Since The Fall Of Maglindo

Since The Fall Of Maglindo
Bab 02 bagian V: Menunggu Bel Berbunyi



“Kenapa kau jadi tegang begitu? Padahal bukan sesuatu yang penting juga, karena dia, Sherly, benar-benar hebat dalam menghajar orang.”


“Maksudmu terjadi sebuah pertengkaran?”


“Ya, tapi bukan Sherly. Meski aku bilang begitu, yang menyelesaikan bagian akhirnya dia sih.”


“Apa kira-kira aku perlu turun tangan?”


Aku tidak terlalu mengerti dengan pertanyaannya, maksudku, apa memang dia punya posisi yang tinggi di sekolah ini sampai berkata demikian?


Jika faktanya begitu, seharusnya itu akan menjadi nilai tambah untuk klub yang dibuatnya. Seperti klub-klub lain yang ketuanya punya kelebihan tertentu sehingga orang-orang akan lebih mudah untuk tertarik karena merasakan keyakinan bahwasanya bergabung dengan mereka bukanlah suatu ide buruk. Sedangkan Ryuga, melihatnya saja sudah seperti sebuah matahari, seolah ada aura positif yang bersinar-sinar di sekitarnya. Jadi karena itu juga aku heran, bagaimana bisa dia mengalami Krisis anggota.


“Sepertinya tidak perlu.”


Pada saat yang bersamaan, Ryuga melakukan tegukan pertamanya, kemudian aku mengikuti. Herannya, setengah dari kopi milik Ryuga sudah habis begitu saja, seolah ada lubang hitam di dalam mulutnya. Kalau aku, jelas mustahil, karena ini masih lebih dari kata hangat.


Tapi tidak kuduga meminum kopi di waktu-waktu seperti ini rasanya sangat sinkron. Di tambah pemandangan orang-orang yang berlalu-lalang, membuatku merasakan situasi baru yang menyenangkan. Ketika memikirkannya lagi, kehidupan sekolahku di sini sepertinya akan berjalan mulus, bahkan sudah ada beberapa teman yang kumiliki. Tentu mereka adalah orang-orang yang baik, aku tidak asal memilih untuk bagian tersebut, jadi bisa dibilang kalau aku adalah tipe orang yang suka memilih-milih teman—seharusnya aku tidak membanggakannya.


“Bagaimana dengan surat yang kuberikan waktu itu, apakah sudah ditemukan siapa pengirimnya?”


Menanggapi itu, Ryuga menyela sakunya dan saat tangannya kembali muncul, terlihat kembali surat yang sebelumnya. Dia menyerahkannya padaku sehingga sudah bisa kutebak hasilnya akan seperti apa.


“Aku sudah sempat menanyakannya ke Sherly, dia bilang dia tidak tahu, lalu mengusirku. Sedangkan yang satunya, namanya AI, sepertinya juga bukan dia pelakunya.”


“Jadi begitu ya.”


Sebenarnya sampai sekarang pun aku masih berniat untuk memecahkan misteri ini. Bukan apa-apa, jika menganggapnya hanya sebuah kebetulan, itu akan salah besar.


Begitulah, memikirkan kronologinya sama sekali tidak membuatku menemukan ujung yang jelas. Jika mengidentifikasi pada bagian dalamnya, rupa atau tampilan, sudah pasti semua orang akan menganggap surat tersebut sebagai sebuah surat pernyataan cinta. Amplopnya saja berwarna merah muda, ada gambar-gambar kecil yang juga berfungsi untuk mengisi bidang kosong, semacam gambar hati. Tapi isinya, hanya berupa kertas polos yang memenuhi seluruh ruang bagian dalam amplop jika kondisinya masih prima. Pesan yang ada juga benar-benar tidak mencerminkan sebuah surat, entah pribadi maupun resmi, karena tidak ada bagian-bagian surat seperti nama pengirim, nama orang yang dituju, alamat, salam pembuka dan penutup, hanya langsung pada intinya, terlalu singkat dan padat. Ditulisnya pun menggunakan pena yang dapat dengan mudah luntur jika bergesekan terlalu keras dengan benda lain, bahkan aku tidak yakin kalau isi surat ini masih bisa dibaca sekarang.


