Sweet Child OR Hot Daddy

Sweet Child OR Hot Daddy
pelajaran dan penyesalan



"Dude, the hell, kau masih disini?" Richard tersentak ketika melihat Alva yang masih tiduran di sofa tempat mereka berkumpul. Sudah tiga hari Alva tidak pulang ke rumah, dan sama sekali tidak memberitahunya apa penyebabnya. Yang ia tahu, malam itu, dia meminum habis sisa botol vodkanya padahal menolak mentah-mentah sebelumnya.


Alva tidak membalas ucapan Richard melainkan melihat kotak makan yang dikirimkan oleh ayahnya kemarin. Well, kotak makan itu sudah bersih karena Alva memakan keseluruhan isinya.


"Kau kenapa?" Tanya Richard, membuat Alva menghela nafas dan bangun dari tempatnya tertidur, "Aku membuat ayahku marah."


"Oh, jadi karena itu kau tidak pulang ke rumah? Ku kira gara-gara apa." Ucap Richard manggut-manggut. Bagi Richard, William yang marah pada Alva adalah hal yang biasa. Richard tahu bagaimana watak keras William. Bahkan, meskipun Richard teman dekat Alva, pria itu masih segan jika harus berada dalam satu ruangan yang sama dengan dosen paling killer itu.


"Dude, bagaimana jika orang tuamu menyukai kekasihmu?" Tanya Alva membuat alis Richard terangkat, "Tentu saja aku senang! Sangat sulit menyatukan pikiran orang jaman dahulu dengan orang jaman sekarang. Kau tahu, mantan-mantanku minta putus juga karena ibuku yang suka menyindirnya dan ayahku yang suka menatapnya tajam."


Alva menggeleng, "Bukan itu maksudku. Bagaimana jika.."


Ucapan Alva terhenti ketika lagi-lagi ia mengingat kejadian kemarin di supermarket. Dia melihat bagaimana dekatnya Zhe dan ayahnya. Dia melihat bagaimana William begitu menyayangi Zhea, bagaimana pria itu menenangkan Zhea ketika gadisnya menangis. Dia juga melihat bagaimana sentuhan tangan Zhe di pipi William dapat meredakan emosi pria itu. Semuanya terasa nyata. William seakan begitu melindungi dan menyayangi Zhea, lebih dari yang ia lakukan pada Alva. Atau... perlakuan William pada Zhe memang lebih dari apa yang seorang ayah lakukan pada anaknya?


"Jika apa, brother?" Suara Richard membuyarkan lamunan Alva. Pria itu menghela nafas dan kembali membaringkan tubuhnya di sofa.


Selang beberapa saat, Chloe dan Airin membuka pintu dan duduk di sofa yang sama dengan Alva, membuat pria itu meletakkan kakinya di atas paha Chloe.


"Alva, kau apakan wajah gadis beasiswa itu?"


Tanya Chloe dengan sedikit tertawa, membuat Alva menutup wajahnya dengan bantal.


"Aku melihatnya tadi pagi bersama Mr. Harison. Aku tidak tahu jika Mr. Harison bisa tersenyum selebar itu. Ah, jika saja dia meluluskanku tahun ini, aku pasti akan jatuh cinta kepadanya." Ucap Airin membuat Alva mendengus. Pria itu melempar kotak makannya kesal.


"Wait, kau bilang apa?" Richard duduk di atas meja yang menghadap Chloe. Membuat gadis itu mengangkat alisnya bingung.


"Tadi. Memangnya Alva melakukan apa pada Zhea?" Tanya Richard.


Chloe mengangkat bahunya, "Wajahnya lebam, bibirnya terluka. Itu yang ku lihat, lagipula aku tidak terlalu memperhatikannya."


Kini, Richard mengalihkan pandangannya ke arah Alva, seluruhnya. Pria itu benar-benar meminta penjelasan ketika Alva hanya mengatakan, "Aku sedang tidak mood. Diamlah."


"Apa yang kau lakukan padanya?!" Bentak Richard. Pria itu menarik kaos Alva hingga sahabatnya itu terduduk.


"Aku mabuk. Sudahlah, jangan ungkit masalah itu.." Desah Alva. Jawaban Alva sama sekali tidak membuat Richard puas.


"Gadis itu memang pantas mendapatkannya." Chloe menyahut sambil memainkan kuku jarinya yang berwarna toska. Membuat Richard menatap gadis itu tajam, "Apa maksudmu?!"


Chloe tertawa seraya menyerahkan sebuah video kepada Richard. Membuat Richard dan Airin melihatnya berdua.


"Ini tidak mungkin." Ucap Richard, membuat Alva mengangkat bahunya tak peduli.


"Gila! Tubuh Zhea bagus juga, ya!" Airin tertawa.


