
๐ฟ๐ฟ๐ฟ Happy reading guys ๐ฟ๐ฟ๐ฟ
"What the f*ck, Zheaa!" Zhe menjauhkan ponselnya dari telinga ketika teriakan Sindi di seberang sana berpotensi membuat telinganya tuli.
"Ya ampun, Sin! Lo pikir gue budek apa pake teriak-teriak segala!"
"Eh dasar nggak tau malu! Harusnya tuh gue yang marah-marah, ngapain jadi elo!" Zhea tertawa mendengar Sindi mendumel.
"Iya deh, iya. Maaf. Abisnya gue tuh abis kena musibah. HP gue ilang, ini baru beli, makanya baru bisa hubungin elo."
Sindi berteriak histeris.
"Lo b*g* apa gimana sih? Gimana coba HP bisa ilang!!!"
Jika Sindi bukan sahabatnya, Zhea bersumpah akan pergi ke dukun santet untuk membungkamya.
"Eh, Zhe! Gue punya berita gila, Zhe! Sumpah! Ini gila banget!" Ucap Sindi histeris, membuat Zhea penasaran, "Apaan?!"
"Alva H-a-r-i-s-double o-n!" Ejah Sindi, membuat Zhea mengangguk meskipun Zhea tahu Sindi tidak akan melihatnya.
"Lo tau nggak? DIA ANAKNYA WILLIAM SI DADDY SEKSI ELO ITU ANJIR! LO SIH GA BISA DIHUBUNGIN MULU, GUE UDAH GATEL MAU NGASIH TAU ITU!!"
Zhea memutar bola matanya, "Udah deh, jangan mengingat masa lalu gitu."
"Mengingat masa lalu pala lu! Gue serius coy, kok bisa kebetulan gitu sih?Terus gimana nih, Zhe? Lo mau jadi mamanya Alva apa jadi menantunya William? Kalau gue jadi elo sih mending gue jadi mamanya Alva dah. Antimainstream, bro! Udah gitu, lo bisa maen-maen sama Alva pas William kagak ada."
Wajah Zhea memerah ketika Sindi mengatakan hal itu, "Sumpah ya Sin, kalo lo ada disini udah gue lempar pake sepatu gue! Ngomong sembarangan banget, sih!"
Sindi tertawa, "Bercanda, Zhe. Ampun deh."
"Lagian lo tau darimana sih?" Zhea mendengus.
"Iya. Gue ngestalk dia di instagram. Eh betewe, si Alva kasep pisan euy. Anj*r banget beruntung idup lo, Zhe. Oh ya, terus gue kan ngescroll, mana ada foto Alva sama William. Gue kaget banget tau, Zhe. Tapi gue akhirnya mikir, nama William kan William Harison. Sama kayak Alva, dong? Ah bego, lemot banget gue. Pas gue cek ig-nya William, eh bener dia bokapnya Alva!"
Zhea melongo, "William punya ig?"
"Zhe, lo disana nggak miskin pulsa kan? Lo bener-bener nggak tau? Eh, tapi kok lo biasa aja pas gue kasih tau?"
Zhea tertawa, "Kagetnya udah kemaren. Sekarang udah biasa. Gue ini nginep di rumah Alva."
"HAH? LO NGAPAIN ZHE, AJAK AJAK GUE NAPA KALO MAU BIKIN BABY!"
Zhea menghela nafas pasrah, "Woy! Gue nggak sendirian. Ada William juga, kali."
"LO THR*ES*ME ZHE? ANJ*R BOKAP ANAK DIEMBAT SEMUA!"
"Capek ngomong sama omes nih," Zhea mendengus kesal, "Lo tau nggak? Koper gue ilang. Barang-barang gue ilang. Duit gue ilang. HP gue ilang. Jadi, Alva nawarin buat tinggal di rumahnya."
"Terus?"
"Ya gue hampir mati pas ngeliat William lah. Ya ampun, Sin. Gue bener-bener nggak habis pikir, g*bl*k banget tau nggak sih." Zhea menghela nafas panjang.
