
Alva tersenyum melihat pantulan dirinya sendiri di cermin. Dia terlihat tampan. Oh, bukan itu yang membuatnya tersenyum. Membayangkan wajah Zhea yang menatapnya ramah, dan dengan senyuman yang lebar membuat pria itu harus merasakan dadanya yang berguncang hebat akibat perasaan senangnya.
Malam ini, dia akan menghadiri pesta pembukaan cabang perusahaan kenalan sang ayah. Dan yang membuat malam ini menjadi spesial adalah, Zhe meminta Alva datang bersama mereka kemarin. Demi Tuhan, jika kalian melihat bagaimana reaksi Alva setelah menerima telpon dari Zhea, maka, kalian akan berada di kubu yang sama dengan Richard. Ya, kubu yang sepakat untuk mengatakan betapa gilanya Alva. Betapa gilanya pria itu hingga ia keluar dari mobil, melompat-lompat di tengah hujan dan berteriak kepada semua orang seperti ini.
"ZHEA MENGAJAKKU PERGI KE PESTA! DEMI TUHAN, GADISKU SUDAH BENAR-BENAR MENGETAHUI KEBERADAANKU!"
Bagi kau, para penggemar Alva. Aku pastikan kalian akan ilfeel melihat tingkah Alva yang jauh dari kata cool.
Namun, Alva tidak peduli. Selama ini, ia hanya merasakan betapa banyak gadis yang menginginkannya. Betapa banyak gadis yang berebut untuk mengambil perhatiannya. Betapa banyak gadis yang ingin berjuang untuknya. Dan saat ini, dengan Zhea, Alva tahu bagaimana rasanya menginginkan sesuatu, dan berusaha keras untuk menggapai sesuatu itu. Alva jadi tahu bagaimana rasanya mencintai. Dan berjuang untuk menggapai cinta itu.
"Kau memang sudah gila, Alva." Alva tersenyum di depan cermin. Ya, dia memang gila.
***
Zhe mengetuk pintu kamar William beberapa kali, dan tanpa menunggu jawaban pria itu, Zhea bergegas memasuki kamar William.
"Daddy," Panggil Zhea. Pria itu berdehem seraya keluar dari kamar mandi. Zhea menahan nafasnya melihat tubuh William yang terbentuk dengan jelas dibalik baju hitam lengan panjangnya. Pria itu masih sibuk mengancingkan bagian pergelangan tangannya ketika Zhe mengambil alih jas William.
"Ya Lord!" William mendesah ketika ia menegakkan kepalanya dan melihat sosok Zhea yang tampak anggun di depannya. Zhe memakai dress hitam sederhana yang melekat dengan pas di tubuh mungilnya, dengan make up yang cukup natural terhias di wajahnya. Berbeda dengan make up tebal yang ia pakai kala itu. Selain itu, rambut Zhea juga ditata dengan gaya sederhana namun menampilkan sosok wanita elegan. Membuat siapapun akan menahan nafas melihat kecantikan gadis Asia itu.
Ya, semuanya. Termasuk William.
"Anything's wrong?" Tanya Zhe ketika melihat wajah tampan pria itu tampak memerah. Zhea membantu William untuk memakai jas abu-abu yang menambah kesan gagah pada tubuh pria itu.
"Why are you so beautiful, Zhe?" Ucap William, membuat Zhea terkekeh seraya merapikan bagian dada pria itu.
"Apakah kau sedang bertanya, atau sedang memuji?"
William tersenyum. "Aku sedang memujamu."
Pria itu hampir saja mendaratkan bibirnya di bibir Zhea ketika Zhe tampak menghindar, "Jangan merusak make up ku!"
"What? All you wanna care is your make up?!" Balas William kesal, membuat Zhe tertawa kecil melihat ekspresi pria tampan itu.
