Sweet Child OR Hot Daddy

Sweet Child OR Hot Daddy
Alva Maximillan Harison



***


Azhea Putri Florenza, gadis Indonesia 19 tahun yang semakin hari semakin memburuk, setidaknya, itulah yang ada dipikiran Sindi. Tetapi Sindi memang harus mengerti itu. Karena, siapapun yang ada di posisi Zhea, pasti akan mengalaminya. Bahkan, jika itu Sindi, gadis itu akan lebih memilih untuk bunuh diri, ketimbang menerima kenyataan bahwa satu-satunya sanak keluarga, yaitu ayahnya, dengan tega menjual dirinya sendiri demi uang. Adakah hal lebih buruk dari hal tersebut?


Namun, kejadian memalukan dan menjijikkan itu sudah berlalu. Berlalu, namun bukan berarti membeku. Terbukti bahwa Azhalea, gadis yang dulunya murah senyum dan ceria, kini berubah 180 derajat menjadi sosok pendiam, pemurung, dengan lingkaran hitam di bawah matanya. Azhalea hanya bicara sesekali, dan sedikit lebih banyak ketika hanya bersama Sindi.


45 hari sudah berlalu. Dan jika ada yang bertanya bagaimana kabar ayah biadab Zhe, maka benar, Salim kalang kabut mencari keberadaan Zhe. Pria itu bahkan pergi ke rumah Sindi dan mengacak-acak kediaman Sindi, yang langsung ditindaklanjuti oleh orang-orang suruhan ayah Sindi. Jangan salah, ayah Sindi adalah pengusaha besar di kota mereka. Jika ada sedikit saja yang berani menyentuh anak gadisnya, maka orang itu akan mati.


Selain itu, Salim juga mencari Zhe di kampusnya, namun, pihak kampus memberi keterangan bahwa Zhe sudah berhenti kuliah sejak saat itu. Karena sehari setelah kejadian memalukan itu, Zhe memang benar-benar mempersiapkan beasiswanya ke New York. Gadis itu mengurus passport, sembari mendatangi kantor kedutaan dan lain-lain. Zhe juga diharuskan untuk tinggal di asrama dengan beberapa penerima beasiswa lainnya dari berbagai kota di Indonesia untuk menjalani serangkaian kegiatan.


Dan sekarang, disinilah Zhea berada.



Bandara Internasional John F. Kennedy - Gerbang Kedatangan.


Jika kejadian laknat itu tidak pernah terjadi, maka, Zhe akan berbahagia seperti puluhan penerima beasiswa lainnya. Demi Tuhan, dia sedang menginjakkan kakinya di bandara Internasional JFK New York! Bandara yang menjadi impian bagi berjuta-juta manusia di dunia, dan diterima dengan cuma-cuma oleh Azhalea Pitri Florenza.


Namun, bagi Zhea, semuanya terlampau biasa. Perasaan senang di hatinya, entah mengapa sudah hilang tak tersisa. Tujuannya kemari bukan untuk belajar, bukan pula untuk bersenang-senang. Bagi Zhe, jika pergi ke New York bisa membuatnya jauh-jauh dari pengalaman kelamnya dan sosok pria biadab seperti Salim, maka, itu sudah lebih dari cukup.


"Seperti yang sudah dijelaskan, malam ini, kalian ber-15 tidur di asrama Universitas New York. Besok, jam 8, kalian har sudah siap karena kita akan melakukan Tour the University, yang dilanjutkan dengan pengambilan uang bulanan serta pengarahan lainnya. Apa kalian mengerti?" Seorang pria paruh baya berperut buncit tampak menyahut, membuat mereka mengangguk-angguk, "Siap, mengerti, sir!"


"Baiklah, silahkan masuk ke dalam bus, dan.. saya ucapkan, Welcome to New York!"


***


Zhea menguap untuk yang ke sekian kalinya. Semalam, dia tidak bisa tidur karena teman-teman sekamarnya tampak bergosip ria, dan-blablabla. Suara mereka hampir-hampir membuat Zhe kesal. Bukan karena terlalu keras, hanya saja, mereka terus menyindir Zhe dengan julukan anak sombong. Well, memang, sejak pertama kali mereka dipertemukan, hanya Zhe yang tidak bisa membaur. Zhe terlalu individual. Cantik, memang. Namun siapa yang tahan dengan wanita sesombong itu?


Tapi bagi Zhea, hal itu sama sekali bukan masalah. Dia tidak peduli bagaimana orang lain menilainya, karena mereka sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di kehidupan Zhe.


Gadis itu menatap teman-temannya yang tampak asyik berselfie, atau meminta teman lainnya untuk memfoto dirinya, melakukan berbagai macam pose, dan mengambil video. Begitulah, tipikal manusia jaman sekarang. Mereka akan berlomba-lomba mencari figure yang bagus untuk dipamerkan di sosial media. Dan hal itu membuat Zhea muak, walaupun kenyataannya, dulu dia begitu.


Zhe memilih untuk meninggalkan gerombolan itu dan melanjutkan sendiri perjalanannya. Satu hal yang mampu membuat Zhe betah adalah taman Universitas yang tampak begitu luas dengam pepohonan. Karena sedang musim panas, maka taman tersebut terlihat begitu hijau dan sejuk. Benar-benar suasana yang cocok untuk belajar.



