Sweet Child OR Hot Daddy

Sweet Child OR Hot Daddy
Cara Berbeda



Jika orang lain akan memberi bunga, coklat, atau menyanyikan lagu romantis untuk membuat gadisnya memaafkan perbuatannya, maka Alva berbeda. Jika orang lain akan memberikan perhatian secara terang-terangan pada gadis yang disukainya, maka Alva juga berbeda. Jika orang lain akan membuat gadisnya merasa seperti tuan putri di hadapan rakyat jelata yang memperhatikan mereka, sekali lagi, Alva berbeda.


Alva Harison lebih suka menatap gadisnya dari jauh, menghindar dengan senyuman, memberikan perhatian dalam diam, dan membuatnya merasa spesial tanpa ia tahu bahwa Alva-lah yang ada dibalik itu semua.


Setidaknya, inilah sosok Alva dalam sebulan terakhir.


ya. Sebulan sudah berlalu sejak kejadian yang ia lakukan pada Zhea. Dan juga sudah berlalu, sejak ia menjadi sosok Alva yang baru.


Alva yang punya rasa juang tinggi demi impian terbesarnya. Azhalea Putri Florenza.


Sore ini, hujan tampak turun dengan indahnya. Membuat Alva semakin tersenyum demi melihat gadis yang tengah termenung menunggu berhentinya hujan.


"Dude, ini payung yang kau minta." Ucap Richard seraya menyerahkan payungnya kepada Alva. Membuat pria itu mengucapkan terima kasih seraya berlari ke arah Zhea.


Richard memperhatikan apa yang Alva lakukan dari kejauhan. Ya, pria itu tengah berdiri di sebelah Zhea yang sedang asyik bermain ponselnya. Kemudian dengan sengaja meninggalkan payung itu di sebelah Zhe, dan kembali ke arah Richard. Membuat pria berambut pirang itu menghela nafas akan perbuatan Alva.


"Sampai kapan terus melakukannya secara diam-diam, bro?" Ucap Richard. Pria itu menggelengkan kepalanya, "Sudah satu bulan. Dan dia sama sekali tidak bisa luluh, dan tentu saja. Bagaimana bisa dia luluh jika kau tidak membiarkannya tahu?"


Alva tersenyum, "Yang terpenting untukku saat ini adalah membuatnya bahagia. Aku sudah cukup merasa bodoh telah menyakitinya secara terang-terangan. Dan aku akan merasa lebih bodoh jika mengemis permintaan maaf darinya secara terang-terangan pula."


"Dude, aku tidak mengerti dengan pemikiranmu." Ucap Richard seraya menatap penuh Alva yang masih tidak bisa mengalihkan pandangannya ke arah Zhe, "Kau melakukan sesuatu yang sia-sia. Bukankah kau? Jika kau tidak membiarkannya tahu, maka dia tidak akan pernah tahu, bro. Memangnya dia punya semacam ikatan batin untuk tahu semua hal manis yang kau lakukan?"


Alva tersenyum. Hal yang sia-sia? Tidak. Kejadian tadi pagi membuat Alva sadar bahwa Zhea sudah mulai melihat lagi keberadaannya.


"Come on, kau mau pergi lagi? Kenapa kau jadi jarang sarapan di rumah, sih?" William menggerutu ketika Alva hendak berpamitan. Hal itu membuat Zhe menatapnya dengan senyuman lebar.


ya.


Zhea menatap Alva dengan senyuman lebar, bukan lagi tatapan ketakutan dan tidak nyaman yang biasa gadis itu tunjukkan jika Alva ada di dekatnya.


"Daddy benar, Alva. Seharusnya kau lebih sering makan bersama di rumah. Lihat, aku sudah membuat pancake tiramishu kesukaanmu."


Itu adalah ucapan terpanjang pertama dari mulut Zhe yang Alva dengar setelah kejadian sebulan yang lalu. Kalimat yang membuat Alva tersenyum begitu lebar.


