
Apa-apaan dengan ekspresinya itu? Aku bahkan tidak pernah membayangkan raut wajahnya berubah menjadi seperti sekarang. Yang kulihat, ada banyak sekali rasa yang tertuang, baik itu kebahagiaan, kesedihan, kepasrahan, harapan, terharu, dan semua hal yang rasanya mustahil jika itu dia.
Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan sekarang. Rasanya aku telah tanpa sengaja membuat seseorang kehilangan jati dirinya, atau malah kembali pada jati dirinya yang sebenarnya. Memang waktu itu, sama sekali tidak kuduga Grizelle akan menangis ketika lelaki yang tiba-tiba datang saja mengasarinya, tetapi kali ini, bahkan aku hanya menunjukkannya sebuah surat.
Ya, itu memang seperti sebuah pernyataan cinta. Dan kalau dipikir-pikir lagi, bisa saja dia malu karena salah paham dengan pengertian akan sesuatu yang merujuk pada kencan. Namun, bahkan tipe orang seperti Grizelle, melihat betapa polosnya dia, membuat kepalaku bekerja lebih keras untuk memecahkan penyebabnya, seharusnya itu berhubungan dengan masa lalunya.
“Tidak, jangan salah paham, aku hanya ingin bertanya apa kau tahu orang yang meletakkan surat itu di kolong mejaku.”
Mungkin karena sadar kalau dirinya telah salah paham, dia menutup wajahnya dengan menggunakan kedua tangan untuk sementara waktu lalu dilanjutkan dengan merapikan rambutnya ke belakang.
Dia kembali normal setelahnya, itu ditandai dengan ekspresi wajahnya yang tenang tetapi tajam.
“Maaf.”
“Ah, iya, tidak apa-apa.”
Entah kenapa sekarang suasananya malah menjadi sangat canggung. Hampir sama seperti saat pertama kali aku mengobrol dengannya, tetapi waktu itu tidak seberat ini, seharusnya aku menikmati saat-saat di mana dia menjawab pertanyaanku dengan kedinginannya.
“Ja-jadi, apa kau tahu orang yang meletakkan surat itu?”
“Tidak. Sejak aku datang tidak ada seorang pun yang berjalan ke arah mejamu, dan kelas memang sudah ramai.”
Meski dia berkata dengan wajah yang tenang, itu malah terlihat lucu saat mulutnya memakan es krim yang sebelumnya ingin dia ambil.
“Apa boleh aku membaca isinya?” tanya dia.
Aku menanggapinya dengan sebuah anggukan sembari lanjut memakan pisang goreng yang belum kuhabiskan.
Dia membuka amplopnya dengan sangat pelan, seolah tak ingin membuat sedikit pun lekukan yang dapat merusak tampilan luar. Saat membaca isinya, wajahnya biasa saja, tapi mungkin aku tahu bagaimana dia berpikir sekarang, “Kenapa lebih ke pernyataan ajakan daripada pernyataan cinta?” kira-kira seperti itu, karena reaksiku juga begitu pada awalnya.
Kemudian dia kembali merapikannya dan menyerahkannya kepadaku lagi.
Aku sudah tahu ini akan menjadi sulit, dari awal pikiranku sudah menganggapnya demikian. Memang sebuah kasus sederhana, dampaknya juga tidak terlalu banyak atau bahkan tidak ada sama sekali, tetapi aku merasa hal ini harus dipecahkan, seolah pelakunya sudah menduga kalau aku akan ke mana nantinya.
Jika memang menganggap orang tersebut dekat denganku, sehingga tahu banyak hal dariku, maka jelas berdasarkan fakta yang ada itu terdengar mustahil. Lagi pula, melihat saja pada tujuannya, aku tidak bisa memikirkan apa pun yang “jelas”.
Setelah menghabiskan pisang goreng disertai dengan berbagai pemikiran yang kacau, aku melihat es krim yang Grizelle makan juga sudah habis.
Tiba-tiba dia menunjuk ke salah satu makanan.
“Boleh aku ambil roti yang di sana?”
“Iya, silakan. Kalau perlu habiskan saja semuanya.”
Dia sangat berbeda saat pertama kali aku menawarinya. Tidak ada lagi yang namanya malu-malu, sekarang malah lebih mirip seorang wanita dewasa yang jauh dari kata labil. Namun, melihatnya makan rasanya menenangkan hati, aku bahkan tidak menduga kenapa bisa seakrab ini dengan perempuan hanya dalam waktu kurang dari satu hari.
