Since The Fall Of Maglindo

Since The Fall Of Maglindo
Bab 05 bagian IX: Kunci Masa Lalu



Memang, sekarang dia sudah tidak menangis seperti sebelumnya, tetapi seharusnya dia bisa melawan dengan wajah yang bangga. Bagaimanapun, mulutnya cukup tajam sehingga sebenarnya dia sudah tidak butuh yang namanya berkelahi. Selain itu, kakaknya tidak terlihat seperti seorang laki-laki yang ahli dalam hal bertarung, ditambah aku yakin hanya sok jagoan saja.


Hanya saja bagian bagusnya, Grizelle tidak langsung menuruti perkataan kakaknya. Sehingga seperti sekarang, laki-laki itu menjadi kesal, dan terpaksa harus membuka sendiri ransel milik Grizelle.


Tetapi tentu saja Grizelle tidak berniat membiarkannya semudah itu, dia memegangi tangan kakaknya meski sia-sia sambil berkata “Jangan, Kakak” sesekali.


“Ini ada banyak! Kau pelit sekali sebagai adik.”


Yang kulihat di tangan laki-laki ini, dia memegang beberapa lembar uang yang kemungkinan nilai totalnya lebih dari uang saku kebanyakan murid.


“Jangan, Kakak, hutangnya harus dibayar beberapa hari lagi, kalau tidak—“


“Ah, diamlah!”


Laki-laki itu pergi begitu saja dengan wajahnya yang tampak gembira, meski terburu-buru.


Aku tidak melakukan apa-apa lagi, tidak ada peran yang tersisa. Sementara jika memilih bersikap sebagai pahlawan, hanya sebuah lelucon yang bisa membuat siapa pun tertawa. Tetapi tetap saja aku juga kesal, bagaimanapun Grizelle itu adiknya sendiri, malah dikasari sampai sebegitunya. Memang, aku tidak tahu alasan dibalik penyebab dia sampai seperti itu, hanya saja entah kenapa aku tetap kesal.


Sekarang Grizelle sudah mencoba menenangkan dirinya. Dia menatapku sebentar lalu memastikan sesuatu di dalam tasnya, mungkin jumlah uang yang kakaknya ambil.


Dari itu, aku mulai menyadari kalau sekarang adalah momen yang tepat untuk kembali menyerahkan uang 10.000 yang seharusnya menjadi miliknya.


“Kau baik-baik saja, Grizelle?”


“Iya. Terima kasih sudah tidak ikut campur.”


Hanya sebentar saja, dan sekarang dia kembali belajar. Sekarang sepertinya dia telah kembali pada dirinya yang normal.


Merasa sudah waktunya, aku mengambil uang di sakuku. Dengan hanya sedikit berjalan, aku meletakkan uang tersebut di atas mejanya, beberapa buku sedikit menghalangi jadi aku memilih pada permukaan yang kosong.


Kemudian dengan sedikit senyuman, dan Grizelle yang menatapku dengan tatapan tajam seolah berkata “Kenapa kau mengembalikannya lagi?!”, aku duduk kembali dengan tenang setelah terpikirkan beberapa kalimat yang bisa kugunakan agar Grizelle tidak menolaknya.


“Apa maksudnya ini?”


“Uang, untukmu, dan memang milikmu, seharusnya sih.”


“Ambil lagi, aku tidak membutuhkannya.”


Berbeda dengan laki-laki tadi, dia bisa kesal jika kepada orang lain, yaitu aku. Padahal seharusnya dia menggunakannya sebelumnya, itu akan benar-benar membuatnya menang.


Kemudian karena aku hanya diam saja, dia akhirnya mengambil uang di depannya sendiri lalu berjalan ke arahku. Yang kulakukan hanya duduk menunggunya mengulurkan tangan. Dan saat itu terjadi, aku langsung memegangi lengan bawahnya, sehingga uang yang dipegangnya terlepas begitu saja.


Karena itu, dia mendesah, seakan-akan terkejut sehingga tubuhnya kaku untuk sementara waktu. Dan entah kenapa, ekspresi wajahnya sekarang menjadi tersusun antara kepasrahan dan kekosongan, seolah dia kehilangan kendali atas tubuhnya sehingga membuatnya tidak bisa berpikir jernih, atau bahkan sudah tidak bisa memikirkan apa pun.


Dengan cepat aku menarik baju di bagian tangannya. Dari pergelangan tangan hingga lebih dari setengah ukuran untuk mencapai siku, terdapat bekas luka panjang yang lurus dengan garis-garis unik yang memotong sehingga seolah membentuk sebuah motif, juga luka.


Sepertinya dugaanku benar.


