Since The Fall Of Maglindo

Since The Fall Of Maglindo
Bab 05 bagian III: Kunci Masa Lalu



“Kau pasti menguping, kan?”


“Tidak.”


Meski dia berkata begitu, aku tahu itu hanya pura-pura. Bahkan saat aku bertanya untuk memastikannya, dia seolah sedang terfokus pada bukunya, padahal itu akting yang kurang bagus.


Dan untuk kedua kalinya, aku menatap jam pada dinding. Sekitar 5 menit lagi kelas akan dimulai, sementara AI malah pergi tanpa melalukan sesuatu dengan kursinya. Setidaknya aku berharap dia akan meletakkan sebuah tas di sana, tetapi di punggungnya bahkan tidak ada tas yang sedang disandang. Aku mulai berpikir kalau dia tidak akan berada di kelas lagi, hanya saja apa tujuannya dia memasuki kelas tadi? Seharusnya jika tidak ada yang ingin dilakukan, maka dia tidak perlu sampai berkunjung ke sini, bukankah seharusnya begitu, benar-benar aneh.


Sampai akhirnya guru datang setelah bunyi bel sudah tidak terdengar lagi sejak beberapa menit yang lalu, seingatku namanya December, AI tidak ada seperti yang sudah kuduga. Aku rasa mungkin dia percaya diri dengan kemampuan berpikirnya, karena itu mengikuti pembelajaran bukanlah sesuatu yang perlu untuk dilakukan. Lagi pula sebagai seseorang yang berada di peringkat satu, hal semacam itu memang terdengar tidak mustahil.


“Sepertinya kalian sedang bersemangat.”


Meski Pak December berkata begitu, kebanyakan murid sebenarnya sedang menunjukkan wajah tidak puas. Lagi pula, penampilannya sama sekali tidak membawa aura yang bagus, rasanya dia seperti pengabdi dosa kemalasan.


Sedangkan bagian bagusnya, dia sudah tidak duduk di meja lagi. Kursi kosong yang berbeda dengan semua kursi yang ada di dalam kelas, akhirnya ada yang mau mendudukinya. Hanya saja hal tersebut tidak dapat mengubah pandangan murid terhadap Pak December begitu saja, bahkan aku masih berharap untuk mendapatkan guru wanita yang imut.


“Eeeee, hari ini kita awali dengan perkenalan. Silakan dari absen pertama.”


Sebenarnya, sesi perkenalan seharusnya sudah selesai kemarin. Tapi karena orang ini pergi begitu saja setelah memperkenalkan dirinya sendiri, jadi semuanya menjadi terhambat. Semoga saja kemalasannya tidak mengganggu jalannya pembelajaran, mengingat ini sekolah ternama, jadi aku pikir dia setidaknya punya rasa tanggung jawab.


Kemudian seseorang yang duduk pada sudut paling jauh dariku berdiri. Dia seorang laki-laki dengan aura yang mirip seperti Ryuga, hanya saja masih kalau jauh.


“Halo, semuanya! Perkenalkan namaku Samuel Lichto Vrebania Aspen, panggil saja Samuel.”


Semua mata menjadi tertuju kepadanya, karena selain tampan, dengan mengucapkan “Aspen” saja semua bisa tahu siapa dia sebenarnya. Tapi aku juga tidak terlalu peduli sih.


“Sebelumnya aku sekolah di luar negeri. Hobiku adalah bermain alat musik, dan aku suka sesuatu yang manis. Salam kenal, semuanya!”


Dia duduk kemudian dilanjutkan satu per satu oleh orang-orang di sampingnya. Hal semacam ini sebenarnya akan memakan banyak waktu, jadi aku memilih untuk menyiapkan apa yang harus kukatakan agar terkesan normal.


Kebanyakan, yang lain juga mengenalkan diri dengan cara yang sama. Mulai dari berdiri, lalu memperkenalkan nama, biodata diri yang lain, asal sekolah, hobi, apa yang disukai dan tidak disukai, serta hal-hal sepele lainnya yang bisa kugunakan untuk berteman dengan mereka. Sebagian ada yang gagal memperkenalkan diri mereka; gugup dan malu. Ada yang berhasil membuat diri mereka menarik, ada juga yang malah merusak diri mereka sendiri. Terkadang diselingi lelucon tidak penting yang menurunkan suasana kelas, itu adalah yang terburuk.