Bahkan jika Grizelle memintanya, aku akan memesan makanan lagi agar pemandangan ini menjadi semakin lama terkikis oleh waktu. Berkata begitu, sebenarnya aku juga memakan makanan yang dipesan dengan sangat lahap, berbeda dengannya yang tenang-tenang saja.
“Aku belum sempat bertanya, apa penyebab kau bertengkar sebelumnya?”
Meski sibuk makan, Grizelle sepertinya berniat menyempatkan waktu untuk menjawab pertanyaanku.
“Kau tidak perlu ikut campur, ini masalah pribadi.”
“Oh, baiklah. Tapi aku masih heran saja, kenapa kau memilih untuk bekerja di sini?”
“Aku pikir kau harus banyak-banyak membaca buku yang membahas tentang keinginan manusia.”
Dia kembali melanjutkan makannya. Sebenarnya mengingat ini bukan makanan yang butuh gerak ekstra untuk mengonsumsinya, sehingga sambil berbicara pun aku rasa masih bisa, hanya saja beberapa orang di luar sana akan menganggapnya tidak sopan.
“Semacam pengetahuan sosial?”
“Memang itu.”
“Kalau begitu apa kau sudah membaca buku yang berjudul 1001 Cara Mendapatkan Teman?”
Bisa saja dulu dia mengalami kondisi yang sama seperti yang kualami saat ini, ingin punya banyak teman tetapi tidak tahu cara mendapatkannya. Karena itu juga sampai membaca informasi yang berhubungan demi terwujudnya keinginan.
Tentu dari sudut pandang orang lain akan terlihat menyedihkan, betapa suramnya kehidupan orang yang kesepian. Namun, pada kenyataannya seharusnya apa yang orang lain lakukan adalah merangkul mereka-mereka yang gagal dalam menjalani kehidupan, bukan malah menjauhinya.
Ya, aku tidak berhak berkata begitu, karena dulu aku juga lebih memilih untuk menjauhkan diri dari pergaulan, dan di akhir malah membawa penyesalan.
“Aku sepertinya membacanya, karena kebanyakan buku sudah selesai kubaca, jadi tidak ada pilihan lain selain membaca yang belum.”
Alasan yang bagus, Grizelle, tapi aku tahu kau berbohong. Seseorang yang sudah mengalami apa yang orang lain alami, jauh lebih peka dari rata-rata manusia pada umumnya, bahkan dekat dengan gelar Maha Tahu. Lagi pula itu cara berbohong yang buruk, tanpa alasan pun setiap orang akan punya banyak dugaan, jadi kesimpulan tidak dapat ditarik dengan mudah.
“Berbicara tentang teman, apa kau sudah menerimaku sebagai temanmu?”
“Aku tidak butuh teman.”
“Kenapa begitu?”
“Sudah kubilang karena mereka palsu, hanya datang di waktu-waktu tertentu saja.”
Seperti biasa, dia sedikit kesal saat membicarakan topik ini. Aku pikir dia masih belum terlepas dari masa lalunya, ataupun memang jatuh mental karena perlakuan kakaknya.
“Kalau begitu aku akan menjadi temanmu yang asli, bagaimana?”
“Tetap tidak butuh. Sudahlah, makanannya juga sudah habis, tapi terima kasih banyak.”
Rasanya aku cukup tercengang, ini lebih cepat dari yang kuduga sebelumnya. Tidak pernah kubayangkan Grizelle punya nafsu makan yang besar, menyaingiku atau bahkan melebihiku. Ternyata dia punya banyak sisi di dalam dirinya, sementara aku telah mengetahui beberapa dari itu, karena bisa saja dia masih punya sisi yang lain.
Selanjutnya tanpa perlu di suruh, Grizelle kembali mengangkut semua peralatan makan ke atas trolinya, aku sedikit membantu. Ketika dia berjalan ke belakang, aku mengikutinya untuk menuju pada meja kasir. Di sana aku menggunakan Kartu Identitas sebagai media pembayaran, tetapi kasirnya malah tercengang.