Gadis itu memilih untuk duduk di sebuah bangku panjang seraya menatap teman-temannya yang masih sibuk mengambil gambar dengan kamera mereka masing-masing. Kemudian, pandangannya tertuju ke arah langit yang tampak cerah. Ia pun menghela nafas panjang. Baginya, New York itu mustahil. Dan saat ini, ia sedang mendapatkan kemustahilan tersebut.


Lalu pandangannya beralih ke samping kiri. Ia menatap seorang gadis yang kira-kira berumur 1 tahun lebih muda darinya, dengan seorang pria paruh baya yang tampak mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang. Kemudian gadis itu tampak mengkerucutkan bibirnya seraya menepuk tangan si pria tua, dan mereka tertawa bersama. Tanpa bertanya pun, semua orang tahu bahwa mereka adalah ayah dan anak.


Ayah dan anak, yang selayaknya bersikap sebagai ayah dan anak.


Dada Zhe mendadak sesak. Matanya pun memanas,


hingga ia sama sekali tidak sadar tentang air matanya


yang mulai menetes.


"Don't cry, Zhea, don't!" Oliv berbisik pada dirinya sendiri, seraya menggigit bibir bawahnya keras-keras. Namun, semua tampak sia-sia ketika air matanya justru mengalir semakin deras. Pertahanannya hancur. Gadis itu begitu merindukan sosok ayah yang akan mengusap rambutnya lembut, kemudian memeluknya ketika ia ketakutan.


"Aku baru tahu, ada seseorang yang menangis begitu parah karena mendapatkan beasiswa di universitas ternama."


Sebuah suara baritone terdengar, membuat Zhe seketika terdiam. Lalu, selembar tisu terulur tepat di depan mata Zhea, membuat gadis itu menaikkan alisnya bingung. Ia segera menoleh ke belakang untuk melihat si pemilik lengan, oh, sial. Zhe bahkan baru sadar bahwa ada seseorang yang duduk di belakang punggungnya.


Sialan!


Pria ini sangat tampan.


Zhea mengambil selembar tisu itu dan mengusapkan ke wajahnya. Setelah itu, dia kembali meluruskan tubuhnya untuk membelakangi pria tersebut.


"Thanks." Ucap Zhe singkat.


"Kau tidak suka selfie?" Bukannya pergi, pria itu justru menanyakan sesuatu yang sanggup membuat alis Zhea terangkat. Zhe sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaan pria itu, namun, tiba-tiba, sang pria duduk di sebelah Zhe.


"Kau salah satu dari mereka kan?" Lanjut pria itu, membuat Zhe menoleh, "Apakah kau selalu banyak omong dengan seseorang yang baru kau temui?"


Pria itu tertawa, "Sebenarnya, aku cukup dingin."


Zhe memutar bola matanya, "Tidak mungkin."


Namun dalam hati, Zhea percaya atas apa yang pria itu katakan. Maksudnya, pria itu sungguh tampan. Rambutnya tidak disisir, tapi terlihat menawan. Tanpa harus bertanya, Zhea bisa tahu bahwa pria ini adalah idaman. Dan biasanya, pria idaman itu sok jual mahal.


"Memang tidak dapat dipercaya," Pria itu tersenyum lebar.


"Aku Alva. Alva Maximillan Harison," Dia menyerahkan tangannya,


membuat Zhe menatap pria itu dengan alis terangkat.


"Aku tidak terbiasa dengan orang asing."


"Oh, that's hurt." Alva memegangi dadanya, seolah ada pedang yang menghujam jantungnya. Namun kemudian pria itu tersenyum, "Mau aku fotokan? Kau harus memberitahu teman-temanmu bahwa New York University itu indah!"


Zhea menghela nafas, "Tidak. Terima kasih."


"Kalau nomor ponsel, boleh?" Alva tersenyum lebar, membuat Zhe lagi-lagi mengangkat alisnya, "Such cheezy."


"Aw, you don't refuse Alva, sweetheart," Alva tersenyum, kemudian mengambil ponsel yang ada di genggaman Zhea.


"Alva!" Zhe berteriak kesal, namun pria itu hanya tersenyum seraya melancarkan aksinya untuk menuliskan nomor ponselnya di ponsel Zhea. Setelah itu, Alva menekan tombol hijau dan sebuah panggilan masuk ke ponselnya.


"Terima kasih, emm, siapa namamu? Atau haruskah aku menamainya Sayang?"


"Kau benar-benar!" Dengus Zhe kesal. Gadis itu hendak beranjak ketika menyadari teman-temannya sudah tidak ada di tempat mereka berfoto-foto tadi.


"Crap! Dimana mereka?!" Zhe berteriak tertahan, kemudian menoleh ke arah Alva dengan tatapan tajam.


"****! Kau! Argh!" Bentak Zhea kesal, namun yang dibentak hanya tertawa kecil dan menggeleng-gelengkan kepalanya, "Mau ku antar?"


Zhea meninggalkan tempat dengan kesal tanpa mempedulikan pria itu. Pria yang tampak tersenyum begitu lebar setelah kepergian gadis beasiswa yang gampang marah itu.


visual alva