Since The Fall Of Maglindo

Since The Fall Of Maglindo
Bab 06 bagian II: Konsekuensi



“Jadi begitu, aku mulai memahaminya. Tapi aku pikir seseorang yang berada di urutan ke 99 sepertimu sangat mustahil berpikir sejauh itu. Apa kau sengaja membiarkan akal pikiranmu menjadi usang dimakan waktu dan penyesalan? Aku tidak melihat sesuatu yang mirip darimu dengan ayahmu selain tampilan fisik, dan cara berpakaian juga.”


“Jadi Bapak kenal dengan ayah saya?!”


“... Sedikit saja.”


Harapan kembali muncul, itu membuatku senang dan bersemangat. Tidak pernah kuduga kalau ada banyak kebenaran yang tersembunyi di dalam sekolah ini. Bagaimanapun, aku baru 2 hari di sini, dan misteri besar yang terkubur sangat dalam seolah menjadi sesuatu yang sangat mudah untuk dipecahkan.


Berbeda dengan tujuan awalku masuk sekolah ini, tidak ada sama sekali keinginan untukku kembali ikut campur dengan dunia yang sudah sepenuhnya kutinggalkan. Sedangkan sekarang semuanya malah memberikan kesempatan yang benar-benar tidak bisa diabaikan begitu saja. Selain itu, aku telah kehilangan seseorang yang seharusnya menjadi temanku selama 3 tahun ke depan, atau bahkan mungkin selamanya. Berdasarkan konsekuensi tersebut, seolah tujuan awalku menjadi goyah karena masa lalu, padahal aku sudah sebisa mungkin untuk melepaskan diri dari itu.


“Jadi sekarang di mana—“


“Tidak, lupakan saja,” sela Pak Desember.


Dia benar-benar membuatku yang niatnya bertanya tentang masa lalu dengan penuh semangat dan harapan, langsung terdiam seketika dan kembali duduk pada posisi semula.


“Berdasarkan semua hal, baik itu tuduhan dan bukti, aku sudah memutuskan hukuman apa yang seharusnya kau dapatkan.”


“Saya yang akan menyerahkannya ke penjara,” kata Sherly.


“Tidak, bukan itu.”


Sherly sempat menatap ragu pria di depannya. Meskipun dia telah mendengarkan sebagian kebenaran yang telah disampaikan kedua orang di dekatnya, tetap saja dia tidak mau menerimanya begitu saja. Padahal perannya di sini dia sebagai orang luar, saksi, begitu juga pelapor, begitu keras membela apa yang dianggapnya korban tanpa memberikan sedikit pun ampunan kepadaku. Bahkan sekarang, dia sebisa mungkin agar tempat duduknya tidak berdekatan denganku, saking menjijikkannya kesan yang kudapatkan darinya.


“Hukuman yang aku maksud, bukan penjara, lagi pula dia masih di bawah umur.”


“Tapi itu pelecehan seksual, remaja yang menyimpang juga harus dihukum.”


Ya, Sherly tidak menerima keputusan yang Pak December ambil, karena menurutnya itu pasti akan menjadi sesuatu yang menguntungkan untukku.


Dan mulai sekaranglah perdebatan yang sebenarnya terjadi, di mana Sherly menyanggah segala hal yang menurutnya tidak benar tanpa takut sedikit pun dengan posisi Pak December sebagai guru. Sedangkan aku hanya mendengarkan bagaimana aku dibela dan dituduh. Mendengarkan pembicaraan mereka, membuat telingaku bingung untuk mendengar sehingga memilih membiarkan semuanya berjalan begitu saja. Selain suara bising, asap yang sesekali tercipta saat Pak Desember menghirup rokoknya menambah kesan visual yang kental dengan perdebatan. Tetapi dari yang kulihat, keduanya teguh pada pendirian masing-masing, hanya saja Pak December menyampaikan apa yang ada di kepalanya dengan sangat tenang, bahkan sesekali dia bermain-main dengan membentuk sesuatu dari asap rokoknya. Sedangkan Sherly, dia memang banyak bicara di sini, tapi dia tetap sebisa mungkin untuk mengontrol dirinya agar tidak terbawa emosi.


