
"Daddy, berhenti menggodaku, dan bersyukurlah aku tidak ada di dekatmu," Zhe menggigit bibir bawahnya.
"Memangnya kenapa kalau kau ada di dekatku?" William tersenyum tipis, membuat mata Zhe menyipit.
"Kau akan habis denganku," Zhe sengaja membungkuk dan memajukan wajahnya ke layar laptop, hingga belahan d*d*nya pun tercetak dengan jelas. Hal itu membuat dada William berdesir, namun tentu saja ia memilih untuk tersenyum.
"Tubuhmu bahkan seperempat dari tubuhku." William tertawa, membuat Zhe menjauhkan wajahnya dan mendengus.
"Aku akan dengan mudah menggendongmu dan melemparmu ke sungai." Will terkekeh, membuat Zhe mendelik kesal,
"Well, Azhalea, kau sudah semester 3 dan ku pikir IPK-mu selalu bagus." William memegangi dagunya, membuat Zhe tersenyum lebar dan menepuk dadanya bangga,
"Kau harus tahu bahwa aku cukup cerdas," ucap Zhe
"Bagus. Kau tidak mau mengambil beasiswa?" Tanya William.
Pertanyaan yang membuat Azhalea mengerjapkan matanya. Mengambil beasiswa? Tentu saja. Zhe mau! Dia benar-benar ingin segera menjauh dari rumah yang hanya bisa memberinya luka mendalam.
Tapi Zhe juga tahu bahwa mengambil beasiswa tidak akan semudah yang ia bayangkan. Katakan Zhe memang lolos, tapi bagaimana dengan kepindahannya? Ayahnya juga tidak akan mengizinkan Zhe semudah itu.
"Kau tidak mau?" Tanya William lagi.
"Bukan begitu, daddy. Hanya saja, banyak yang harus dipikirkan." Zhe menghela nafas. Dia benar-benar ingin pergi dari tempatnya menetap saat ini.
"Baiklah, aku akan mengirim berkas-berkas mengenai beasiswa ini ke e-mail mu." Mendengar itu, Zhe mendongak dan menatap William bingung.
"Tidakkah aku pernah memberitahumu tentang beasiswa yang dikeluarkan oleh New York University?"
"Ya. Ku pikir kau sedang bercanda." Zhe masih mengkerutkan dahinya, membuat Will tertawa di seberang sana.
"Dasar bodoh. Aku menawarimu."
"Aha, mahasiswamu pasti iri karena dosen besarnya menawariku secara langsung. Apakah aku beruntung?" Zhe menyeringai.
"Mereka lebih merasa iri karena pria fantasi mereka lebih melihatmu yang tidak terlalu menarik untuk dipandang." William mengedipkan matanya, membuat Zhe mendelik kesal dan bersiap-siap melemparkan bantalnya jika saja ia tak mengingat bahwa melempar sesuatu hanya akan merusak laptopnya.
"Dasar pria tua menyebalkan!" Teriak Zhe yang justru membuat William tertawa terpingkal-pingkal.
***
Zhe menghela nafas ketika selesai membaca berkas-berkas mengenai beasiswa yang dikirim oleh William. Benar-benar menggiurkan. Beasiswa itu terdiri dari biaya pendidikan hingga selesai S1, uang bulanan untuk rumah tinggal dan makan-minum, serta uang jajan $50 per minggu. Dalam berkas tertulis bahwa Zhe harus mengikuti 4 tahap seleksi. Yang pertama adalah seleksi IPK yang sudah pasti bisa dilewati Zhe dengan baik, karena IPK Zhe memang selalu baik. Yang kedua adalah seleksi toefl, setidaknya nilai toefl terakhir Zhe adalah 750. Yang ketiga adalah seleksi akademik, yang terdiri dari seleksi tulis, lisan, dan berkelompok yang akan diadakan sekitar 2 bulan lagi. Baiklah, Zhe masih bisa memperjuangkannya. Dan terakhir adalah seleksi wawancara yang merupakan tahap terakhir.
Eh tunggu apakah Zhe akan benar benar mengikutinya!
Zhe memainkan kedua matanya di depan layar, menjulingkannya, kemudian memutarnya ke atas, bawah, samping kanan, samping kiri. Membuat sosok pria paruh baya yang masih sangat tampan di depannya tertawa kecil. Zhe memang ajaib. Gadis itu mampu menciptakan senyum di wajah William hanya dengan hal-hal sekecil itu.
