
Hari ini, aku berangkat sekolah lebih pagi daripada kemarin. Tujuannya agar tidak ada lagi orang iseng yang tiba-tiba meletakkan sebuah surat di kolong mejaku. Kebetulan surat yang pertama, sudah kusimpan di tempat khusus siapa tahu suatu saat nanti akan berguna, tepatnya itu kulakukan ketika sedang pagi hari.
Tadi malam tidurku sangat nyenyak, dengan kata lain tidak lagi mengalami yang namanya Sleep Paralysis. Saat bangun tentu aku langsung bersyukur, seperti “YEAAAAAAAAH!” atau semacamnya.
Sama seperti kemarin, aku tidak sarapan dari rumah, sejak dulu itu sebenarnya sudah menjadi kebiasaanku saat tidak ada yang memasakkannya. Hanya saja ada yang berbeda, karena sekarang aku sudah membawa Kartu Identitas dan selembar uang 100-an, keduanya sedang berada di dalam tas.
Ya, mengingat sepertinya pelajaran akan langsung dimulai, jadi aku membawa beberapa buku sesuai dengan jadwal.
Ketika melewati rumah milik April, itu tertutup gerbang seperti biasa, seolah menutup diri dari dunia luar. Dan dari awal aku sudah menduganya, kalau April akan satu sekolah lagi denganku, sejak dulu juga begitu jadi tidak ada rasa heran. Daripada heran, sebenarnya aku malah merasa bersalah saat mengingat tentangnya, jadi pada dasarnya aku tidak mengharapkan agar dia memasuki sekolah yang sama.
Di perjalanan hingga akhirnya aku selesai memarkirkan sepeda, dia tidak terlihat seperti halnya kemarin. Karena aku memang sengaja berangkat pagi, jadi tidaklah aneh jika kami tidak bertemu.
Tiba di depan kelas, aku merasa ada sesuatu yang seperti ingin kulakukan, sederhananya sih berniat di awal tapi sekarang lupa bagian pentingnya. Tidak langsung berputus asa, aku berjalan menuju daftar murid yang ditempatkan satu ruang denganku. Sebelum sampai, dari jendela tidak terlihat satu pun orang yang berada di dalam.
Dan akhirnya aku mengingatnya.
Jika memperhitungkan posisi tempat duduk, maka orang di depanku berada di urutan ke—
“Kalau ada 30 berarti 5×6. Satu deret kursi ke belakang ada 6, sedangkan di kelas ada 5 deret. Dari nomor absenku yaitu 30, dan Grizelle yang berada di sampingku bernomor 29, berarti kursi orang itu bernomor ....”
Tentu saja matematika adalah pelajaran yang paling sulit. Tidak seperti seseorang yang berkata kalau matematika hanya soal menghafal rumus, aku bahkan tidak hafal satu pun rumus. Herannya, ada saja orang-orang aneh yang menganggap kalau belajar matematika sangat menyenangkan. Berbeda dengan mereka-mereka yang aneh itu, aku paling tidak menyukai sesuatu yang terkesan dilebih-lebihkan, singkatnya matematika itu merepotkan.
Dapat kujamin bahwa cita-citaku bukan sesuatu yang berhubungan dengan matematika, tapi mau tidak mau di zaman sekarang hal tersebut harus dipelajari. Bagaimanapun, kehadirannya telah membuat banyak kemajuan yang lebih dari kata berarti saja. Orang-orang genius di luar sana menggunakannya untuk mewujudkan sesuatu yang mustahil, atau bahkan lebih baik tidak mewujudkannya saja. Selain itu jika membandingkan matematika dengan pelajaran yang lain, ada beberapa perbedaan mendasar yang bisa terlihat dengan sangat jelas, aku menyadarinya secara otodidak. Ada yang bilang kalau matematika itu ilmu pasti, ya, anggap saja begitu, karena pasti dalam hal ini adalah pasti membuat kepalaku menjadi pusing.
Dengan fakta-fakta tersebut, jelas menghitung membutuhkan cara khusus yang bisa digunakan untuk mencapai hasil, aku menyebutnya rumus, dan sepertinya memang begitu. Untukku, menghitung menggunakan jari tangan adalah salah satu jawaban dari permasalahan yang kualami.
