
Aku meletakkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan sangat hati-hati. Wajah gadis ini memerah, mungkin efek karena terlalu banyak alkohol yang diminumnya. Atau efek karena dia marah padaku?
Aku memperhatikan tubuh mungilnya dan lagi-lagi harus mengerang karena cacing besar alaska ku yang berada di bawah sana menggeliat. Gadis ajaib ini selalu berhasil membuat cacing ku tak bisa tenang hanya karena melihatnya.
Aku berjalan menuju lemarinya dan mengambil salah satu gaun tidurnya dan kembali duduk di sebelahnya. Aku menarik nafas panjang, menghilangkan kegugupan yang entah sejak kapan aku rasakan.
Dengar. Aku tahu, aku pernah melihatnya tanpa sehelai benang pun. Dan dengar. Aku juga tahu perasaan senangnya karena akulah yang pertama kali melihatnya. Tetapi aku, William Harison, tidak akan mau memanfaatkan keadaan mabuk gadis itu untuk kembali melihat tubuh polosnya.
Dan masalahnya adalah. Aku harus mengganti gaun b*d*h itu dengan gaun tidur Zhea!
"Okay!" Aku menghela nafas panjang dan mengangguk. Aku menatapi wajahnya yang tertidur, dan lagi-lagi menghela nafas panjang.
"Tahan, Will, tahan!" Aku menyemangati diriku sendiri, kemudian menutup mataku rapat-rapat.
Aku mendudukkan Zhea dan membuka resleting gaunnya dengan mata yang tertutup. Kemudian mulai menarik bagian bawah gaunnya. Yang membuat punggung tanganku bersentuhan langsung dengan tubuh hangatnya.
"****!" Aku mengerang menyadari tanganku yang tidak bisa pindah dari posisinya. Jantungku berdetak kencang. Mati-matian aku menahan mata dan tanganku agar tidak berbuat sesuka mereka.
"William, lakukan secepat yang kau bisa." Aku kembali mengangguk dan menghela nafas, kemudian kembali mengangkat gaunnya. Kini, punggung tanganku bersentuhan dengan perut ratanya. Kemudian naik hingga ke tepi pegunungan himalaya. Lagi-lagi aku mengerang. Juniorku benar-benar tidak bisa diajak kompromi! Ditambah dengan bayangan tubuh polos Zhe di layar laptopku waktu itu. Membuatku merutuki pikiranku kesal.
"No! Will! Jika dia mengetahuinya, dia akan sangat membencimu!" Aku kembali berkata pada diriku sendiri, kemudian melanjutkan untuk mengeluarkan dress itu dari kepalanya. Aku menghela nafas lega dan segera memasangkan gaun tidurnya ke tubuhnya.
"Baik, sekarang, kau harus keluar. Tidak! Jangan buka matamu!" Aku kembali berkata pada diriku sendiri. Benar-benar seperti orang gila.
Aku berjalan dengan mata yang tertutup dengan erat, karena, jika aku memberikan kesempatan pada mataku untuk membuka barang sedikit saja, aku tidak akan tahu apa yang selanjutnya terjadi.
DUAK.
"Oh, ****!" Aku merasakan sesuatu yang keras terpentok di kepalaku, tapi aku masih enggan membuka mataku. Dengan cekatan, aku mengeluari kamar Zhe dan menutup pintunya.
Saat itulah, aku baru bisa bernafas lega.
***
"Pagi, Zhea." Aku tersenyum ketika gadis itu berjalan menuju ruang makan. Namun berbeda denganku, dia tampak menatapku begitu tajam. Apakah dia masih marah?
"Apakah kau sudah merasa baik? Jika belum, kau bisa beristirahat di rumah. Oh ya, nanti aku pulang malam, jadi kau tidak perlu menungguku."
Gadis itu masih terdiam. Dia mengoleskan selai strawberry pada rotinya dan berteriak, "Patricia! Aku berangkat dulu!"
Mendengarnya, aku membulatkan mataku. Dengan segera, aku menelan roti terakhirku dan berlari mengikutinya. Gadis itu berjalan melewati mobilku, membuatku menatapnya tidak percaya, "Where will you go?"
Dia tidak membalas pertanyaanku dan terus berjalan, membuatku mengerang frustasi dan segera memasuki mobilku.
Aku melihat Zhe yang berjalan cepat-cepat, membuatku tersenyum lebar seraya menyejajarkan mobilku dengannya. Aku membuka jendela dan menoleh ke arahnya, "Masuklah, Zhe."
Dia hanya melirikku sebentar, kemudian mempercepat jalannya lagi. Apakah dia bodoh? Sampai kiamat-pun, kecepatan jalannya tidak akan bisa mengalahkan kecepatan mobilku.
"Ada apa denganmu? Bicaralah kepadaku." Ucapku lagi. Tapi dia tetap bungkam. Gadis itu seolah mengabaikan keberadaanku dan itu membuatku kesal.
"For God's shake, Zhea! Berhentilah berjalan dan bicaralah padaku!" Ucapku kesal. Gadis itu akhirnya berhenti dan menoleh, membuatku tersenyum lebar.
"Lebih baik kau jemput wanita pirang berbibir tebal itu dan memberinya ci*m*n selamat pagi daripada menggangguku di sini!"
