
Perkenalan bab 1
Azhalea Putri Florenza biasa di panggil Zhe gadis berumur 19 tahun, memiliki fisik yang mungil dengan tinggi 158cm dan berat tidak lebih dari 50kg, jika saja b*kong dan dada nya tidak membesar dia akan lebih terlihat seperti anak SMP.
Sejak umur 2 tahun orang tua nya telah berpisah, Zee hidup dengan Ayah nya yang tempramental, sering mabuk - mabukan, juga memukul Zee.
(Visual Zhe)
William Maximillan Harison duda 1 anak berumur 41 tahun berprofesi sebagai dosen di newyork tidak seperti umur nya, duda berkepala empat ini memiliki tubuh yang atletis dengan tinggi 185cm dan berat 75kg William masih mempesona dengan otot nya yang kekar dan perut berbentuk kotak - kotak seperti roti sobek.
Dengan garis wajah yang masih sempurna, William menjadi dosen yang di gandrungi dan di impikan oleh mahasiswa di universitas newyork, sedikit kerutan di wajah nya tidak membuat nya buruk, kerutan itu malah makin menambah karisma nya.
(Visual William Maximillan Harison)
William dan Zhe berkenalan di salah satu aplikasi, jika di bandingkan dengan mahasiswa bahenol yang sering menggoda Will, Zhe tentu saja tidak ada apa apanya. Tapi si ajaib Zhe dengan sikap penyayang, lemah lembut, dan keibuan nya mampu menarik perhatian Will.
Hari ini seperti biasa, Zhe mendapat tanda tangan lima jari di pipi nya karna kesalahan sepele yang tidak sengaja Zhe lakukan di depan ayah Zhe, pipi kiri Zhe lebam membiru karna tamparan itu.
Bruakkk.. Zhe membanting dan mengunci pintu kamar nya karna sakit hati dan kesal dengan perlakuan ayah nya itu.
Zhe menangis sesenggukan di atas kasur sembari memeluk lutut nya.
Lalu Zhe teringat dengan ponsel nya, Zhe menghapus sisa air mata di pipi nya dan mengambil ponsel untuk menghubungi Will.
"Hallo, daddy" Zhe memiringkan bibir tersenyum tipis ketika berhasil mengetikan dua kata itu lalu menekan enter pada layar ponsel nya.
Zhe merasa bebas dan menjadi diri sendiri di aplikasi ini karna Zhe berpikir mereka semua orang asing yang tidak pernah Azhalea kenal.
"Hello, little girl. Apa kabar manis?" Jawab will
"Hai daddy apa kamu tidak pergi bekerja?"
"Ya saya bekerja di kamar saya di rumah. Kamu?"
"Hmmh.. hanya bersantai di tempat tidur"
"Aw gadis malasku, berat badanmu akan bertambah. Hhaha.."
"Kamu sangat lucu aku ingin mencium pipimu" ucap Zhe yang merasa gemas
"Dengan tumitku" tambah zhe sambil tertawa
"Bicara baik-baik dengan ayah mu, my babygirl" ucap will yang merasa sedikit kesal
"Aku nakal, hhahha.."
"Betapa nakalnya"
"Ini nakal" ucap zhe dengan melampirkan sebuah foto dirinya
[mengirim foto]
"Sialan Zhe. Kamu ada di mana?! Tutupi dadamu dan kembali ke kamarmu"
"No"
"Tidak ada yang bisa menikmatinya, kecuali aku". Ucap will
"Apa? Kamu siapa?!" Jawab Zhe
"Ayahmu, aku akan memberimu hukuman jika kamu masih menjadi bayi nakal itu". Tambah will berapi api.
"Hukuman?". Tanya Zhe keheranan
"Iya. Sepuluh pukulan"
"Tidak apa-apa, aku akan suka itu".
