
Terkadang saat menaiki eskalator, aku merasa seperti akan tersedot pada sela-sela tangga, atau mungkin jatuh ke dalamnya. Jadi bagaimana orang bisa menyimpulkan kalau naik eskalator lebih baik daripada tangga biasa? Bahkan ada orang aneh yang pergi ke pusat perbelanjaan hanya untuk menaikinya, seperti naik lalu turun, kebanyakan ingin mencoba saja demi sebuah kepuasan.
Kalau aku sih pilih yang aman-aman saja, jadi menghindari penggunaan eskalator adalah hal yang biasa kulakukan saat berbelanja di pusat perbelanjaan.
Sampai di atas, lantai dua menunjukkan kesan modern karena yang diperjualbelikan di sini kebanyakan adalah barang elektronik, begitulah pendapatku untuk sudut pandang yang sekarang sedang kugunakan.
Selagi berjalan, ada banyak orang berlalu-lalang tanpa memandang jenis kelamin maupun usia. Sesekali aku sampai harus sedikit mengubah arah demi menghindari tabrakan yang tidak diinginkan. Bagaimanapun, keramaian bukanlah sesuatu yang dapat dikatakan menyenangkan jika tidak pada waktunya. Melihat orang-orang berkerumun saja sudah cukup untuk membuatku sesak, apalagi sampai harus berdesak-desakan.
Pada pagar logam yang membatasi area tanpa lantai, aku menyanggahkan sebagian tubuhku setelah mendapatkan panggilan telepon dari seseorang. Sementara aku mendekatkan ponsel pada telinga, mataku tertuju pada pemandangan yang ada di bawah.
Sebuah air mancur besar yang menggambarkan kesan liar berdiri megah di tengah-tengah kemodernan di sekitarnya. Seseorang yang lelah karena terlalu lama berdiri atau memang takut terkena varises, tentu saja akan memilih duduk pada kursi yang memutarinya.
Saat mataku sedang terfokus pada air yang mengalir, terdengar suara seseorang yang tidak asing, dan tentu saja aku sudah tahu dari nama nomor yang tertulis di ponselku.
“Kenapa kau sering menelepon ibu akhir-akhir ini?”
Tidak di awali dengan kalimat sapa, sudah dengan jelas mengatakan kalau dia adalah ibuku. Jadi jika ditanya kenapa terkadang aku punya sikap yang tidak sopan, maka itu karena ibu yang mengajarinya. Benar kan, perilaku orang tua memiliki dampak yang besar pada tumbuh kembang anak, dan beginilah caraku berkembang.
Sementara memfokuskan diri pada indra pendengaran, mataku tetap aktif mengamati lantai satu di mana menjadi tempat seseorang untuk keluar masuk. Siapa yang akan menduga jika tiba-tiba ada seseorang yang kukenal juga berada di tempat ini.
“Aku membuat masalah di sekolah.”
“... Ha?!”
Dari awal aku sudah siap dengan konsekuensinya. Masalahnya yang masih membuatku berpikir sampai sekarang, adalah memutuskan untuk menyampaikan kejadiannya secara detail apa tidak, karena mengingat semuanya sudah selesai.
Dengan begitu, masa skorsku juga telah habis. Jadi haruskah aku memberitahunya? Pertanyaan ini selalu bergema di kepalaku. Meski berdasarkan persyaratan yang mengharuskanku agar aku masuk dalam hitungan hari lagi, tetap saja kenyataan kalau aku pernah kena skors tidak berubah.
“Jangan main-main, ceritakan semuanya!”
Ibu sepertinya sudah marah, padahal percakapan baru saja akan dimulai. Terbukti dari suaranya yang mulai semakin terdengar semakin nyaring, aku pikir sudah waktunya untuk menurunkan volume ponsel.
Daripada terlalu memusingkannya, aku kembali berjalan perlahan di tepi pagar. Tanganku yang memegang logam terasa dingin, apalagi saat berpindah selaras dengan langkah kaki. Suhu yang tercipta juga berbanding terbalik dengan yang ada di luar, seolah di sini adalah surga sedangkan di luar neraka.
