Since The Fall Of Maglindo

Since The Fall Of Maglindo
Bab 02: Menunggu Bel Berbunyi



Sementara berjalan menyusuri halaman sekolah yang luas, aku tanpa sadar telah menghabiskan crepes yang kudapat dari Osmond. Melihat-lihat ke samping, ada sebuah tempat sampah anorganik yang berpasangan dengan lawan jenisnya, jadi untuk bagian bungkusnya kubuang ke sana.


Ketika memikirkan kembali apa yang ingin kulakukan selanjutnya, aku pusing. Bagaikan seseorang yang sudah tidak tahu arah jalan pulang, bergerak tanpa tujuan yang jelas hanya akan membawa pada tempat yang tidak seharusnya. Karena itu untuk bagian semacam ini, harus benar-benar dipikirkan secara matang. Jika salah, waktu akan terbuang. Tapi jika terlalu banyak berpikir, waktu juga akan tetap terbuang.


Dunia mulai merepotkan, atau apa aku saja yang terlalu keras memperkerjakan otak? Mau apa pun itu, yang jelas membuang waktu bukanlah sesuatu yang perlu untuk dilakukan. Apalagi sebagai seorang pelajar Sekolah Menengah Atas, hanya ada waktu pas-pasan yang bisa dianggap sebagai waktu luang.


Setelah mengetahui sebab akibat jika memilih untuk diam termenung tanpa melakukan apa pun, aku akhirnya memutuskan untuk berjalan meski tidak punya tujuan yang jelas. Tapi mengikuti jalur yang sedang kulalui, ini mulai kembali mengarah ke gedung utama.


Seingatku, di sana ada hal yang membuatku penasaran, di balik kerumunan yang kulihat tadi pagi sepertinya ada semacam pengumuman. Dari jumlah orang yang melihat, seolah dengan jelas mengatakan kalau itu merupakan sesuatu yang layak baca. Karena kebanyakan orang juga punya selera yang sama asalkan memenuhi salah satu baik dua-duanya dari 2 kriteria, yaitu penting dan menarik.


Suatu bacaan yang dianggap penting, maka seseorang diharuskan untuk membacanya, jika tidak maka kemungkinan dapat membawa pengaruh buruk baik pada saat yang bersamaan maupun nanti. Tetapi berbeda dengan itu, menarik dapat membuat seseorang membaca tanpa keterpaksaan, tujuannya cukup jelas, demi sebuah kepuasan. Sama sepertiku sekarang, hanya saja aku akan melalui keduanya.


Saat sampai di tempat yang dimaksud, di sekitar papan pengumuman berukuran besar yang sebelumnya kulihat sangat ramai sehingga setiap celah tertimbun oleh setumpuk daging bernyawa, sekarang tidak ada satu pun yang mau berdiri di depannya. Selain itu, di sekitar sini hanya ada beberapa orang yang jumlahnya dapat dihitung jari, aku yakin mereka sedang berada di luar atau mungkin sedang berkeliling sepertiku saat ini.


Dari dekat, papan pengumuman tersebut memiliki ukuran lebih dari dua kali tinggi tubuhku, panjangnya bahkan sampai melebihi tingginya. Pada permukaannya, tertempel banyak selebaran maupun sejenisnya yang dapat dibagi menjadi 2 bagian besar, yaitu untuk pengumuman sekolah—terbatas oleh garis merah pembatas berbentuk persegi panjang—serta untuk pemberitahuan yang berasal dari para siswa. Sedangkan yang di depanku, merupakan pengumuman resmi dari sekolah terkait peringkat tes pendaftaran secara lengkap dan urut.


Aku mulai mencari namaku.


Petunjuknya adalah angka 99. Meskipun kemungkinannya kecil, aku berharap ada kesalahan dalam pembuatan, sehingga tanpa sengaja membuatku mendapatkan hasil palsu.


Mungkin karena jumlahnya terlalu banyak, jadi pihak sekolah membaginya menjadi 2 dengan memisahkan antara peringkat 90 ke atas dan 90 ke bawah, lagi pula memasangnya sampai ke ujung atas hanya akan menyusahkan mata untuk melihat dan menarik informasi. Namun, setelah dengan penuh harapan membacanya, tetap saja tidak berubah, peringkatku 99.


