Sweet Child OR Hot Daddy

Sweet Child OR Hot Daddy
bab 35



"Dad, kenapa kita berhenti di Central Park?"


Zhea tidak tahan untuk memberikan berbagai pertanyaan karena William yang tiba-tiba menjalankan mobilnya dengan arah yang berlawanan dari rumah pria itu. Dan ketika ia hendak bertanya, William hanya memberikan isyarat tangan agar gadis itu diam.


"Turunlah, Zhe." Ucap William.


Gadis itu menghela nafas dan turun dari mobil William. Ia sedikit melongok ke arah mobil ketika melihat William sedang menempelkan ponselnya di telinga.


"Zhea, pergilah ke perahu kayu yang waktu itu. Aku harus menerima telepon, sebentar lagi aku menyusulmu." Ucap William membuat Zhea mengangguk. Gadis itu berjalan memasuki Central Park.


Tempat kencan pertamanya bersama Alva.


Tempat pertama yang membuatnya bisa tersenyum lebar setelah masa sulitnya di Indonesia.


Mendadak, gadis itu tersenyum. Ia melompat-lompat seperti anak kecil. Seorang pria tua tampak melambai ke arahnya, "Nona Florenza!"


Zhea melambai balik seraya menghampirinya, "Hallo Paman Hans, bagaimana kabarmu?"


Pria tua itu tersenyum, "Aku baik-baik saja, Nona. Apakah anda ingin menaiki perahu kayuku lagi? Ngomong-ngomong, itu?" ,aku tidak melihat anak muda


Zhea tertawa, "Aku tidak datang bersamanya, Paman. Aku datang dengan seseorang, tapi dia masih menerima telepon di mobil. Jadi dia menyuruhku untuk ke,"


Ucapan Zhea berhenti ketika ia menyadari sesuatu. Bagaimana daddy bisa tahu tentang perahu kayu yang aku naiki bersama Alva?


"Jadi, apakah kau mau aku mengayuh satu putaran untukmu dahulu? Sebelum seseorang itu selesai dengan urusannya?" Mendengar tawaran Hans, Zhea mengangguk setuju, "Ya. Lagipula, ku pikir telepon itu akan jadi sangat lama."


Zhea akhirnya memasuki perahu itu dan terduduk menghadap danau. Perlahan, perahu itu berjalan karena Hans mulai mendayungnya.


Pandangan Zhea tertuju pada suatu benda di ujung perahu. Dahinya berkerut melihat sebuah boneka beruang. Membuatnya bergegas untuk mendekati boneka itu. Zhea tersenyum melihat betapa lucunya boneka beruang itu. Warnanya cream, bulunya juga halus. Dan yang membuatnya terlihat lucu adalah, ada tulisan SORRY yang sengaja di letakkan di atas perutnya. Selain itu, ada bunga warna-warni yang tampak segar yang terselip si lengan boneka itu.


Tangan Zhea tidak tahan untuk segera mengambil boneka itu di tangannya, "Orang manis mana yang mendandani boneka secantik ini?"


Zhea tertawa kecil seraya memeluk boneka itu, dan tanpa sadar, boneka itu berbunyi.


"Halo, putriku, Zhea. Beberapa orang bodoh, begitu juga aku pangeranmu. Maukah kamu memaafkan Pangeran Alva dan hidup bahagia bersamanya?"


Zhea tersentak mendengar boneka itu berbunyi. Perlahan, gadis itu kembali menekan bagian perutnya lagi.


"Halo, putriku, Azhalea. Beberapa orang bodoh, begitu juga aku pangeranmu. Maukah kamu memaafkan Pangeran Alva dan hidup bahagia bersamanya?"


Baiklah, kini Zhea sadar jika dia tidak sedang berhalusinasi.


"Paman Hans, siapa yang,"


Ucapan Zhea berhenti ketika menyadari sosok pendayung perahu kayu itu bukan Hans. Ya, entah sejak kapan, si pendayung berubah wajah menjadi Alva Harisoon.


Pria itu tersenyum. Ia berhenti mendayung dan mulai mendekati Zhea, ketika gadisnya justru memundurkan tubuhnya takut-takut, membuat Alva akhirnya berhenti mendekatinya.


