
Tapi sialnya, aku masih belum mengetahui keseluruhan tempat yang ada di sekolah ini. Andaikan saja ada sebuah peta yang bisa menunjukkan arah untuk membimbing ke jalan yang benar, maka aku akan mensyukuri keberadaannya. Terlepas dari semua keinginan tersebut, entah kenapa setelah lama berjalan sampai berbelok-belok, sekarang aku malah bertemu dengan seseorang yang tidak ingin kutemui untuk sekarang, orang yang dimaksud adalah April.
Di lorong ini, tidak banyak orang yang berlalu-lalang, kebanyakan juga tidak menghentikan langkah mereka di sini. Hanya saja apa yang sedang dia lakukan?
Saat mata kami menatap pertama kali, dia berdiri dengan menyandarkan tubuhnya pada dinding. Setidaknya dari posenya, yaitu hanya bertumpu pada satu kaki sedangkan kaki yang lain menapak pada dinding, aku jadi bisa merasakan firasat buruk. Entah itu mengarah untuknya atau malah untukku, yang jelas suasana di antara kami sekarang sedang benar-benar tidak bagus.
Aku juga tidak berpikir untuk menyapanya. Lagi pula jika melakukan itu, hubungan kami yang sudah rusak akan menjadi tambah parah. Bayangkan saja, orang aneh mana yang tiba-tiba memukul orang yang tidak bersalah hanya karena tidak suka, dia adalah April, menahan agar tinjunya tidak melayang sehari saja sudah sangat sulit untuknya, dan itu sebaiknya kuhindari.
Sebenarnya, aku cukup yakin kalau dia akan menjaga tinjunya dariku. Karena selain ada kecanggungan di antara kami, dia juga selalu mencoba menjauhiku sebisa mungkin. Jadi jika tiba-tiba aku menerima pukulan darinya, tandanya dia memang ingin agar kami kembali berteman. Sedangkan hal tersebut tentu saja merupakan sebuah kemustahilan, setahuku April itu keras kepala ditambah maunya menang sendiri. Namun, sebenarnya ada kemungkinan kecil di mana dia mengajak agar kami kembali berdamai, mengingat bisa kutebak kalau sekarang dia sedang tidak punya satu pun teman di sini.
Tapi yang kubingungkan adalah bagaimana caranya bereaksi. Dia juga tidak melakukan apa-apa dari tadi, hanya menatap lantai dengan posenya. Sedangkan aku saat ini malah menghentikan langkah, yang sebenarnya tidak ada alasan untukku melakukan hal tersebut. Hanya saja jika aku memilih untuk pergi tanpa melakukan apa pun yang bisa menjadi alasan kenapa aku memilih diam di sini, maka itu akan menjadi sebuah kekalahan yang mutlak. Bagaimanapun, yang dipertandingkan antara aku dan dia adalah siapa yang berniat berteman lebih dulu, di situlah langsung dinyatakan kalah.
Aku bisa menerimanya, sebagian masalahnya juga disebabkan oleh diriku sendiri. Terlepas dari semua itu, ini adalah pertama kalinya kami bertemu di Sekolah Menengah Atas, sebuah jenjang yang lebih tinggi. Ketika di hari pertama di mana aku melihatnya berjalan kaki, memang sudah ada dugaan kalau kami punya tujuan yang sama, dari awal juga begitu. Dan aku pikir, pada akhirnya kami akan kembali berteman seperti biasanya, hanya masalah waktu sebelum hal tersebut terjadi.
Beruntungnya tidak perlu melakukan sesuatu yang lain, bel masuk akhirnya berbunyi. Rasanya sangat cepat sekali, ya, lagi pula agar pikiran para murid tidak buyar dengan sesuatu yang tidak penting sehingga bisa melanjutkan pelajaran yang sama.
Ketika aku membalikkan tubuh selagi berjalan ke arah sebelumnya, April tetap tidak bergerak dari sana. Setahuku setiap kelas dibangun sejajar, mungkin begitu, tapi ya, bisa saja ada jalan lain, atau malah di tempat lain? Tidak, daripada memusingkan hal itu, sekarang aku bahkan tidak tahu harus ke mana lagi.
