
“Jadi kau memang hanya berniat untuk memanfaatkanku?!”
Kali ini aku kurang tahu kenapa, tapi wajahnya terlihat kesal. Atau apa dia memang menerima tawaranku untuk menjadi temannya?
Sebelum akhirnya membuka pintu, aku menghentikan langkahku untuk menyampaikan sesuatu yang jelas.
“Terserah kau berkata apa, tapi kalau butuh sesuatu, jangan lupa memanggilku.”
Aku tidak tahu bagaimana dia bereaksi setelah aku mengucapkan itu, tetapi yang jelas sekarang aku sudah berada di luar kelas.
Sama sekali tidak ada orang di sini. Meski memandang jauh lorong sekolah yang ujungnya seolah tidak pernah dibangun, tidak ada satu pun suara langkah kaki yang terdengar. Untuk mengatasinya, aku kembali berjalan menuju halaman sekolah yang sepertinya menjadi pusat dari berkumpulnya semua orang. Dan pada kenyataannya memang seperti itu. Di luar sangat ramai, lebih ramai daripada sebelumnya.
Ketika melewati kerumunan, sempat ada yang menawariku brosur perekrutan anggota klub, tapi tidak seperti sebelumnya, kali ini aku memutuskan untuk menolaknya. Setelah itu aku duduk pada kursi yang bisa menampung sekitar 3 sampai 5 orang dengan naungan dari pohon di dekatnya.
“Apa mereka tidak panas ya?” tanyaku.
Sudah jelas karena ini musim panas, jadi jika memasuki siang hari, rasanya seperti sedang dibakar hidup-hidup.
Aku tidak heran kenapa orang-orang di sekitarku sekarang hampir semuanya menunjukkan wajah bahagia. Meski ada keringat di beberapa bagian tubuh mereka, seolah itu benar-benar telah mempertahankan mereka dari peningkatan suhu akibat sinar matahari. Lain daripada itu, ada juga yang beristirahat pada naungan-naungan sama sepertiku, mereka jelas sedang kelelahan.
Tapi berbeda denganku, saat haus mereka punya sesuatu yang menyegarkan untuk diminum. Aku tahu mereka membelinya di sini, tapi ada harga untuk mendapatkannya, yang jadi masalah adalah di bagian itu, uangnya tidak ada. Jelas jika meminta lagi yang gratis, memang bukanlah ide buruk, tapi aku bahkan tidak yakin ada semacam minuman yang dibagikan secara gratis sebagai ajang promosi klub.
Tidak, tunggu sebentar. Seingatku, tidak ada peraturan yang melarang seorang siswa untuk pergi ke rumahnya selama bukan dalam waktu pembelajaran aktif. Dengan berdasarkan fakta tersebut, aku memutuskan untuk pulang ke rumah dengan menaiki sepeda, tujuannya adalah mengambil Kartu Identitas yang dapat digunakan untuk kegiatan bayar membayar.
Meskipun dari fungsinya—Kartu Identitas—seolah menggantikan peran uang sebagai alat pembayaran yang sah, tetapi uang kertas tetap tidak luntur dari sejarah. Lagi pula untuk mengisi saldo, uang asli kebanyakan akan menunjukkan perannya, aku tidak tahu pastinya karena saldoku tidak pernah habis sejak dulu. Selain itu, kebiasaanku yaitu lupa membawa barang apa pun saat di luar rumah, menjadi salah satu alasan kenapa sampai sekarang pun jumlah uangku tidak pernah berkurang, tapi sudah lama aku tidak memeriksanya lagi.
Setelah sampai di rumah dan kembali lagi ke sekolah, aku langsung saja membeli minuman yang kumau dari dagangan para siswa lalu duduk di kursi yang sama seperti sebelumnya.
Rasanya seperti di surga, rasa manis yang dingin membuat dahaga hilang sepenuhnya. Ditambah setelah bolak-balik dengan jarak yang butuh waktu puluhan menit untuk menempuhnya, semakin membuat kenikmatan dari minuman ini menjadi-jadi.