Gadis itu mendorong dada William hingga pria itu terduduk di kasurnya, kemudian Zhe berdiri di antara kedua kaki William dan menyahut, "Rambutmu belum rapi."
Zhe segera memainkan tangannya pada rambut William, membuat pria itu bisa leluasa melihat wajah Zhea yang tampak serius. William menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Demi Tuhan. Zhe begitu cantik malam ini. Dia sangat cantik hingga William merasa bahwa ia tidak bisa merelakan Zhea kepada siapapun. Dia sangat cantik hingga Willi hanya ingin memiliki gadis itu seumur hidupnya.
William menarik pinggang ramping Zhea hingga gadis itu semakin maju pada tubuhnya. Dan dengan lembut, William meraba perut rata gadis itu. Membuat Zhea tersenyum tipis masih dengan menata rambut William.
William menenggelamkan wajahnya ke perut Zhe yang lebih tinggi karena gadis itu memakai high heels. Membuat gadis itu mendesah kegelian akibat perlakuan William.
"Kau sungguh cantik, Zhe. Aku bisa gila hanya dengan menatapmu." Ucap William, membuat Zhea semakin tersenyum lebar. Gadis itu membenamkan kepalanya untuk mencium wangi rambut William, "Kau juga sangat tampan, hingga aku pikir, aku tidak bisa melihat kemanapun selain kau."
William melingkarkan lengannya mengelingi pinggang Zhea. Kemudian, ia mendongak untuk menatap wajah cantik itu sekali lagi. Tanpa peduli, William mencium bibirnya sekilas.
Aku mencintaimu.
Ya. Aku sungguh-sungguh mencintaimu.
Zhe mengerjapkan matanya dan melepas ciumannya, "Cukup. Ku pikir Alva sedang menunggu kita."
Gadis itu berjalan meninggalkan William dan mengeluari kamar. Kemudian, dengan cekatan ia berjalan menuju ruang tamu. Mendapati Alva yang sedang duduk dengan memainkan ponselnya.
"Kau sudah siap, Alva?" Ucap Zhe, membuat Alva mengangkat kepalanya. Matanya membulat melihat sosok Zhea yang... begitu cantik dimatanya.
"Tunggu, ada yang salah? Apa yang terlalu terbuka?" Zhea memandangi dress-nya, membuat Alva berdehem kecil, "Tid, tidak."
Pria itu berdiri untuk mendekati Zhea.
"Hanya saja..."
Zhea menaikkan alisnya.
"Aku bersumpah, kau akan jadi wanita paling cantik malam ini."
Zhe tersenyum lebar.
***
William, Zhe, dan Alva memasuki ballroom NYC Marteen Hotel. Katanya hotel ini merupakan hotel termahal di NYC, dan pemiliknya adalah si pebisnis dari California yang mengundang William.
"William!" Seorang wanita berambut pirang tampak melambai ke arah William dan berlari untuk memeluk pria itu, membuat William kewalahan dan berusaha untuk melepaskan pelukan wanita itu.
Melihatnya, Zhea tidak bisa tinggal diam. Gadis itu menarik lengan wanita itu dan berdiri di depan William dengan pandangan yang membunuh, "Senang bertemu denganmu, Jane Edinburgh!"
Jane tampak tersenyum sinis, terutama ketika pandangannya tertuju pada dandanan Zhe yang super sederhana. Berbeda dengan dandanan Jane yang sudah menyamai artis hollywood Internasional.
"Oh, hai, Alva!" Jane tampak menatap Alva yang tersenyum tipis ke arahnya.
"Lama tidak berjumpa denganmu. Aku sungguh merindukanmu. Bagaimana keadaanmu?" Ucap Jane seraya mencium pipi kanan dan kiri Alva, membuat pria itu meringis, "Aku baik-baik saja Jane. Bagaimana dengan butik barumu?"
Jane tertawa seraya melirik sinis ke Zhea, seolah ingin menunjukkan betapa dekatnya wanita itu dengan anak William Harisoon.
