
"Alva, ya?" Zhea tersenyum ketika Sindi menyebutkan nama itu. Tentu, hal itu membuat alis Sindi terangkat dengan sempurna, "Wah, wah, kalo lo sampe senyum-senyum gitu, berarti Alva ganteng banget dong ya? Anjir, barokah banget idup lo ketemu bule ganteng? Sialan lo, Zhe." Ledek sindi di layar laptop yang sedang berlangsung video call.
Zhea tertawa. Membuat mata Sindi berbinar-binar.
"Zhe, lo ketawa? Sialan! Gue pengen tahu Alva itu kayak gimana?! Dia udah bikin lo bisa ketawa kayak gini, pake pelet apaan coba? Gue aja yang udah berbulan-bulan rela jadi orang bego buat bikin lo ketawa, kagak pernah mempan broh!"
Zhda semakin tertawa melihat tingkah Sindi dari layar laptopnya, "Ada juga gue yang pelet dia. Mana bisa cowok seganteng itu deket sama gue, ya? Sayang aja, gue ga ada fotonya, nih, Sin. Yekali baru kenal ngajak foto bareng,"
"Yeeee, lo dengerin ya. Bule tuh suka sama cewek agresif, tau. Nanti jadi liar, kalian berdua!" Ucapan Sindi membuat Zhea meringis, "Ngaco lu, anjir."
"Terus, terus, lo diajak kemana aja sama dia?" Lanjut Sindi membuat Zhea tersenyum mengingat hari ini. Alva begitu manis, dan dia menyukai itu.
Belum sempat Zhe menjawab pertanyaan Sindi, ponsel gadis itu berdering, membuat Zhea segera memeriksa siapa yang mengiriminya pesan malam-malam.
(Cakapan wa)
"Zhe, lo kesurupan? Ngapain senyum-senyum gitu? Serem, ih!"
Suara Sindi menginterupsi Zhea, membuat gadis itu mendongak dan menatap ke arah Sindi dengan mata yang berbinar-binar.
"Dia itu manis banget, tau nggak sih?"
Percakapan mereka berakhir sampai Zhea tertidur.
***
Di kampus.
Zhea baru saja mengeluari ruangan tempat pertemuan para penerima beasiswa ketika merasakan jantungnya yang seakan loncat dari dadanya. Bagaimana tidak? Dia mendapati seorang pria yang ia kenal tengah bersandar di depan pintu ruangan, lengkap dengan pandangan kagum gadis-gadis yang jelas tertuju pada pria tampan itu.
Zhea tersenyum, "Aku tidak tahu kau punya urusan disini? Masuklah, kami sudah selesai."
Alva tertawa, "Urusanku juga sudah selesai."
Pria itu menarik tangan Zhead, membuat gadis itu tampak melongo tidak percaya, "Eh, what?"
"Aku akan membawamu ke suatu tempat."
"Eh, sebentar!" Zhea kembali menghentikan langkah Alva dan berbalik ke salah satu temannya yang sama-sama dari Indonesia, "Put, habis ini nggak ada acara lagi kan?"
Gadis bernama Putri itu menggelengkan kepalanya cepat-cepat, seraya menatap Zhea penuh arti, "Zhe! Alva itu idola kampus loh! Kok lo bisa?"
"Alva!" Zhea mendengus ketika mereka sudah berada jauh dari Putri dan murid-murid beasiswa lainnya, "Aku kan sedang berbicara dengan temanku, kenapa kau menarikku!"
"Karena akan panjang ceritanya. Meskipun aku tidak tau apa yang dia bicarakan, tapi dia menyebut namaku, idol, dan campuss. Kau mau dia menanyaimu dan membuatmu booming bahkan sebelum kau memulai pembelajaran disini?" Jelas Alva membuat Zhea bergidik ngeri. Menjadi terkenal di kampus barunya adalah pilihan terakhir yang dapat Zhe pilih. Well, dia hanya ingin hidup tenang. Bukan justru menjadi bahan pembicaraan orang-orang.
"Nah, makanya, hindarilah berbicara dengan orang-orang seperti mereka."
Zhea mencibir, "Dan menjadi seorang nerd yang tidak punya teman selain buku-buku tebal?"
Well, sebenarnya, Zhea berencana untuk menjadi seperti itu.
"Seorang Alva Harison akan jauh lebih menyenangkan daripada buku-buku tebal."
Zhea tertawa, "Lalu aku akan jadi bahan pembicaraan juga pada akhirnya? Kau lihat? Mereka menatapku seolah ingin membunuhku saat ini juga."
Gadis itu mendengus ketika menyadari pandangan gadis-gadis tampak begitu tajam ke arahnya. Jelas saja, seorang Alva Harison sedang berjalan dengan gadis antah berantah yang tidak lebih cantik dari mereka.
Namun, Alva berpikir lain.
"Mereka iri melihat kecantikanmu. See? Mereka butuh make up tebal untuk membuat diri mereka bersinar. Sedangkan kau? Kau cukup memasang senyuman dan akan bersinar dengan sendirinya."
Wajah Zhea memerah. Gadis itu memukul kepala Alva kesal seraya mempercepat jalannya, membuat Alva tertawa dan berlari untuk merangkul pundak Zhea.
***
"Ya Tuhan."
Zhea tak dapat berhenti untuk berdecak kagum ketika pemandangan yang ada di sekitarnya adalah tempat impiannya selama ini. Demi Tuhan. Bagi Zhea, Broadway Street hanya ada di dua tempat. Televisi dan mimpinya. Namun, bagaimana bisa dia menginjakkan kakinya di atas jalan impian itu? Ha. Bahkan, hanya untuk berjalan-jalan selama 5 jam penuh, Zhea akan tetap betah.
"Oh, Zhe. Aku tidak tahu jika kakimu begitu panjang," Alva mendengus seraya menyusulnya. Membuat gadis itu tertawa kecil.
"Jangan pernah meremehkan tubuh pendekku, Sir," Sahutnya seraya mengerling. Alva menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.
"Apa kau ingin nonton? Atau, belanja? Aku tahu tempat yang bagus disini," Tawar Alva seraya kembali memasukkan ponselnya ke saku. Pria itu baru saja membalas pesan-pesan dari teman-teman sepermainannya yang sedang kalang kabut mencari Alva. Jelas saja. Sudah dua hari Alva tidak memunculkan batang hidungnya di markas tempat mereka biasa berkumpul, atau di club malam favorit mereka.
"Aku hanya ingin jalan-jalan sampai kakiku pegal!" Zhea meringis, lagi-lagi membuat Alva menggelengkan kepalanya dan tersenyum lebar. Gadis ini memang berbeda. Dia hanya butuh hal sederhana untuk tersenyum.
Mereka berjalan sepanjang jalan. Dan sepanjang jalan itu pula, Alva sudah kenyang hanya dengan menatap wajah bahagia Zhe. Ah, Alva iri dengan Zhea. Gadis itu tidak perlu minum alkohol untuk melupakan masalahnya. Dia hanya perlu diberi kebahagiaan, maka, yang ada di pikirannya hanyalah tentang bahagia.