak terhitung berapa kali Zhea membenarkan rambutnya.
Gadis itu menenangkan hatinya dengan berkata, mungkin Alva sedang berdandan.. Atau, mungkin Alva sedang terjebak macet. Hingga akhirnya ia mendengar suara mobil Alva, membuatnya tersenyum lebar dan sekali lagi membenarkan tatanan rambutnya. Zhea berjalan keluar kamarnya, mendapati Alva yang sedang berjalan dengan limbung. Mata Alva memerah, seolah pria itu habis menangis.
"Zheaa." Alva tersenyum lebar seraya berjalan tepat di depan Zhe, membuat gadis itu bisa melihat dengan jelas bagaimana berantakannya wajah Alva. Alva memeluk Zhe dan mendorong gadis itu untuk masuk ke kamar.
"Kau mabuk, Alva?!" Ucap Zhe ketika bau alkohol menyerang indra penciumannya, membuat Alva tertawa kecil dan semakin menjatuhkan tubuhnya ke pelukan Zhea. Gadis itu terduduk di atas kasur karena tidak kuat menopang tubuh Alva.
"Kau kenapa?" Tanya Zhe, membuat Alva menatapnya dengan pandangan sayu.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Alva lirih, membuat Zhe menaikkan alisnya tidak mengerti, namun kemudian gadis itu mengangguk.
"Katakan padaku bahwa kau kemarin istirahat di rumah."
Zhea mengangguk, "Ya. Aku istirahat di rumah."
Alva tersenyum miring, "Kemana kau tadi malam?"
Mendengar pertanyaan Alva, Zhea hampir meloncat. Dia tidak tahu kenapa Alva tiba-tiba menanyainya. Zhe hendak menjawab ketika perkataan William terngiang di kepalanya. William sempat meminta Zhe untuk tidak memberitahu perihal pergi ke club malam itu, karena William tidak mau membuat Alva khawatir. Lagipula, Alva sudah mempercayakan Zhe kepada William agar gadis itu istirahat total.
Alva kembali tersenyum miring.
"Pembohong."
Alva menatap tajam Zhea, membuat gadis itu merasa kehilangan sosok Alva yang hangat. Alva yang ada di depannya adalah Alva dengan kilatan marah di seluruh matanya.
"Kemana kau kemarin malam?" Alva kembali bertanya. Pandangannya semakin menajam, membuat Zhe harus memundurkan tubuhnya takut-takut.
"Ada apa denganmu?!" Ucap Zhe, membuat Alva memajukan tubuhnya. Pria itu menyentuh leher Zhe, kemudian merambat ke belakang rambutnya. Dan dengan sekuat tenaga, Alva menjenggut rambut Zhea, membuat gadis itu berteriak kesakitan, namun lebih ke berteriak ketakutan melihat sosok pria dengan mata yang marah itu.
"JANGAN PERNAH BERBOHONG PADAKU, J*L*NG! KEMANA KAU SEMALAM?!" Bentak Alva. Membuat tubuh Zhe bergetar ketakutan. Gadis itu sama sekali tidak menyangka bahwa Alva akan berbuat demikian kepadanya.
"KAU BISU, HAH? JAWAB AKU!" Teriak Alva. Pria itu menekan rahang Zhe hingga membiru, membuat Zhea tak lagi bisa menahan rasa sakitnya. Gadis itu menangis sesenggukan, yang justru membuat Alva semakin beringas.
Alva menampar wajah Zhe kasar, membuat Zhea terhempas di tempat tidur, "Siapa yang mengajarimu berbohong, hah?! Siapa yang mengajarimu jadi p*l*cur berkeliaran di club malam, hah?! Kau tidak sadar siapa dirimu dan siapa aku?!"
Zhea tersentak. Tangisannya semakin kencang, gadis itu tidak mau melihat wajah Alva yang begitu menakutkan untuknya.
"KAU ITU MILIKKU! DAN AKU BENCI MELIHAT ORANG LAIN MENYENTUH BARANGKU, HARUSNYA KAU TAHU ITU!!" Bentak Alva. Pria itu kembali menjenggut rambut Zhea hingga tubuh gadis malang tersebut terangkat seluruhnya.
"Cukup, Alva! Cu-kup!" Zhea menangis seraya memukul tangan Alva yang masih menjambak rambutnya, membuat Alva tersenyum sinis, "Menangislah sebisa kau menangis!"