"Butikku baik-baik saja, hanya, aku sedikit terguncang dengan keadaan ini." Jane tampak menarik nafas panjang seraya memeluk lengan Alva.
"Coba lihat, bagaimana bisa aku dibandingan dengan anak ingusan ini." Jane menatap Zhea kesal, membuat Alva tampak menatap mereka bingung, "Tunggu. Aku sama sekali tidak mengerti maksudmu?"
"Kenapa kau bisa menyetujui hub,"
Zhea segera menutup mulut Jane dan membawanya menjauhi Alva.
"Apa-apaan!"
Zhea menatap Jane tajam ketika mereka sudah jauh dari William dan Alva, "Apa kau gila?!"
Jane tertawa, "Gila? Kenapa aku harus gila?!"
Zhea berdecak kesal, "Kenapa kau harus berbuat keributan di depan Alva?!"
Jane kembali tertawa, "Oh, apa kau takut dengan fakta dimana Alva lebih dekat denganku daripada denganmu?"
Demi Tuhan. Jane pasti akan bunuh diri jika tahu Alva adalah mantan Zhea.
"Kalau kau ingin bersaing, bersainglah secara sehat! Bagaimana bisa kau membawa Alva dalam persaingan kita?!" Zhe tidak habis pikir.
"Apa kau sedang mengajariku?!" Jane tampak berteriak kesal seraya melayangkan tamparan yang membuat Zhe menutup matanya spontan.
Namun, tamparan Jane seolah tertahan di udara ketika sebuah tangan kekar menahannya kuat-kuat, "Jangan pernah menyentuh setitik saja tubuh kekasihku!"
Itu suara William.
William tampak menatap Jane dengan tajam, membuat wanita itu sedikit ketakutan. Lantas, ia membanting tangan Jane seraya berkata, "Jika kau berani menyakitinya, kau berurusan denganku. Aku bersumpah akan membuatmu menyesal!"
Jane tampak membuka mulutnya, "William! Kenapa kau setega ini?!"
William tidak peduli. Pria itu segera pergi sambil menggandeng tangan Zhea begitu erat. Membuat Zhe tampak tersenyum tipis dan mempererat gandengannya.
"Kenapa kau harus cari gara-gara padanya, sih?" Desah William, membuat Zhea menarik nafas, "Dia hampir saja akan membuat hubunganmu dan Alva memburuk, dad."
William menatap Zhea bingung, "Maksudnya?"
"Kau ingat di club waktu itu? Aku bilang padanya bahwa aku calon ibunya Alva," Wajah Zhea memerah dengan sempurna, "Jika Jane berani berkata macam-macam tentang itu, Alva pasti akan salah paham dengan candaanku. Itu bisa merusak hubungan kalian, dan aku akan berusaha agar hubungan kalian tidak rusak karena hal apapun."
Zhea menatap mata William dalam, "Melihat betapa kau menyayangi Alva dan betapa Alva begitu menghormatimu.. Kedua hal itu seolah memberikan kebahagiaan tersendiri bagiku."
William tersenyum. Mendengar bahwa perkataan Zhea mengenai ia yang menjadi kekasihnya adalah suatu candaan, tak kuasa membuat William merasa kesal, namun melihat betapa gadis kecil ini begitu memperhatikan keluarganya, tak kuasa pula membuat William merasa senang. William tidak tahu apa yang akan gadis lain lakukan jika mereka berada di posisi Zhea. Mereka mungkin hanya akan memilih William, atau memilih Alva. Tapi mereka tidak akan pernah berpikir tentang hubungan William dan Alva akibat dirinya.
Itulah Zhea. Dan segala hal kecil yang membuatnya terlihat begitu berharga.
"Alva dimana? Apakah dia bertanya macam-macam kepadamu?" Perkataan Zhea membuyarkan lamunan William. Pria itu mengerjap sebelum berkata, "Dia tidak sengaja bertemu teman kuliahnya. Jadi ku pikir, mereka sedang bersama."