Richard kini berhadapan dengan Alva, "Kau tidak melakukan apapun padanya hanya karena itu, kan?"


Alva menatapnya tajam, "Hanya?!"


"Oh, jangan munafik, Alva. Kau bahkan lebih parah darinya. Kenapa kau harus marah hanya karena itu?"


Alva tersenyum sinis, "Dia milikku. Tidak ada yang boleh menyentuh barangku selain aku."


Richard mengangkat tangannya tak percaya, "Kau selalu menganggap wanita sebagai barang. Karena itulah aku memperingatimu untuk tidak mendekati gadis beasiswa itu!"


Alva menatap Richard tajam, "Kau melakukannya karena kau pikir dia berbeda. Tapi, kau lihat sekarang, kan?!"


Richard mendengus, "Setidaknya kau bertanya dulu alasannya."


Alva menjambak rambutnya, "Bagaimana bisa aku bertanya jika pada pertanyaan pertama, dia sudah berbohong."


Richard tidak menjawab. Pria itu mengangkat tangannya dan menghampiri teman-temannya yang dari tadi ada di dapur, "Terserah. Aku tidak ikut campur, dan silahkan sesali itu sendiri."


"Babe, aku punya ide." Chloe berkata, membuat Alva mendengus kesal karena pikirannya yang semakin kacau.


"Kita bisa menyebarkannya ke internet." Bisik Chloe membuat Alva tersentak. Namun, memikirkan kejadian di swalayan waktu itu, membuat Alva tersenyum sinis, "Lakukan semaumu, babe."


"Bahkan jika dia menjadi bahan cacian seluruh kampus, aku tidak akan peduli."


Chloe tersenyum lebar dan men-transfer video itu ke laptop yang ada di dalam ruangan. Chloe mengedit videonya dengan tulisan-tulisan seperti I am a ***** atau touch me free dan sejenisnya. Sesekali gadis berambut pirang itu tersenyum penuh kemenangan.


Richard kembali ke depan mereka dengan sereal di mangkoknya. Pandangannya tertuju pada laptop yang kini sedang di mainkan Chloe, membuat pria itu tersedak oleh serealnya sendiri.


"What the **** is this?!" Teriak Richard seraya menatap layar laptop Chloe, membuat gadis itu mendengus karena pekerjaannya terganggu, "Kau ini kenapa sih, tidak pernah mendukung sahabatmu sendiri?!"


Richard memandang gadis itu tak percaya, "Karena kau melakukan hal yang tidak penting!"


Chloe membentak, "Alva mengizinkanku!"


Mendengar itu, Richard menatap Alva tak percaya, "Apakah kau harus sekali mempermalukan Zhea dengan cara yang murahan seperti ini?!"


"Ketidakpedulianmu itu dapat menghancurkan gadis tidak bersalah, Alva Harison!" Bentak Richard.


"Tidak bersalah? Dia menghancurkan dunia ku! Dia menghancurkan kepercayaan yang telah kuberikan kepadanya! Dia menghancurkan egoku! Dia menghancurkan segalanya!" Bentak Alva.


"Kau gila!" Ucap Richard tak percaya.


Alva hanya tersenyum sinis dan mengambil alih laptop Chloe. Pria itu membuka aplikasi youtube dan menekan video yang baru saja di edit oleh Chloe. Membuat Richard merebut laptop itu dari tangan Alva.


"Kau?!" Alva berteriak geram. Pria itu hendak meninju pipi Richard ketika Richard lebih cepat meninju pipinya. Richard melempar laptopnya, dan mencengkeram kaos Alva, "Sadarlah, Alva! Sadarlah siapa yang akan kau lukai!"


Alva hendak mendorong Richard ketika pintu ruangan itu terbuka, menampilkan William Harison yang sedang membawa sebuah tas di tangan kanannya.


Kehadiran William membuat semua orang di ruangan itu tampak tersentak dan segera memberi hormat pada pria bertatapan tajam itu. Richard melepaskan cengkramannya dari kaos Alva, "Maafkan saya, Mr. Harison."


William tidak menjawabnya. Pria itu berjalan untuk mengambil laptop yang tadi dilempar Richard. Dia memainkan video yang sudah siap di upload, kemudian memejamkan matanya untuk menahan amarah. Video itu menunjukkan kejadian dimana William meninggalkan Zhe di club beberapa hari yang lalu. Membuat William sadar bahwa kemarahan Alva berasal dari situ.


"Ayah,"


William menggeram dan segera meninju pipi Alva hingga pria itu jatuh tersungkur. Membuat semua orang tampak terkaget. Tentu saja, William sedang memukul anaknya sendiri!