Alva menerjang bibir Zhe, ********** kasar. Zhea masih terdiam dalam tangisannya, dia tidak mau membalas ciuman Alva yang penuh emosi. Karena kesal, Alva menggigit bibir bawah Zhea keras-keras, membuat Zhe akhirnya membuka mulutnya, dan saat itu lidah Alva masuk dan mengabsen setiap jengkal mulut Zhe dengan ganas. Alva sedikit merasa asin karena bibir Zhea yang berdarah, namun pria itu tidak peduli. Dia benar-benar marah saat ini.
"Katakan dimana saja pria-pria itu menyentuhmu!" Ucap Alva seraya menekan wajah Zhe yang sudah penuh dengan air mata.
Melihat Zhea yang tidak lekas menjawab, Alva semakin geram. Pria itu menampar wajah Zhe dan berteriak, "Katakan!!!"
Zhea semakin menangis, "Aku, Aku tidak tahu, Alva!"
"Katakan!"
PLAK.
"Aku tidak,"
PLAK.
"Bangun!" Alva menjambak rambut Zhe, kemudian menarik baju Zhea dengan sekuat tenaga hingga robek. Alva membuang robekan baju Zhe hingga ia bisa melihat pegunungan himalaya milik Zhe yang menggantung dengan indah.
Zhea menangis ketakutan seraya menutup kedua barang antiknya, "Jangan, Alva! Ku mohon, jangan lakukan itu!"
Alva membuka tangan Zhe dan segera membenamkan wajahnya di pegunungan himalaya Zhe, ********** kasar, menggigitinya brutal, memelintir puncaknya sekeras mungkin, membuat Zhe berteriak kesakitan atas perlakuan Alva yang sangat beringas.
Tidak puas, Alva membuka resleting celana pendek Zhe dan melepaskannya, meninggalkan ****** ***** yang menutupi pintu surga milik Zhe. Mata Alva semakin menggelap. Pria itu membalikkan tubuh Zhe, membuat bayangan video yang ia tonton kembali berputar di ingatannya. Pria-pria itu meremas bukit kembar Zhe. Pria-pria itu meremas sesuatu hanya boleh ia sentuh!
Alva menampar bukit kembar Zhe berkali-kali, membuat gadis itu semakin berteriak kesakitan.
"Hentikan! Ku mohon hentikan!" Zhea menangis, membuat Alva justru semakin gencar menampari bukitnya.
"Kenapa kau jahat, Alva?! Kenapa kau melakukan ini kepadaku?! Kenapa kau jadi seperti ini?!" Zhe terus berteriak seperti itu, membuat Alva menyeringai. "Harusnya kau memikirkan itu sebelum kau melakukan sesuatu yang tidak aku sukai!!"
Zhe menangis, "AKU MEMBENCIMU! AKU BENAR-BENAR MEMBENCIMU!"
Mendengar teriakan Zhea, Alva semakin marah. Pria itu kembali menjambak Zhe dan menyeretnya ke kamar mandi. Alva membuka ikat pinggangnya dan mengikat Zhe di bawah shower, membuat gadis itu semakin menangis, namun Alva seolah tidak lagi peduli. Gadis ini sudah menghancurkan seluruh hatinya, mematahkan setiap kepercayaan yang Alva berikan kepadanya.
Alva menyalakan shower yang segera membasahi tubuh Zhe, membuat Zhea merasakan sakit di sekujur tubuh, juga hatinya. Dia tidak pernah berpikir bahwa Alva akan menjadi pribadi yang seperti ini.
Pria itu menekan rahang Zhe, memaksa Zhea untuk menatap mata Alva yang entah mengapa begitu Zhea benci.
"Kau sudah membangunkan sisi gelap yang mati-matian ku kubur hanya untuk menghormatimu, Zhea." Ucap Alva.
"Aku membencimu!" Zhe berteriak dengan sisa-sisa tenaganya, membuat Alva membanting kepala Zhea dan meninggalkan gadis yang sedang menangis di bawah guyuran shower.
Meninggalkan Zhe dengan luka yang kembali terbuka. Bahkan, lukanya merambat hingga ke seluruh hatinya. Menyadari Alva yang seperti itu membuat Zhea mengingat perbuatan ayahnya kepadanya. Alva bertingkah seperti ayah Zhe, bahkan lebih kejam. Membuat Zhea benar-benar ingin mati.
Ya, Zhe ingin hidupnya segera berakhir, sehingga ia tidak perlu merasa sakit atas apa yang ia lalui saat ini.