Sweet Child OR Hot Daddy

Sweet Child OR Hot Daddy
gado gado



***


Zhea sedang berusaha menali bagian belakang celemek yang tengah ia pakai ketika William berjalan ke arahnya seraya mengikatkannya. Pria itu mengumpulkan rambut Zhe dan meletakkannya di bahu kanan gadis itu, kemudian mencium lehernya. Membuat Zhea kegelian.


"Daddy.. Kau bilang, kau bisa membuat taco. Sana, siapkan bahan-bahannya." Ucap Zhea membuat William tersenyum lebar, "Tidak mau. Aku mau melihatmu membuat saos kacang."


"Kalau begitu, duduklah dan berhenti menciumi leherku!" Dengus Zhe membuat William semakin menenggelamkan hidungnya di leher Zhe, "Tidak mau. Kau terlalu wangi untuk ditinggal duduk."


Zhea memutar bola matanya dan menatap ke arah William, "Setidaknya, buatlah grilled chicken-nya. Itu jauh lebih sebentar dan gampang, kan?"


Mendengar itu, William mengerucutkan bibirnya kesal seraya menjauhi Zhe, membuat gadis itu terkikik kecil. Biar saja. Bagaimana bisa Zhe menyelesaikan masakannya jika William terus menciumi lehernya seperti itu?


Zhe mengiris sayur-sayurannya seraya melirik William yang kini sibuk memotong ayam. Gadis itu tersenyum. Bahkan, William terlihat sangat seksi ketika memasak. Serius, adakah pria sesempurna ini?


Setelah beberapa saat berkutat dengan chicken grilled-nya, William akhirnya selesai. Pria itu meletakkan ayam yang telah di bumbui itu ke dalam pemanggang yang sudah di set timer nya. Kemudian pria itu kembali memeluk tubuh Zhea yang saat ini sedang mengiris bawang-bawangan.


"Berhenti menggodaku atau aku akan membuat kau menangis dengan bawang ini," Ancaman Zhda terdengar seperti lelucon untuk William. Pria itu menggigit kecil telinga Zhea, membuat Zhe mendesah kesal, "Stay away, daddy."


William tidak menggubrisnya. Bahkan, gigitannya kini merambat hingga leher Zhe, membuat gadis itu menutup matanya dan mendesah. Gadis itu berjalan menuju kran cuci dan mencuci tangannya dengan sabun.


"Daddy!" Zhea mengerang. Gadis itu mendorong William agar duduk di kursi dapur dengan tenang, "Stay. Away!" Perintah Zhe yang lagi-lagi membuat William mengkerucutkan bibirnya.


Gadis itu kini mulai membuat saus kacang untuk gado-gadonya. Melihat Zhea sedang memasak membuat William tersenyum lebar. Memang benar jika aura kecantikan wanita akan semakin terlihat ketika sedang memasak. Dan ya, semua itu terbukti dengan pemandangan yang ada di depannya saat ini.


Zhe tampak mencicipi saus kacangnya dan tersenyum puas ketika rasanya sudah pas. Gadis itu berbalik ke arah William, "Maukah kau mencicipinya?"


William berdiri dan mengangguk. Pria itu berjalan ke arah Zhe dan menunduk untuk mengecup bibir Zhea. Membuat gadis itu membulatkan matanya tak percaya, "Kenapa kau menciumku?!"


"Kau memintaku untuk mencicipinya." Jawab William enteng seraya menunjuk bibir Zhe. Membuat gadis itu menepuk dahinya frustasi, "Sulit ya, punya daddy mesum sepertimu?"


Zhea melelehkan cairan saus kacang itu di telunjuknya untuk mencicipinya sekali lagi. Namun tangannya di tahan oleh William. Pria itu segera memasukkan telunjuk Zhe ke mulutnya. William menjilati telunjuk Zhe dan memaju-mundurkan ke dalam mulutnya, membuat wajah gadis itu memerah. Sialan. Lagi-lagi, William membuatnya panas.


"Daddy.." Wajah Zhea memerah melihat William mengemut telunjuknya dengan pandangan... Oh, ****.


Zhea berjinjit untuk menggigit bibir William, membuat pria itu tersenyum penuh kemenangan seraya ******* bibir Zhe. Pria itu mengangkat Zhea dan mendudukkan gadis itu di atas meja dapur, membuat tinggi mereka sejajar saat ini. Zhe menjambak rambut William halus untuk memperdalam ciuman mereka. Tangan William mulai membuka kancing baju di bagian pegunungan himalaya Zhe, memperlihatkan gundukan yang memanggil-manggil William untuk menikmatinya.


Tepat ketika kancing ketiga terbuka, mereka berdua tersentak dengan gonggongan Jack yang entah sejak kapan sudah berada di sebelah kaki William.


"Oh, ****. Jack, kau benar-benar menggangguku." Dengus William. Pria itu akan meneruskan untuk menenggelamkan kepalanya ke gundukan itu, ketika suara TIIIT dari alat pemanggang berbunyi, membuat William menjambak rambutnya frustasi karena lagi-lagi, kenikmatannya harus berhenti.


