Since The Fall Of Maglindo

Since The Fall Of Maglindo
Bab 10 bagian II: Adegan Pantai



“Daripada itu, apa kau sudah mempersiapkan barang bawaanmu? Soalnya kita akan di sana sampai matahari terbenam.” Ryuga bertanya selagi matanya menatap pada sekitarku.


“Seperti yang kau lihat, aku tidak butuh barang-barang yang berat.”


Ketika itu, Ryuga dengan cepat memahaminya lalu kembali berjalan menuju mobil setelah berkata, “Ayo.”


Sementara Sherly yang berusaha keras untuk menghindariku, dengan cepat masuk ke dalam mobil, diikuti Ryuga, dan aku duduk sendirian di kursi bagian belakang. Meski begitu, tentu saja sudah ada seorang sopir di depan, jadi dari awal dugaanku yang berpikir kalau Ryuga akan mengemudikannya sendiri adalah sepenuhnya kesalahan.


Tepat setelah mobil berbelok, Ryuga bertanya, “Di rumahmu ada siapa saja?”


“Hanya aku, yang lain sedang berlibur.”


Dirasa menemukan jawabannya, dia kembali menghadap ke depan. Tapi itu bukan pertanyaan terakhirnya, karena hingga sampai ke tujuan, kami terus membicarakan banyak hal seperti burung yang sedang mengoceh. Sedangkan Sherly, dia hanya memainkan ponselnya sejak awal, jadi tidak apa-apa sehingga aku bisa duduk dengan tenang.


Ketika telah keluar lalu sedikit berjalan, aku kembali bisa merasakan sensasi saat menginjak pasir pantai pada kedua kakiku yang telah melepaskan alasnya. Mengingat sekarang hari Minggu, jadi sudah bukan keanehan lagi jika akan ada banyak orang yang juga berlibur ke sini. Namun, karena keramaian tersebut, Ryuga sepertinya jadi kesusahan untuk mengetahui di mana AI berada. Terbukti karena saat dia berkata “Aku akan mencari AI terlebih dahulu” aku bisa melihat wajahnya kebingungan dengan memeriksa layar ponselnya sesekali. Tapi pada akhirnya Sherly-lah yang pergi, dia mengusulkan dirinya sendiri.


“Kalau begitu, ayo kita juga pergi, Crayon.”


Berkata begitu, setelah sampai, dia ternyata memanduku menuju pada dua buah kursi santai yang terdapat sebuah payung di dekatnya. Meski kulitku termasuk tipe kulit yang sangat sulit untuk berubah warna karena sudah terbiasa dengan berbagai suhu, tetap saja panas ya panas. Tapi aku tetap tidak mengoleskan sunscreen yang Ryuga tawarkan, karena memang cukup percaya diri untuk melawan sinar matahari.


Sembari menunggu kedatangan dua anggota lainnya, kami bersantai pada kursi tadi. Dekat di samping Ryuga, juga terdapat dua buah kursi yang sama dengan sebuah payung yang memberikan naungan, aku pikir dikhususkan untuk Sherly dan AI.


Saat mereka akhirnya datang tak lama kemudian, aku kembali tidak melihat sesuatu yang berbeda selain bertambahnya anggota, yaitu AI sendiri. Salah satu yang dimaksud olehku adalah mereka tidak berganti pada pakaian pantai yang terbuka, seperti hanya itu dan itu saja. Sama halnya mereka, aku dan Ryuga dari tadi hanya di sini saja, tidak pergi ke ruang ganti.


Aku pikir memang bodoh memikirkan hal seperti melihat keindahan tubuh dari dua bidadari yang tersimpan di Klub Relawan. Lagi pula pakaian yang Sherly kenakan dari awal memang sudah cukup lekat dengan pantai itu sendiri. Setelah dia selesai mengoles sesuatu yang sepertinya sunscreen pada bagian tubuh yang terbuka, dia dan perempuan tanpa ekspresi yang mengikutinya akhirnya menghampiri Ryuga yang tetap dengan santainya tiduran sambil memainkan ponsel.


“Oh, kalian sudah datang.”


Aku tidak tahu apa dia sedang berpura-pura tidak menyadari, tapi begitulah yang Ryuga katakan.


Dia lalu berdiri sehingga membuatku juga mengikutinya. Tapi lagi-lagi, aku bisa merasakan tatapan Sherly yang tidak mengenakkan terhadapku.


“Tadi kau ada di mana?”


Sebenarnya Ryuga bertanya kepada AI, dan ditanggapi dengan sebuah jempol yang menunjuk ke arah belakang. Hanya saja yang menjawab lebih jelasnya tetap saja Sherly, dia sudah seperti seorang penerjemah saat berkata, “Dia berjalan-jalan di sekitar dermaga.”


