
Dan Ryuga, dengan santainya berkata akan pergi ke ruang guru. Selain itu hebatnya, dia masih sempat untuk menunjukkan senyumannya kepadaku. Manusia gila, apa dia hanya diisi oleh energi-energi positif?
“Apa kau mau ikut?” tanya Ryuga.
“Tidak, jelas tidak.”
Selagi mengobrol, dia menutup pintu.
“Kalau begitu aku pergi dulu. Kau bisa datang lagi ke sini jika berubah pikiran, Klub Relawan selalu menyambutmu.”
Dia pergi begitu saja setelah mengatakannya.
Sementara itu, ternyata cuaca mulai menjadi benar-benar panas. Karena sekarang memang musim panas, jadi meskipun bukan di tengah hari, tetap mustahil menjaga keringat agar tidak keluar dari permukaan kulit jika terkena sinar matahari secara langsung. Apalagi ditambah efek pantulan cahaya dari kaca, seolah kemodernan juga punya hal-hal yang tidak bisa diatasi, sehingga hanya membawa dampak buruk.
Selesai dengan lamunan, Ryuga telah hilang dari jangkauan pandangan mata. Seperti sebelumnya, niatku tetap tidak berubah, perutku masih lapar karena belum memakan apa pun sejak tadi pagi. Jadi aku memutuskan untuk kembali bergerak agar tidak mati konyol karena kelaparan di depan pintu.
Melewati jalur yang sama ketika aku sampai ke sini, sejenak aku menatap lapangan sepak bola dan itu membuat mataku terlalu banyak menerima cahaya. Sudah tidak ada seorang pun di sana, mungkin juga akibat dari cuaca panas, sehingga akan mengganggu ketika proses permainan karena benar-benar menyilaukan.
Ketika sampai di halaman sekolah yang luasnya sulit untuk dihitung, ada banyak orang yang melakukan apa pun yang menurut mereka menyenangkan. Mereka tidak takut dengan panas matahari, lagi pula ada banyak naungan di sekitar sini, ditambah hijaunya pepohonan seolah melawannya.
Keramaian di sekelilingku tersebut sudah jelas berasal dari berbagai klub yang mencoba mempromosikan semua hal yang bisa dibanggakan, jelas tujuannya untuk menarik anggota baru dari para siswa tahun pertama. Tidak mau kalah, klub yang sepertinya berhubungan erat dengan makanan juga mendirikan tempat jualan mereka di sini. Seperti yang pernah dijelaskan melalui forum resmi sekolah, tidak ada larangan terkait apa yang mereka lakukan. Selain itu ini memang sudah menjadi ciri khas dari hari pertama sekolah, membedakannya dengan sebuah festival tahunan sudah seperti hal yang mustahil dilakukan.
Beruntungnya, karena keberadaan mereka jadi aku bisa mengisi perutku yang kosong. Berjalan menuju kantin jelas mustahil, jadi aku akan membeli makanan di mereka saja.
Dari tampilan, sudah jelas dapat dibedakan yang mana yang bisa menahan rasa lapar dan juga yang hanya berfungsi sebagai camilan. Karena itu aku memilih ... yang tertera kata “gratis” di depannya.
Mau bagaimana lagi, dari rumah aku benar-benar tidak membawa apa pun, menjadi pelupa sangat tidak enak, hanya beberapa hal yang bisa sengaja dan tanpa sengaja melekat di ingatan. Berdasarkan pemberitahuan yang telah kubaca, hari pertama memang tidak ada pelajaran, dikatakan bel juga hanya akan berbunyi 3 kali, yaitu masuk, istirahat, dan pulang. Jadi bukan hal aneh seharusnya jika aku tidak punya sepeser pun uang di dalam saku, seharusnya begitu kan, aku tidak aneh kan?
“Maaf, apa benar aku bisa mendapatkan makanan gratis?”
Pada kondisi tertentu, aku juga bisa berbicara dengan sangat sopan. Seperti sekarang, aku sudah tidak ada bedanya dengan para pengemis, padahal pengemis sendiri sudah sangat jarang ditemui sekarang.
“Iya. Ini semacam promosi dariku, karena aku berniat membuat klubku sendiri. Apa kau mau satu?”
Aku cepat mengangguk sebagai bentuk tanggapan.
“Siap, tunggu sebentar.”
Sementara dia membuat makanan untukku, aku hanya diam saja menyaksikan betapa hebatnya dia bekerja. Dari segi tampilan, dia punya wajah yang sangar serta tubuh yang cukup kekar juga tinggi. Aku rasa orang-orang tidak akan menduga tentangnya, secara untuk profesi koki sendiri sekarang kebanyakan punya penampilan yang lebih menjerumus ke tampan maupun cantik, meski karena itu juga aku jadi bingung apa mereka menjual makanan atau wajah.
“Apa kau mau bergabung dengan klubku?” Dia bertanya selagi tangannya sibuk bekerja.
“Tidak, aku kurang tertarik dengan dunia masak. Tapi kalau makanan, aku menyukainya.”
Meski aku langsung terus terang saja menjawabnya, dia tidak merasa kesal maupun kecewa atau hal yang lainnya. Selain itu, kemampuan memasaknya malah seolah semakin dipacu setelah aku mengucapkannya.
“Apa kau tidak marah?” tanyaku.
