Sweet Child OR Hot Daddy

Sweet Child OR Hot Daddy
balikan?



Zhea menatap William dengan alis yang terangkat, "Jika aku boneka, aku ini boneka apa?"


William tampak memperhatikan Zhea dengan alis yang terangkat dramatis, namun kemudian pria itu menjentikkan jarinya, "Kau seperti teddy bear!"


"Hah? Beruang teddy?"


"Iya! Pendek, pipi tembam, hidung yang tidak mancung, mata lebar, bibir tipis, benar-benar mirip dengan boneka beruang!"


Ucapan William sanggup membuat Zhe ingin melemparnya dengan high heels. Demi Tuhan! Bagaimana bisa William mengatakan hal itu padahal tadi, dia berkata bahwa dia bisa gila hanya dengam menatap Zhea?!


"Dekati saja wanita yang mirip barbie itu! Kenapa kau harus ada di dekatku?!" Ucap Zhe kesal seraya meninggalkan William. Membuat pria itu tertawa dan merangkul bahu Zhea.


"Karena aku lebih suka boneka beruang daripada boneka barbie."


Ucapan William membuat wajah Zhea memerah.


"Barbie itu terlalu sempurna, sama sekali bukan tipeku." Ucap William seraya mencubit pipi Zhea, "Lebih baik boneka beruang. Bisa dicubit.."


Kemudian William memeluk tubuh Zhe, "Nyaman untuk dipeluk..."


"Dan.." William tersenyum seraya mencium bibir Zhea kilat, "Kissable."


Wajah Zhea memerah. Gadis itu hampir saja mencium ganas William jika dia tidak menyadari dimana tempatnya berada.


"Oh my Lord! Betapa cerobohnya aku!" William tersentak ketika gelas berisi wine tampak membasahi bagian dada pria itu. Membuat William melepaskan rangkulannya dari tubuh Zhea seraya mengambil tisu dan membersihkan bajunya.


"Ah, maafkan aku Mr. Harison.. Tak ku sangka, aku begitu ceroboh." Jemari lentik gadis itu meraba dada William dan membersihkannya dari wine yang tumpah. Tidak! Dia tidak membersihkan dada William, melainkan merabanya dengan sengaja!


Zhea menatap si pemilik tangan lentik, dan dalam hitungan detik, gadis itu bisa merasakan matanya tampak membulat lebar. Demi Tuhan. Bagaimana bisa wanita barbie ini tiba-tiba berada di hadapannya dengan segelas wine yang mengenai dada William?!


Zhea ketika itu melihat wanita barbie sedang tersenyum ke arah mereka. Ralat, ke arah William.


"Ku dengar, kau dosen terbaik di New York University, ya?" Gadis itu tampak menggigit bibir bawahnya. Dan demi Tuhan, Zhea benci melihatnya.


"Salah satu." Koreksi William membuat gadis itu mengerling dan mengelus lengan William.


"Ah, aku sangat suka dosen yang tidak sombong sepertimu. Anyway, namaku Thea Kennova. Aku akan masuk kuliah tahun depan. Siapa tau kau,"


Ucapan gadis itu terpotong ketika sosok pria tampan berwajah dingin berdiri di sebelahnya, "Maafkan saya atas ketidaksopanannya, Mr. Harison."


William tersenyum. Tanpa membalas jabatan tangan si wanita barbie, pria itu justru bersalaman dengan si pria tampan. Membuat wanita barbie itu tampak menatap William tak percaya. Dan tentu saja, Zhea harus menahan tawanya melihat ekspresi menjijikkan itu.


"Selamat, Mr. Marteen. Sekali lagi, anda membuka kesempatan kerja untuk masyarakat."


Pria itu tersenyum lebar, "Semua berkat kerja keras seluruh pekerja, Mr. Harison. Anyway, terima kasih sudah hadir bersama..?"


"Zhea." Zhe tampak tersenyum lebar, "Kekasihnya." Dan seketika, Zhea dapat melihat wajah gadis barbie itu merah padam.


"Ah, Nona Zhea. Maafkan kelancangan bawahan saya ini." Ucap Mr. Marten dengan wajah yang masih dingin. Membuat si wanita barbie tampak melengos dan berkata, "Aku tebak, mereka tidak akan bertahan lama."