William duduk di perut Alva dan mencengkeram kaos pria itu, "Siapa yang mengajarimu jadi sebrengsek ini?!"


Alva tertawa, "Daddy mengatakan itu karena kekasihku sudah menggodamu, kan?"


William memukul pipi Alva sekali lagi, "Jaga mulutmu!"


"Apa aku salah?! Kau sudah lihat bagaimana jalangnya gadis itu! Tak bisa ditolak jika dia bisa saja bersikap ****** kepadamu!" Bentak Alva membuat William kembali memukul pipi Alva. Pria itu menarik tubuh Alva yang sudah limbung untuk berdiri.


"Dengar, kau tidak punya hak untuk berkata demikian. Dari awal, aku sudah memperingatkanmu. Jika kau sedikit saja menyakitinya, aku akan membunuhmu. Aku benar-benar akan membunuhmu!" Bentak William, membuat semua orang disana tersentak oleh kemarahan William. Mereka jauh lebih tersentak karena William memukuli anaknya sendiri demi seorang gadis.


"See? Guys? Lihat! Ayah kandungku sendiri mengatakan hal tersebut demi seorang gadis yang bahkan, ia baru mengenalnya beberapa hari yang lalu. Lihat betapa pandainya gadis ****** itu?!"


PLAK


William menampar wajah Alva dan menatapnya tajam-tajam.


"Malam itu, aku yang membawanya ke club. Dia tidak sendirian. Dia pergi bersamaku."


Alva tersentak mendengar ucapan William, "Maksudmu?"


"Zhea datang ke club bersamaku. Aku ada acara dengan temanku, dan aku membawanya yang tidak bisa ditinggal sendirian." Jelas William.


"Aku memakaikan jaketku, hingga tak ada seorangpun yang bisa melihat tubuhnya. Ku bilang, tidak ada seorangpun!"


"Dan jika kau menyalahkannya atas apa yang terlihat di video, kau salah. Kau salah besar, karena akulah yang membuatnya seperti itu. Aku meninggalkannya sendirian dan bersenang-senang dengan teman-temanku. Aku mabuk hingga aku lupa datang ke club bersamanya. Aku melupakannya dan membuat pria bajingan itu datang, memberinya minuman keras, memanfaatkannya. Aku yang salah!"


Alva terkaget mendengar penjelasan William. Bahkan, pria itu berkaca-kaca ketika menjelaskannya.


"Kau tahu betapa menyesalnya aku karena melupakannya? Kau tahu betapa merasa bersalahnya aku karena melihatnya dimanfaatkan oleh pria hidung belang di dalam club?!"


"Daddy.." Ucap Alva lirih.


"Dan kau tahu betapa sakitnya hatiku melihat keadaannya yang mengenaskan akibat anakku menyiksanya karena kesalahanku? Kau tahu, Alva?!" Bentak William membuat Alva melemas. Pria itu terjatuh ke sofa dengan perasaan yang sama sekali tak menentu.


"Aku menyuruhnya tidak menceritakan apapun padamu agar kau tidak perlu mempermasalahkan itu denganku. Aku,"


Alva menjambak rambutnya sendiri. Pria itu benar-benar merasa bodoh telah melakukan hal seperti itu padanya.


"****!" William mengumpat, "Melihatnya menangis membuatku ingin menonjok wajahmu."


Willkam mengambil tas yang tadi dibawanya dan melemparkannya di depan Alva, hingga isinya tercecer kemana-mana.


Alva menatap makanan kesukaannya, pancake tiramishu. Dan tentu, itu adalah buatan Zhe.


"Kenapa pula aku harus menurutinya untuk datang kesini dan mendengar omong kosongmu!" Bentak William.


Pria itu mengambil laptop Chloe dan menghapus semua video Zhe.


"Dengar! Jika video ini sampai tersebar, aku akan membuat perhitungan dengan kalian semua! Terutama kau, Alva!" William menatap wajah mereka satu persatu. Mereka yang tampak menunduk ketakutan melihat kemarahan William.


"Aku tidak peduli, dengan cara kotor sekalipun, aku akan membuat kalian semua dikeluarkan dari New York University. Dan tidak ada satu universitas pun yang akan menerima kalian." William membanting laptop itu dan berjalan mengeluari ruangan.


Meninggalkan mereka yang masih tersentak karena kemarahan Mr. Harison-mereka. Demi Tuhan, mereka belum pernah melihat Mr. Harison semarah itu. Sekalipun ia adalah dosen paling killer di kampus. Dan yang lebih mengagetkan, mereka juga melihat Mr. Harison.. meneteskan air mata?


"Stupid Alva!" Alva berteriak marah dan menjambak rambutnya sendiri. Membuat Richard menatap pria itu prihatin.


Yang ia takutkan, akhirnya terjadi.