"Terus gimana, Zhe?"
"Gimana apanya?"
"Ya si daddy itu hot enggak?"
"Kalau gue ngomong nggak hot, tandanya gue lesbi."
Sindi tertawa.
"Terus dia nanya apa aja ke elo? Terus kalian gimana?"
Zhe tersenyum, mengingat kejadian yang ia lalui hari ini bersama William.
"Jadi lo mutusin buat sama William nih?" Lanjut Sindi
membuat Zhea mengerjap, "Hah?"
"Iya. Gimanapun, gue yakin William bisa bikin elo bahagia, tau!"
Zhea meneguk ludahnya, "Gue udah pacaran sama Alva."
Hening sesaat, hingga teriakan Sindi kembali terdengar.
"EH B*G*! LO UTANG BANYAK CERITA KE GUE!!!"
***
"Good morning, babe." Alva tersenyum seraya mencium puncak kepala gadis cantik itu, membuatnya tersenyum lebar.
"Today will be your first college day, eh?" Alva kembali menyahut yang dibalas anggukan semangat dari Zhea. Gadis itu menyiapkan pancake tiramishu yang baru saja ia buat untuk Alva, membuat mata Alva berbinar senang, "Kau tahu makanan kesukaanku?!"
Zhea mencibir, "Kau kan omnivora, pemakan segala."
Mendengarnya, Alva tertawa. Pria itu segera memakan pancake buatan Zhea yang rasanya sungguh lezat. Setidaknya, lebih lezat dari buatan Patricia, apalagi daddy-nya.
"Daddy kemana?" Tanya Alva membuat Zhea mengernyit bingung. Patricia bilang, William sudah berangkat ke kampus pagi-pagi sekali. Padahal Zhe berniat untuk membuat pancake madu kesukaan William, well, hanya saja, setelah kejadian semalam, Zhe penasaran bagaimana sikap William kepadanya.
"Sudah berangkat." Balas Zhea seraya memakan pancake nya.
"Jam pertama, mata kuliah apa?" Tanya Alva membuat Zhea menelan pancake-nya dan menyahut, "Hukum Perjanjian Internasional."
"Hati-hati dengan Mr. Harison!" Alva tertawa, "Apa yang ia katakan waktu itu tidak main-main. Dia benar-benar pelit nilai. Sama sekali tidak pandang bulu."
Zhea tertawa, "Apakah dia kaku ketika mengajar?"
"Tidak kaku. Tapi, dia sangat serius. Sulit tersenyum. Dia sebagai dosen dan dia sebagai ayah sangatlah berbeda."
"Oh ya? Apa bedanya?"
Alva bergidik ngeri, "Dia ayah yang hangat, tetapi dia dosen yang mematikan."
Zhea tertawa, "Aku tidak percaya mereka akan takut. Kau tahu? Ketika aku berjalan dengan ayahmu, ada banyak pasang mata yang menatapku dengan pandangan membunuh. Maksudku, mereka tidak akan takut, justru akan terpesona, kan?"
Alva tertawa, "Kau benar-benar dipandang seperti itu?"
Zhea mengangguk.
"Ya Tuhan! Untung saja aku terlahir sebagai laki-laki. Coba bayangkan berapa banyak tatapan membunuh yang aku dapatkan hanya karena berjalan dengan ayahku jika aku seorang perempuan?"
Zhe tertawa.
"Tapi kau benar, sejahat apapun Mr. Harison. Gadis-gadis penggoda tetap menggodanya. Seriously. Apakah mereka tidak bisa mencari seseorang yang seumuran? I mean, ayahku bahkan lebih cocok menjadi ayah mereka ketimbang teman kencan!"
Kali ini Zhea tidak setuju. Maaf, Alva. Tapi ayahmu jauh lebih seksi darimu, itu sebabnya semua gadis berfantasi padanya. Gerakan mengungkap kekerasan seksual demi menghapuskannya. Eh, apa? Maksudku, kecuali, aku.