Tentu saja itu merupakan hal yang aneh. Tidak mungkin jika aku menganggap kalau ini memang sengaja Grizelle buat, aku tidak berpikir dia suka semacam menato kulit sendiri, dan ada kenyataan lain yang lebih kejam daripada itu, karenanya aku ingin mengungkapnya. Lagi pula apa-apaan dengan bentuknya, seolah apa yang ada di depanku bukan sesuatu yang tidak dibuat secara sengaja. Tetapi aku juga tidak berpikir kalau pelakunya adalah kakaknya sendiri, laki-laki itu terlihat penakut, dan sebenarnya mustahil jika mendasarkannya pada aspek yang lain di mana dia memilih untuk mengorbankan adiknya.


“Kau tahu, terkadang menyembunyikan sesuatu bukanlah sebuah pilihan.”


Saat menatap kembali pada wajah Grizelle, dia sudah menjadi dirinya yang normal meskipun matanya terlihat berkaca-kaca.


Karena apa yang kulakukan, tangan satunya memegangi tanganku yang sedang mencengkeram lengannya, sambil berkata “Lepaskan” sesekali. Pada saat yang bersamaan, ada beberapa air mata yang keluar darinya. Namun, hal tersebut tetap tidak membuatku melepaskan genggamanku. Memang hal semacam ini membuatku terlihat seperti seseorang yang kejam, hanya saja ada yang ingin kutahu di sini.


Bukan bermaksud jahat, malah aku ingin mengungkap sesuatu yang terlalu jahat untuk digolongkan ke dalam kejahatan. Baik dari segi mana pun, ini terlalu parah hanya untuk bermain-main. Aku pikir, di zaman sekarang sudah mustahil untuk terjadi yang namanya kejahatan semacam ini, dan ternyata dunia lebih luas dari dugaanku.


“Kumohon, lepaskan!”


“... Siapa pun orang yang melakukan ini kepadamu, aku bisa menjamin untuk menghukumnya seberat mungkin. Jadi katakan padaku, siapa yang melakukannya, dan jangan bilang ini ada hubungannya dengan kultus sialan itu.”


Meski sudah menyampaikannya dengan jelas, Grizelle tetap mencoba sebisa mungkin agar aku melepas tangannya. Memohon dan memohon selagi mengeluarkan air mata, itu membuatku tidak tahan karena dia juga termasuk tipe orang yang teguh pada pendirian, jadi aku akhirnya memilih untuk juga ikut berdiri. Tangannya tetap tidak aku lepas, mengingat bisa saja dia memilih untuk berlari.


Ketika Grizelle sudah tidak bisa mundur lagi karena terhalang meja, dia bahkan sempat mencoba menghindar dariku dengan duduk di atasnya. Sedangkan kedua kakinya tidak bisa mengikuti sehingga seolah melingkari pinggangku, penyebabnya tentu saja karena aku menahannya.


Yang aku heran, kenapa tidak dia katakan saja yang sebenarnya. Memang menyakitkan jika dikorbankan, aku pikir kasus yang dialaminya mirip seperti beberapa kasus yang terjadi dulu sekali. Hanya saja mau aku berpikir segalanya, mustahil dia akan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi jika aku tidak memaksa lebih keras.


Setidaknya untuk sekarang aku sudah punya gambaran kasar tentang kebenaran yang disembunyikan. Di awal aku hanya menduga kalau luka tersebut merupakan sesuatu yang biasa, tetapi sekarang sudah tidak. Jika aku tidak lupa membawa ponsel, maka aku akan menelepon seseorang yang seharusnya mengatasinya.


Dan ini, lebih sulit diatasi daripada yang kuduga. Sekarang Grizelle menangis seperti waktu itu, malah aku pikir yang ini lebih parah karena dia tidak pernah menyerah untuk melepaskan dirinya dariku. Meski begitu, wajahnya sebisa mungkin agar kami tidak bertatapan.


“Jangan menolaknya, Grizelle.”


Tangan kananku memegang kerah bajunya, menariknya lebih dekat denganku sehingga aku bisa merasakan napasnya yang tidak teratur.


Perlahan-lahan tangan kananku mulai basah karena bersentuhan dengan air matanya. Sedangkan tangan kiriku hanya bisa merasakan kelembutan dagingnya yang teriris, itu tidak berdaya sejak tadi karena kekuatan laki-laki yang kumiliki.


“Apa yang ingin kau lakukan kepadaku?”


Meskipun bukan sebuah jawaban, akhirnya dia mengatakan sesuatu yang lain selain permohonan, tetapi tetap saja dia memalingkan wajahnya. Karena itu dengan terpaksa, tangan kananku melepas kerah lalu meluncur pada pipinya. Dan seperti pada bagian lain, kekuatan dari seorang laki-laki tidak bisa dia lawan, sehingga pada akhirnya aku memaksa wajahnya agar menghadap.


Tapi kini dia malah menutup mata, seolah menolak kenyataan di depannya. Terlepas dari itu, aku hanya bisa tercengang dengan kelembutan yang bisa dirasakan indra perabaku melalui pipinya. Melihatnya dalam keadaan seperti ini, dapat membuat lelaki mana pun tidak dapat menahannya, dia seakan-akan mengatakan kalau dirinya akan menerima semuanya. Ditambah, dia benar-benar hangat, aku bisa merasakannya dari beberapa bagian tubuhnya yang bersentuhan denganku. Serta terkadang saat mencoba melarikan diri, dia malah tanpa sengaja mengunci pinggangku dengan kedua kakinya. Beruntung aku punya rantai di masa lalu yang mengikatku, sehingga untuk yang seperti ini setidaknya masih dalam batas yang bisa ditahan.