Aku membuka mulutku tak percaya. Jadi, gadis ini masih marah karena masalah kemarin?!
Nah, biarlah dia marah. Wajahnya tanpak semakin cantik ketika marah.
"Zhe, aku bisa menjelaskannya jika kau masuk ke dalam mobil sekarang juga."
Gadis itu mengabaikanku dan mempercepat jalannya, membuatku mendengus kesal.
"Jangan membuatku marah." Aku kembali berkata, "Kau ingin masuk dengan sukarela atau paksaan?"
Setelah meletakkannya, aku berjalan menuju kursi kemudi, mengunci semua pintu mobil dan menjalankan mobilku.
"Don't mess with Mr. Harison." Aku tersenyum miring, membuatnya tampak berteriak, "Apa sih, maumu?!"
"Listen, Zhe." Aku mengurangi kecepatanku dan berkata, "Aku mabuk. Aku benar-benar lupa jika kau menungguku sendirian."
Dia mengalihkan pandangannya ke jalan raya, membuatku memutar bola mataku. Serius, aku bahkan tidak tahu kenapa aku harus menjelaskan masalah aku... mencium Jane kepada gadis ini.
"Aku tidak sadar jika Jane-lah yang ada di dekatku." Aku menghela nafas, "Aku berpikir itu kau."
Dia menoleh sedikit, namun kemudian kembali melengos. Si*lan. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus ku lakukan sekarang.
"Turunkan aku di gerbang kampus." Ucapnya membuatku menoleh tak percaya ke arahnya. "For God's shake, Zhe! Apakah kau harus semarah itu?!"
Zhea menoleh, "Harusnya kau bertanya seperti itu sebelum meninggalkanku kemudian menciumnya di hadapanku!"
Gadis ini selalu bisa membalikkan keadaan. Membuatku memberhentikan mobil tepat di depan gerbang kampus dengan frustasi.
"Baiklah, jika kau akan turun di sini." Ucapku, namun kemudian menyeringai, "Tapi aku akan menggendongmu hingga sampai di fakultas."
Aku memang gila.
Gadis itu menatapku dengan alisnya yang terangkat, "Kau tidak akan melakukannya."
Dan setelah mengatakan itu, Zhe mengeluari mobilku. Membuatku mendesah kesal dan ikut mengeluari mobilku dan berjalan ke hadapannya. Aku yakin mata-mata itu menatap kami, namun aku tidak peduli.
"I said, don't mess with Mr. Harison." Aku menatapnya tajam. Membuatnya berkata, "Kau tidak akan berani melakukannya."
"Aku akan menggendongmu sekarang juga. Kau punya pilihan lain, masuk ke mobil."
"Kau akan menciptakan skandal." Zhe tersenyum sinis, membuatku semakin tertantang untuk meladeninya, "Dan kau pikir aku peduli? Bahkan jika Alva harus melihatku, aku tidak peduli."
Ya, William Harison sudah gila. Dan hanya gadis ini yang mampu membuatku gila.
"Lakukan semaumu." Zhea berjalan melewatiku, membuatku memutar mata kesal. Zhe, jika kau berpikir aku main-main, kau salah besar.
Aku menarik lengannya dan mengangkat tubuh Zhea. Membuat gadis itu menatapku tak percaya.
"Demi Tuhan! Apa yang kau lakukan?! Apa kau tidak tahu dimana kita sekarang?!" Zhe berteriak tertahan seraya melihat lalu lalang orang yang tengah benar-benar menatap kami. Aku sedikit bersyukur karena kampus belum ramai.
"Kau yang memaksaku, Zhe."
Gadis itu menutup matanya sejenak, "Fine! Turunkan aku!"
Aku tersenyum penuh kemenangan dan menurunkan tubuhnya, membuat Zhea kembali masuk ke dalam mobilku dengan wajah berkali lipat lebih kesal. Aku menatapnya sejenak sebelum kembali menjalankan mobilku.
"Aku membencimu." Dia berkata, membuatku tersenyum lebar, "I love you too, sweetheart."
Lihat, betapa bodohnya aku demi gadis yang satu ini? Aku bahkan tidak peduli apapun ketika sedang bersamanya. Sebenarnya, apa yang dia lakukan kepadaku?!
Aku memarkirkan mobilku dan saat itulah Zhea segera berlari, membuatku tertawa kecil. Setelah mengunci pintu, aku memasukkan tangan kananku ke saku celana.
Menatap Zhea yang tampak menaiki tangga karena kelasnya memang ada di lantai dua, aku berhenti sejenak. Ketika gadis itu sudah sampai di lantai dua, ia memberhentikan langkahnya dan menatapku dari sana. Membuatku mengeluarkan tangan kananku dan melambai kecil ke arahnya, dengan senyuman yang entah mengapa tidak pernah bisa hilang dari bibirku.
Melihatku melambaikan tangan, aku sadar bahwa dia sedang mendengus sebelum pergi menuju kelasnya.
"Fucking gosh! Kau lihat itu? Mr. Harison tersenyum! Aaaa dia sangat tampan!!"
Aku kembali menetralkan ekspresi wajahku ketika desas desus mulai ramai di telingaku. Aku menatap mereka datar dan segera menuju kelas tempatku akan mengajar.