
“Buang ini, kau terlihat menjijikkan!”
Buku yang sedang Grizelle pegang, ditepis oleh lelaki tadi dengan sangat keras. Setelah melayang di udara, buku tersebut jatuh tepat di atas mejaku. Mendapati betapa kerasnya apa yang dilakukan laki-laki itu kepadanya, dia hanya diam saja gemetaran ketika pada saat yang bersamaan matanya mulai berkaca-kaca.
Ini bukan sesuatu yang ingin kulihat. Sebagai lelaki, seharusnya aku menolongnya, tetapi masalahnya saja belum kutahu dengan jelas. Jadi jika tiba-tiba saja datang untuk menjadi seorang pahlawan, jelas merupakan hal bodoh, karena dengan ikut campur sudah dapat ditebak masalahnya malah akan menjalar pada diriku sendiri. Karena itu aku menunggu momen-momen tertentu sebelum memulai aksi pahlawan.
Tapi jika orang lain melihatku sekarang, maka mereka akan menganggapku sebagai penguntit. Itu tidak lain dan tidak bukan sebab aku sedang menyaksikan apa yang sedang terjadi di dalam dengan cara sembunyi-sembunyi di balik jendela.
Beruntungnya setelah menyempatkan waktu untuk memeriksa kondisi sekitar, dapat kunyatakan, aman.
“Cepat berikan aku uang sakumu, semuanya!”
“Ta-tapi, Kakak, aku membutuhkannya untuk—“
Dengan cepat sebuah tamparan keras melayang di pipi Grizelle. Itu terlihat merah meskipun dari kejauhan, apalagi ditambah kulitnya yang bersih, seolah memang sengaja diciptakan Tuhan untuk momen-momen seperti ini.
Sekarang aku sedikit kesal, lelaki tersebut terlihat menjijikkan, lebih ke menyedihkan, melebihiku. Yang membuatku berpikir ulang, sepertinya dia agak menahannya, sebelumnya seingatku tangannya mengepal keras, jadi jika tiba-tiba saja berganti itu jelas patut dipertanyakan. Memang, jika perempuan bertengkar pasti kebanyakan akan menggunakan tamparan sebagai serangan utama, tapi yang di depanku ini berbeda, bukan pertengkaran melainkan penyiksaan yang parahnya bahkan dilakukan oleh kakak laki-lakinya sendiri.
Aku juga punya adik, aku juga terkadang marah terhadap Yuna, tapi tidak sampai memukul seperti ini. Malah jika marah, aku lebih ke menasihatinya saja, lebih dari itu tidak pernah terjadi, karena ibu juga punya bagian.
Sadar termakan emosi hanya akan membawa kerugian nantinya, aku mulai menenangkan diri dengan sebuah embusan napas panjang yang kasar.
“Jangan malah menangis, sialan! Cepat serahkan saja uangmu, kalau tidak aku akan melakukannya sendiri.”
Seperti yang dikatakannya, sekarang Grizelle memang sedang menangis walaupun tidak sampai tersedu-sedu. Sesekali saat matanya terasa berat, dia menyekanya dengan menggunakan tangan.
Tetapi karena dari tadi dia hanya begitu saja, kakaknya, sudah benar-benar termakan emosi. Dia mulai mengalami pemaksaan dan dirinya sama sekali tidak melawan. Melihat apa yang dilakukan lelaki tersebut, aku menjadi tambah kesal sehingga tanpa sadar telah memukul kaca dengan keras, dan aku langsung bersembunyi setelahnya.
Kemudian aku mulai kebingungan, benar-benar kebingungan dengan apa yang harus kulakukan selanjutnya. Memang benar, jika misal terpaksa, maka kami bisa saja bertengkar, tapi aku yakin akan menang. Masalahnya adalah, ini hari pertama, jelas kalau sampai terjadi keributan dengan aku sebagai pelakunya, entah apa yang akan ibu katakan padaku.
Di saat sudah ditelan secara penuh oleh rasa putus asa, aku membulatkan keputusan “Oke, ayo bertarung” dengan mantapnya selagi mencoba kembali berdiri. Sebelum aku sepenuhnya membenarkan posisi tepat ketika mata sedang menatap ke depan, seseorang berjalan menuju ke arahku dengan tatapan tajam yang seolah mengatakan kalau aku merupakan makhluk yang menjijikkan.
