Since The Fall Of Maglindo

Since The Fall Of Maglindo
Bab 00: Malam Itu



Malam itu aku benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi, sebuah kebingungan yang nyata. Daripada kena satu masalah ringan maupun mendekati pertengahan, aku lebih memilih untuk tidak mengalami yang satu ini.


Ketika itu, pada layar ponsel menunjukkan sekitar pukul 9, terbesit kata tidur di dalam kepala. Rutinitas harianku dalam memilih waktu tidur dari awal memang tidak pernah ditetapkan, kadang bisa 1 jam sebelumnya maupun tidak terlelap sama sekali. Terkadang, tanpa sengaja aku menggunakan area lain, seperti ruang keluarga saat tiba-tiba terbawa alunan mimpi hanya dengan menonton film. Tapi malam itu, saat hari minggu berniat menggantikan dirinya dengan hari yang sebagian pelajar takuti karena dengan kata lain pelajaran akan dimulai, pengalaman aneh telah dengan sengaja menungguku pada momen di mana mata hampir tertutup rapat agar bisa bangun di pagi hari.


Kejadiannya bertempat di atas kasur kamarku sendiri. Jika melihatnya dari dekat juga kejauhan, maka seprei elegan yang melapisi hampir keseluruhan permukaan kasur akan menunjukkan betapa elegannya dirinya. Didominasi warna hitam, menunjukkan kesan gelap yang sangat cocok untuk remaja laki-laki sepertiku, apalagi ada motif-motif sederhana yang seolah menunjukkan kesan minimalis.


Meskipun dengan keindahan tersebut, semuanya jauh dari kegunaan saat aku bergelut tanpa gerak maupun kata. Sebelum itu terjadi, kebiasaanku adalah membiarkan layar ponsel menyala lalu mati dengan sendirinya. Ketika pandangan mata mengarah pada langit-langit rumah, pikiran imaginatifku menunjukkan perannya di sini.


Tidak seperti kebanyakan orang di luar sana yang membayangkan domba-domba melompati pagar secara bergantian, agar terlelap aku membayangkan berbagai jenis kekuatan super tiba-tiba tanpa sebab yang jelas mendatangiku. Saat sampai pada adegan untuk menghancurkan dunia beserta isinya, sang pemimpi pun tertidur.


Meski berkata tidur, aku bahkan tidak yakin jika menganggapnya demikian. Karena kejadian mengerikannya baru dimulai pada waktu yang bersamaan.


Menggambarkannya melalui kata-kata, aku bisa bilang itu terjadi tepatnya saat mata berniat untuk terlelap sepenuhnya hingga masuk dalam kondisi tidur. Namun, yang kualami adalah hal yang berlainan. Ketika tiba-tiba saja seolah aku “tersentak” secara batin atau pikiran, penglihatanku tanpa isyarat telah mengaktifkan diri dengan mengabaikan konfirmasi dariku.


Pemandangan pertama yang kulihat adalah pintu kamar. Sekeliling ruangan tampak gelap, samar-samar, karena lampu memang sempat kumatikan ditambah anehnya penglihatan seolah kehilangan resolusi sejati. Seingatku tidak pernah rasanya memasang mode vignette pada mata, sekarang malah kehitaman dengan mudahnya menyatu bersama kondisi ruangan yang selaras.


Sesekali aku mencoba memejamkannya, tentu jadi semakin gelap. Lagi pula sebagai seorang lelaki sejati, setidaknya aku harus sedikit berusaha dalam menyelesaikan masalah. Untuk saat itu, posisi mataku adalah, terbuka.


Begitulah bagian awalnya, hanya berupa gejala-gejala kecil. Namun, semakin lama itu mulai mendekati sebuah kengerian.


Mengingat aku memiliki setengah dari kesadaranku, atau memang secara penuh mengendalikannya, sehingga aku mencoba menggerakkan tubuh. Yang terjadi malah menolak keinginan, singkatnya aku tidak bisa bergerak. Walaupun rasanya aku telah memindahkan beberapa senti dari lengan, tapi saat melihatnya itu tidak berubah sama sekali. Karenanya, aku yang mencoba sebisa mungkin mempertahankan ketenangan, langsung buyar seketika.


Berbagai hal mulai kulakukan, sia-sia tentu saja. Di dalam kepala, bukannya memikirkan bagaimana caranya keluar dari kondisi ini, aku malah jatuh ke dalam pemikiran negatif. Tidak salah secara harfiah, siapa saja bisa menduga-duga kalau apa yang sedang kualami merupakan proses menuju kematian. Aku tidak berpikir kalau itu semacam stroke, serangan jantung, kejang-kejang atau semacamnya, tidak ada alasan khusus kenapa pemikiran semacam itu sirna.