Zhea mendelik, "Apa katamu?!"


"Thea!" Mr. Marten tampak menatap galak gadis itu, membuatnya mendelik, "Apa lagi, Adam?!"


"Sebuah!"


"Ya pak."


"Minta maaf pada Nona Zhea dan Mr. Harison!" Tegas Mr. Marten, membuat gadis itu menghela nafas panjang dan mengulurkan tangannya.


William hendak menerima uluran tangan gadis bernama Thea itu ketika Zhe menyambar tangannya, membuat Mr. Marten tampak tertawa geli, "Kekasih anda imut juga, Pak."


William berdehem dan mengeratkan rangkulannya pada Zhea, "Itulah mengapa saya lebih memilih boneka beruang daripada boneka barbie."


Ucapan William membuat mereka berdua tertawa, meninggalkan Thea dengan wajah merahnya, dan Zhe dengan pandangan sinisnya.


"Kalau begitu saya ke sana dulu, Mr. Harison. Sekali lagi, saya minta maaf atas ketidaksopanan bawahan saya. Dan, semoga anda menikmati i pestanya." William mengangguk sekali, "That's okay."


Sepeninggal Mr. Marten, Zhea tampak menatap William tidak percaya, "That's okay, huh?"


William tersenyum geli melihat wajah Zhea yang memerah.


"Demi Tuhan, kita baru saja berbicara tentang betapa anggunnya dia, dan kemudian dia datang seraya menggodamu?! Ya ampun!" Zhea tidak habis pikir.


"Kau tahu siapa dia?" William menyahut, membuat Zhea memutar bola matanya tidak peduli.


"Dia anak tunggal keluarga Kennova. Pengusaha terkaya nomor dua di California setelah Mr. Marten."


Mata Zhea kembali membulat tidak percaya. Sialan. Apakah pesona William sebesar itu? Demi Tuhan, yang mereka bicarakan saat ini adalah wanita barbie dengan segala kesempurnaan aspek pada tubuhnya! Dan seolah keberuntungan belum puas memihak padanya, gadis itu juga dianugerahkan status sebagai anak tunggal pengusaha kaya.


"Oh ya? Terdengar seperti kebanggaan tersendiri buatmu, kan?" Ucap Zhea ketus.William selalu suka melihat sikap overprotektif gadis ini.


"Memangnya pria bodoh mana yang tidak bangga diperhatikan oleh gadis sesempurna barbie sepertinya?" William tertawa, membuat Zhea menghela nafas. William benar. Jika dibandingkan dengan gadis itu, Zhea sama sekali tidak ada apa-apanya. Rambut gadis itu begitu indah, sedangkan Zhea hanya punya rambut hitam dengan tatanan sederhana. Dada Zhea juga tidak seindah gadis itu. Mata Zhea hitam, berbeda dengan gadis itu yang punya warna mata abu-abu Hidung Zhea...


Gadis itu memegang hidungnya sendiri, dan lagi-lagi menghela nafas panjang.


William itu pria matang, tampan, seksi, dan mapan. Akan ada banyak wanita yang mendekati pria itu. Jika Jane tidak membuat Zhe rendah diri, maka gadis muda itu melakukannya dengan telak.


"Come on," William menyudahi guyonannya dan merangkul bahu Zhea, "Kau jauh lebih cantik dari gadis manapun di pesta ini."


Zhea mendengus, "Kau terdengar seperti sedang menghibur anak TK."


William tertawa, pria itu menarik Zhe ke bagian dalam ballroom yang menampilkan banyak kaca sebagai hiasannya. Membuat William tampak memegang pundak Zhea dan mengarahkannya ke salah satu kaca.


"Look," Ucap William. Zhea mendongak, menatap pancaran tubuhnya dan tubuh indah William di kaca itu.


"Dia Azhalea."


William menunjuk bayangan dirinya di kaca. Wajah serius William membuat Zhea begitu terlena.


"Aku bertemu dia di media sosial." Lanjut William.