"Jadi, kau tidak ada kerjaan?" Cibir William membuat Zhe mendengus kesal.
"Daddy! Ini malam minggu, buat apa aku harus mengurus kerjaanku!" Balas Zhe kesal.
"Maksudku, gadis kecilku, apakah tidak ada yang mengajakmu keluar malam ini, sayang?"
"No one daddy," Balas Zhe cepat, dan bohong. Tentu saja, siapa yang tidak akan mengajak si mungil bertubuh seksi ini untuk bersenang-senang di club? Walaupun Zhe tidak cukup terkenal di kampus, namun di luar kampus, gadis ini cukup hangat diperbincangkan.
"No one? Are the guys there blind?" Balas William membuat hati Zhe berbunga-bunga. Ayah kandungnya bahkan tidak pernah memujinya seperti ini.
"Are you?" Balas Zhe dengan tertawa.
"Menyindirku, huh?" Senyum William melebar,
"Indonesia. How can you girls becomes this sweet. That makes me wanna eat her."
"Don't say. Just do." Zhe mengerlingkan matanya, membuat William tersenyum semakin lebar. Orang gila mana yang akan tersenyum begitu lebar di depan layar laptopnya? Tentu saja William orangnya.
"Azhalea." Panggil William. Pria itu menarik nafas panjang seraya memperhatikan sosok Zhe di depannya. Zhe yang begitu cantik dengan kulit putih bersihnya. Zhe dengan dada yang membusung, paha dan lengan yang mulus, serta bibir yang menggoda. William bahkan tidak percaya apakah gadis ini benar-benar nyata atau hanya boneka berbicara.
"Yes, daddy?" Zhe tersenyum manis seraya menjilat bibirnya, membuat William lagi-lagi harus menahan gejolak dalam tubuhnya.
"Kau sangat seksi." Erang William "Bersyukurlah bahwa aku tidak ada di sekitarmu."
"So are you." Balas Zhe, lagi-lagi gadis itu memainkan bibirnya. Membuat pria paruh baya di seberang sana mengerang tak tahan.
"Zhe." Panggil William lagi. Kali ini alis Zhe terangkat, "Ya, ayah?"
"Siapa aku untukmu?"
Zhe tersenyum, "Kamu adalah ayahku."
"Hanya itu?"
"Kamu adalah ayah terbaik yang aku miliki."
"Hanya itu?"
"Aku tahu mungkin aku berlebihan, aku bahkan tidak pernah bertemu denganmu secara langsung. Maksudku, kita jauh, dan kita hanya bisa berbicara melalui laptop. Kita saling berbicara selama beberapa bulan," Zhe menghela nafas dan tersenyum,
"but to be honest, I love you, daddy. I love you more than I love my own father."
William terdiam sejenak. Ada sebagian hatinya yang menolak kata-kata Zhe. Ada sebagian besar yang menolak bahwa Zhe hanya menganggapnya sebagai ayah, menggantikan ayah kandungnya yang terlalu berlaku jahat kepada Zhe.
"Just it?" Ucap William lirih, membuat alis Zhe lagi-lagi terangkat.
"Kenapa kamu begitu sedih? Kamu tidak senang mendengar semua yang kupikirkan tentangmu?"
William menghela nafas, aku tidak bahagia, Zhe.
"Just it?" Balas William yang dengan seketika membuat Zhe menghela nafas panjang.
"What's again, daddy? I love you, I really do. Bahkan jika kau memintaku untuk terjun dari lantai seratus, aku akan melakukannya. Maksudku, aku benar-benar akan melakukan apapun yang kau minta, Dad. Aku anggap, hanya kepadamu-lah aku mau melakukan ini."
"You don't know what you are talking about, sweetheart." William menjambak rambutnya dan mengerang kesal. Bagaimana bisa Zhe mengatakan itu dengan begitu mudahnya? Melakukan apapun untuk William? Bagaimana jika William ingin sesuatu yang buruk terhadap Zhe?
"Ayah, ada apa denganmu? Katakan siapa yang membuatmu seburuk ini,"
"You." William menegakkan kepalanya dan menatap wajah Zhe yang kebingungan.