"Ku pikir, aku akan makan di rumah." Senyuman Alva melebar. Pria itu duduk di sebelah Zhea, membuat gadis itu tampak tersenyum dan mulai memberikan sepiring pancake kepada Alva. Membuat pria itu memakan dengan lahap pancake buatan Zhea.


"Ya ampun, lihat, Daddy. Anakmu makan seperti anak kecil."


Zhea terkekeh seraya mengambil selembar tisu untuk membersihkan sudut bibir Alva.


Perlakuan sederhana yang cukup membuat Alva seolah teraliri listrik yang dahsyat. Yang mampu membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.


***


Dari: hot daddy


To: Zhea


Aku sudah selesai rapat. Kau dimana? Hujan deras, tunggu aku!


Zhe tersenyum lebar membaca pesan dari pria yang sudah sebulan ini membuatnya tersenyum tidak jelas baik pagi, siang, sore, maupun malam. Demi Tuhan, jika menyangkut tentang William, Zhea akan bertingkah seperti orang gila.


Gadis itu menatap sebuah payung yang terletak di sebelahnya. Payung yang ditinggalkan oleh sosok Alva, yang meskipun Zhea pura-pura tidak tahu, Zhe jelas tahu jika itu perbuatan Alva.


"Terima kasih, Alva." Gumam Zhea seraya membawa payungnya dan berlari menuju gedung sebelah, tempat Willian melakukan meeting. Gadis itu semakin tersenyum lebar ketika melihat tubuh tegap William sedang berjalan ke arahnya.


"Ayo pulang!" Ucap Zhe, membuat William tersenyum dan mengusap kepala gadis itu.


"Alva lagi ya, ini?" William terkekeh melihat payung yang sedang Zhea bawa, membuat gadis itu tertawa geli, "Alva sungguh manis. Dia benar-benar berusaha, daddy. Aku tidak bisa membencinya dengan segala sifat manisnya."


Serius. William ingin membekap mulut Zhe agar gadis itu tidak lagi membicarakan tentang pria lain di depannya. Namun, William lebih memilih untuk tersenyum, "Baguslah jika kau sudah mulai membuka hati untuknya lagi."


Zhea mengangguk seraya mendekap payung pemberian Alva ketika mereka sudah masuk ke dalam mobil.


"Dad, aku sudah dapat uang beasiswanya. Ku pikir aku,"


"Zhea, aku berubah pikiran. Kau harus membayar hutangmu tentang baju-baju yang kala itu."


Mata Zhea tak percaya, "Apa?!"


"Ya, bayar sekarang. Aku butuh uang." Ucap William seraya menengadahkan tangannya. Membuat Zhea menghela nafas dan memberikan semua uang yang baru ia dapatkan tadi.


"Aku sangat menyesal bahwa kau tidak bisa menyewa apartment untuk bulan ini," William menatap gadis itu prihatin, membuat Zhea mengangguk-angguk, "Apa kau berniat mengusirku? Aku bahkan tidak punya niat untuk mencari apartment baru."


Mata William membulat dan berbinar-binar, "Hah?! Benarkah?"


Zhea terkekeh, "Mana bisa aku meninggalkan pria setampan.."


"Setampan Alva." Lanjut Zhea dengan cengiran lebar yang mampu membuat William tampak menatapnya kesal.


"Ya, ingat saja Alva dan segala perbuatan manisnya itu!" Zhea tertawa seraya mencium pipi William. Menggoda William menjadi moodboaster tersendiri bagi Zhe.


"Aku bercanda, daddy. Duh, kau tampak menggemaskan ketika cemberut. Membuatku ingin memakannya bulat-bulat." Goda Zhe membuat William tertawa seraya mengecup singkat bibir Zhe.


"Aku tidak jadi butuh uang. Ini, ku kembalikan." Ucap William seraya meletakkan kembali uang yang sudah Zhe berikan, membuat gadis itu tampak menatap tak percaya ke arah William, "Ayolah. Aku juga berniat memberikannya kepadamu."


"Tabunglah untuk membeli keperluanmu. Atau terserah apapun itu." William menatap Zhea tajam, "Tapi, jika kau berani menggunakannya untuk menyewa apartemen, aku tidak akan segan-segan untuk menambahkan bunga 100% atasmu."