“Jawab pertanyaanku ini. Siapa pelakunya?”


“... Kumohon, lepaskan aku...”


Apa-apaan dia?! Padahal tinggal menjawabnya saja. Aku juga tidak berniat melakukan hal semacam ini, hanya takdir saja yang mengharuskanku.


Di saat perlahan aku mulai ikut terbawa emosi, ada hal-hal yang tidak ingin kupikirkan tetapi malah muncul. Mau tidak mau, aku harus menggunakan cara yang lebih kasar—tidak, maksudku cara yang bisa saja membuatnya menjadi menyedihkan seperti ini.


Dengan sebuah rencana di kepala, aku melepas tangannya, dia dengan cepat menyembunyikannya ke belakang. Begitu juga dengan pipinya, itu juga kulepaskan. Namun, tidak berhenti begitu saja, kali ini aku memegangi kedua pahanya, melewati rok berwarna hitamnya yang di bawahnya terdapat stocking dengan warna yang sama. Sekarang yang kurasakan hanyalah kelembutan dan Grizelle sempat mendesah nyaring saat itu. Tidak terlena di sana saja, aku sempat memaksa kakinya yang dari tadi teruntai ke lantai untuk kembali melingkari pinggangku. Apa yang kulakukan benar-benar sudah seperti seseorang yang berniat melakukan hal yang macam-macam.


“Jika kau tidak diam dan menjawab pertanyaanku, maka aku akan memperkosamu.”


Tentu pada kenyataannya aku tidak mungkin berani untuk melakukannya. Meski tubuh bagian bawahku sedang bersentuhan dengan miliknya di mana hanya saja terhalang oleh pakaian, mustahil hal semacam itu terjadi.


Sebagai bukti dari perkataanku sebelumnya agar dia percaya, aku menarik pahanya sehingga terpaksa membuatnya berbaring di meja. Dari sini terlihat ****** ******** yang serupa dengan milik anak kecil, tapi aku sebisa mungkin agar tidak jatuh ke sana. Apa yang kulakukan membuat ekspresinya menjadi sepenuhnya ketakutan sekarang, hanya saja dia sudah tidak memberontak.


“Jadi bagaimana, apa kau akan menurutiku?”


Bersamaan dengan pertanyaan ini, aku memain-mainkan tubuhnya sehingga seolah aku benar-benar akan melakukannya sekarang, tentu sebisa mungkin tidak pada bagian yang bahaya. Dan hasilnya—


“Iya ... kumohon ... jangan lagi.”


Dengan perkataannya tersebut, aku melepaskan diriku dari tubuhnya. Saat dia mencoba berdiri dan aku sedikit membantunya, dia mulai menangis sejadi-jadinya sambil duduk di atas meja.


Hanya saja tiba-tiba takdir menjadi terlalu menyebalkan untukku, karena seseorang dengan keras membuka pintu sehingga bunyi yang tercipta sampai ke telingaku. Orangnya adalah Sherly, aku sama sekali tidak mengharapkan kedatangannya. Karena dengan begitu, rencananya akan berakhir dan gagal.


Sesuai yang kuduga, dia berjalan dengan cepat ke arahku lalu melayangkan sebuah pukulan yang keras sehingga membuat kepalaku terasa seperti akan copot. Hanya saja aku memang sengaja menerimanya begitu saja.


Tapi yang membuatku merasa aneh adalah dia datang di waktu yang terlalu disengaja. Maksudku, itu terjadi setelah semuanya selesai. Aku punya firasat kalau dari tadi dia sebenarnya mendengarkan semua pembicaraan kami, hanya saja menunggu momen yang tepat untuk muncul.


“Aku akan melaporkanmu pada pihak sekolah, tidak, ke polisi atas tuduhan pelecehan seksual,” katanya.


“Sudah sejak kapan kau datang?”


“Tunggu di luar, aku akan mengurusmu setelah di sini selesai.”


Dia benar-benar menyeramkan, aku jadi merinding. Tapi sesuai yang dikatakannya, aku akhirnya berjalan ke luar dan sekarang berada di balik pintu. Beruntungnya tidak ada seorang pun di sekitar sini, jadi aku bisa menarik napas dengan tenang.


Hanya saja aku jadi tidak bisa mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam, lebih ke tidak ingin sih karena kalau mau aku bisa melihatnya melalui jendela. Dan sebagai catatan, tangisan Grizelle itu hanya menciptakan suara yang kecil, bahkan tidak ada sama sekali, jadi aku benar-benar tidak bisa mendengar apa yang sedang terjadi di dalam.