Tidak hanya ketika berjalan bersama William, namun, ketika ia berada di samping Alva pun, Zhe harus rela menerima tatapan menghakimi itu.
Bagaimana tidak? Terlihat betapa protektif nya sosok Alva Harison. Pria itu menggenggam tangannya begitu erat. Pria itu juga menatap tajam semua orang yang membuat Zhea tidak nyaman, yang justru mengundang tatapan tajam dari banyak orang lainnya.
"Kalau begitu, aku akan pergi. Sebentar lagi aku juga ada kelas." Ucap Alva lagi. Pria itu mencium kening Zhea, kemudian pipi kiri dan kanan Zhe. Perlakuan yang mampu membuat gadis-gadis menahan nafas ketika melihatnya. Alva tidak pernah mencium kening ataupun pipi. Alva hanya mencium bibir seorang gadis dengan begitu ganas dan lapar. Namun lihat betapa manisnya pria tampan itu?
Alva menepuk kepala Zhea yang hanya sebatas lehernya, kemudian tersenyum semakin lebar ketika menyadari sosok pria ber-jas dan ber-dasi di belakang tubuh Zhea. Pria itu terdiam, mematung dengan tatapan kaku.
"Your killer lecturer is already here," Alva berbisik sebelum menjauhkan kepalanya dari wajah Zhea. Membuat gadis itu membalik badan sehingga bisa melihat betapa gagahnya William dalam balutan jas. ****.
"Hey daddy!" Alva tersenyum lebar, yang justru ditatap tajam oleh pria maskulin itu.
"Maksudku, Selamat pagi, Tuan Harison." Alva tertawa sambil menoleh ke arah Zhea, "Tuh, lihat, kan. Dia dosen yang menakutkan. Jadi, berhati-hatilah dengannya, sweety."
Alva menepuk pipi Zhea, membuat gadis itu menatap horror ke arah Alva. Kekasihnya memang sudah gila.
"Alva Maximillan Harison!" Ucap Willian tegas, membuat Alva terdiam seketika.
"Pergi ke kelasmu atau kau dapat E!" Alva mendelik kaget mendengar ancaman William. Baiklah, ayah-nya tidak pernah main-main. Dulu, Alva pernah meremehkan pelajaran ayahnya dan berakhir dengan tidak lulus di mata kuliahnya. Dan sumpah, Alva tidak mau mengulang hal yang sama.
Pria itu segera berlari, meninggalkan Zhea yang tampak tertawa kecil.
"Apakah kau akan mengikuti pelajaranku atau berdiri disitu, Miss Florenza?" Ucap William tegas, membuat Zhe gelagapan dan memasuki kelas yang sudah penuh dengan mahasiswa. Seperti biasa, mereka menatap Zhea ketus dan tajam. Seolah ia adalah sampah yang harus disingkirkan.
"Oh ****, like son like father. Memangnya mereka siapa sih hingga membuat orang memandangku sehina ini!" Zhea menggerutu kesal, yang dapat didengar oleh William. Pria itu tersenyum sangat tipis, hingga bahkan sama sekali tidak terlihat bahwa ia sedang tersenyum.
William menyadari tatapan-tatapan mahasiswanya yang dapat membunuh Zhea, membuat pria itu berdehem singkat. Dan saat itu pula tatapan mereka sepenuhnya ke arah William.
William berdiri di sebelah Zhea dan berbisik, "Jika aku meletakkanmu di kursi paling belakang, jangan berpikir kau akan mengabaikan pelajaranku."
Zhe menatap William tidak mengerti. Bisikannya lebih terdengar seperti ancaman.
"Kau, rambut pirang!" William menunjuk seorang pria yang duduk paling pojok, membuat pria itu menunjuk dirinya sendiri.
"Pindah ke depan!" Lanjut William tegas. Pria itu hampir saja protes namun terhenti oleh tatapan mematikan William.
William memerintahkan Zhea untuk menduduki kursi yang tadi diduduki oleh pria berambut pirang tadi.
