Sweet Child OR Hot Daddy

Sweet Child OR Hot Daddy
bab36



"Kau bukan orang asing!" Baik Alva maupun William menyahut, membuat Zhea menghela nafas panjang, "Dengar. Aku benar-benar tidak bisa. Aku.."


Zhea menatap Alva sebelum menundukkan kepalanya, "Maafkan aku, Alva. Rasanya sakit."


"Dad, bisakah kau meninggalkan kami sebentar?" Ucap Alva. William menghela nafas dan membawa kerjaannya ke dalam.


Kini, Alva hanya berdua dengan Zhea. Pria itu menatap gadis itu sendu, "Tampar aku, Zhe. Pukul aku. Lakukan semua hal yang ingin kau lakukan. Tapi ku mohon, jangan keluar dari rumah ini. Aku sudah cukup merasa bersalah dengan perbuatanku. Jika kau keluar dari rumah ini, aku akan semakin tersiksa dengan perasaan bersalah itu."


"Alva,"


"Zhe,"


Alva menggenggam tangan gadis itu begitu lembut, "Aku pernah berkata padamu jika ayahku adalah orang yang pilih-pilih. Dia tidak pernah sekalipun menyukai gadis yang dekat denganku."


"Tapi lihat betapa dia menyayangimu. Betapa dia begitu menjagamu. Betapa dia tidak peduli dengan segala resiko yang akan ia terima hanya untuk membuatmu merasa aman."


Ucapan Alva begitu menusuk jantung Zhea. Gadis itu memejamkan matanya untuk mengingat segala hal yang William lakukan untuknya. Jika sehari saja Zhea tidak melihat William, ia tidak bisa membayangkan hal apa yang akan terjadi pada dirinya.


"Dia begitu peduli padamu hingga ia membunuh perasaannya sebagai seorang ayah, untuk melindungimu, Zhe." Alva semakin menatap mata Zhea, "Dan dengan mengesampingkan fakta bahwa aku adalah pria yang menyakitimu, aku juga adalah seorang anak yang ingin membuat ayahnya tersenyum."


Alva membelai wajah Zhea, "Dan kau, gadisku, kau alasan ayahku untuk tersenyum."


Zhea menarik nafas panjang, "Keberadaanku disini akan menyakiti perasaanmu, Alva. Aku tidak ingin kau sakit hati dengan sikapku yang mungkin akan kasar dan tidak peduli akan keberadaanmu."


Alva menatap gadis itu semakin dalam, "Itu adalah resiko yang harus ku terima, Zhe. Kau terlalu suci untuk memikirkan tentang perasaanku. Aku berjanji, dengan caraku sendiri, aku akan membuatmu memaafkanmu. Tapi selama aku berusaha, tetaplah tinggal, Zhe. Jika bukan demi aku, maka tinggal-lah disini demi William, demi ayahku."


Zhea menggigit bibir bawahnya gugup. Membuat Alva semakin menatapnya dengan menuntut jawaban.


"Aku akan pergi dari rumah ini." Tambah Alva membuat Zhea menggeleng, "Ini rumahmu. Kau dan aku akan tinggal disini."


Zhea hendak beranjak ketika ia kembali memandang Alva, membuat pria itu menatapnya. Zhea menghela nafas dan berkata, "Kita break dulu untuk saat ini."


Mendengarnya, Alva tersenyum. Pria itu hendak membelai rambut Zhea ketika Zhe tampak menghindar. Membuat Alva semakin tersenyum, "Baiklah. Kembali ke kamarmu."


Zhea meninggalkan Alva untuk masuk ke kamarnya tanpa mengatakan apapun. Membuat pria itu menghela nafas dan segera memasuki kamarnya, setelah mematikan lampu ruang keluarga.


Setelah merasa Alva sudah masuk kamar, Zhea membuka pintu kamarnya pelan-pelan. Gadis itu melongokkan kepalanya, memastikan bahwa Alva memang sudah benar-benar tidak ada. Kemudian, Zhea berjalan mengendap-endap ke arah kamar...


Well, tentu saja kamar William Harisoon. Zhea membuka pintu kamar William pelan-pelan, kemudian menutupnya dari dalam.


William sedang bersandar dengan laptop di pangkuannya. Melihat kedatangan Zhe yang lebih mirip maling membuat pria itu meliriknya sebentar seraya tersenyum tipis. Zhea mengunci pintu William dan melompat untuk duduk di sebelah pria itu.


"Dad.." Panggil Zhea, namun William mengabaikannya. Pria itu masih sibuk memainkan jarinya di atas laptopnya.


"Dad, kau marah padaku, kan?" Ucap Zhea. Gadis itu menghela nafas dan berkata, "Aku tahu kau marah padaku."


William masih terdiam, membuat Zhe kembali menyahut, "Aku tahu aku salah. Aku terlalu emosi, aku tidak berpikir panjang, maafkan aku."


Tidak ada jawaban.


"Daddy!" Zhea mulai kesal. Gadis itu merasa terabaikan karena William yang sejak tadi seolah tidak mendengarnya. Pria itu justru sibuk dengan laptopnya.


"Jangan menguji kesabaranku, William!" Zhea mengucapkan kata yang sama dengan yang diucapkan William tadi, membuat pria itu menahan tawanya, namun masih mencoba fokus pada laptopnya.


Zhea mendengus. Gadis itu segera mengambil alih laptop William, membuat pria itu mendelik tak percaya, "Wait, wait, what are you doing?!"


Zhea tidak menjawab. Gadis itu segera menekan folder yang membuat mata William hampir melompat dari tempatnya, "No, no, no! Don't do that! Don't ever do that!"