Merasa agak kesal dengan kenyataan, aku berpindah pada kertas yang satunya di mana didominasi oleh siswa-siswa dengan peringkat tinggi. Herannya, dari nomor 3 ke bawah, lebih dari setengahnya merupakan seseorang yang kukenal.


Pertama, peringkat tertinggi, dia adalah AI. Kami tidak saling kenal, tapi sepertinya Ryuga menyebutkan namanya sebelumnya. Selain itu, dari namanya yang jelas aneh, secara keseluruhan juga aneh, anggap unik saja mungkin, yaitu Android 1.0 AI.


Jelas, siapa pun yang mendengarnya akan merasa terngiang-ngiang di telinga, berkecamuk di dalam kepala. Dari mana orang tuanya bisa mendapat ide untuk memberi nama anaknya seperti itu? Baik, jika berbicara tentang selera, semua orang punya apa yang mereka sukai. Bisa saja ayahnya ahli mekanik, atau ibunya punya ketertarikan tersendiri dengan kemodernan.


Tidak, daripada memikirkan itu, di antara 2 orang perempuan yang merupakan rekan Ryuga, yang mirip seperti robot jelas yang tanpa ekspresi di wajahnya waktu itu. Sebagai bukti, hal tersebut dapat dijadikan penguat bahwasanya AI memanglah sebuah robot.


Sedangkan di peringkat 2, ada April Aprilia. Aku mengenalnya, sangat-sangat mengenalnya, tapi untuk sekarang kami sedang pura-pura tidak saling mengenal satu sama lain, alasannya cukup jelas, karena kami sedang bermusuhan.


Dia teman pertamaku secara keseluruhan, jadi aku tahu banyak hal tentang dirinya. Sebab itu jika dia mendapatkan peringkat tinggi, sudah tidak heran karena faktanya April memang sangat genius. Dari sejak Sekolah Dasar, seingatku semua juara 1 selalu dimiliki olehnya. Omong-omong aku tidak pernah berada di posisi tiga teratas, menyedihkan sekali.


Setelahnya aku berjalan begitu saja tanpa membaca nama dari orang berada di urutan ketiga karena sepertinya tidak kenal.


Sampai kembali di depan pintu dari kelas D, lalu melihat, jumlah orang yang berada di dalamnya tidak bertambah ataupun berkurang. Perempuan tadi tetap sibuk dengan belajarnya, padahal sudah jelas diinformasikan bahwa hari ini memang dikhususkan untuk sepenuhnya waktu luang. Namun, juga tidak ada larangan yang mengatakan kalau apa yang dilakukannya salah.


“Dia akan menjadi seorang perempuan yang hebat,” gumamku.


Berniat pergi setelahnya, seseorang tiba-tiba sedikit menyenggolku dari belakang. Dia seorang laki-laki, usianya mungkin sama sepertiku, dan juga masuk begitu saja ke dalam. Aku tidak bisa memastikan apa dia juga satu ruangan denganku, tetapi yang jelas sepertinya perempuan yang dari tadi sibuk membaca buku dijadikan sebagai tujuan berjalan.


Aku rasa ini akan menjadi sebuah percakapan yang penting. Dari wajah laki-laki itu, terlihat seperti sedang kesal akan sesuatu, kedua tangannya mengepal kuat.


“Grizelle!”


Dia memanggilnya dengan keras, tetapi karena itu juga aku jadi bisa tahu nama perempuan itu tanpa perlu berkenalan dengannya.


“Apa yang kau lakukan di sini?”


Selagi bertanya, Grizelle langsung mengubah ekspresi pada wajahnya, sekarang dia terlihat seperti sedang tertekan.


Apa yang dilakukannya tentu seolah menggambarkan betapa lemahnya sebenarnya dia. Dari yang kulihat di awal, seakan-akan Grizelle tidak punya satu pun kekurangan, maksudku, dia sempurna, baik dalam maupun luarnya. Tetapi sekarang hanya dengan kehadiran laki-laki itu, semuanya berbanding terbalik. Tidak ada lagi peran sebagai ratu es di negeri baru, melainkan seorang pembantu yang tidak bisa melakukan apa-apa sehingga telah tanpa sengaja memecahkan barang berharga milik tuannya.