Since The Fall Of Maglindo

Since The Fall Of Maglindo
Bab 01 bagian II: Tujuan Hidup



Berbicara tentang April, sekarang jarak benar-benar telah memisahkan kami. Aku baru saja mencapai ujung dari jalan sebelumnya, dan saat ini melalui jalan yang dibuat khusus untuk pesepeda sepertiku.


Polusi udara tidak menunjukkan keberadaannya dengan jelas di sini, hanya bunyi bising saat kendaraan besar lewat di sampingku. Meskipun telah sepenuhnya aman, tetap ada rasa khawatir takutnya tiba-tiba sebuah mobil membanting setirnya ke arahku. Hal-hal tersebut sudah seperti makanan sehari-hari, hingga akhirnya sampai ke sekolah, semuanya tetap berlanjut meski sementara karena di depan sekolahku langsung terhubung ke jalan raya—agak dibuat ke depan demi keamanan dan kenyamanan.


Dari luar, sudah terlihat banyak orang di sekitar gerbang, mereka berkerumun. Saat mendekatinya, mereka sedang membagikan brosur perekrutan anggota klub untuk siswa tahun pertama. Sempat aku menerimanya karena merasa tidak enak, membacanya selagi menuntun sepeda menuju tempat parkir, lalu karena tidak tertarik sehingga memilih untuk membuangnya ke tempat sampah.


Setelahnya aku menyesali apa yang telah kulakukan. Bukan apa-apa, brosur itu dibuat dengan kerja keras, jadi jika dari awal tidak ada niatan untuk bergabung lebih baik menolaknya saja.


Aku berpikir untuk mengulangi waktu.


Di tempat parkir, ternyata ada cukup banyak pengguna sepeda sepertiku. Tetapi semakin bertambahnya tahun, penggunaan sepeda jadi sedikit menurun, apa lagi setelah dikeluarkannya angkutan umum otomatis yang dekat dengan kata modern.


Meski membuatku sedikit sedih, tetapi untuk sekarang lebih penting aku memfokuskan pikiran pada kegiatan sekolah. Hari ini katanya tidak ada pembelajaran, jadi aku tidak membawa tas. Di forum sekolah, sempat ada beberapa pemberitahuan bahwasanya urutan peringkat siswa tahun pertama berdasarkan tes ujian pendaftaran akan diperlihatkan di sekolah. Setidaknya aku sudah tahu ke mana harus menuju sekarang.


Di gedung utama, aku memilih untuk memasukinya karena memang untuk semua ruang kelas berada di dalamnya. Tentu ada banyak orang di sini, di luar, maupun di gerbang, jadi aku agak merasa gugup saat melewati mereka.


Sekarang aku sedang berjalan di koridor, dengan kecepatan normal, sembari melihat-lihat lembaran yang tertempel pada dinding. Ada sebuah papan pengumuman besar yang dikerubungi oleh banyak siswa. Ingin sekali melihatnya, tetapi setiap ruang yang ada telah ditempati, seolah tidak membiarkan sedikit pun celah pada musuh. Tentu aku tahu kalau ada alasan khusus kenapa mereka semua berkumpul di sana, tetapi lebih baik menyelesaikan apa yang harus diselesaikan adalah yang terpenting. Karena itu, terkadang aku berhenti untuk memeriksa namaku pada pemberitahuan yang ada pada setiap kelas tepatnya di bagian luar. Baik di kelas A, B, C, namaku sama sekali belum terlihat, tetapi akhirnya ada di kelas D. Itu berada di urutan terakhir, dengan kata lain nomor absenku adalah 30 dan duduk di kursi yang berada paling belakang.


Kebetulan di samping nomor absen, juga tertera peringkat tes pendaftaran dari 180 siswa kelas 1 yang diterima—mengingat setiap kelas terdiri dari 30 orang, jadi pengumuman peringkatnya tidak urut. Sebelumnya pihak sekolah sudah mengabarkannya melalui forum pada masing-masing akun siswa yang dimaksud, termasuk aku.


Tapi hasilnya, mengecewakan.


Ternyata setelah berusaha mencurahkan keringat, belajar setiap waktu meski bukanlah tipe kutu buku, aku hanya bisa mencapai peringkat 99.


