Since The Fall Of Maglindo

Since The Fall Of Maglindo
Bab 03: Sudahkah Memakan Pisang Itu?



Ketika memilih untuk memarkirkan sepeda, tujuanku adalah mampir pada kafe bergaya maid yang ada di sebelah kanan jalan.


Dari sebelumnya berjalan meninggalkan sekolah, aku sempat menemukan semacam restoran besar tetapi rasanya keramaian yang ada di dalamnya dapat membuatku tidak nyaman. Berbeda dengan kafe yang sekarang berniat untuk kumasuki, luasnya bahkan tidak bisa mengalahkan luas dari kamarku. Dengan kata lain, betapa sempurnanya tempat tersebut untuk dijadikan sebuah tongkrongan.


Masuk ke dalamnya, ada cukup banyak orang tetapi tidak sampai memenuhi seluruh ruangan. Meski di depan ada beberapa tempat duduk yang kosong, aku lebih memilih yang berada di sudut, itu paling jauh dari pintu.


Saat melihat menu makanan yang ditawarkan melalui semacam buku tipis yang dari awal memang sudah ada di atas meja, di halaman awalnya saja aku sudah bisa menentukan makanan apa yang ingin dipesan.


Aku menunggu sebentar karena pelayannya sendiri seharusnya butuh waktu untuk melayani para pelanggan. Ketika melirik ke samping, rasanya ada pelayan yang sepertinya berjalan ke arahku, di situ aku berpikir kalau sekarang sudah giliranku. Tetapi meskipun dari kejauhan, rasanya aku pernah melihatnya orang tersebut. Merasa bukan sesuatu yang perlu dipikirkan, aku kembali menatap ke depan dengan posisi duduk yang tegak.


“Selamat datang, Tuan, apa ada yang ingin Anda ....”


Pada bagian akhir suaranya, itu terdengar seperti menghilang. Penasaran apa ada yang aneh, saat menoleh ke arahnya, memanglah aneh.


“Eh?”


Aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Orang yang menjadi pelayan, tanpa diduga-duga sebelumnya ternyata adalah Grizelle. Tentu aku keheranan, sehingga karena keheranan itu, aku malah bersyukur. Kenapa? Karena kapan lagi bisa melihatnya mengenakan kostum pelayan. Selain itu, dia terlihat sangat cantik, perpaduan antara warna hitam dan putih seolah sinkron dengannya.


“Kenapa kau bisa ada di sini?!” tanya Grizelle.


Sebenarnya dia juga terkejut meskipun agak menahannya agar tidak mengganggu pelanggan lain, ditambah sepertinya malu karena aku melihatnya dalam kondisi yang sekarang.


Sementara Grizelle sibuk dengan ekspresinya, aku mulai dengan cepat beradaptasi sehingga ketenangan tidak buyar. Tentu pada kenyataannya, hatiku sedang berbunga-bunga sekarang, rasanya seolah sebuah keajaiban sedang menimpaku.


“Hanya mampir saja, perutku lapar.”


Mungkin merasa kalah kenapa aku bisa setenang ini, dia mulai menarik napas dalam-dalam sehingga kemerahan di wajahnya berangsur-angsur sirna.


“Jadi, kau ingin pesan apa?”


“Kenapa tidak pakai ‘Tuan’ atau ‘Anda’ saja? Itu terdengar lebih baik.”


“Jangan macam-macam, aku akan mengusirmu.”


Tidak kuduga dia juga bisa mengatakan itu, tapi kesan imutnya tetap tidak hilang. Aku pikir akan menjadikan tempat ini sebagai tongkrongan sepulang sekolah saja, dengan kata lain tidak perlu sarapan dari rumah.


Nikmat apalagi yang ingin kudustakan? Melihat Grizelle yang bagaikan seorang tuan putri yang dingin mengenakan kostum sehingga lebih dari setengah kakinya yang putih sampai kelihatan, membuatku ingin terus menatapnya untuk 5 jam ke depan.


Tapi kenapa dia memilih untuk bekerja di sini? Memang tidak ada larangan dari sekolah yang mengharusnya muridnya agar tidak boleh bekerja, tetapi aku pikir menjadi pelayan sepertinya Grizelle sendiri pun seharusnya tidak menyukainya, jelas jika melihat pada kepribadiannya, menjadi kasir di minimarket merupakan pilihan yang memiliki kemungkinan besar untuk dipilihnya.


“Aku ingin memesan semua makanan yang ada di halaman pertama, lalu es jeruk dan es krim serta kalau ada juga jangan lupa makanan lain yang mengenyangkan.”


“Kau serius dengan itu?”


“Iya, tentu saja.”