"Tidak, Zhe. Jangan memandangku dengan pandangan ketakutan." Ucap Alva, membuat Zhea harus meremas bagian samping perahu kayunya hingga telapak tangannya memerah.


Berada di dekat Alva membuat Zhea mengingat malam itu. Sungguh, Zhe sudah berusaha melupakannya sekuat mungkin, tapi tidak bisa.


"Jika aku memutar waktu, aku akan melakukan apapun untuk itu, Zhe," Ucap Alva.


"Ya, aku memang pria bodoh. Ya, aku juga pria bajingan. Dan, ya, aku seorang brengsek yang sudah sangat menyakitimu."


Zhea menundukkan kepalanya.


"Mengetahui betapa bodoh, bajingan, dan brengseknya aku, membuatku ingin menguliti diriku sendiri. Aku hanya.. oh, sial. Aku tidak pantas berkata seperti ini." Alva menjambak rambutnya.


Melihat itu, pegangan Zhea sudah mulai mengendur. Gadis itu mulai memberanikan diri untuk menatap pria di hadapannya.


"Seperti yang kau bilang pada ayahku, maukah kau kembali dan menemaniku hingga aku menjadi pria yang benar?"


Zhea masih terdiam.


"Aku tidak akan memaksamu untuk menerima permintaan maafku, Zhea. Karena jika aku adalah kau, aku sudah mendorong diriku sendiri ke danau sejak tadi."


Alva menatap Zhea yang sama sekali tidak bersuara sejak tadi. Pria itu perlahan mendekati tubuh Zhea yang seolah membeku. Kemudian menyentuh tangan gadis itu yang spontan membuatnya menarik tangannya dari sentuhan Alva. Membuat Alva tampak menatapnya sedih, namun dia bisa memakhluminya.


"Setidaknya, beri aku kesempatan untuk menunjukkan betapa menyesalnya aku." Bisik Alva yang masih bisa didengar oleh Zhea.


"Alva." Susah jerih Zhe menyebut nama itu.


Membuat Alva mendongak dan menatap gadis itu dengan pandangan tidak percaya.


Zhea mengalihkan wajahnya. Dia masih tidak bisa menatap Alva. Hatinya selalu sakit jika ia menatap pria di hadapannya. Tetapi sebagian lain hatinya meminta ia untuk memberikan kesempatan kepada Alva.


"Apakah Greenwich Village bagus di siang hari?"


Ucap Zhea membuat pria itu tersenyum lebar.


Alva menoleh ke perahu yang letaknya lumayan jauh dari tempatnya, namun masih dalam jangkauan mata seraya mengacungkan jempolnya. Membuat pria berkacamata di dalam perahu tersebut mengangguk dan mendayung kembali perahunya ke daratan.


Ps: Harusnya, chapter ini emang khusus buat Alva-Zhea. Tapi. Maafin othor yang males pake banget buat jabarin gimana mereka di Greenwich Village, jadi outhor skip.


Pss: Gue gaada feel nulis tentang mereka. Jadi kalo kalian ada feel, hubungin othor ya, wkwk.


***


Zhea menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidurnya dan lagi-lagi menatap boneka beruang yang sejak tadi ada di genggamannya. "Hello, my princess, Azhalea. Some people are stupid, so is the prince. Would you forgive Prince Alva and live happily ever after"


Zhea mengira, dengan berjam-jam menghabiskan waktu bersama Alva, bisa membuat gadis itu melupakan sedikit saja perbuatan keji Alva kepadanya. Namun kenyataannya, tidak bisa. Zhea bisa mati jika terus-terusan berada di sisi Alva. Seluruh bagian dari pria itu mengingatkan Zhea tentang sisi gelap seorang Alva Harisoon. Sisi gelap yang, Zhea sendiri tidak pernah tahu sebelumnya.


"Hello, my princess, Azhalea. Some people are stupid, so is the prince. Would you forgive Prince Alva and live happily ever after?"