Untuk sekarang, lupakan saja, biarkan masalah pribadi itu berlalu terbawa angin sepoi yang menerpa kulit. Lagi pula, dari dulu peringkatku selama sekolah juga tidak bagus, buruk dan kacau. Jadi setidaknya menerima kenyataan semacam ini bukanlah perkara yang sulit.


Setelah tarikan napas, aku berjalan masuk ke dalam kelas. Dari luar sebenarnya sudah terlihat ada banyak orang di kelas D, tetapi meskipun sudah dengan jelas mengatakan kalau ada seorang remaja laki-laki yang masuk, tatapan mereka tidak berubah, ada beberapa yang menatap walau sementara seolah berkata “Dia tidak terlihat menarik” atau semacamnya.


Ini mulai jadi menyedihkan sama seperti dulu. Sebagai seorang penyendiri, aku hanya punya sedikit teman, termasuk salah satunya adalah April yang juga tidak punya teman, dia sedang mengalami kritis pertemanan. Namun, hal semacam itu tidak dapat dibanggakan. Punya hubungan sosial yang buruk hanya akan membuat hidup menjadi sulit, masa depan bahkan bisa suram karenanya. Jadi sekarang, di tempat baru ini di mana untuk 3 tahun ke depan aku akan belajar, maka setidaknya harus ada 10 sampai 15 orang yang mau bersama denganku. Itu adalah target awal, jika seumpamanya bisa tercapai, maka angka tersebut akan diganti menjadi 100.


Oke, aku mulai mendapatkan kembali semangatku.


Tetapi tidak ada yang ingin maupun harus kulakukan untuk saat ini. Jadi aku memilih menunggu sampai bel masuk berbunyi. Sampai saat itu terjadi, tidak ada seorang pun yang mau menyapaku, melirik saja sangat jarang. Padahal tempat dudukku yang sekarang adalah keinginan dari kebanyakan laki-laki, ini kursi milik remaja tampan dan dingin. Seharusnya seperti pada film animasi, seorang perempuan akan datang menanyakan sesuatu karena prihatin akan kondisiku, kenyataannya malah jauh berbeda. Memang ada beberapa perempuan yang punya aura positif di sini, tapi dia bahkan tidak menatapku. Walau begitu, aku tetap menatap mereka, sedikit curi-curi pandang, karena ada banyak yang cocok untuk mendapatkan gelar idola kelas.


Kemudian beberapa saat setelah bel berbunyi sebelumnya, seorang pria dewasa yang terlihat sudah siap menikah akhirnya memasuki pintu. Dia seolah mencerminkan kemalasan melalui penampilannya. Ini juga berbeda dari yang kuharapkan, jelas lebih baik jika punya guru perempuan yang ceria, bahkan saat dia berkata “Perkenalkan, aku December, wali kelas kalian” semua orang seperti mengeluh dalam hati mereka. Yang parahnya, dia memberikan contoh buruk kepada muridnya dengan duduk pada meja guru, padahal tepat di belakangnya ada kursi kosong yang elegan.


Tanpa mengucapkan hal lain lagi, misal menyuruh agar memperkenalkan diri satu-satu, dia pergi begitu saja meninggalkan kelas. Apa yang dilakukannya membuat seisi kelas menjadi penuh keluhan, bising akan sesuatu yang juga membuatku sedikit kesal. Tapi itu tidak lama saat seseorang memukul meja dengan sangat keras di sampingku.


“Biasakah kalian berhenti?! Kelas kita akan dianggap buruk jika begini terus!”


Kalimatnya benar-benar membuat semua orang menutup mulut. Meski seorang perempuan, berbicara seperti itu saja sudah pasti membutuhkan banyak keberanian untuk melakukannya, mustahil kalau aku. Selain itu, ada banyak risiko nantinya, bisa saja dia akan dianggap sebagai seseorang yang tidak asyik untuk dijadikan teman.


Tetapi setelah hening sejenak, semuanya akhirnya mulai kembali berbicara meskipun sudah tidak senyaring sebelumnya. Mungkin mereka sedang mengobrol tentang betapa indahnya masa muda, berbeda denganku, aku bahkan tidak punya sesuatu untuk dibicarakan. Biasanya saat berkenalan di sekolah, seseorang akan memilih untuk memulainya dari orang yang duduk pada kursi di depannya atau yang lebih dekat. Tetapi aku, bahkan tidak bisa merasakannya karena kursi di depanku kosong. Benar-benar takdir yang menyebalkan.