
“Tentu saja. Aku akan menjawabnya sebisa—“
“Berapa anggota kalian?”
Menyelanya begitu saja, dia langsung terdiam.
Memang terasa aneh, di sini hanya ada 3 orang selain aku. Jelas jika berdasarkan aturan pendirian sebuah klub, minimal setidaknya harus berisi 5 orang, di bawahnya sangat dilarang, apalagi Pemerintah selalu bertindak tegas untuk bagian ini.
Aku tahu, bisa saja ada kemungkinan kalau anggota mereka yang lain sedang tidak di sini sekarang. Tapi saat mengingat ini hari pertama, ada banyak fakta yang semakin menguatkan dugaanku.
“Maaf mengecewakanmu, anggota kami hanya berjumlah tiga orang. Namun, saat kau bergabung maka akan menjadi empat.”
“Ya, kalau itu aku sudah tahu. Tapi bagaimana bisa?”
Ryuga agak membuka matanya ke arahku. Mungkin itu ekspresi ketika dia sedang tidak bisa menjawab sesuatu yang ditanyakan oleh orang lain.
“Ohhhh!” Dia terlihat seperti telah menemukan jawabannya. “Apa yang kau maksud adalah penambahan aturan baru pada Peraturan Tersier?”
Obrolan ini sepertinya akan menjadi semakin berat. Aku paling tidak suka jika harus berhubungan dengan hal-hal yang jika salah dalam bagian-bagian tertentu, dapat membuat seseorang dipenjara. Setahuku ibu sepertinya juga bekerja di bidang politik, bersama rekan setetangganya.
Politik dalam hal ini, seperti yang Ryuga katakan, Peraturan Tersier. Penambahan aturan, dengan kata lain ada semacam hal baru yang harus diterima maupun dilakukan atau tidak dilakukan oleh masyarakat. Tentu seseorang yang tidak tertarik sepertiku, mustahil mengetahuinya, kalau dasar-dasarnya saja masih bisa, karena itu ada di buku pembelajaran.
Ketika Ryuga bertanya seperti itu, ingin sekali aku menghembuskan napas panjang. Jika sampai ada mata-mata yang mendengar percakapan kami sekarang, aku takut tiba-tiba sebuah timah panas menembus kepalaku.
Berbicara tentang kepala, sekarang aku sedang menganggukkannya dua kali sebagai bentuk tanggapan atas pertanyaan Ryuga.
“Ini itu aturan yang baru saja diresmikan beberapa minggu yang lalu, berdasarkan pertimbangan dengan menjadikan para pelajar di jenjang yang berbeda sebagai objek.”
“Langsung intinya saja. Bahaya.”
Aku tidak tahu apa Ryuga mengerti apa yang kukatakan, tapi dia tetap pada senyumannya.
“Jadi singkatnya, untuk sebuah klub yang anggotanya diisi oleh kelas akhir di mana telah mencapai masa-masa mereka untuk berpindah ke jenjang yang lebih tinggi, setahun sekali setiap kenaikan kelas, maka klub yang kekurangan anggota dengan sebab demikian masih diperbolehkan berdiri selama waktu yang ditentukan, yaitu 1 bulan sejak pembelajaran baru dimulai.”
“Kau bilang itu singkat?”
Daripada bertanya begitu, aku lebih heran kenapa dia sampai mengingatnya. Dari sini siapa pun bisa menduga kalau Ryuga punya ketertarikan tersendiri pada topik yang sedang kami bicarakan. Seperti yang sering diucapkan oleh para motivator terkenal, seseorang yang menyukai apa yang sedang dipelajari maka akan terasa jauh lebih mudah, baik dalam menerapkannya maupun mengingatnya.
“Masih ada bagian lain sebenarnya. Misal untuk klub baru juga secara—“
Otakku rasanya terbakar, padahal tidak serumit yang dipikirkan, sepertinya. Pantas saja meskipun aku telah bertapa di kamar selama satu hari penuh untuk tujuan yang jelas, yaitu berdiri di peringkat teratas dalam tes pendaftaran, tetap saja hanya kekalahan yang menghampiri.
Tapi sebenarnya tidak bisa dibilang sia-sia. Dari 180 siswa yang diterima untuk bersekolah di sini, ada ratusan lainnya yang malah sebaliknya, dengan kata lain gagal. Selain itu, aku dapat posisi di 99, itu seharusnya sudah cukup tinggi.