Ketika kebingungan sepenuhnya menyelimuti seluruh tubuh sehingga otak tidak dapat bekerja dengan benar, gejala lain yang sepertinya telah memulai aksinya sejak awal akhirnya baru kusadari.


Aku tidak bisa bernapas?


Sangat sesak, dada seolah kehilangan fungsinya. Hidung tidak dapat menarik udara, begitu juga melepaskannya. Saat itu aku berpikir kalau paru-paru sudah lenyap dari tubuh, atau mungkin mati karena suatu penyakit, tapi aku bahkan tidak pernah merokok.


Kenyataan tersebut, membuatku berpikir kalau itu tidak akan membunuhku meskipun apa pun yang sedang terjadi mengarah ke sana. Pikiran mulai tenang, aku yang sebelumnya terjatuh, kembali naik ke atas menyusuri jurang yang dipenuhi pemikiran negatif.


Dari sana, berbagai alternatif alur dengan cepat bermunculan di kepala. Rencanaku kala itu adalah berteriak, semua kata yang bisa untuk diteriakkan, sehingga orang lain bisa mendengarnya, lalu membangunkanku dari kondisi aneh. Tetapi untuk kesekian kalinya, takdir berkata lain.


Aku jadi ingin mengeluh pada Tuhan sekarang. Kejadian yang sedang kualami terlalu rumit untuk dicerna, bagaimana mungkin seseorang yang tidak bisu tiba-tiba kehilangan kemampuan bicaranya, meski bisa pun itu melalui hati.


Sempat aku meneriakkan “Seseorang, tolong!” dan juga “Dewi, datanglah kepadaku dan langsung saja kirim aku ke dunia lain!” tapi itu hanya aku sendiri yang mendengarnya. Mungkin saat itu aku kehilangan sistem pada tubuhku untuk mengatur volume, karena dari telinga pun itu terdengar sangat kecil, atau mungkin bisa digolongkan dalam kata hati.


Tidak ada yang bisa dilakukan, rasanya aku ingin menyerah saja. Mungkin, diam adalah rencana yang terbaik. Biarkan itu berlalu begitu saja, ikuti bagaimana kondisi tersebut akan membawaku, berpikir jernih setidaknya untuk berharap kalau apa yang terjadi bukanlah proses menuju kematian.


Tenang, tenang, tenang ....


Aku terus mengulanginya. Karena itu juga, meski sesak, aku mulai bisa merasakan napasku. Tubuh yang awalnya tidak dapat digerakkan sama sekali, sebagian sudah kembali normal meskipun hanya pada bagian jari. Rasa sakit yang menusuk, mencekik, dan segala hal yang sehubungan, sedikit demi sedikit berkurang.


Saat-saat mengerikan pun berlalu dengan ketenangan. Tanpa sadar, kesadaran telah sepenuhnya datang menerpa. Aku tidak menduga ketika telah bangkit dari kondisi terpuruk, sementara waktu aku diam pada posisi yang sama, dari awal terlentang entah kenapa menjadi miring.


Aku hidup.


Itulah kata-kata yang pertama kali keluar dari mulutku. Dengan cepat aku langsung bangkit dari tidur lalu memilih untuk berdiri menjauhi kasur.


Tatapan mataku membelalak ke depan. Kepala masih dalam proses adaptasi, bercampur kebingungan dan rasa syukur.


Aku tidak tahu harus melakukan apa pada saat itu, jadi yang awalnya tenang, kembali menjadi tegang setelah keterkejutan yang dibendung keluar secara bersamaan. Lagi pula, orang normal akan merasakan hal yang sama denganku jika mengalaminya. Aku harap itu bukan sesuatu yang berhubungan dengan hantu atau semacamnya, lebih baik menganggapnya masalah tidur biasa, ya, itu jauh lebih baik.


Aku tidak ingin mengalaminya lagi, tapi mengidentifikasinya bukanlah ide yang buruk. Namun, bukan sekarang, bukan juga besok, lebih ke saat hatiku sudah siap sepenuhnya. Bahkan demi tujuanku tersebut, aku rela mencurahkan hidupku untuk mengungkapnya, misteri yang dekat dengan supernatural.


Sebagai korban dalam hal ini, begitulah kira-kira apa yang kualami, bukan pengalaman buruk dan juga akan salah jika menganggapnya baik. Dari sudut pandangku, mungkin akan lebih baik jika merahasiakannya, tidak memilih untuk bertanya pada pakarnya bukanlah keputusan yang salah.