"Di ****** tel*njangmu" jawab will sambil tertawa jahat
"WHAT?!!" Zhea berteriak kaget
"Hanya bercanda tapi serius segera pulang" tambah will
"1 jam lagi"
"SEKARANG"
"Ayahku bahkan tidak peduli, lalu apa peduli mu". Cecar zhe
"Daddyyyyy
Aku sangat muak dengan hidup ini
aku ingin mati
dan saya tidak tahu dengan siapa saya bisa memberi tahu
tapi kamu
saya tidak punya siapa-siapa
Tidak ada yang peduli
Aku benci hidupku" ceracau Zhe dengan berapi api
"Sayang, apakah kamu punya skype?" Tanya will
"Azhaleanat" jawab Zhe
Gadis itu menghapus air matanya sejenak, dahinya berkerut bingung. Ada apa dengan seseorang yang sedang ia ajak obrol ini?
Tak terasa air matanya meneteskan air mata. Membahi pipinya yang sedikit membiru. Dirabanya pipi itu dengan ringisan. Sakit. Tapi tak sesakit lebam di hati.
Zhe segera melihat ponselnya ketika benda itu berdering,
dan matanya membulat ketika melihat notifikasi.
William menambahkan kamu
William sedang melakukan panggilan video padamu
"What?" Tiba-tiba saja wajah Zhe memerah. Dia menggigit bibirnya tak percaya. Bagaimana bisa pria tua itu mengajaknya video call? Bagaimana jika pria itu sakit jiwa? Pedofil? Jelek? Ompong? Oh tidak, Zhe bahkan tidak mempedulikan semua itu. Yang dia tahu, dia butuhseseorang untuk berbagi cerita.
Tanpa ragu-ragu, Zhe menekan tombol bergambar telepon, seketika muncul seorang pria bertopi dan berkacamata dengan background kolam renang, yang, demi Tuhan, tampan sekali!
Zhe menganga. Demi Tuhan. Zhe benar-benar membuka mulutnya. Dia memang tak pernah meminta foto pria itu walaupun William sering meminta fotonya di setiap aktivitas yang ia lakukan. Zhe bahkan tidak menyangka bahwa pria itu bisa setampan ini.
William sangat tampan. Dia bahkan tidak terlihat seperti berumur kepala 4. Wajahnya masih terbentuk dengan sempurna dengan sedikit kerutan. Apakah William suka perawatan?
"Sweetheart, hey, come on. What happen?" Suaranya begitu lembut. Lembut sekali dan penuh kasih sayang. Membuat Zhe mengerjap. Jika saja ayahnya selembut William, dia pasti akan sangat senang meskipun ibunya harus pergi entah kemana bersama pria lain.
"Youre so hot, daddy." What the hell. Zhe menutup mulutnya tiba-tiba. Bagaimana bisa mulut sialannya itu berkata sesuatu yang tidak seharusnya ia katakan di saat seperti ini?
Tawa William terdengar begitu renyah dan hangat, "Kau sedang berbicara tentang dirimu sendiri?"
"Apakah aku mengganggumu, daddy? Kau bisa melanjutkan liburanmu." Ucap Zhe membuat William segera bangkit dari tempatnya, sejenak melihatkan bagian dada Jonathan yang masih terlihat bidang di balik kaos hitam polos ketatnya.
Zhe meneguk ludahnya, merasakan sesuatu yang menggelikan di sekujur tubuhnya. Apakah dia terangsang hanya karena... melihat dada pria itu?
"Wait for a while. Aku akan pergi ke kamar, babygirl."
Dada Zhe menghangat ketika suara William lagi-lagi menginterunsi pikirannya.
Entah apa yang membuat Zhe merasa begitu tenang. Bukan. Ini bukan perasaan cinta seorang gadis kepada prianya. Ini adalah rasa kerinduan anak terhadap ayahnya.
Zhe menyadari William sudah sampai di sebuah ruangan tertutup, lalu terdengar suara pintu dikunci. Kemudian pria paruh baya itu terlihat meletakkan ponselnya ke atas meja, sedangkan dirinya duduk di atas kasur yang tak jauh dari meja itu.
"So sorry my tshirt is too wet baby. My son was trying to beat me, he threw the water to me." Ucap Will membuat dahi Zhe berkerut. Namun kemudian, matanya membulat ketika William tengah membuka kaosnya, meninggalkan keadaan shirtless dan benar saja. Tubuh Will sangat bagus. Dadanya bidang, perutnya masih terbentuk sempurna. Ditambah tato-tato yang membuatnya terlihat semakin hot. Zhe menebak pria itu pasti suka berolahraga.