Itu bukan lelaki tadi, melainkan perempuan yang sebelumnya menghilang bersama AI. Tetapi sekarang dia sedang sendirian.
“Lihat ke sana!” Aku sebisa mungkin berbicara dengan suara pelan sambil memberikan isyarat melalui jari tangan.
Dia memahaminya dan menatap ke jendela. Raut wajahnya yang dari awal memang sengaja dibuat khusus untuk menolakku, meningkat pada level yang berbeda. Seolah ada aura menyeramkan yang keluar dari dirinya.
“Apa yang kau lakukan kepadanya?”
Suaranya terdengar berat, menyeramkan dan penuh tekanan, meski hanya menyaksikan dari luar, aku bisa merasakan dengan jelas. Sedangkan laki-laki tadi terlihat mencoba menyembunyikan ketakutannya melalui ekspresi wajah kesal yang dibuat-buat.
“Jawab aku, sialan! Apa yang kau lakukan padanya?”
“Memangnya kau siapa?! Pergilah, ini bukan urusanmu!”
Sementara mereka bertengkar, Grizelle hanya bisa menunduk sambil mengeluarkan air mata. Tapi sepertinya dia mencoba menahannya sebisa mungkin, aku bisa tahu karena frekuensi napasnya mulai kembali terlihat teratur.
Terfokus kepadanya, membuatku tidak bisa melihat adegan yang terjadi pada saat yang bersamaan. Kebetulan tiba-tiba terdengar sesuatu menghantam meja dengan sangat keras, dan itu memang benar terjadi.
Laki-laki yang sebelumnya terlihat masih bisa menahan keangkuhannya kini telah mengalami kekalahan telak. Dia jatuh ke lantai setelahnya.
“Hentikan, itu sudah cukup,” kata Grizelle.
Tangisannya telah berhasil dia atasi, tapi melihat kondisi kakaknya yang sekarang sudah tidak sadarkan diri membuat kebaikan yang tersisa di dalam hatinya meluap.
“Baiklah, tapi aku ingin bertanya sebentar.”
Mereka akhirnya duduk dengan tenang. Meskipun bisa dibilang kejadian ini telah berakhir, aku masih ragu untuk masuk. Tapi sepertinya Grizelle menyadari keberadaanku, walau dia langsung memalingkan wajahnya sih.
Selagi mereka membicarakan apa saja yang telah terjadi, aku hanya mendengarkan dengan bersender menghadap arah yang sebaliknya. Saat memikirkannya lagi, aku tidak punya peran apa pun dalam kejadian ini. Yang bisa kulakukan hanya bersembunyi, namun, aku tidak menyesalinya. Dengan kata lain tidak ada masalah baru yang terikat padaku, jadi kehidupan sekolah untuk saat ini kunyatakan, aman.
Omong-omong perempuan yang mengalahkan lelaki itu dengan mudah tadi sangalah hebat. Meski aku hanya melihat bagian akhirnya saja, mataku tetap terkesan. Kalau misal membiarkannya melawan April, siapa yang kira-kira akan menang? Ah, jelas level mereka jauh berbeda. Lagi pula, sebagai orang terkuat kedua setelah April, seharusnya aku masih bisa mengalahkan perempuan dengan mata tajam tersebut. Itu terdengar menarik, tapi aura mematikannya tadi benar-benar menakutkan, bulu kudukku merinding pada waktu bersamaan.
Setelah melamun cukup lama, akhirnya ada yang membuka pintu, itu adalah dua orang yang tadi berseteru, mereka berjalan ke arah sebaliknya dari sekarang aku berdiri. Dalam hal ini maksudku bukan Grizelle, dia sedang duduk membaca buku di dalam.
Mengherankan, padahal dia baru saja mengalami kejadian yang membuatnya menangis, dan dikatakan kalau menangis merupakan puncak dari perasaan seorang wanita. Dan sekarang dia malah asyik dengan bukunya, bahkan masih sempat untuk menulis sesuatu yang entah tentang apa itu.
Merasa sudah waktunya untuk masuk, aku akhirnya benar-benar melangkah melewati pintu dengan mantap. Ketika di dekatnya, aku mencoba menyapa dengan berkata “Yo!” tapi dia mengabaikannya, jadi aku langsung duduk begitu saja.
Note: sudah direvisi, jadi bisa baca ulang, terima kasih