Zhea mendesah dan melempar boneka beruang itu ke sebelah tempat tidurnya. Sialan. Sudah jam 11 malam dan Zhea sama sekali tidak bisa tidur. Gadis itu menatap pintu kamar mandinya yang terbuka, dan tiba-tiba air matanya kembali turun. Dia masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana Alva menjambak rambutnya dan menyeretnya ke dalam kamar mandi.


Bagaimana bisa Zhea memaafkan Alva jika semua hal tentang pria itu mengingatkan Zhea pada malam yang membuat seluruh lukanya kembali terbuka? Zhea mendesah seraya meraih ponselnya dan mengetikkan sesuatu disana.


To: Hot Daddy


From: Zhea


Kau sedang apa?


Mengirim.


Terkirim.


Zhea menghela nafas seraya memandang langit-langit kamarnya. Ketika ponselnya berdering.


Dari: hot daddy


Kepada: Zhea


Menandatangani beberapa berkas. Ini berkas terakhirku. Kenapa kau belum tidur?


Zhea tersenyum.


Untuk: hot daddy


From: Zhea


Mengirim.


Terkirim.


Zhea kembali merasakan ponselnya bergetar. Bukan sms, melainkan nama Hot Daddy yang tertera sebagai panggilan masuk. Zhea segera mengangkatnya.


"Dia sudah tidur. Dan kenapa pula kau menanyakan tentangnya kepadaku? Apakah kau begitu merindukannya, padahal sudah seharian kau pergi dengannya?"


Entah kenapa, suara William membuatnya tersenyum. Segala kegundahan yang ia rasakan sejak tadi mendadak hilang dengan sendirinya.


"Kau ada dimana?" Tanya Zhea membuat William membalas, "Di gazebo."


"Oh ya? Kau mengerjakan tugas disana? Kau tahu, angin malam tidak baik bagi kesehatan pria tua sepertimu." Zhea tertawa seraya memakai sandalnya. Gadis itu mengeluari kamarnya dan menuju ruang keluarga.


"Aku pria tua seksi dan sehat." Ucap William membuat Zhea tertawa.


"Apakah Alva benar-benar sudah tidur?" Tanya Zhea lagi, membuat William mendengus di seberang sana.


"Kenapa kau harus bertanya tentang pria itu berulang kali kepadaku, sih?! Jika kau begitu merindukannya, kau bisa menghampirinya di kamarnya!"


Zhea menghela nafas dan menatap William yang sedang menyandarkan tubuhnya di tiang gazebo dari ruang keluarga, "Daripada merindukannya, aku lebih merindukanmu. Lalu aku harus bagaimana?"


"Eh?"


Zhea segera memutuskan sambungan teleponnya dan segera menuliskan pesan pada William.


Untuk: hot daddy


Dari: Zhea


Bolehkah aku menarik perhatianmu?


Mengirim.


Terkirim.


Dari: hot daddy


Kepada: Zhea


Untuk apa?


Zhea melangkahkan kakinya pelan-pelan memasuki kolam renang. Dilihatnya punggung William yang sedikit bergetar karena sedang membalas pesan di ponselnya.


Untuk: hot daddy


Dari: Zhea


Karena tidak memelukmu, menciummu, dan memelukmu malam ini.


Mengirim.


Terkirim.


Zhea tersenyum seraya merangkul leher William dari belakang. Membuat pria itu menoleh, ia sedikit tertawa dan mencium puncak kepala Zhea sangat lama.


Aku menemukanmu, daddy.


William tertawa, pria itu meletakkan Zhea di sebelahnya dan merangkul bahu gadis itu dari samping erat-erat, "Salah siapa seharian ini sibuk sendiri?"


Zhea menatap William kesal dan menggigit bibir pria itu keras, "Kau yang meninggalkanku di Central Park!"


William tertawa seraya mengecup bibir Zhea, "Aku hanya ingin memberi kalian privasi."


Senyum Zhea menghilang. Gadis itu menarik nafasnya berkali-kali, berusaha untuk menghilangkan rasa sesak di dadanya. Hal itu membuat William menaikkan alisnya bingung, "Baby?"


Zhea masih terdiam, membuat William kembali mencium bibirnya, "Kau kenapa?"