Aku suka momen-momen seperti sekarang, maksudku, berkeringat merupakan hal yang bagus. Karena itu juga meskipun tidak punya teman yang bisa diajak, aku sering kali berolahraga dengan menggunakan sepeda baik di pagi maupun sore hari. Dulu sebenarnya hal semacam ini sangat mustahil untuk kulakukan, bahkan jika melakukannya mungkin sudah bagaikan sebuah keajaiban, tetapi sebab ada suatu alasan yang mendorongku, jadi seolah ada pemicu yang selalu mencegahku dari kondisi malas sehingga masa lalu benar-benar menjadi sebuah masa lalu.
Kemudian, ya, minumannya habis karena memang sengaja kuminum dengan cepat. Setelah membuangnya lalu memilih untuk kembali duduk di tempat yang sama untuk kesekian kalinya, entah kenapa rasanya lelah sekali. Aku membaringkan tubuhku pada kursi, menatap ke atas beruntungnya langit yang menyilaukan tertutup oleh dedaunan.
Tanpa kuduga aku malah tertidur pulas.
Ketika bangun, aku langsung keheranan kenapa bisa sampai tertidur. Dengan mata yang masih sedikit rapat, aku memeriksa kondisi sekitar dengan hanya duduk pada kursi. Beruntungnya, masih ada banyak orang meskipun sudah tidak sebanyak sebelumnya. Setidaknya itu masih bagus, tidak bisa dibayangkan jika saat bangun kondisi sekitar menunjukkan kalau waktu pulang telah berlalu sejak lama.
Tapi dari cuaca yang terasa tidak terlalu panas, kemungkinan sekarang sudah sekitar pukul 1 atau 2. Setahuku untuk pulang sendiri bel sekolah akan berbunyi saat jam menunjukkan tepat pukul 3, dengan kata lain ini masih belum waktunya untuk pulang.
“Jadi kau sudah bangun, padahal aku baru saja berniat membangunkanmu, karena sebentar lagi akan pulang.”
“Eh...”
Benar seperti dugaanku, ini sudah memasuki bagian akhir dari siang hari. Dengan kata lain, kemungkinan besar aku telah tidur selama lebih dari 1, 2, atau 3 jam?
Itu waktu yang sangat lama, apalagi tidurnya di sekolah. Untung saja bukan pada waktu pembelajaran, tidak bisa kubayangkan jika hal tersebut sampai terjadi.
“Ini, kopi. Aku sengaja membelikannya untukmu.
“Oh, terima kasih.”
Tanganku jadi hangat sekarang, perlahan itu mulai menjalar pada bagian tubuhku yang lain. Kopi yang Ryuga berikan padaku sepertinya terbuat dari satu bahan murni saja, sehingga warnanya hitam pekat.
Karena meminum minuman dengan berdiri dikatakan dapat membawa penyakit tertentu, aku memutuskan untuk duduk pada kursi terdekat yang setelahnya diikuti oleh Ryuga.
“Kapan waktu tepatnya kau bertemu denganku saat tidur tadi?”
“Sekitar sepuluh menit yang lalu.”
Selagi dia menjawab pertanyaanku, aku meminum kopi yang baru saja diberikannya. Benar seperti dugaanku sebelumnya, ini murni hanya terbuat dari satu bahan, yaitu kopi itu sendiri, tanpa campuran susu, gula, maupun pemanis lainnya. Tapi bukan berarti tidak enak, dihidangkan segelas kopi setelah bangun tidur, rasanya membuatku tidak dapat berkata apa-apa.
“Ryuga, aku ingin bertanya.”
“Tentang apa?”
“Perempuan yang tatapannya tajam waktu kita berdiskusi di ruang klubmu, namanya siapa?”
Bertanya demikian, dapat membuatku memperoleh banyak kesimpulan hanya dengan berdasar pada satu jawaban. Jelas karena jika dia menjawab namanya, maka sudah pasti orangnya adalah yang sedang kutanyakan, tetapi jika jawabannya “AI” maka perlu melakukan pertanyaan ulang tentang perempuan yang wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ekspresi waktu itu.
“Dia Sherly. Memangnya kenapa?”
“Tidak, tadi ada kejadian di kelasku, jadi sedikit penasaran saja.”
Ryuga melirik ke arahku seolah tertarik masuk pada topik yang baru saja kukatakan. Untuk beberapa alasan yang tidak kutahu, dia terlihat lebih serius dari biasanya, seakan-akan orang di sampingku merupakan keberadaan yang berbeda.