
"Aku menerima traktiranmu untuk dua alasan." Zhe berkata, membuat pria itu tersenyum ketika menatapnya.
"Pertama, karena aku sedang tidak mood untuk meladeni gombalan pria buaya sepertimu. Dan kedua, aku butuh merasa senang."
Setelah mengatakannya, Zhe segera meminum minuman haram tersebut dalam sekali tegukan. Membuat pria asing itu tampak tersenyum semakin lebar. Well, gadis di hadapannya sungguh menarik.
"Kau mau tambah?" Ucap pria itu seraya menuangkan kembali ke gelas Zhe, yang langsung diteguk habis oleh Zhea. Gadis itu kini tertawa. Persetan dengan William dan seluruh larangannya. Jika pria itu bisa melupakan Zhea, kenapa Zhe tidak bisa membantah perintahnya?
"Kau sangat menarik." Ucap pria itu seraya menuangkan kembali minuman ke gelas Zhea. Dan lagi-lagi Zhe meminumnya dalam sekali tegukan. Kini, Zhe sudah benar-benar mabuk.
Gadis itu menyandarkan kepalanya di meja dan mengetuk-ngetuk gelasnya, "Aku mau lagi!!!"
Pria itu menuruti permintaan Zhe, dan lagi-lagi, Zhea menelan minuman haramnya.
"Panas sekali sih! Nyalakan AC nya! Mana remot AC nya?!" Teriak Zhe, membuat pria di hadapannya tampak terkekeh. Pria itu melepaskan jaket kulit yang melekat di tubuh Zhe, dan cukup terpukau oleh keindahan gunung himalaya yang berada di d*d* Zhe.
"Kau sungguh indah." Pria itu berbisik di telinga Zhe, membuat Zhea mengalungkan tangannya di leher pria itu, "Dasar William tidak tahu diri!!!! Memangnya kau siapa menyuruhku menunggumu, dan kau bersama wanita ***** itu?!"
Pria itu kembali tersenyum. Kemudian menarik tangan Zhe ke lantai dansa. Zhea menggila. Gadis itu menari dengan gila dan erotis. Membuat gerombolan pria mengerumuninya akibat kegilaan itu. Mereka mulai menyentuh Zhe, dan Zhea yang sedang mabuk pun sama sekali tidak menyadarinya. Seorang pria asing bahkan dengan berani m*rem*s bukit kembar di bawah pinggang Zhe, dan saat itu Zhea baru memekik. Gadis itu berteriak ke arah sang pria asing dengan limbung.
Membuat pria yang tadi membawanya ke lantai dansa, kembali menarik Zhe dan membantingnya ke sofa. Pria itu sudah tidak tahan melihat tarian liar Zhe. Dengan cekatan, tangan pria itu m*rem*s kedua gunung himalaya Zhea, matanya terlihat sangat lapar. Belum puas, tangannya yang lain masuk ke kue apem Zhea, kemudian m*rem*s kedua bukit kembar Zhea yang terekspose. Mulutnya m*njilati Zhe, membuat gadis itu melenguh.
"Daddy, oh, daddy." d*sahan Zhe justru membuat pria itu semakin brutal. Tangannya semakin m*rem*s kedua benda yang menonjol di tubuh Zhe, membuat gadis itu mengerang.
"What the ****!!" Pria itu merasakan pipinya dipukul oleh seseorang hingga ia terjatuh ke lantai. Orang itu menarik kerah si pria dan kembali memukulnya bertubi-tubi. Mata orang itu menggelap ketika melihat gadisnya yang tak berdaya dimanfaatkan oleh pria bajingan yang kini tergeletak dengan darah di ujung bibirnya. Orang itu hampir saja memukul si pria ketika beberapa orang sudah menahan tubuhnya.
"William! Hentikan! Pria itu bisa membuat nama baikmu rusak!"
"Dan kau pikir aku peduli?! Pria itu menyentuh t*buh gadisku!" Bentak Will seraya menendang tengkuk pria tak berdaya itu. William melepaskan tubuhnya dari orang-orang yang menahannya, kemudian mengangkat tubuh Zhe dengan bridal style. William berjalan menuju mobilnya tanpa berhenti mengucapkan kata maaf.
William meletakkan Zhe di kursi penumpang sebelum menduduki kursi kemudinya. Gadisnya mabuk, dan hampir saja menjadi barang sentuhan pria bajingan jika ia tidak cepat menyadarinya.