"Baiklah, jadi aku hanya datang bersamamu?" Zhea menaikkan alisnya, membuat William tertawa seraya mencium pipi gadis itu. William membawa Zhea mengelilingi pesta tersebut, mencicipi berbagai makanan hingga berdansa. Sesekali mereka tertawa oleh candaan yang mereka lontarkan satu sama lain.
Langkah mereka harus terhenti ketika seorang pria tampan dan gagah tampak menaiki podium. Membuat Zhea mengkerutkan dahinya dan memandang dengan telak sosok pria itu. Demi Tuhan. Pria tersebut begitu tampan.
"Ayo pergi." Melihat tatapan yang berbinar dari Zhea, William benar-benar kesal. Pria itu memilih untuk membawa Zhea ke tempat yang lebih sepi guna menghindari pemandangan indah di depan sana. Ya, walaupun William tahu hal itu mustahil. Karena dari sudut manapun, mereka bisa melihat betapa indahnya makhluk Tuhan yang sedang berbicara dengan wajah dinginnya itu.
Zhea tampak menarik jas William berkali-kali, membuat pria itu menoleh kecil ke arahnya, "What?"
"Demi Tuhan, siapa pria yang sedang ada di podium?" Bisik Zhea membuat William memutar bola matanya, "Jaga pandanganmu, atau aku akan menghukummu."
"Daddy, aku ini wanita normal!" Zhea menyeringai, "Ya Tuhan! Dia sangat seksi!"
William memberengut kesal, "Dan karena itu kau bilang padaku bahwa kau tidak bisa melihat pria lain selain aku?"
Zhea tertawa, "Tapi dia sungguh tampan, dad. Aku harus jujur. Apakah dia model perusahaan ini?"
William menatap Zhea dengan satu alis yang terangkat, "Kenapa model harus ada di podium? Tentu saja dia pemilik perusahaan."
Zhea manggut-manggut. Namun kemudian matanya membulat, "Hah? Dia itu mantan bos-nya Jane?! Mr. Adam Marteen?"
William menutup mulut Zhea dan mendengus, "Apa kau gila?"
"Aku hanya tidak percaya bahwa Mr. Marteen bisa setampan itu. Dalam bayanganku, dia pria tua membosankan." Ucap Zhea seraya terkekeh.
Demi Tuhan. William kesal.
"Terserah!"
Zhea melirik kecil ke arah William dan terkekeh. Sedari tadi, Zhea memang sengaja menggoda pria itu. Habisnya, William selalu terlihat lucu dengan wajah cemberutnya. Dan, ya. Setampan apapun wajah pengusaha muda itu, entah mengapa, Mr. Marteen tetap tidak bisa mengalahkan wajah cemberut William yang begitu imut.
Zhea menatap pria tampan yang tadi berdiri di podium tampak menyelesaikan pidatonya. Disertai tepuk tangan, akhirnya pria itu menuruni tangga. Ia tampak sedang berbicara dengan seorang gadis muda berambut pirang ke abu-abuan lebat.
Zhea benar-benar kagum dengan keindahan rambutnya. Selain itu, gadis itu juga punya tubuh langsing yang menyerupai boneka barbie. Hal itu terlihat dengan jelas karena gadis itu memakai dress warna putih yang cukup pendek dan ketat. Well, jangankan tubuhnya, wajah gadis itu, jika diperhatikan dengan jelas juga mirip dengan boneka barbie.
"Dad! Kau lihat gadis yang ada di sebelah Mr. Marteen? Dia sangat cantik. Mirip boneka barbie!" Ucap Zhea seraya tertawa. William ikut tertawa dan menyahut, "Benar sekali. Bahkan, boneka barbie tidak bisa mendeskripsikan betapa cantiknya gadis itu."