"SIAL!!!"


Melihatnya, Zhea hanya tertawa dan melompat dari meja dapur dan berjongkok untuk memeluk Jack. Anjing itu kembali menggonggong dan menjilati pipi Zhe, leher Zhe, hingga bagian dada Zhe yang kancingnya masih terbuka. Membuat William mendelik tajam ke arah Jack, "Jangan menjilatnya, Jack!!! Itu bagianku!!!"


Zhea semakin tertawa melihat pria tampan itu berteriak. Gadis itu mengancingkan kembali pakaiannya dan bergegas untuk mempersiapkan gado-gadonya ke meja makan. Begitu pula William yang sedang meletakkan grilled chicken buatannya di atas meja makan.


Zhea menyiapkan gado-gado buatannya untuk William, membuat pria itu menatap aneh makanan asing di hadapannya, "Kau serius, Zhe?"


"Ya ampun, kau kan sudah merasakannya tadi. Wajahmu menunjukkan bahwa saos kacang buatanku enak sekali."


Zhe mendelik, "Makan, sekarang!"


William tertawa dan menyendokkan sayuran yang sudah dituangi saos kacang itu ke mulutnya, membuat mata pria itu berbinar-binar.


"Bagaimana?"


William tidak menjawab pertanyaan Zhe dan justru menyendokkan suapan keduanya dengan lahap. Membuat Zhea tertawa kecil melihat tingkah pria itu yang meskipun sudah tua masih seperti anak-anak yang kesenangan karena dibelikan lollipop.


Zhea segera memakan gado-gadonya dicampur dengan grilled chicken buatan William yang memang rasanya sangat enak. Well-done, Will.


"Zhe! Darimana kau belajar membuat makanan selezat ini?" Tanya William seraya menyendokkan suapan terakhirnya. Membuat Zhea tertawa. Gadis itu mengulurkan sendok berisi sayuran dan saos kacang miliknya ke mulut William, yang langsung dimakan dengan lahap oleh pria itu.


"Dulu ada ekstra memasak di SMA ku, dari situ aku belajar membuat makanan-makanan Indonesia. Aku bisa membuatkanmu bermacam-macam makanan lainnya lain kali." Ucap Zhea, membuat William mengangguk senang. Mendengar Zhe mengatakan itu membuat William berpikir bahwa waktu mereka untuk bersama masih amat lama.


Zhea menyelesaikan suapan terakhirnya kemudian mengambil kotak makan dari dapur. Setelah itu, gadis cantik tersebut kembali ke meja makan. Ia memasukkan satu porsi gado-gado ke dalam kotak makan itu kemudian grilled chicken di kotak makan yang lebih kecil.


"Mau kau apakan?"


Zhea tersenyum, "Kirimkan ini kepada Alva. Dia pasti bingung akan makan siangnya. Tadi dia beli mi instan."


William melongo. Gadis ini benar-benar sudah gila. Tadi dia ketakutan melihat Alva, dan sekarang, dia justru menyiapkan makan siang untuk pria itu.


"Apa aku perlu membawamu ke psikiater? Kau sepertinya sudah gila! Oh, apa kau juga terpentok tembok?" Tanya William tak habis pikir.


Zhea menatapnya horror, "Come on! Aku baik-baik saja."


"Lalu, apa maksudnya mengirimkan makanan ini ke Alva? For God's shake, dia hampir membunuhmu, Zhea! Harusnya kau membiarkannya mati kelaparan! Demi Tuhan, aku heran padamu!"


Zhe tertawa. Untuk melupakan apa yang Alva lakukan padanya, rasanya tidak akan mungkin. Namun membiarkan pria itu mati kelaparan seperti kata William bukanlah gagasan yang bagus.


"Aku juga heran padamu. Bagaimana bisa kau sebegitu tega dengan anakmu sendiri?"


William termenung. Sebenarnya, pertanyaan Zhea ada benarnya. Tapi untuk menjawabnya, William tidak bisa. Bukan karena ia tidak mau, hanya saja, dia sendiri tidak tahu apa jawabannya.


Yang jelas, William tidak bisa melihat orang lain menyakiti Zhea, meskipun itu Alva sekalipun.


"Jadi, kau akan mengantarnya, kan?" Ucap Zhe ketika kotak makan itu sudah tertutup dengan sempurna.


William menggeleng, "Tidak mau."


"Apakah aku yang harus mengantarnya?" Well, tentu saja Zhea bercanda. Gadis itu tidak akan sanggup melihat wajah Alva yang begitu sinis dan mematikan hanya karena melihat keberadaannya.


"Hell, ofcourse, BIG NO!" Ucap William kesal. Pria itu mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.


"Mr. Black, tolong datang ke rumah ya. Ada sedikit pekerjaan untukmu."


Yang Zhea tahu, Mr. Black adalah pekerja kepercayaan William. Dan. Ya Tuhan. Apakah William benar-benar tidak ingin melihat wajah Alva dengan keadaan yang baik-baik?