"Like, what did I do, daddy!" Ucap Zhe kesal. Wajahnya memberengut. Ia benar-benar tidak mengerti apa-apa.
"Kenapa kau harus berkata bahwa kau akan melakukan apapun untukku ketika kau bahkan tidak bisa melakukannya?!"
"Daddy, I meant it. Apa masalahnya dengan itu?" Balas Zhe.
William menghela nafas, "Masalah. Tentu saja masalah!"
"Katakan padaku apa masalahnya"
"Cabut dulu perkataanmu, sebelum aku benar-benar membuatmu membenciku." Ucap William bersungguh sungguh.
"Apa yang,"
"Cabut ucapanmu yang akan menuruti segala kemauanku." Potong William tegas.
"Apa masalahmu, daddy? Aku benar-benar akan melakukan apapun untukmu. Aku sungguh-sungguh!" Zhe mulai berteriak. Membuat William menggeleng,
"Kau tidak bisa mengatakannya! Kau sungguh-sungguh tidak bisa!"
"Aku bisa!" Bentak Zhe Matanya menajam, "Aku bisa melakukannya! Aku akan melakukannya! Aku benar-benar akan menurutinya!"
"Azhalea!"
"Katakan apa maumu!" Zhe menatap pria itu sungguh-sungguh. Membuat pria tampan tersebut mengerang seraya menjambak rambutnya frustasi.
"Kau tidak akan bisa me,"
"Aku bisa, William! Katakan apa maumu!"
"I WANT YOUR NAKED BODY JUST NOW. I WANT YOU TEASING ME LIKE A SWEETY ***** SINCE THE DAY I SAW YOU! YOU KNOW WHAT? I M*STURB*TED OVER YOU, I REALLY DO. BUT I WAS JUST LIKE, GOSH SHE WANTED ME TO BE HER DADDY NO MORE!!" Bentak William. Kata-kata itu meluncur begitu saja, membuat gadis cantik itu mengerjapkan matanya berkali-kali. Apakah Zhe salah dengar? Ya, Zhe benar-benar punya masalah dengan telinganya.
"See? I am no more a jerk. Then, leave me now." Suara William merendah. Pria itu mengulurkan tangannya untuk menutup laptop yang ia gunakan untuk ber-videocall ketika tiba-tiba Zhe melucuti pakaiannya, menyisakan br* dan g-string yang melekat indah di tubuh mungilnya. William membulatkan matanya tak percaya.
William tidak percaya karena Zhe benar-benar menuruti perkataannya yang tidak masuk akal.
"You are crazy, Azhalea." Entah apa yang membuat william menegang, yang ia tahu, sesuatu yang keras mulai memberontak di bawahnya
"I am your *****, daddy." Oh, demi Tuhan. Banyak sekali yang mengemis untuk disentuh oleh William, dan pria itu justru tergoda dengan gadis kecil di balik layar laptop itu?
"You are fucking crazy, Zhee." Erang William, membuat gadis itu tersenyum miring.
"Aku bersungguh-sungguh ketika mengatakan akan menuruti permintaanmu, daddy." Cercah Zhe.
"How can you trust me this easy? How if I sell your video to another people and make you really look like a *****?!" William tidak habis pikir. Dia benar-benar mengira bahwa Zhe adalah gadis yang bodoh dibalik kepintarannya dalam mendapatkan IP yang bagus.
"You won't do that." Zhee tersenyum manis. Membuat hati Will bergetar. Zhe benar. William tidak akan melakukannya. Entah apa yang membuat pria itu begitu menyayangi Zhe.
"Azhalea,"
"Daddy,"
Zhe menatap pria itu lekat-lekat, kemudian menjilat bibirnya sendiri secara bergantian atas dan bawah. Hal ini dengan telak membuat dada William bergejolak. Demi Tuhan, William benar-benar ingin meraup bibir itu. William ingin mencium Zhe ganas dan tak kan memberikan gadis itu celah bahkan hanya untuk sekedar bernafas. Sial, dia benar-benar panas.
"Aku milikmu malam ini, tanyakan saja padaku lebih banyak."
William tersenyum lebar. Kerinduannya dalam berhasrat benar-benar akan terpuaskan malam ini. Bukan karena berhubungan dengan wanita-wanita di club malam. Bukan juga karena mahasiswi-mahasiswi yang suka menggodanya di kampus. Namun semua itu karena Azhalea. Gadis Asia yang bahkan lebih cocok menjadi anaknya ketimbang partner tidurnya.
