Since The Fall Of Maglindo

Since The Fall Of Maglindo
Bab 01 bagian VI: Tujuan Hidup



Sebenarnya aku cukup suka membaca hal-hal yang berhubungan dengan kesosialan, baik pada buku, internet, maupun secara langsung melalu penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Segala hal yang membuatku penasaran, membuat kepalaku dipenuhi berbagai pertanyaan, mengubah cara berpikir menjadi sepenuhnya kebingungan, aku sering mempelajarinya melalui bacaan. Namun di sini, bisa disimpulkan kalau aku termasuk tipe orang yang suka membaca, hanya saja itu bukan buku pelajaran.


“Oh iya, Ryuga!”


Aku mengingat sesuatu yang penting, salah satu penyebab kenapa aku bisa ada di sini.


Dengan menggunakan tangan kanan, aku menyela saku celana untuk mengambil sebuah surat yang kutemukan sebelumnya pada kolong meja.


Ketika menunjukkannya, wajah Ryuga tidak terlihat seperti dia adalah pelakunya. Sebuah ekspresi yang juga mengatakan bahwa seseorang sedang kebingungan dengan apa yang sedang terjadi.


“Apa itu, surat?”


Aku sedikit tertawa meremehkan dengan pertanyaannya itu.


“Seperti yang kau lihat, ini sebuah surat. Cobalah baca sebentar.”


Dia mengambilnya. Selagi Ryuga mencoba membukanya dengan sebisa mungkin agar tidak merusak amplop surat, aku mencoba menjelaskan.


“Itu kutemukan di dalam kolong mejaku. Sebenarnya aku ke sini juga berkat dorongan dari kalimat yang tertulis di dalamnya. Ya, lebih ke anak panah sih. Aku pikir itu juga rencana kalian untuk menarik seseorang ke sini.”


Ketika membacanya, dahi Ryuga sedikit berkerut. Selain itu untuk memastikan, aku menyempatkan diri untuk melihat bagaimana reaksi kedua perempuan yang sebelumnya menatapku. Tapi sayangnya aku baru ingat kalau mereka telah hilang sejak tadi, “Dasar pelupa” itulah yang kuucapkan pada diriku sendiri.


“Bukan aku yang melakukannya. Apa mungkin AI ya? Tidak, itu jelas mustahil.” Dia bertanya pada dirinya sendiri.


Meski penasaran siapa yang bernama AI—penyebutannya sulit—di antara mereka, aku sebisa mungkin memfokuskan pikiran pada topik yang sedang dibahas.


“Lalu siapa pelakunya? Aku pikir ini bukan hanya sebuah lelucon yang kebetulan terjadi, atau sebuah surat salah sasaran.”


“Aku juga kebingungan sekarang. Boleh aku simpan surat ini untuk sementara? Nanti akan kutanyakan langsung pada beberapa orang yang bersangkutan.”


“Ambil saja, itu tidak bisa dimakan.”


Merasa percakapan ini telah menyelesaikan bagian klimaksnya, aku berniat untuk pergi dengan beranjak dari kursi.


Ketika berjalan menuju pintu, tidak ada satu pun kata yang ingin kuucapkan, seperti “Sampai jumpa” atau semacamnya, begitu juga Ryuga yang hanya diam saja menatapku dengan senyum ciri khasnya.


Setelah sepenuhnya berada di luar, aku diam sejenak. Tadi itu sebuah pengalaman yang bagus, termasuk salah satu kejadian yang cocok untuk disimpan ke dalam ingatan kecilku.


Sebenarnya ada sedikit penyesalan saat aku memutuskan untuk menolak tawaran bergabung darinya. Siapa yang menduga akan ada kesempatan besar semacam itu, benar-benar sangat mengejutkan. Tetapi seperti sifat asli manusia, saat menginginkan sesuatu dan dikabulkan Tuhan, maka keinginan selanjutnya akan jauh lebih besar.


Aku menolak tawaran mereka karena ada alasan yang jelas, yaitu peluang untuk mendapatkan banyak teman masih lebih terbuka jika di luar sana. Dengan kata lain ini adalah sebuah pertaruhan, masa mudaku menjadi biaya untuk mewujudkannya. Jika gagal, juga tidak masalah, hal-hal menyedihkan seperti kesepian sudah bagaikan makanan sehari-hari bagiku. Tapi bukan berarti aku akan berhenti mengubah warna hidupku yang suram, masih ada banyak waktu. Lagi pula sejak dulu aku sudah sepenuhnya sadar, berpikir naif dengan menganggap kalau mendapatkan 1000 teman hanya dengan berdiam diri di kursi belakang itu adalah hal yang mudah.