Serius, semua mata tertuju pada Zhea ketika gadis itu berjalan menuju kursi itu.
"Aku tidak punya waktu untuk acara berkenalan. Jadi, simpan wajah-wajah penasaranmu dan perhatikan pelajaranku."
Dan sedetik kemudian, semua orang sudah memperhatikan William. Will yang tampak serius di depan sana, membuat Zhe merasa beruntung bisa duduk di belakang. Jadi, Zhe bisa memperhatikan wajah serius William yang selalu Zhea sukai.
Pria ini benar-benar profesional. Seperti kata Alva, pria itu begitu hangat jika di rumah, namun ketika di kampus, William akan berubah menjadi sosok yang tegas, dingin, dan mematikan, tanpa memandang bulu. Dan serius, Zhe begitu kagum dengan sifat William yang seperti itu. Membuatnya terlena akan pesona William. Pria seksi itu.
"Apa kau akan terus menatapku dan membiarkan catatanmu kosong?" Zhea tersentak ketika mendengar bisikan di telinganya.
"Ya Tuhan!" Zhea berdecak lirih, menyadari sosok Jonathan sedang membungkukkan badannya di sebelah Zhea. Tanpa seulas senyum sedikitpun.
"Teruskan saja dan kau tidak akan lulus di mata pelajaranku."
Zhea mengerjap. Tidak sakit hati, gadis itu justru tersenyum dan menepuk pipi William singkat. Membuat pria itu menatapnya sangat tajam. Oh, menggoda William begitu menyenangkan.
"Mr. Harison, bisakah aku bertanya?" Will mengangkat tubuhnya menjadi tegak dan menghampiri mahasiswa-nya yang mengacungkan tangan. Membuat Zhea tersenyum geli melihat kemampuan William untuk mengubah keadaannya secepat itu.
Entah mengapa, jam pelajaran William berlalu begitu cepat. Dan Zhea bahkan tidak mendapatkan apa-apa selama 2 jam. Bagaimana tidak? Ia hanya melihat William berbicara dengan tatapan tegasnya. William terlihat sangat seksi dibalik jas yang ia pakai. Dan Zhea bersumpah, ini adalah pertama kalinya ia mengabaikan pelajaran yang begitu ia sukai.
"Baiklah. Makalah harus terkumpul besok sebelum jam 12 siang. Dan aku tidak mentolerir segala bentuk keterlambatan." Ucap William. Semua mahasiswa mengeluari ruangan, meninggalkan Zhe yang memang sengaja memperlambat acara beres-beresnya untuk membarengi William.
"Kau sangat tidak fokus." Ucap Will ketika Zhe berjalan di dekatnya. Membuat Zhe mendengus oleh sikap kaku William. Kau yang membuatku tidak fokus, daddy.
"Selamat siang, Mr. Harison." Zhe tersenyum dan mengeluari ruangan. Membuat William terkekeh kecil. Zhe sangat cantik dibalik dress orange yang ia pakai. Bibir pink Zhea seolah mengundang William untuk mencicipinya.
Pria itu berjalan di belakang Zhea. Dan ketika sudah berada di depan pintu, William berhenti sejenak untuk melihat punggung Zhe yang berjalan ke arah kiri. Berbeda dengannya yang akan berjalan ke arah kanan.
Namun pandangan William menyipit ketika tepat beberapa meter di depan Zhea, dia melihat beberapa gadis tampak membawa ember besar berwarna hitam. Oh ****. Zhea bahkan tidak menyadari itu karena sibuk dengan ponselnya.
BRUK.
Zhea tiba-tiba terjatuh ketika bola basket yang entah darimana asalnya mengenai kepala Zhea, membuat gadis itu merasakan kepalanya yang berputar-putar.
William mengarahkan pandangannya ke Zhe yang terjatuh dengan memegang kepalanya, di mana ketika gadis-gadis itu berlari ke arah Zhe, ya. Mereka dengan jelas-jelas menjadikan Zhea sebagai sasarannya.