Apa jumlahnya terlalu banyak sehingga membuatnya begitu? Selain itu seingatku, aku sudah lama tidak memeriksa jumlah saldo di dalamnya, sehingga—
“Maaf bukan bermaksud apa-apa, ada berapa angka dari jumlah uangku?” Aku mengucapkannya dengan pelan agar orang-orang tidak mengira kalau aku sombong.
“Ada 10,” bisiknya.
Mengejutkan, bahkan sebelumnya hanya sekitar jutaan saja waktu terakhir kali kulihat. Aku pikir ini ulah ibuku yang sedang bosan, dia terkadang melakukan hal-hal yang tak terduga hanya untuk sebuah lelucon.
Setelah mengetahui bahwa jumlahnya sudah sangat lebih dari cukup, aku memeriksa sekitar dan mendapati kalau Grizelle sedang tidak ada, mungkin sibuk di bagian belakang. Tujuanku melakukannya, tentu saja ada.
“Oh iya, berikan 10.000-nya sebagai uang tip untuk Grizelle.”
“Anda serius?!”
“Stttt, jangan berisik!”
“Maafkan saya.”
Alasan aku melakukannya, karena firasatku yang mengatakan kalau ini memang perlu. Sebenarnya ketika aku mendengar jawaban dari Grizelle saat bertanya mengenai alasannya bekerja di tempat seperti ini, tentu ada banyak hal yang langsung muncul di kepalaku.
Dengan dia yang menyuruhku untuk membaca buku yang berisi tentang keinginan manusia, seolah memang mengisyaratkan bahwa keinginannya juga ada di dalam buku tersebut. Sedangkan dari yang kutahu, berdasarkan beberapa keinginan manusia, yang cocok dengan Grizelle adalah kekayaan atau sebut saja uang, jelas karena pada kejadian di kelas sebelumnya, itu ada sangkut pautnya dengan uang. Selain itu, seharusnya jika dia berkecukupan, dia tidak akan bekerja di sini, tentu alasannya banyak sekali, misal melihat pada sifat manusia yang serakah, ada kaitannya dengan gaji dari masing-masing pekerjaan yang ada, dengan kata lain kemungkinan gaji di sini lebih besar, ditambah uang tip dari para pelanggan yang dapat membuat seseorang menjadi kaya seketika. Lalu jika memikirkan kemungkinan lain, seharusnya ada suatu kondisi yang mengharuskan Grizelle melakukan hal semacam ini, selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bisa saja dia ingin membeli sesuatu seperti yang remaja inginkan pada umumnya, tetapi memikirkan bahwa orangnya adalah Grizelle, aku pikir itu salah.
Lalu bagaimana dengan keinginan manusia yang lain? Kembali lagi seperti yang kukatakan sebelumnya, jika orangnya adalah Grizelle, itu adalah sesuatu yang mustahil terjadi, tetapi sebenarnya belum tentu juga, bisa saja dia punya sesuatu yang belum aku tahu, jadi setidaknya akan ada sebuah jalur baru yang muncul nantinya. Maksudku, jika berbicara tentang popularitas, berdasarkan kepribadiannya, hal semacam itu tidak terlihat seperti sesuatu yang dibutuhkan olehnya untuk menjalani hidup.
Lagi pula, aku bahkan masih bertanya-tanya pada diriku sendiri kenapa bisa sejauh ini memikirkannya. Seolah meskipun terdengar fiktif, ada sesuatu yang bangkit dari dalam diriku. Serta tanpa kuharapkan sebelumnya, kepalaku menjadi terlalu keras bekerja, tapi aku pikir aku akan semakin meningkat karena itu juga. Sebenarnya penggunaan pikiran secara berlebihan telah kualami sejak ujian tes pendaftaran. Memang cuma sehari, tetapi tentu saja otakku akan meresponsnya sebagai kerja 1 tahun dalam 1 waktu karena normalnya aku tidak akan melakukan yang demikian.
“Apa Anda ingin menyampaikan pesan?”
“Hmmm. Mungkin begini saja, saat dia bertanya siapa yang memberinya, jawab saja dari temanmu.”
“Baik, akan saya sampaikan.”
Setelahnya dia kembali mengembalikan Kartu Identitasku dari mesin penggesekan. Sampai keluar dari kafe lalu kembali menaiki sepedaku, aku sudah tidak melihat lagi Grizelle, mungkin dia sedang sibuk. Jadi tanpa menyapanya lagi, aku lanjut menuju rumah dengan perut yang bisa dibilang sudah terisi.