Mata Zhea berkaca-kaca. Gadis itu menatap William dalam dan berkata, "Dad? Apakah aku ini orang jahat karena aku tidak bisa memaafkan Alva begitu saja?"


Zhea menutup matanya, membuat air mata menetes membasahi kedua pipinya. Menatap itu, William mengeratkan rangkulannya di bahu Zhea seraya menyandarkan kepala gadis itu di bahunya.


"Kau tidak jahat." William tersenyum, "Setiap orang butuh proses, Zhe. Dan karena seseorang sedang berjalan di atas proses itu, bukan berarti orang itu tidak bisa."


"Tapi dad.. aku,"


Zhea kembali menangis, "Aku tidak sanggup, dad. Berada dalam satu tempat yang sama dengannya membuatku sakit. Semua hal tentangnya membuatku mengingat betapa dia begitu menyakitiku."


William mencium puncak kepala gadis itu sangat lama.


"Baiklah, tetaplah menangis, Zhea. Aku akhirnya tahu betapa tersiksanya kau hari ini. Aku tahu betapa banyak air mata yang kau tahan hari ini. Menangislah."


Mendengar itu, Zhea semakin menangis. Gadis itu menenggelamkan kepalanya di dada bidang William. Membuat pria itu memejamkan matanya seraya terus mempererat pelukannya.


"Daddy," Zhea menatap wajah tampan William, "Setelah aku pikir-pikir, aku ingin pergi dari rumah ini."


William menatap matanya, "Apa maksudmu?!"


Zhea mendesah, "Mengertilah, daddy. Aku sangat berterimakasih akan kebaikanmu. Tetapi, sungguh, aku tidak akan sanggup, dad."


William menggeleng, "Tidak! Kau tidak bisa, Zhea! Kau tidak punya siapa-siapa disini! Setidaknya, tunggu satu bulan. Tunggu hingga uang beasiswamu keluar!"


Pria itu berusaha membujuk Zhea, namun gadis itu menyahut, "Aku sungguh tidak bisa dad. Rasanya aku tidak bisa bernafas disini. Semuanya menyesakkan."


William menarik bahu gadis itu agar menghadap jelas ke arahnya, "Zhea,"


Sebelum William melanjutkan omongannya, Zhea kembali berbicara, "Dad. Ku mohon, mengertilah keadaanku. Aku berjanji tidak akan mengkhawatirkanmu."


Pria itu mengerang, "Jangan memaksaku untuk memilih, Zhe."


"Memilih? Alva bukan suatu pilihan, William! Aku tidak bisa selamanya berada di antara kalian tanpa ikatan yang jelas!"


William menghela nafas, "Baiklah. Aku akan mengizinkanmu, tapi kau harus tinggal di apartment milikku. Memang sedikit jauh dari kampus, tapi tempatnya strategis. Ada halte bus beberapa meter di depannya."


Zhea menggeleng, "Aku tidak mau. Aku sudah terlalu banyak merepotkanmu. Aku akan mencari kerjaan dan aku akan,"


"Kalau begitu, jangan pernah keluar dari rumahku!" Nada William meninggi. Pria itu menatap Zhea dalam, "Kau ini tanggung jawabku, Zhe. Aku tidak bisa melepaskanmu begitu saja!"


"Kenapa aku harus menjadi tanggung jawabmu?!" Zhea balas meninggikan suaranya, "Apa karena kau merasa bersalah atas apa yang Alva lakukan?"


"Azhalea, jangan menguji kesabaranku!" Bentak William. Bagaimana bisa Zhea mengatakan kata-kata seperti itu? Bagaimana bisa Zhe menganggap William hanya kasihan kepadanya? Demi Tuhan, Zhea begitu menyakitinya dengan kata-katanya.


"Zhe."


Mereka berdua terdiam dengan suara tak asing itu. Dan benar, sosok Alva sudah berada di ujung pintu, menatap mereka dengan pandangan sayu.


"Jika kau ingin keluar dari rumah ini karena keberadaanku, lebih baik aku yang pergi."


Zhea menatap mereka berdua tak percaya, "Apa ini?!"


"Apakah kalian memperlakukan semua orang asing sebaik ini? Hentikan!"