“Biar kuwakilkan. Nama orang tersebut adalah, Android 1.0 AI—“


Pak December berhenti berbicara saat ada banyak murid yang tertawa. Bahkan ada yang sampai mengatakan “Apa itu sebuah lelucon?” dengan dipenuhi wajah meremehkan.


Memangnya mereka pikir kalau mereka sebuah keberadaan yang superior? Aku pikir nama AI secara umum memang aneh, tapi aku tidak sampai bereaksi sebegitunya. Di sini yang kubicarakan adalah tentang selera. Setidaknya, aku rasa mereka sudah sadar kalau AI memiliki peringkat tertinggi dari seluruh siswa tahun pertama. Hanya saja menurut dugaanku, mereka sedang meluapkan kekesalan atas kegagalan mereka dengan mengejek nama dari seseorang yang berdiri di atas mereka. Aku pikir itu cukup memalukan, rasanya keinginanku untuk berteman dengan beberapa di antaranya langsung musnah seketika.


Hebatnya, tanggapan yang Pak December berikan dapat membuat semuanya terdiam. Dia tertawa sekarang, serta menyeringai sehingga wajahnya terlihat jauh berbeda dari yang biasanya.


“Kalian tahu, AI adalah murid paling berbakat di sekolah ini, dia peringkat satu dalam tes pendaftaran. Aku pikir untuk berdiri di sampingnya saja akan sangat sulit, terutama kalian yang sebelumnya tertawa.”


Kalimatnya berbekas di hati seluruh orang yang mendengarkan. Mereka yang awalnya tertawa, sekarang hanya bisa menerima kenyataan yang kejam. Meskipun aku bilang kalau aku sebelumnya tidak tertawa, tetap saja kalimat tadi sangatlah menusuk. Bahkan Grizelle, menampilkan wajah seriusnya saat menyaksikan suasana kelas yang ricuh menjadi tenang bagai di tengah laut.


Sesaat setelahnya, Pak December berkata “Selanjutnya” sehingga perkenalan kembali dimulai. Tetapi berbeda dengan di awal, sekarang suasana canggung sudah menerpa hampir semua orang yang belum memperkenalkan diri. Hanya saja menolak kenyataan tersebut, Grizelle menunjukkan bahwa dia adalah seseorang yang benar-benar tidak memusingkan apa yang telah terjadi.


“Aku Grizelle, salam kenal.”


Begitu perkenalan singkatnya dikumandangkan, semua orang aku pikir akan menyimpulkan gagasan kotor di kepala mereka. Dengan Grizelle yang sengaja menyingkat perkenalannya, sudah bisa diketahui bahwa dia adalah seseorang yang tertutup, tidak butuh kehadiran teman seperti yang dikatakannya kepadaku.


Ketika dia duduk, menandakan giliranku sudah tiba. Sekarang aku sedang tidak gugup sehingga bisa berdiri tegak dengan sebuah kalimat di kepala yang telah sengaja disiapkan dari awal.


“Orang lain memanggilku Crayon, jadi itulah namaku. Aku menyukai semua hal yang kusukai, semoga bisa berteman.”


Tentu yang kusampaikan hanya sebagian kecil saja dari diriku. Tidak perlu sampai bicara panjang lebar tentang diri sendiri, karena faktanya seseorang yang bisa dijadikan teman tidak terlalu mementingkan hal semacam itu.


Sebenarnya, saat sampai pada bagian di mana aku berkata kalau namaku adalah Crayon, Pak December melihat lagi ke buku absen. Aku pikir dia sedang memastikan nama asliku, karena setelah kembali menutup bukunya, dia sedikit tersenyum. Lalu untuk alasan apa aku menggunakan julukan? Tentu saja karena tujuan hidupku sedang dipertaruhkan di sini, jadi tidak boleh sembarang bergerak begitu saja.


Setelahnya, pelajaran pertama akhirnya dimulai. Berbeda dengan tampilan luarnya, Pak December mengajar dengan sangat baik. Jika ada yang kesulitan, dia akan mengatasinya menjadi sesederhana mungkin sehingga orang bodoh pun memiliki kesempatan untuk belajar. Selama waktu pembelajaran, dia tidak memberikan tugas ataupun semacamnya. Aku pikir itu adalah pilihan yang bagus, karena yang dijelaskan juga mudah dicerna, sehingga dengan mengulang ilmu yang didapat murid dari penjelasan melalui tugas bukanlah sesuatu yang efektif. Hanya saja kemudahan ini aku pikir tidak akan bertahan lama, karena ini juga hari pertama dari pembelajaran, sehingga yang diajarkan hanya bagian-bagian dasarnya saja.