Akhirnya dengan menaruh harapan kepada yang lain, aku mengikuti beberapa murid yang sepertinya juga sedang menuju ke kelas mereka masing-masing. Dan itu memang benar, karena sekarang aku sudah melewati pintu dari kelasku sendiri.
Di dalam cukup ramai, ada yang masih belum datang, begitu juga AI. Sedangkan pandangan mataku, seperti biasa selalu tertuju pada Grizelle yang sibuk belajar selagi aku berjalan menuju kursi.
Untuk beberapa tata tertib yang berlaku, dikatakan bahwa murid paling lambat masuk ke kelas 2 menit setelah bel berbunyi. Sedangkan pada kasusku, Pak December setidaknya baru akan datang dengan minimal perhitungan waktu sekitar 5 menit setelah bel berbunyi. Jadi jika suasana kelas sekarang masih kurang ramai, maka sudah bukan hal aneh lagi.
“Kau sedang belajar apa, Grizelle?”
“Tarian.”
Akhirnya dengan pertanyaan nyeleneh tersebut, Grizelle melirikku. Meski dingin, aku bisa merasakan rasa penasarannya.
“Huh?”
“Maksudku, kau berpose seperti kucing, lalu berkata, 'Nya'.”
Dengan cepat, Grizelle langsung memalingkan wajahnya kembali pada buku. Aku bisa tahu kalau sekarang dia sedang malu mendengar perkataanku.
Tapi jika misal dia benar-benar melakukannya, itu akan menjadi kenangan yang bagus untuk kuingat. Bagaimanapun, Grizelle adalah seorang perempuan yang cantik. Aku pikir dia bisa dengan mudah menjadi idola kelas jika mau. Ditambah dirinya yang juga pintar, sebelumnya pada waktu pembelajaran ada sesi di mana Pak December menguji para murid dengan pertanyaan, dan Grizelle dapat menjawabnya tanpa satu pun kesalahan.
Dari sana aku mulai menduga kalau dia termasuk dari beberapa orang yang berdiri di puncak tes pendaftaran. Aku pikir kalau aku sekarang sudah tahu bagaimana cara membedakan orang pintar dan tidak.
Hanya saja setelah Grizelle berpaling, aku cuma bisa tiduran pada meja selagi mendengarkan obrolan orang-orang di sekitarku.
Ketika Pak December datang, pembelajaran kembali dimulai. Seperti sebelumnya, semuanya berjalan dengan lancar. Terkadang ada lelucon kecil dari Pak December yang terdengar lucu karena kenaturalannya, juga kemalasannya. Tapi berbeda dengan sesi pertama, sekarang ada banyak murid yang mencoba menunjukkan kalau mereka ada. Sebelumnya hanya sedikit saja, kebanyakan didominasi Grizelle, dan itu membuat dia jadi mendapat perhatian semua orang. Dan sampai akhirnya bel istirahat kembali berbunyi, kelas ini menjadi sebuah ruangan yang dipenuhi dengan persaingan yang sengit.
Aku pikir di awal kebanyakan orang memang sengaja memilih untuk beradaptasi. Serta karena itu juga, aku mulai menganggap kalau kelas ini sebenarnya diisi oleh banyak monster, mereka benar-benar pintar dan licik.
Tapi itu semua tidak mengubah fakta kalau mereka berdesak-desakan demi menjadi nomor satu dalam hal siapa yang keluar kelas terlebih dahulu. Saat mendengar ada yang berkata “Tadi aku sempat membeli hamburger di kantin, dan itu sangat enak” aku memutuskan untuk mengikuti mereka secara diam-diam. Dengan kata lain sekarang aku juga berjalan bersama dengan kerumunan di sekitarku.
Sebenarnya sebelumnya, saat masih dikelas dan aku beranjak pergi, Grizelle sempat menatapku. Karena dia terlihat ingin ikut, jadi aku sempat menawarinya untuk ikut denganku, tapi pada akhirnya dia menolaknya dengan kembali belajar. Mau tidak mau aku tidak mencoba membujuknya lebih keras kali ini, karena perutku sudah memanggil.
Hebatnya, aku benar-benar bisa sampai ke kantin. Untuk jalurnya sudah kuingat, itu mudah karena pada dasarnya tidak sampai berputar-putar.