Ya, William mati-matian melawan pengaruh alkohol ketika dia sadar bahwa yang ia ci*m adalah Jane, bukan Zhe seperti yang ada di bayangannya. Kemudian, William kembali ke tempat Zhe berada dan tidak menemukan keberadaan gadis itu. Saat itu, William rasanya ingin mati. Dia menyalahkan dirinya sendiri yang meninggalkan Zhe sendirian.
Dia terus mencari ke seluruh club, hingga ia menemukan sosok pria bajingan yang sedang mempermainkan dan menciumi tubuh gadisnya. Membuat William murka dan ingin membunuh pria itu dengan tangannya sendiri.
"Will bodohtidak tahu diri kau mencium si j*l*ng itu dan meninggalkanku? Kau sendiri yang menyuruhku untuk tidak pergi jauh darimu dan kau sendiri justru meninggalkanku demi b*rcium*n dengan wanita itu! Dasar bod*h!" Zhe berteriak kesal. Membuat William menghela nafas panjang. Ya, William memang bod*h.
Seharusnya dia bisa menjaga Zhea.
"Baiklah, kau bisa menamparku sesukamu. Tapi, bagaimana bisa kau melanggar ucapanku?!" Ucap William frustasi.
"Karena kau b*d*h! Memangnya aku tidak bisa berbuat lebih dari itu! Hah?!" Zhe berteriak di bawah kesadarannya, membuat William tampak membuang nafasnya. Pria itu melihat d*d* Zhe yang masih basah oleh air liur pria b*jing*n tadi. Dan dengan kesal mengambil banyak tisu dan membersihkannya. Ketika William membersihkan pegunungan himalaya Zhe, tiba-tiba gadis itu memeluk kepala William. Menyandarkan kepalanya di bahu Will.
"Daddy." Ucap Zhe kemudian tertawa, "My hot daddy."
William terdiam. jantungnya berdetak begitu kencang. Terlebih ketika menyadari betapa dekatnya wajah mereka saat ini. Zhe sangat cantik. Dan William bersumpah dia ingin sekali m*lum*t bibir Zhea.
"Menyadari bahwa kau yang melihat t*buhku untuk pertama kalinya.. Aku senang."
Hentikan, Zhe.
"Menyadari bahwa aku pernah melihat t*buhmu, meski aku yakin banyak wanita yang melihatnya... Aku juga senang."
Please, hentikan, Zhea.
"Menyadari namamu yang ku sebut dibalik er*ngan dan des*han. Aku... senang..."
I can't.
"Aku suka semua tentangmu.."
F*ck.
William membungkam bibir Zhe dengan m*ngecupnya halus.
Dan tanpa William duga, Zhea mendekatkan posisi mereka dan m*ngecup balik bibir Will.
❤❤❤
pov (unknow pov)
Aku mendengus kesal mengingat kejadian yang dapat membunuhku secara perlahan. Sialan. Aku benci untuk mengingat hari ini. Aku benci harus merasa kalah. Dan b*d*hnya, kekalahanku disebabkan oleh gadis kecil yang sama sekali tidak sebanding denganku.
Aku kembali menelan gelas berisi alkohol ke lima ku dan merasakan betapa gelanyar aneh memasuki tenggorokanku. Aku tidak pernah sekacau ini sebelumnya. Dan mengingat alasan kekacauanku adalah Azhalea, aku tidak bisa menerimanya.
Aku berjalan ke lantai dansa, merasakan tangan-tangan nakal mulai menggerayahiku, membuatku semakin bergairah. Aku harus bisa melupakan hari ini. Melupakan kekalahan telakku karena gadis itu.
Aku mengernyitkan dahiku ketika menyadari keramaian di lantai dansa. Gerombolan pria-pria tampak membentuk lingkaran, membuatku penasaran tentang apa yang terjadi.
Aku menerobos masuk, menemukan sesuatu pemandangan yang membuat mataku melebar.
"Oh. Si*lan. Astaga."
Aku melihat gadis itu menari dengan sangat erotis, dan, ya. Gadis itu benar-benar tampak berbeda dari yang terakhir ku lihat.
Aku tersenyum lebar. Wow. Ini akan menjadi suatu kabar yang cukup menggembirakan bukan?
🌿🌿🌿
readers please mohon banget apresiasi dari kalian karna menulis 2bab terakhir ini memerlukan beberapa kali revisi yang sangat melelahkan jiwa dan raga outhor