Zhea menyeringai seraya menjauhkan laptopnya dari tubuh William, membuat pria itu menarik pinggang Zhea untuk mendapatkan laptop nya kembali.


"Tunggu, yang mana ya? Sebentar, ah, daddy! Diamlah sebentar!" Ucap Zhea. Gadis itu ketika mendapatkan apa yang ia cari, "Ini dia!"


Klik. Diklik.


"Nooo!" William menutup wajahnya yang sangat memerah.


Kini, layar laptop William menunjukkan ruang kerja William dengan pria itu yang tampak sibuk dengan berkas-berkas nya.


"Dad. Apakah kau selalu menghabiskan waktumu di ruang kerja?" Zhea menopang dagunya. Dia tengah memperhatikan sosok William yang sibuk setengah mati dengan berkas-berkasnya. Tapi Zhea melarang pria itu untuk memutus sambungan mereka.


Tidak dijawab, Zhea bukannya kesal. Gadis itu justru tertawa kecil, "You look hotter when you are about being so busy just like now."


Mendengarnya, William tersenyum tipis, "Don't flirt on me sweetheart,"


Zhea tertawa, membuat William mengangguk-angguk seraya memainkan bulpoin di atas berkas-berkasnya, "You better not."


Melihat William yang sama sekali tidak memperhatikannya, Zhea mendadak kesal. Gadis itu mengubah posisinya menjadi duduk dan berteriak, "What the hell, if I was there, I would seriously climb on your lap and kiss you hardly and rudely until you cant even reach any oxygen so you just pay your attention to me!!"


William menghentikan aktivitasnya. Pria itu tidak bisa tahan, jika yang mengganggunya adalah Azhalea. Ditutupnya semua berkas itu, kemudian menarik laptopnya hingga ia bisa melihat dengan jelas wajah Zhea yang tampak cemberut. William terkekeh, "Imajinasimu liar juga ya?"


Mendengarnya, wajah Zhea tiba-tiba memerah, membuat William semakin tertawa, "Well, aku akan menagihnya."


Pria itu mengerling jahil. Membuat Zhea tertawa, "Aku bercanda! Lagipula, kita tidak akan bertemu, but see? I got your attention!"


William memberhentikan videonya, "Cukup."


Pria itu mendesah seraya menutup laptopnya, "For God's shake! Bagaimana bisa kau tahu, oh ****."


Zhea tertawa melihat wajah William yang seperti kepiting rebus. Gadis itu mengubah posisinya untuk berada di pangkuan William, membuat wajah pria itu semakin memerah, "Now, what?"


Zhea mengalungkan tangannya di leher William dan berkata, "Memenuhi imajinasi liarku, mungkin?"


Gadis itu segera menyambar bibir William dan ********** dengan kasar. Membuat William sempat kewalahan untuk membalas ciuman Zhea.


"Ahh, sial, emmhh."


"Daddy," Zhea mendesah. Tangannya merambat untuk mengelus-elus celana pendek pria itu.


"Ia sayang,"


"Kau tahu, ketika aku melihat tubuh polosmu untuk pertama kalinya.." ucap Zhe dengan nada yang menggoda.


"Ia sayang,"


"Aku selalu berpikir untuk melakukan ini kepadamu. Jadi.. bolehkah aku?"


William masih mendesah, "My pleasure,"


"Daddy, kau sangat seksi,"


Mereka melakukan hal yang sangat dan semakin panas, hingga Zhea menjilat dan mengulum lolipop milik will.


"Daddy?!" Itu suara Alva.


"Yes, Alva?" Jawab William dengan wajah yang memerah. Zhea tersenyum geli melihat wajah pria itu dan kembali memainkan lolipop William dengan mulutnya, membuat pria itu mengerang tertahan. Oh, sialan. Mulut Zhea begitu nikmat.


"Kau bermain dengan tangan mu?!" Teriak Alva lagi, membuat William mengerang, "I-iya, eh, oh, maksudku, tid-tidak!"


"Demi Tuhan, Dad! Ini sudah malam, suaramu bisa mengganggu Zhea!" Teriak Alva.


"Iya, aku akan menyudahinya!" Ucap William.


Namun pria itu tidak bisa. Mulut kecil Zhea benar-benar membuatnya merasa nikmat.


William kembali bersuara, membuat Alva mengetuk pintunya lebih keras, "Daddy! Lakukan itu di lantai dua! Kau benar-benar mengganggu!!"


"Oh ****," William membawa Zhea ke bawahnya dan melahap bibir gadis itu.


"Dad, kau harus pasang pengedap suara," Bisik Zhea membuat William tak tahan. Pria itu kembali melahap bibir Zhea tanpa memberikan sedikitpun celah pada gadisnya untuk bernafas.


Mereka berdua benar-benar gila, namun sama sekali tak mau ambil pusing.


"Daddy, jika kau tidak berhenti, aku bersumpah akan mendobrak pintu ini!"


Zhea mendelik, "Alva marah!"


William tertawa, "Jangan pedulikan dia."


"Dad! Aku serius!" Ucap Alva lagi.


Zhea tertawa dalam bisunya dan segera menghentikan aktivitasnya. Gadis itu meninggalkan William begitu saja, membuat pria itu menatapnya tidak terima karena lagi-lagi, gadis itu berhenti di tengah jalan.


"What the ****, Zhea?!" Bisik William tertahan.


"Itu hukuman untukmu yang mengabaikanku." Gadis itu mengerling jahil dan memasuki kamar mandi William. Membuat pria itu mengerang kesal dan segera memakai pakaiannya kembali sebelum membuka pintu untuk menemui Alva.