"Dia hanya berbicara, dia suka membicarakan banyak hal dan tertawa, tanpa peduli bagaimana rupaku. Apakah aku pria tua ompong yang sudah punya banyak cucu, ataukah aku pria berperut gembul dengan banyak bulu di dadanya? Dia sama sekali tidak mempermasalahkan itu dan tetap berbicara padaku."


Mendengarnya, entah kenapa, senyuman spontan terbentuk di bibir Zhea.


William kembali berkata, "Aku tidak tahu jika berbicara dengan seseorang yang belum pernah ku temui sebelumnya bisa semenyenangkan ini. Aku juga tidak tahu bahwa secara perlahan, dia sudah mengubah hidupku yang membosankan menjadi lebih berwarna hanya dengan mendengar suaranya dan melihat wajahnya dari layar laptop."


Zhea membalikkan badannya, hingga ia bisa menatap wajah William yang tegas.


"Daddy.."


"Bagaimana bisa aku membandingkan gadis sepertinya dengan wanita manapun di bumi ini?"


Zhea tersenyum. Gadis itu menarik wajah William dan mencium bibirnya, ******* narkobanya lembut, membuat pria itu mengalungkan lengan Zhea ke lehernya dan menyudutkan tubuh Zhe ke kaca tersebut, kemudian kembali ******* bibir Zhea semakin dalam.


***


Alva Harison


Oliv, maukah kamu datang ke atap?


Tolong?


Wait you.


Zhea membulatkan matanya ketika membaca pesan yang masuk di ponselnya. Pesan itu masuk 70 menit yang lalu. Dan, ya. Pesan dari Alva Harison.


"Daddy!" Zhea memberhentikan langkah William, membuat pria itu menoleh, "Bagaimana cara naik ke rooftop?"


"Di lift sudah ada tombolnya. Memangnya kenapa?"


Tanya William. Zhea menggeleng, "Kau pulang dulu. Nanti aku naik taksi."


"Hah? Tidak bisa! Ini sudah malam!" Ucap William tegas. Zhea menggigit bibir bawahnya gugup, "Ayolah. Aku ada urusan. Aku benar-benar akan naik taksi, Dad! Sudah dulu ya!"


Zhea mencium bibir William kilat, "Langsung pulang ke rumah, jangan kemana-mana!"


Setelah mengatakan itu, Zhea meninggalkan William yang masih terdiam dengan mulut terbuka di tempatnya. Pria itu mengerjapkan matanya. Well, jika saja William tidak sedang mengurus sesuatu, pria itu bersumpah akan mengejar Zhe saat ini juga.


Pintu lift terbuka, membuat Zhea segera menginjakkan kakinya di rooftop NYC Marteen Hotel. Gadis itu melangkahkan kakinya ke bagian depan rooftop, menatap keindahan kota New York di malam hari.


Dada Zhea terasa tenang ketika angin malam memasukinya. Gadis itu menoleh, mendapati sosok Alva yang tengah tertidur di sofa yang terletak di ujung rooftop itu. Membuatnya tersenyum dan menghampiri pria itu.


Zhea terduduk di hadapan Alva, menatap wajah tampan pria itu yang terlihat tenang. Rambut pria itu melambai oleh angin, membuat Zhea tak kuasa untuk menyentuh rambut pria itu, membuat pria tersebut tersentak dan membuka matanya.


"Zhe, apa kau sudah lama disini?" Tanya Alva seraya mengucek matanya, membuat Zhea tertawa kecil, "Tidak. Aku baru saja datang. Apa yang kau lakukan disini? Kau tidak menikmati pestanya?"


Alva tersenyum, "Aku menunggumu."


"Kenapa kau menungguku?"


Alva kembali tersenyum, "Tadi, temanku menunjukkan tempat ini. Karena dia punya channel dengan pimpinan hotel, aku bisa masuk ke sini. Ku pikir, kau akan menyukainya."


Zhea mengangguk, "Aku sangat menyukainya."


Hening seketika.


Zhea memeluk dirinya sendiri ketika angin malam semakin menerkam kulitnya. Hal itu membuat Alva tampak melepaskan jas nya dan memasangkannya pada tubuh Zhe.


"Terima kasih, Alva."