Sebenarnya kalau dipikir-pikir kebanyakan kafe dari awal memang tidak menyediakan makanan yang berat, maksudku semacam ayam bakar, soto, bakso atau semacamnya, tapi lebih ke dessert meskipun tidak jarang porsinya melebihi makanan utama itu sendiri.


Rencana yang bagus, benar-benar bagus. Selain itu, ada beberapa hal yang ingin kutanyakan kepadanya. Seharusnya tidak masalah mengajaknya mengobrol sebentar, lagi pula pelayannya juga bukan hanya dia seorang, jadi tentu tidak akan mengganggu, bahkan ada beberapa yang asyik dengan para pelanggannya sampai suara tawa mereka terdengar ke sini.


Di saat Grizelle pergi menyiapkan pesananku, aku hanya diam saja bersender ke belakang. Mencoba bersiul tetapi tidak bisa, rasanya aku mulai terlihat seperti seseorang yang kesepian jika membandingkannya dengan pelanggan yang lain, meski pada kenyataannya memang begitu.


Aku tahu, karena pesananku banyak, jadi tentu saja akan butuh waktu yang lama. Namun, setengah dari waktu yang kukira akan dihabiskan untuk membuat hidangan, ternyata belum sampai ke sana Grizelle sudah mengantarkannya. Dia menggunakan semacam troli makanan karena jumlah pesananku terlalu banyak sehingga tidak dapat diangkut menggunakan tangan.


Setelah keseluruhan pesanan dihidangkan di atas meja, itu benar-benar banyak, bahkan orang yang rakus juga akan menganggapnya demikian.


“Silakan dimakan, Tuan.”


Meski Grizelle memanggilku tuan, tetapi wajahnya menyeringai seolah sedang meremehkanku. Apa dia pikir hal semacam ini mustahil untuk kulakukan? Padahal sebenarnya tidak. Tapi lagi pula—


“Bagaimana kalau kau bantu memakannya, Grizelle.”


“Ti-tidak, mana mungkin!”


Ekspresinya langsung berubah, dia semakin terlihat menggemaskan. Aku sebelumnya tidak pernah memikirkan akan melihat sebuah sisi yang baru darinya.


“Kenapa wajahmu memerah?”


“Huh? Tidak!”


“Kalau begitu duduklah, ada yang ingin kubicarakan.”


Selagi berbicara seperti itu, aku memberikan isyarat kepadanya bahwa semua orang sedang menatapnya karena berbicara terlalu keras. Sebenarnya tujuan asliku hanya agar dia mau duduk berhadapan denganku di kursi yang satunya.


Mungkin karena sadar akan hal tersebut, dia akhirnya dengan terpaksa melakukannya. Tapi wajahnya sebisa mungkin menolak untuk menatapku, entah karena alasan apa.


Mengingat kembali topik yang ingin kubahas dengannya, membuatku menyela saku celana. Tujuanku adalah menanyakan tentang surat yang masih belum jelas asal usulnya.


“Kau tahu tentang ini?”


Meski aku berbicara dengannya, dia tetap tidak mau menatap. Ini membuatku mengira-ngira kenapa dia bisa begitu, padahal tidak ada yang salah.


Dengan terpaksa aku menggerak-gerakkan surat di tanganku agar masuk dalam jangkauan matanya. Namun, tentu saja tidak mudah, karena dia selalu berpaling. Akhirnya aku memilih untuk menyerah saat kelaparan kembali memanggil.


Pertama-tama aku meletakkan suratnya di depan Grizelle, lalu memilih meminum es jeruk terlebih dahulu sebagai pembuka dan dilanjutkan makanan yang lain secara bergantian. Karena seperti yang telah kutawarkan pada Grizelle sebelumnya, jadi aku ingin menyisakan beberapa bagian untuknya.


Tentu sesekali aku curi-curi pandang terhadapnya. Tepat saat aku sampai di pisang goreng yang di atasnya ditaburi banyak keju serta coklat manis yang zig-zag, dia akhirnya mau menatap ke depan.


“Oh, apa kau mau?”


Bertanya demikian, sepertinya Grizelle tertarik pada bagian es krim. Tetapi sebelum dia berhasil meraihnya, matanya sadar akan kehadiran sesuatu yang asing.


“Surat ... cinta? Apa kau berniat ....”


Aku bahkan sangat terkejut saat mendengarnya, sehingga pada akhirnya malah tersedak. Sama sekali tidak pernah kubayangkan dia akan berkata hal semacam itu, bahkan jika mendasarkan pada kepribadiannya, memikirkan hal tersebut saja sudah sebuah kemustahilan. Tapi dia yang sekarang, rasanya perempuan di depanku seolah berbeda.