Zhea tertawa mendengar ancaman William. Membuat pria itu segera menjalankan mobilnya menembus hujan.


"Oh ya," Ucap William, "Besok malam, aku ada undangan pesta peresmian kantor cabang dari seorang pebisnis California."


"Lantas?" Tanya Zhe.


"Apa kau mau ikut?" Tanya William membuat alis Zhea terangkat. Well, pesta terakhir yang ia datangi adalah pesta membosankan sebulan yang lalu. Dan pesta itu berakhir dengan kejadian mengerikan. Sebenarnya, Zhea enggan untuk menghadiri pesta lagi.


Namun mengapa tidak?


"Ajak Alva juga, ya?" Tanya Zhe. Pertanyaan yang mampu membuat William membulatkan matanya, "Kenapa jadi Alva?!"


Zhea menyipitkan matanya, "Jane pasti ikut, kan?"


Pria itu berdehem, "Karena pebisnis California itu adalah mantan bos Jane, jadi, Jane pasti ikut."


Zhea menyipitkan matanya, "Kenapa kau jadi kenal dengan mantan bos Jane? Demi Tuhan, apakah kau sering mengantar jemput Jane hingga tidak sengaja berkenalan dengan bos-nya, kemudian bos itu juga mengundangmu karena ia mengira kau adalah suami Jane?!"


William menganga, "Ya ampun, Zhe. Kau ini bicara apa, sih?"


"Lantas apa?! Kenapa pebisnis California bisa mengundangmu?!" Ucap Zhea kesal.


"Aku pernah menjadi pembicara pada acara bisnisnya. Dia menyukai materiku, jadi dia mengenalku." Ucap William.


"Lalu, kenapa kau tahu dia adalah mantan bos Jane?"


"Ya ampun, apa aku sedang berbicara dengan polisi?!" William memutar bola matanya karena Zhea yang tidak berhenti memberinya pertanyaan.


"Jawab aku!!"


"Fine!" William mendengus, "Aku mengenal Jane dari acara itu."


"Lalu? Jane tertarik padamu dan mengikutimu ke New York?! Kau bahkan tidak pernah bercerita apapun tentang Jane padaku, Will!" Ucap Zhe kesal.


"Kenapa Jane harus tertarik padaku jika mantan bos nya bahkan jauh lebih tampan dan muda dari aku." Balas William membuat Zhea memberengut. Pertanyaan yang sama yang harus Zhea tanyakan pada dirinya sendiri. Kenapa aku menyukai bibir William yang ******* bibirku, padahal ada puluhan pria muda yang lebih menarik untuk ku cium?


"Zhe, kau terdengar seperti pacar yang sedang cemburu. Ayolah," Zhea menatap William kesal, "Kenapa aku harus cemburu?! Tidak!!"


Gadis itu meraih ponselnya dan menelepon Alva yang langsug diangkat oleh pria itu.


"Alva, apa kau sibuk besok malam?" Tanya Zhea membuat William menatapnya dengan pandangan protes.


"Tidak, memangnya kenapa?"


Zhea tersenyum, "Daddy akan ada pesta, ku pikir kita bertiga bisa pergi bersama?"


****. William mendesah kesal.


"Tentu saja! Aku akan datang!"


Zhe tersenyum lebar, "Baiklah. Cepat pulang, ya! Hati-hati!"


Tepat setelah gadis itu mengakhiri panggilannya, William mendesah kesal, "Aku hanya ingin mengajakmu, Zhe. Demi Tuhan!"


Zhea memutar bola matanya, "Lalu meninggalkanku agar kau bisa berciuman dengan Jane lagi?"


William menganga, "Apa?!"


Baiklah. Jika Zhea sudah menyinggung tentang kejadian itu, maka artinya, William sudah kalah.


Pria itu mendesah pasrah, namun tertawa kecil.


Dia bahkan tidak pernah berhubungan dengan Jane lagi, demi menjaga perasaan gadis kecilnya.


***