Beruntung atau apalah terserah, kemungkinan perdebatannya telah selesai. Kedua orang di dekatku akhirnya tidak lagi saling membalas perkataan satu sama lain. Karena hal tersebut, suasana ruangan menjadi hening sejenak, sebelum akhirnya Pak December kembali membetulkan posisi duduknya. Dan sekarang pada sela-sela jarinya, rokok yang dari tadi dia hirup sudah mencapai masa hidupnya, jadi Pak December melemparnya ke tempat sampah yang berjarak beberapa meter darinya—itu meleset.


“Setelah mempertimbangkannya, aku sudah mendapatkan keputusan baru untukmu, Crayon.”


Sherly terlihat sangat menunggu perkataan pria di depannya sekarang, seolah kehidupannya dipertaruhkan pada setiap kata yang akan keluar dari mulut Pak December.


“Pertama, kau terbukti telah melakukan pelecehan seksual, dan kau mengakuinya. Kedua, kau adalah siswa tahun pertama di sekolah ini, jadi jika misal kasusmu dibawa ke pihak berwajib, maka keputusan utamanya sudah bisa kukira-kira. Ketiga, melihat pada kehidupanmu, maka hukuman yang diberikan haruslah berat, aku tidak peduli meski keluargamu punya seorang tokoh revolusioner, hukuman tetap hukuman. Dan dari sana aku memutuskan untuk ... menskorsmu selamanya sebelum korban memaafkan apa yang telah kaulakukan. Sampai itu terjadi, kau bebas melakukan cara apa pun yang bisa kau lakukan untuk membujuk, emmm, Grizelle.”


“Selamanya?!”


Tentu saja itu sangat memberatkanku, meskipun bukan sebuah kurungan penjara, itu benar-benar akan membuatku menemukan akhir dari hidupku sendiri.


Awalnya setelah ada semacam peluang untuk bebas, aku berniat untuk menyelidiki kasus ini kembali, tentu saja dengan mengandalkan beberapa petunjuk yang sudah ada ditambah petunjuk-petunjuk lain yang masih tersembunyi. Hanya saja jika “selamanya”, dengan kata lain maka aku tidak bisa lagi mendapatkan petunjuk yang ada di sekolah ini, karena aku sudah tidak boleh menginjakkan kakiku melewati gerbang sekolah. Sedangkan cara agar aku bisa melewatinya, hanya setelah Grizelle memaafkanku. Tentu saja itu mustahil, sangat mustahil. Memikirkannya dari sudut mana pun, dia tidak akan pernah memaafkan apa yang telah kulakukan kepadanya. Jadi pada akhirnya aku akan tetap luntang-lantung selama 3 tahun ke depan, dan tidak bisa kubayangkan jika itu sampai terjadi.


Memang ada keringanan untukku, di mana boleh mencari cara untuk membujuk Grizelle agar memberikan ucapan maafnya, tapi bagaimana caranya? Sekali lagi, itu mustahil. Sebelum melakukannya aku juga sudah memutuskan untuk menerima segala akibatnya, dan tentu saja akibat yang sudah jelas akan terjadi adalah Grizelle pastinya sudah tidak sudi menatap mataku lagi. Bahkan bisa saja dia trauma untuk kembali ke sekolah, sedangkan aku tidak tahu bagaimana dia yang sebenarnya, di mana dia tinggal, dan bahkan seperti apa kondisinya yang sekarang.


Semua itu membuat kepalaku menjadi pusing, seolah sedang berdetak keras sekarang. Tetapi Sherly malah tersenyum karena di sini dia adalah pemenangnya.


“Kau harus menerimanya, dasar menjijikkan.”


“... Ya, kau benar.”


Setelahnya Sherly pergi begitu saja meninggalkanku. Dari wajahnya, seolah berkata, “Enyahlah dariku, sialan.”


Sementara sekarang, masih ada beberapa pertanyaan yang ingin kuajukan, tentu saja berhubungan dengan apa yang ingin kuungkap. Namun, kenyataannya menolak keinginanku. Saat Pak December berkata “Pergilah” dengan suara pelan tanpa tekanan, aku merasa harus mengikuti apa yang dikatakannya.


Meski tidak secara detail, aku yakin dia punya sesuatu yang kucari-cari. Masalahnya adalah sekarang ada hal lain yang seharusnya lebih kuprioritaskan, yaitu bagaimana caraku untuk mengatasi hukuman yang diberikan oleh orang di depanku kini.


Apa-apaan dengan menyebutnya skors? Bukan sementara, ini malah selamanya, jadi sudah termasuk sepenuhnya pemecatan karena kemudahan yang diberikan pun sama sekali tidak dapat dikatakan mudah.