Dalam pikiranku selalu tersemat; ini dunia nyata, bukan cerita fiksi karya seseorang. Bukan berarti aku tidak mengharapkannya, aku ingin, tapi mustahil membentuk sebuah harem hanya dengan pura-pura bersifat tidak peka. Aku juga tidak mengaku kalau diriku ini merupakan seseorang yang paling menyedihkan, sial, di dunia ini. Ada banyak juga orang yang sepertiku, setidaknya satu di setiap distrik, dan kalau kami saling bertemu maka akan tercipta sebuah ikatan. Masalahnya itu belum kutemukan untuk sekarang.


Ketika pikiranku dipenuhi berbagai hal yang dapat memutar balikkan fakta, ada satu pertanyaan yang masih ingin kutanyakan pada Ryuga.


Aku kembali membuka pintu dengan hanya memunculkan sebagian tubuhku dari baliknya.


Ryuga tetap pada posisinya, sama, tidak ada gerakan baik dari raut wajahnya yang murah senyum.


“Boleh aku bertanya satu pertanyaan lagi, Ryuga?”


“Iya, tentu saja.”


Terjadi jeda sejenak karena aku mencoba mengingat kembali apa yang ingin kutanyakan. Beruntungnya itu tidak tiba-tiba masuk ke dalam mode lupa.


“Tahun lalu, berapa anggota klub ini?”


“Empat orang.”


Sudah kuduga, ini jauh melebihi pemikiranku.


Setelahnya aku kembali menutup pintu dan diam sejenak untuk kedua kalinya. Berbeda saat pertama masuk ke sini, pikiranku rasanya tidak terlalu berat, tetapi setelah keluar seolah semua hal sedang berkecamuk di dalam kepalaku.


Di sini, Klub Relawan, menyimpan berbagai rahasia di dalamnya. Ryuga memang tidak menyinggung secara langsung tentang ini selama percakapan antara kami yang berlangsung sebelumnya, tetapi mataku jeli, karena sebenarnya tidak terlalu sulit untuk menyadarinya.


Seperti jumlah anggota mereka. Dari sana saja ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi, dan siapa pun yang punya akal sehat setidaknya akan merasakan keanehan.


Tidak, lupakan saja. Terlalu banyak berpikir hanya akan membawa penyakit, itulah kenapa ada banyak orang yang mati muda sekarang. Daripada itu, sebaiknya aku pergi berkeliling untuk mencari sesuatu yang menyenangkan.


Bagaimana dengan sarapan?


Itu ide bagus, masalahnya adalah di mana letak kantin. Aku ini siswa tahun pertama, dan ini hari pertama, jadi jelas jika belum mengetahui semua lokasi di sekokah ini. Seseorang harus menunjukkan perannya, aku butuh pemandu.


Di saat yang bersamaan, pintu terbuka dari dalam. Yang muncul tentu saja adalah Ryuga.


“Kau masih di sini, Crayon. Aku pikir sudah pergi sejak tadi.”


“Ada beberapa hal yang mengganggu kepalaku. Oh iya, sekarang kau mau ke mana?”


Ryuga bisa dijadikan sebagai pemandu, karena keberadaannya dengan jelas mengatakan kalau dia adalah kakak kelas, dengan kata lain lebih tahu tentang sekolah ini dibandingkan aku.


“Ke ruang guru.”


Itu bukan jawaban yang ingin kudengar. Lagi pula siapa yang mau ke sana kalau tidak berkepentingan. Jelas dari gabungan kata antara “ruang” dan “guru” sudah pasti dapat diartikan sebagai sebuah tempat atau ruang dalam hal ini, yang digunakan oleh para guru.


Dengan pergi ke sana, sudah seperti bunuh diri jika itu aku. Pernah beberapa kali aku masuk, dan mustahil jika seorang murid akan menyukai untuk berlama-lama di sana, suasana di dalamnya benar-benar berbeda daripada hanya berdiri di depan kelas.