Dengan cekatan, William berlari menuju gadis bergaun orange yang sedang terduduk memegangi kepalanya. Dalam sekian detik, William dapat mengubah posisinya untuk berada di depan Zhea. Membuat Zhe tersentak menyadari William yang berdiri di depannya.
"Apa,"
BYUR!
Zhea mendelik kaget ketika suara guyuran air terdengar begitu dekat, membuat pria tampan di hadapannya menutup matanya sejenak. Demi Tuhan. William baru saja berdiri di depan Zhea dan membiarkan punggungnya terguyur air!
"****!" William membuka matanya yang seolah terbakar oleh api amarah.
Zhea masih terdiam di tempatnya dengan mulut terbuka. Dia bingung dengan apa yang terjadi, namun tidak bisa berpikir apapun karena kepalanya yang teramat pusing.
William menyejajarkan tubuhnya dengan tubuh Zhea dan menyentuh pipi gadis itu, "Kau tidak apa-apa?"
Zhe masih terdiam. Tidak bisa menjawab apapun karena kepalanya yang semakin pusing. William geram, pria itu berdiri dan berbalik arah, menatap tajam gadis-gadis yang mengguyurnya dengan tatapan paling mematikan yang pernah ia tunjukkan. Tatapan yang dengan telak membuat gadis-gadis itu bergidik ngeri. Benar-benar tidak menyangka bahwa sasarannya justru terkena Mr. Harison, dosen paling killer sekaligus paling hot di kampus mereka.
Dan ketika hendak memarahi gadis-gadis itu, William mendengar teriakan Zhe yang membuatnya tersentak. William berbalik, matanya membulat ketika melihat beberapa mahasiswa sudah siap melempari Zhea dengan telur-telur yang mereka bawa. William ingin membentak, namun terlambat. Telur-telur itu sudah melayang ke arah Zhe, dan..
"****!"
William mengerjapkan matanya ketika melihat sosok Alva yang memeluk tubuh Zhe, sehingga telur-telur itu justru mengenai suiter hitam Alva. Alva mencium kening Zhea sekilas, kemudian berdiri untuk melepas suiter nya. Pria itu menatap tajam pria-pria yang sengaja melempar telur itu, seraya melempar suiter hitamnya dengan kasar ke arah mereka.
"Cari masalah, hah?!" Bentak Alva membuat mereka ketakutan, terlebih ketika William ikut menatap mereka dengan tajam.
"Maafkan aku. Aku hanya mengikuti perintah. Aku hanya,"
Alva menarik kerah salah satu dari mereka hingga membuatnya tampak tercekik.
"Aku hanya disuruh Chloe Rosabell!"
Melihat suasana yang panas, William memanggil, "Alva Harison!"
Alva tidak peduli. Pria itu benar-benar marah besar.
"Dad, bawa Zhea pulang. Aku yang akan menyelesaikan semua ini." Ucap Alva. Dan William menyadari betapa marahnya Alva dari nada bicaranya yang tegas dan tidak main-main.
William melepaskan jas-nya yang basah, menyisakan kemeja putih lengan panjang yang memperlihatkan otot kekarnya.
Dan tanpa diduga, pria itu berjongkok untuk mengangkat tubuh mungil Zhea di dekapannya. Meninggalkan teriakan tertahan, pandangan kesal, tatapan tajam dari para gadis-gadis yang iri dengan Zhea.
Bagaimana tidak? Dosen dan mahasiswa paling hot di New York University, ayah dan anak, William Maximillan Harison dan Alva Maximilan Harison. Keduanya begitu melindungi sosok gadis beasiswa dari Indonesia, hingga rela membuat dirinya basah dan bau amis.
Alva akan membuat perhitungan dengan mereka yang mencelakai Zhea. Dan William, dosen paling killer itu justru menggendong tubuh Zhea ala bridal style.
Jika memiliki puluhan pria sebagai malaikat pelindungmu adalah hal biasa, Zhea justru memiliki dua malaikat pelindung yang tidak biasa.
Katakan, gadis mana yang tidak ingin menjadi Azhalea?