“Huh? Oh, tidak, mana mungkin. Sebelum berniat untuk membuat klub, aku juga sudah tahu kalau mendapatkan anggota tidak akan semudah seperti membalikkan telapak tangan.”
Orang ini terlihat baik, begitulah pendapatku tentangnya. Bukan karena dia memberiku makanan, tetapi setiap kata yang keluar dari mulutnya benar-benar tulus.
Sedangkan untuk klub bertema makanan yang lelaki di depanku saat ini tawarkan, sudah jelas akan menghilangkan tujuan awalku untuk bergabung dengan klub, yaitu agar hidupku tidak suram. Karena seperti yang telah kukatakan kepadanya, memasak bukan sesuatu yang kusukai, kalau adikku, Yuna, mungkin akan tertarik. Jadi meski dipaksakan pun, mustahil untukku bergabung dengannya. Lagi pula, sejak awal masuk sekolah aku juga tidak terlalu memusingkan tentang urusan klub, sekarang pikiranku malah tidak bisa lepas dari topik yang sama.
“Kau mau yang rasa coklat, susu, apa stroberi? Hanya ada tiga rasa yang kubuat, jadi tidak ada rasa yang lain lagi.”
Gratis tapi juga bisa memilih seperti apa makanan yang dipesan, bukankah itu terlalu bagus untuk dikatakan bagus?
“Coklat saja. Oh iya, boleh aku tahu namamu?”
Jarang sekali aku bertanya seperti ini jika bercakap dengan orang lain. Namun, karena dia punya aura yang positif, dan dari tadi kami sudah saling mengobrol, jadi seolah tidak ada lagi rasa canggung yang memborgolku.
“Aku, Osmond. Dan kau?”
“Panggil saja Crayon.”
Setelah berkenalan, dia, Osmond, akhirnya selesai dengan crepes yang dibuatnya khusus untukku. Bau harum langsung tercium saat aku memegangnya, dengan kata lain Osmond benar-benar membuatnya sepenuh hati.
“Terima kasih atas makanannya. Tapi, ini gratis kan?”
“Iya. Coba cicipi dulu, aku akan menjadikan penilaianmu untuk mengembangkan masakanku.”
Meski dia berkata begitu, orang yang hanya tahunya makan saja sepertiku mana mungkin tahu bagian mana yang merupakan kelebihan dan kekurangan dalam pembuatannya. Asalkan masih bisa dikonsumsi, seharusnya aku bisa memakannya. Sedangkan untuk urusan enak apa tidaknya, makanan yang Osmond buat sangatlah enak.
Aku mencobanya pada gigitan pertama, dan langsung ketagihan, sehingga sepelan mungkin aku memakannya agar kelihatan normal. Jujur saja, itu crepes terbaik yang pernah masuk ke dalam mulutku, baik dari segi rasa maupun tampilannya, semuanya tidak ada yang dapat menandingi. Seharusnya Osmond itu sudah sekalas koki internasional, mungkin.
Seperti yang diinginkannya, aku dengan terpaksa menjeda proses makan untuk penilaian.
“Ini sangat enak.”
“Apa itu saja?”
“Iya. Dengan bilang 'Ini sangat enak' sudah jelas kalau makanan buatanmu ini telah memenuhi kelayakan di segala segi yang ada. Aku tidak terlalu mengerti dengan bagaimana cara menarik kesimpulan untuk mengatakan kalau sebuah makanan itu enak apa tidak, tapi buatanmu ini jelas enak. Aku akan menyempatkan waktu kapan-kapan untuk membeli sebagai seorang pelanggan.”
“Terima kasih, aku akan selalu menunggu kedatanganmu.”
Ketika berniat untuk pergi, aku baru sadar kalau apa yang sekarang sedang terjadi sudah sangat pas untuk membangun sebuah pertemanan, malah kami sudah cukup layak untuk dianggap demikian.
Tetapi untuk memastikan—
“Maaf jika misal kau geli mendengarnya, tapi apa kita bisa menjadi teman?”
“Iya, tentu saja bisa. Selain itu daripada geli, aku malah bersyukur kau mengajakku menjadi temanmu, karena sekarang aku juga tidak punya satu pun kenalan di sini.”
Setelahnya kami tertawa bersama-sama. Meskipun baru kenal, kami sudah seperti dua orang yang telah berhubungan sejak lama. Dan juga, Osmond, adalah teman pertamaku di sekolah ini, karena itu aku sangat senang sekali, rasanya ingin selalu tersenyum seperti Ryuga.
Tunggu, berbicara tentang Ryuga, apa dia juga bisa kuanggap sebagai teman? Sepertinya iya. Lagi pula tidak ada peraturan yang mengatakan jika kau mengklaim kalau kau dan seseorang yang telah cukup akrab adalah teman merupakan sesuatu yang salah, dalam hal ini jika salah satu di antaranya tidak bertanya “Apa kau mau menjadi temanku?” lalu yang satunya tidak menjawab “Iya” maka dianggap bukan sebuah pertemanan yang sah. Hukum seperti itu tidak ada, jelas tidak ada. Dengan kata lain Ryuga merupakan teman pertamaku sejak sekolah di sini? Tidak, aku merasa tidak demikian. Jadi kesimpulannya Osmond tetap teman pertamaku.
Sebenarnya membicarakan tentang pertemanan cukup membuatku malu, tapi tanpa teman itu jelas lebih memalukan, aku tahu itu sepenuhnya.