Lagi pula, jika memang benar bukan anggota Klub Relawan yang melakukannya, jelas sudah dapat dikonfirmasi kalau tidak ada alasan lain untuk melakukan itu. Jika misal menduga-duga saja, yang aneh adalah orang di depanku, maksudku kursi di depanku tidak ada orangnya, tapi itu malah menguatkan fakta kalau orang tersebut bukanlah pelakunya. Lalu kursi terdekat denganku ada Grizelle, memikirkan dia sebagai pelakunya, rasanya terdengar mustahil, tapi aku akan menanyakannya nanti. Mungkin aku juga bisa mencari tahu siapa orang yang duduk di depanku, dari hasil pengelompokan yang di tempel di luar kelas sepertinya akan semakin mempermudahku untuk mengetahuinya.


Selagi memikirkan hal yang membuat pikiran menjadi jungkir balik tersebut, aku sesekali meneguk kopiku, ini sudah seperti saat seorang pekerja kantoran yang pusing dengan masalah perusahaannya. Tak butuh lama, aku benar-benar menghabiskannya, semoga saja tidak ada yang namanya kecanduan akibat kafein berlebih.


“Apa sudah habis? Sini biar aku yang membuangnya.”


“Ah, iya, terima kasih.”


Ryuga baik sekali, sejak bertemu dengannya, rasanya dunia berjalan terlalu mudah. Sejujurnya aku sekarang jadi ingin bergabung dengan klubnya, tapi sebaiknya tidak dulu untuk beberapa hari ke depan.


Saat Ryuga kembali lagi ke sini, dia duduk sebentar dan bel pulang akhirnya berbunyi. Kebanyakan orang masih tetap pada kegiatan mereka, memang tidak ada yang melarang aktivitas sepulang sekolah sejak awal.


Setelahnya Ryuga bangkit dari tempat duduknya lagi, menatapku dengan senyuman yang dari tadi sering ia pancarkan.


“Aku pergi dulu, ada yang harus kulakukan.”


“Ya. Lagi pula aku juga ingin pulang.”


Selagi dia berjalan menjauh, aku tetap tidak beranjak dari kursi. Alasannya tentu saja jika pulang bersama dengan kerumunan, ditambah aku harus menuntun sepedaku, itu akan sangat tidak efektif. Jadi aku memutuskan untuk membiarkan mereka sehingga tercipta ruang yang bisa kulalui tanpa bertemu dengan satu pun hambatan.


Tetapi dengan hanya diam seperti ini, membuatku mengingat kalau aku benar-benar belum makan sesuatu yang mengenyangkan sebelumnya, singkatnya aku sedang lapar dan itu terbukti saat terdengar bunyi dari dalam perutku. Memang sebelumnya aku sudah memakan crepes yang Osmond buat, itu porsinya cukup besar tetapi tentu bukan ditujukan untuk menghilangkan rasa lapar secara keseluruhan, lagi pula itu sudah beberapa jam yang lalu, sekarang ada rongga besar yang harus diisi dengan makanan. Namun, aku tidak berniat untuk membelinya di sini atau dari makanan yang dijual anak sebayaku di sekolah ini. Dengan kata lain, aku berniat untuk mampir di beberapa tempat terlebih dahulu sebelum akhirnya benar-benar pulang ke rumah. Sebenarnya sudah lama aku tidak makan di luar, jadi sepertinya bukan ide buruk.


Setelah itu seperti yang seharusnya terjadi, aku mengambil sepeda di tempat parkir lalu berjalan searah dengan jalur menuju rumahku selagi melihat-lihat sekitar untuk mencari semacam restoran maupun kafe yang bisa disinggahi.