Sebuah perbandingan yang harmonis, maksudku saling melengkapi. Ditambah udara dingin yang berasal dari AC, siapa pun akan betah untuk berdiam diri, bahkan tidur. Dari yang kutahu, tidak ada larangan di mana kau diharuskan untuk membawa barang belanjaan setelah keluar dari tempat ini. Jadi untuk beberapa orang yang ingin agar harinya tidak bosan, terkadang akan menjadikan pusat perbelanjaan sebagai tempat berlibur.
“Halo, Crayon, jawab ibu!”
“... Iya, apa?”
“Jelaskan yang tadi! Kau awas kalau ibu pulang.”
“Emmm, bagaimana mengatakannya ya. Aku melakukan pelecehan seksual, dan kena skors dari sekolah.”
“Haaa, jadi kau sudah menghamili anak orang?!”
Aku menggoyang-goyangkan ponsel lalu dengan sengaja menciptakan beberapa efek suara yang seolah menggambarkan kalau aku sedang melakukan sesuatu.
“Tunggu sebentar, Bu, ada seseorang yang menanyakan arah.”
Tentu saja itu hanya sebuah alasan agar aku punya waktu untuk berpikir. Yang menjadi masalahnya di sini adalah mempertimbangkan segala segi yang bisa dipertimbangkan demi mencegah hal-hal buruk tiba-tiba datang sehingga menyebabkan beruntusan nantinya.
Sementara itu, aku berhenti melangkah saat sebuah tiang penyangga gedung menghalangi jalanku. Tapi setidaknya dengan keberadaannya, aku jadi menemukan tempat yang nyaman untuk bersandar. Untuk sementara waktu aku diam di sana menatap kembali jalur yang tekah kulalui.
“Ibu, apa kau masih mendengarkan?”
“Iya, cepatlah!”
Saat ini aku tidak sedang tegang, sehingga pikiranku dapat berjalan dengan lancar sehingga dapat dengan mudah menebak sesuatu yang akan terjadi di masa depan. Lagi pula selagi punya waktu yang santai seperti sekarang, aku harus benar-benar memanfaatkannya, karena kalau ibu sudah datang, maka semua itu akan musnah.
“Aku tidak menghamili anak orang, tapi itu hampir saja terjadi kalau aku tidak menahannya. Awalnya aku hanya penasaran dengan sesuatu, dan tanpa sengaja mendorong perempuan yang duduk di sampingku sehingga dia terbaring di atas meja. Karena suatu alasan, aku pada akhirnya malah tergoda. Tapi sebelum itu, ada seseorang yang melihatku, dan begitulah.”
Tentu saja aku tidak berniat menceritakan kejadiannya dengan benar secara keseluruhan, karena itu juga bukan bagian pentingnya, maksudku seperti di adegan melihat ****** ***** atau semacamnya. Sedangkan bagian paling pentingnya sendiri pasti akan kusampaikan kepada ibu, tapi secara langsung. Apalagi luka itu, dia pasti akan sangat terkejut jika mendengarnya, jadi aku ingin agar dia pulang tanpa terburu-buru.
“Kau melakukan sesuatu yang buruk, tapi untung saja ibu masih lama pulang ke rumah. Kalau begitu cepat nikahi perempuan yang kau maksud, ibu bisa merasakan betapa sakitnya jika berada di posisinya. Ingat, Crayon, nikahi dia, kalau tidak tahu bagaimana caranya cukup pacari saja terlebih dahulu, nanti biar ibu yang urus kalau sudah pulang. Kau tidak boleh membuatnya menangis, aku yakin dia menangis saat kau melakukannya, jadi untuk saat ini yang bisa kau lakukan minimal menjaga agar dia nyaman berada di sampingmu.”
Benar sekali, aku sangat buruk sebagai seorang laki-laki. Tidak ada kesan baik dari apa yang sudah kulakukan, karena aku hanya menyiksa lawan jenis dengan dalih mengungkap misteri di masa lalu yang bisa saja masih bergejolak hingga sekarang. Jadi saat ibu menyarankan untuk menikahi Grizelle, aku sangat menyetujuinya. Meskipun jika itu sampai terjadi maka akan membuatku memiliki lebih dari satu orang istri, tapi sebagai bentuk tanggung jawab aku akan tetap menerimanya.