Ryuga memahaminya dengan beberapa anggukan kepala.


“Kalau begitu ayo kita langsung saja bermain sesuatu.”


“Boleh saja, asal jangan yang berat,” kata Sherly.


Aku bisa menebak alasan kenapa dia berkata begitu. Tapi mungkin jika aku mencoba memancing amarahnya dengan mengatakan seperti; apa dia takut kalah denganku atau semacamnya, maka seharusnya dia akan tetap ikut.


“Sebaiknya berkeliling terlebih dahulu saja, bukankah itu hal yang umum untuk adegan pantai?”


Yang mengusulkannya adalah aku, ya, itu aku, serta dengan penuh rasa percaya diri mengatakannya.


Menanggapinya, Ryuga kembali mengangguk beberapa kali seolah mencerna maksud yang tertuang dalam kalimat tersebut. Hingga akhirnya dia terlihat seperti telah menarik sebuah keputusan, saat itu senyumannya jadi tercampur keseriusan.


“Aku akan bersantai di sini saja dengan AI, kalian boleh pergi.”


“Kau dari tadi hanya mengangguk saja, apa ada sesuatu yang muncul di kepalamu?”


“Ya, sedikit. Tapi aku akan ganti baju dulu, apa kau mau ikut?”


Tentu saja menolaknya adalah pilihan yang bodoh, bahkan melebihi kebodohan itu sendiri. Karena sudah jelas jika aku diam saja di sini, yang ada hanya kecanggungan yang kurasakan. Mana lagi Sherly yang begitu, aku sudah tidak bisa membayangkannya.


Setelah mengiyakan ajakan Ryuga, kami akhirnya benar-benar berjalan pergi.


Sementara Ryuga sedang sibuk berganti pakaian di dalam ruangan yang berukuran tidak terlalu besar, aku hanya berdiri di luar tidak melakukan apa pun. Jelas karena pakaian yang kukenakan sendiri sudah bisa digolongkan sebagai pakaian pantai. Jadi jika misal Ryuga mengajakku berlarian atau semacamnya, maka hal semacam itu bukan termasuk hambatan lagi.


Saat pintu terbuka, aku bisa melihat Ryuga dengan tampilan barunya. Jika dari dekat, dia punya tubuh yang cukup bugar, juga kini aku jadi tahu kalau pusarnya masuk ke dalam.


“Kenapa kau tidak berganti pakaian, Crayon?”


“Ini sudah cukup.”


Percaya diri dengan penampilan, aku tidak ingin orang lain melihat bagaimana tubuhku jika sedang telanjang. Lagi pula tidak ada gunanya juga, tapi karena ini pantai, penampilan seperti Ryuga mungkin bukan ide yang buruk.


“Jangan malu begitu, ini kan pantai jadi tidak masalah kalau sedikit terbuka.”


“Ada-ada saja, kau mana tahu alasanku yang sebenarnya.”


“Alasan sebenarnya? Apa jangan-jangan kau punya bentuk tubuh yang dapat membuat lawan jenis berteriak jika melihatnya?!”


Dia menunjukkan ekspresi yang baru, di mana wajahnya sedang sepenuhnya terkejut akan sesuatu. Tapi dari sudut pandangku, itu tidak terlihat cocok dengannya. Apalagi ditambah tangannya yang sibuk merapikan baju yang sebelumnya dikenakannya, biar kukatakan sekali lagi, itu tidak cocok.


“Ya, aku pikir itu mungkin saja terjadi.”


“Hebat sekali, aku jadi ingin berguru kepadamu.”


“Ha? Sudah jelas itu terbalik.”


“Bagaimana bisa?”


Selagi bertanya begitu, sejak sebelumnya kami telah kembali berjalan ke arah di mana Sherly dan AI berada. Saat di sekitar ada banyak lawan jenis dengan tubuh mereka yang sengaja dipamerkan tengah mengarahkan perhatian pada Ryuga, orangnya sendiri hanya fokus ke depan sambil menunjukkan ekspresi yang mengatakan kalau dia memang menginginkan jawaban dari pertanyaannya.


“Coba sesekali lihat sekitarmu, lalu pikirkan ulang.”


Dia benar-benar melakukan persis seperti yang kukatakan. Akibatnya, para gadis yang dari tadi menatapnya menjadi semakin gila. Tapi pada akhirnya saat kembali padaku, kepalanya hanya dimiringkan tanda sedang bertanya.


Ketidakpekaannya atau malah dia sedang berpura-pura sebagai remaja yang polos, membuatku menghembuskan napas panjang.


“Kau harus mencari jawabannya sendiri.”


“Baik, Guru.”


Entah kenapa, tapi dia malah menanggapi perkataanku dengan serius.