Alva mengangguk dan menundukkan kepalanya. Hal itu membuat Zhea tampak menatap pria itu dalam, "Ada apa, Alva?"


Pria itu mendongak. Mata coklatnya menatap dalam mata hitam Zhe yang begitu indah. Ya, gadis itu begitu indah. Membuat Alva merasa sangat menyesal pernah merusak keindahannya.


"Maafkan aku." Bisik Alva. Pria itu kembali menundukkan kepalanya, "Menatapmu, membuatku merasa menjadi pria paling bodoh di dunia."


Zhea menghela nafas, "Tidak usah dipikirkan, Alva."


Gadis itu tersenyum, "Aku sudah melupakannya. Yang terpenting adalah, kau mau mengakui kesalahanmu dan kau mau berubah. Itu lebih dari cukup dari berlian sekalipun."


Alva menatap gadis itu lama, "Aku merindukanmu."


"Aku dan kau.. begitu singkat," Alva menarik nafas, "Tapi kenapa.. Waktu yang singkat itu begitu melekat di hatiku?"


Zhe terdiam.


"Sampai-sampai, rasanya sesak ketika menyadari, aku tidak bisa lagi memiliki waktu-waktu indah itu lebih lama lagi bersamamu."


"Alva.." Zhea menarik nafas panjang. Demi Tuhan, dia ingin menangis. Alva sungguh manis.


"Aku mencintaimu, Zhea. Aku sadar bahwa aku begitu mencintaimu. Apa arti semua ini jika bukan cinta? Ketika aku begitu senang melihat wajahmu yang tertawa. Ketika aku tidak peduli apapun hanya untuk bisa melihat senyumanmu. Ketika aku merasa hina tiap kali melihat kau yang tampak takut dengan keberadaanku. Membuatku melakukan apapun demi membuatmu nyaman, meski terkadang apa yang ku lakukan menusuk jantungku. Katakan padaku.. Apa arti semua ini jika bukan cinta?"


Ya. Alva Harison, mencintai Zhea. Pria itu mencintai Zhe dengan cara yang berbeda. Bukan dengan bunga, coklat, atau puisi romantis. Pria ini memilih untuk mencintai Zhea dalam diam, selalu ada untuknya dalam hening. Hal ini begitu nyata hingga rasanya sangat sakit mengetahui gadis ini bukanlah miliknya.


"Zhea, maukah kau kembali padaku? Menjadi sandaranku, menjadi setiap hariku, menjadi seseorang yang mau menerima kebaikan dan keburukanku, dan bersama-sama berjalan untuk mengatasi betapa buruknya aku?"


Zhe tersentak mendengar ucapan Alva yang begitu tiba-tiba. Air matanya meleleh. Dia bahkan tidak tahu tentang perasaannya saat ini.


"Aku tidak meminta jawabanmu sekarang." Alva tersenyum, "Tetapi ketika aku menagihnya, kau harus sudah siap dengan jawabanmu."


Zhea mendekatkan wajahnya. Dihapusnya air mata Zhe dengan ibu jarinya. Kemudian, wajah pria itu semakin mendekat. Hidungnya menyentuh hidung Zhea, membuat mata pria itu tertutup seluruhnya.


Tepat ketika Alva hendak mencium gadis itu, ia menoleh.


"Sudah malam. Sebaiknya kita pulang."


Alva membuka matanya seraya menjauhkan wajahnya dari wajah Zhe. Pria itu berdiri dan menggenggam tangan Zhea. Membuat gadis itu menggigit bibir bawahnya.


Tidak tahan, Zhea tampak melepas genggaman tangan Alva dengan halus.


"Ku pikir, aku akan pulang naik taksi. Sendirian."


Alva mengangguk mengerti. Zhea pasti butuh waktu untuk berpikir sendirian. Gadis itu melepaskan jas Alva dan memberikannya kembali pada pria tampan itu.


Setelahnya, Zhea segera melangkahkan kaki, meninggalkan Alva yang masih diam di tempatnya. Selang beberapa langkah, Zhe berhenti sejenak. Gadis itu menyempatkan diri untuk berkata sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan Alva.


"Jangan mengharapkanku, Alva."