Haus akan penghargaan juga tidak selamanya baik, tapi haus karena tidak pernah mendapat penghargaan malah sangat menyedihkan. Karena setidaknya aku punya peringkat yang masih bisa diubah suatu saat nanti, maka peluang besar bisa saja mendatangiku. Kalau ada ujian lagi di masa mendatang, setidaknya aku akan menyisihkan waktu luangku selama satu minggu untuk belajar secara penuh, mengingat satu hari saja sudah cukup untuk mengalahkan ratusan peserta yang lain.
“Jadi, apa kau sudah tertarik untuk bergabung ke klub ini?”
Sudah berapa kali dia mengatakan kalimat yang sama tersebut? Begini saja aku sudah lupa, apalagi menghafal rumus matematika.
Omong-omong aku sudah mendapatkan momen yang tepat untuk pergi dari sini. Memang ada beberapa hal yang membuatku tertarik untuk bergabung, tetapi sebaiknya jangan dulu, lagi pula dengan keluar sekarang bukan berarti sudah tidak boleh lagi masuk ke sini.
“Jujur saja, jawabanku tidak. Tapi akan kupertimbangkan ulang setelah melihat-lihat klub yang lainnya terlebih dahulu.”
Mendengar itu, Ryuga memang agak mengubah sedikit ekspresi pada wajahnya, terlihat sedikit kecewa. Namun, secara keseluruhan dari dirinya tergambar seolah dia telah sering mengalami hal yang serupa, sebuah kebiasaan yang membawa sifat tegar jauh ke dalam dada.
“Oh, begitu, tidak apa-apa. Sebenarnya aku sudah tahu kalau kau akan menjawab demikian sejak awal.”
“Benarkah? Aku pikir aktingku sudah cukup baik.”
Kalau ketahuan, mau bagaimana lagi, menyangkalnya hanya akan membawa rasa malu.
Sementara kami berbicara seperti seseorang yang sedang bernegosiasi, kedua perempuan yang merupakan rekan Ryuga tanpa kusadari lebih awal telah hilang dari posisi mereka sebelumnya.
Ya, sudah jelas mereka pergi, itu bukan sesuatu yang bersifat misterius. Memikirkannya lebih jauh, meski Ryuga tidak berkata secara langsung, aku sudah tahu kalau mereka merupakan anggota klub ini, ada banyak bukti kuat yang mendukung. Sedangkan berbicara tentang misteri, ada banyak pertanyaan yang jawabannya masih misteri di dalam kepalaku.
Saat aku kembali menatap Ryuga tanpa rasa bersalah, wajahnya kembali normal, maksudku untuk bagian ekspresinya.
“Sebenarnya, Crayon, ada banyak orang sepertimu yang juga menolak ajakan bergabung dengan Klub Relawan. Terkadang ketika menolaknya, kebanyakan dari mereka menggunakan cara halus sepertimu, yang pada akhirnya saat aku bertanya ‘Apa kalian tertarik untuk bergabung?’ maka jawaban mereka adalah ‘Aku akan memikirkannya dulu’ atau ‘Berikan aku waktu bla bla bla’ dan semacam itulah, pada akhirnya juga tidak pernah kembali lagi ke sini. Tapi kau berbeda, hanya sedikit orang yang dengan jujurnya berkata kalau mereka tidak tertarik untuk bergabung. Sejujurnya itu terasa lebih baik, terima kasih.”
“Ya, terserah kau saja.”
Sebenarnya dia tidak perlu sampai berterima kasih, lagi pula aku juga tidak memilih untuk menerima tawarannya, atau mungkin saja itu hanya sebuah ungkapan karena seperti yang telah dikatakannya, aku ini berbeda.
Selain itu, sebagai seorang laki-laki yang mengenal secara pasti segala hal yang berhubungan dengan cara bicara serta rasa canggung terhadap orang lain setelah membaca buku yang berjudul 1001 Cara Mendapatkan Teman, aku tergolong tipe orang yang pelit dalam mengucapkan “sama-sama” atau sejenisnya. Jadi untuk mengatasinya, sudah ada beberapa kalimat khusus yang sengaja kusiapkan.
Kebanyakan remaja laki-laki sepertinya juga sama. Rasa canggung itu hampir pernah dirasakan oleh semua orang, bahkan para motivator terkenal yang setiap hari berbicara tentang “hubungan sosial” juga tidak luput dari sasaran. Mengetahui betapa sulitnya mengatasi kecanggungan yang menjadi dinding penghalang pertemanan, membuatku sering kali menganggapnya sebagai musuh terbesar.