"Dont you know beside your daughter, im still a normal teenager daddy?" Zhe mendengus, membuat pria itu tertawa, namun seketika tawanya menghilang ketika mendapati warna biru di sekitar pipi Zhe, Wajah pria paruh baya itu tampak menegang.
"Your father, again?" Tanyanya, membuat air mata yang sedari tadi Zhe tahan mulai turun membasahi pipinya. Zhe menangis. "Listen, Zhe. Kau benar-benar harus melaporkannya ke polisi. Apa aku perlu menghampirimu? Apa aku perlu mengadopsimu? Aku mengatakan ini karena aku peduli."
William berkata dengan sungguh-sungguh, membuat Zhe perlahan menghapus air matanya.
"Thanks, William. Tapi kau tidak perlu berlebihan. Lagi pula, aku dan kau hanyalah orang asing." Balas Zhe membuat William menghela nafas panjang, "Berhenti mengatakannya Zhe!. Kau tahu aku benci itu? Dan lihat, matamu memerah. Ini pertama kalinya aku melihatmu secara langsung, dan aku harus melihat matamu yang memerah?!"
Zhe tertawa. Dia bersyukur bertemu dengan pria itu. Pria yang mampu membuatnya tertawa. Pria yang membuatnya merasakan perhatian seorang ayah, meski hanya sekadar chatting dan videocall.
Tiada hari tanpa chatting, menelepon, dan videocalling. Itulah yang tengah terjadi pada William dan Azhalea. Sudah lewat 3 bulan sejak mereka mengenal satu sama lain, dan tak pernah ada kata bosan keluar dari mulut mereka. Mereka suka bercerita tentang apapun, bahkan tentang hal-hal yang tidak pernah mereka ceritakan kepada orang lain.
Dari sini, Zhe tahu bahwa William ternyata adalah seorang dosen besar hukum di Universitas New York. Oh, betapa Zhe merasa senang karena fakta tersebut. Setidaknya, gadis itu benar-benar menikmati tiap-tiap waktu yang terbuang untuk berdebat masalah hukum Internasional bersama William. Zhe juga tahu bahwa Will punya anak lelaki yang seumuran dengannya, dan memperlakukan anak itu sebaik-baiknya. Ya, tentu saja Zhe tahu bahwa William adalah sosok ayah dan ibu yang baik untuk Marteen junior. Hal ini dikarenakan, nyonya Marteen telah meninggal dunia karena kecelakaan pesawat sejak anak mereka masih kecil. Zhe bahkan menangis saat William menceritakan tentang mendiang istrinya. Kalau bisa, Zhe juga menginginkan kisah cinta yang dimiliki William dan Andrea. Tentu saja bersama si Marteen junior, well, bukan apa-apa. Hanya saja, Zhe tidak bisa membayangkan bagaimana tampannya anak William. Lihat, di umur yang sudah menginjak kepala 4, William masih stay berpenampilan seksi seperti itu, apalagi anaknya?
"Apa lagi, apa? Kau memang pintar menyangkalku." William tertawa melihat tingkah gadis berumur 19 tahun di depannya. Mereka baru saja berdebat soal hukum, well, Zhe cukup beruntung sebagai mahasiswi hukum karena perdebatannya dengan William selalu membuahkan hasil positif terhadap pembelajarannya. Bagi Zhe, William benar-benar dosen yang baik.
"Kau harus hati-hati jika aku menjadi mahasiswimu, daddy. Aku berbahaya, ingat itu." Zhe menyeringai, membuat William kembali tertawa gemas.
"Bukankah itu kau?"
Dahi Zhe berkerut, "Apa?"
"Kau, yang harus hati-hati denganku, sweetheart. Aku cukup kasar." Pria itu membalas seringaian Zhe dengan jahil. Jangan kaget dengan ucapan mereka yang sedikit intim, tapi percayalah. 3 bulan itu sudah cukup membuat mereka menjadi dekat dan membicarakan segala macam topik. Bahkan hingga pembicaraan mengenai hubungan seksual keduanya.