Seperti sekarang, aku sudah tahu hasilnya, mungkin aku sudah setara dengan ilmuan di luar sana.
Jariku bergerak ke bawah menuju urutan ke-25. Saat membaca nama orang yang tertera di sana, yang kutemukan sudah cukup membuatku terkejut. Bagaimana tidak, di sana tertulis “Android 1.0 AI”.
Tentu saja aku mengingatnya, selain sebagai kenalan Ryuga, dia juga seseorang yang berdiri di puncak dari seluruh siswa tahun pertama saat ini. Dan berdasarkan fakta tersebut, sementara waktu aku akan menganggap kalau dia adalah orang yang meletakkan surat di kolong mejaku. Karena seperti yang Ryuga katakan, AI juga termasuk salah satu anggota dari Klub Relawan. Jadi semuanya sudah jelas, alasan kenapa surat tersebut mengajakku untuk bergabung dengan Klub Relawan, pelakunya adalah salah satu anggota dari klub itu sendiri. Tapi yang membuatku merasa aneh, Ryuga bilang sempat menanyakannya kepada AI, dan jawabannya adalah tidak.
Lalu apa Ryuga berbohong kepadaku, atau malah AI yang berbohong kepada Ryuga?
Semuanya belum bisa ditentukan sebelum aku memastikannya secara langsung dari orang yang bersangkutan. Untuk sekarang aku punya dugaan sementara kalau AI adalah pelakunya. Tapi kemarin dia tidak masuk ke kelas, padahal di ruang klubnya ada, semoga saja sekarang dia hadir, kalau tidak aku akan tetap menanyakannya setelah istirahat, siapa tahu berada di sana lagi.
Setelah semuanya seolah menemukan titik terang, aku berjalan masuk lalu menuju kursiku di belakang. Meski sebenarnya sudah yakin, aku tetap menyempatkan waktu untuk memeriksa kolong meja, dan kunyatakan aman.
Berbeda dengan kemarin, sudah tidak ada lagi logo angka pada setiap meja. Serta hebatnya, kursi yang kemarin letaknya berantakan, sudah kembali dirapikan entah oleh siapa. Memikirkan itu, membuatku berkata, “Betapa hebatnya sekolah ini.”
Jelas jika melihat pada semua fasilitas yang disediakan, benar-benar memenuhi segala kebutuhan seluruh warga sekolah. Tidak hanya itu, dikatakan bahwa ada banyak tokoh terkenal yang terlahir dari sini. Sebab itu juga saat proses pendaftaran, aku sudah tidak merasa heran lagi ketika jumlahnya membeludak.
Setelah sekian lama menunggu, seseorang akhirnya membuka pintu. Dia adalah Grizelle, wajahnya terlihat kesal saat kami bertatapan. Tetapi bukan malah duduk pada mejanya, dia berdiri di sampingku sambil mencoba mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
Sebelum dia benar-benar melakukannya, aku pikir aku sudah tahu adegan semacam ini.
“Ini uangmu, aku tidak membutuhkannya.”
Dia menjulurkan selembar uang yang bernilai 10.000 tepat di depanku. Daripada terfokus ke sana, aku malah melihat ke pergelangan tangannya yang terdapat bekas luka akibat benda tajam yang mengiris cukup dalam.
Menyadari apa yang kulakukan, dia mencoba menutupi bekas lukanya dengan menarik lengan bajunya yang panjang. Tetapi tentu saja jika tujuannya agar aku tidak melihat, maka itu adalah sebuah kegagalan besar.
Aku tidak habis pikir tentangnya, bagaimanapun, luka pada tubuh seorang perempuan bukanlah sesuatu yang dapat dibanggakan. Seingatku, kemarin tidak ada yang seperti itu pada tangannya, atau aku saja yang tidak menyadarinya, karena pakaiannya benar-benar tertutup. Hanya saja aku sedikit berpikir kalau ini ada kaitannya dengan sesuatu berbahaya yang ada di luar pemahaman manusia normal. Dari sana saja aku bisa menebak betapa sulitnya kehidupan yang Grizelle hadapi, setidaknya jika ada yang bisa kubantu, maka akan kulakukan untuknya.