******
Gadis itu membuka matanya perlahan ketika dingin terasa semakin menyengat kulitnya. Seingatnya, ia memakai baju hangat kesukaannya semalam. But, tunggu.
Mata Zhe melebar secara sempurna. Gadis itu menatap laptop yang masih menyala di depannya. Kemudian meraba tubuhnya yang... dibiarkan tanpa penutup apapun.
"Seriously, Azhalea?" Gadis itu berdesis seraya menatap layar laptopnya yang menampakkan suatu pemandangan indah, seorang pria paruh baya yang tengah tertidur tanpa busana.
"Who is this angel?" Zhe kembali berdesis, namun kemudian mengerjapkan matanya ketika ia sadar, "Daddy?!"
Oh, benar. Sekarang dia ingat. Semalam, daddy hot-nya itu, mengatakan imajinasi liarnya tentang Zhe. Kemudian, Zhe melepas semua bajunya. Kemudian, pria itu melepaskan bajunya juga. Kemudian, ia menyuruh Zhe melakukan berbagai perlakuan pada tubuh mungilnyai. Kemudian, pria itu memainkan bagian tubuhnya sendiri. Kemudian... Kemudian...
Wajah Zhe memerah secara sempurna.
Apa-apaan ini, Bitchy-Zhe?
Tapi.
Zhe menatap pria itu lagi dan lagi-lagi berdesis, "Kenapa pria setua ini bisa terlihat begitu indah?"
Ya. William sangat indah. Tubuhnya penuh tato, dadanya bidang, perutnya sixpack, ototnya menggoda, wajahnya tampan. ****. Sempurna. Pria itu adalah pria terseksi yang pernah Zhe lihat.
Namun kemudian, sekelebat bayangan masuk di pikiran Zhe. Bayangan yang mereka lakukan semalam. Bayangan yang membuat Zhe terlihat seperti, wanita kesepian.
"Oh ****, ini bodoh!" Zhe menggelengkan kepalanya seraya menjambak rambutnya. Demi Tuhan, dia benar-benar merasa bodoh telah membuka semuanya di depan William, meskipun tak secara langsung. Bagaimana jika... Bagaimana jika William itu orang jahat? Bagaimana jika pria itu diam-diam merekam videocall mereka dan menyebarkannya di internet? Zhe benar-benar akan mati. Wait, tapi entah kenapa, Zhe sama sekali percaya bahwa William tidak mungkin melakukan hal itu padanya. Ada hal yang lebih Zhe takutkan dari semua itu.
Bagaimana reaksi William terhadap Zhe setelah ini? Zhe yang selalu membangga-banggakan dirinya sendiri dengan kesucian yang akan ia jaga sampai ia menikah, kini tampak terlihat murahan dengan membiarkan orang asing yang ia kenal di internet melihatnya. Bagaimana tanggapan Will? mengingat Will tetap mau berteman dengan Zhe? mengingat William...
Memikirkan itu, entah mengapa Zhe tiba-tiba menangis. Bukankah hal itu memang mungkin? William adalah pria yang menakjubkan. Meskipun pria itu mengaku tidak pernah melakukan hubungan apapun setelah istrinya meninggal, tapi, kenapa Zhe harus percaya? William saja memiliki imajinasi liar terhadap gadis pendek dan tidak menarik sepertinya, apalagi dengan gadis-gadis di New York? William pasti menilai Zhe sama saja dengan mereka yang menggodanya.
"Daddy, I can't..." Bisik Zhe seraya menundukkan kepalanya. Air mata kembali turun. Ya, ini memang tidak mungkin. Ini memang salah. Ini tidak bisa dilanjutkan. Hubungan ini, memang harusnya tidak ada.
Zhe menghapus air matanya kasar, kemudian meraih laptopnya. Gadis itu memainkan jari-jarinya di atas laptop.
"Terima kasih telah menjadi ayah dan teman terbaik sekali. Tapi, aku minta maaf."
Akun chat Anda telah dihapus.
Akun skype Anda telah dinonaktifkan.
Akun email Anda telah dihapus.
Akun whatsap anda telah dihapus.